
Pagi yang indah dan cerah, mengawali aktivitas semua orang. Dimana ada yang mulai berangkat bekerja, yang pengangguran melanjutkan tidurnya atau pergi mencari kerja diluar.
Tapi beda dengan Dea, dia memiliki pekerjaan tapi ia masih tidur dengan nyenyaknya di kamarnya.
Karena sudah agak siang Dea masih belum bangun, Dena masuk ke kamar Dea untuk membangunkannya dan jangan kira Dena membangunkan Dea dengan tangan kosong.
Sebab jika membangunkan Dea dengan tangan kosong, maka tidak akan ada efeknya, ia akan terus tertidur sampai ia terbangun dengan sendirinya.
'Byurrr' suara guyuran air yang dilakukan Dena, untuk membuat Dea terbangun dengan cara menyiramkannya di wajahnya.
"Ah hujan-hujan, tolong kamarku kehujanan" ucapnya yang baru bangun, dengan keadaan berdiri di atas kasurnya sambil berteriak-teriak minta tolong.
"Hahahaha," tawa Dena keras melihat tingkah anaknya yang menurutnya aneh tapi lucu.
Dea yang mendengar suara tawa, melihat di sebelah kasurnya dalam keadaan masih berdiri diatas kasur, ternyata ibunya yang sudah membuatnya terbangun dengan cara menyiramnya dengan air.
"Ibuuu, ibu sangat keterlaluan bagaimana jika aku mati karena kebanyakan air yang masuk ke dalam hidungku.
Ibu tidak akan punya anak yang imut, cantik dan baik seperti Dea, ibu mau?" Teriaknya marah-marah, karena cara membangunkan ibunya yang kejam seperti ibu tiri.
"Halah lebai, mana ada orang mati cuma karena di guyur air segayung.
Lagian kamu sudah siang begini belum bangun juga, semua tetangga sudah pada berangkat kerja kamu masih ngorok" ucap Dena.
"Aiss, segayung di bilang cuma, dasar ibuku kejam" gumamnya pelan.
"Ya ya Dea akan siap-siap berangkat kerja, sana ibu pergi dari kamar, Mengganggu ketenanganku saja" katanya sambil mendorong pelan Dena menuju pintu keluar kamarnya.
Di mansion Keano, seperti biasa semua pelayan bangun pagi dan mulai bekerja sebelum tuannya bangun dan berangkat bekerja.
Tapi kali ini sebelum Keano berangkat bekerja, ia sarapan bersama adik dan ibunya karena ada yang ingin ia bicarakan dengan mereka.
Tentu ketidakbiasaannya Keano yang tiba-tiba sarapan bersama mereka, membuat ibu dan anak itu kaget.
Dan di mansion itu juga sudah Ken yang sudah bersiap dan membututi tuannya kemanapun tuanya berjalan, seperti anak yang mengikuti ibunya dimanapun ibunya berada.
Ken yang melihat tuannya juga kaget, karena memang Keano belum memberitahu sekretarisnya tersebut.
"Keano tumben kamu sarapan bersama kami?" Tanya Lily ibu Keano.
__ADS_1
"Iya kak, tidak biasanya kakak sarapan biasanya kakak langsung berangkat bekerja" tanya Reno heran kepada Keano.
"Makan dulu sarapan kalian, kau juga Ken duduk dan sarapanlah bersama kami.
Setelah selesai akan saya jelaskan" katanya dengan datar dan dingin, ya Keano tidak suka jika sedang makan tapi sambil berbicara.
"Baik" ujar keduanya sambil menghabiskan sarapan mereka, karena tidak sabar dengan apa yang akan di bicaran Keano.
Setelah selesai sarapan, Keano akhirnya mengatakan kepada ibu, adiknya dan sekretarisnya bahwa ia minggu depan akan segera menikah.
"Satu minggu saya akan menikah, jadi saya harap ibu dan kau Reno supaya menyetujuinya atau memberikan restu kepada kami nanti" ucapnya tidak ingin ada bantahan atau penolakan.
"Dan kau Ken, kau tahu kau harus apa?" lanjutnya.
"Iya tuan muda" jawab Ken yang tahu bahwa tuannya memerintahkannya untuk mengurus semua keperluan pernikahannya.
"Aku setuju kak, yang terpenting kakak bahagia dan senang, aku menyutujuinya" ucap Reno lembut, yang setuju jika kakaknya menikah dengan pilihannya sendiri.
"Baiklah karena saya sudah mengatakan semua yang ingin saya katakan, saya pergi dulu" kata Keano sambil berdiri, diikuti oleh Ken.
Namun saat akan berjalan ibu menghentikannya.
Keano pun berhenti dan berbalik.
"Apa wanita pilihanmu itu sudah memenuhi semua syarat, maksutku apa dia kaya seperti kita dan cantik. Karena aku tidak mau nanti memiliki mantu yang akan membuatku malu" ucap ibu, yang tanpa sadar membuat Keano marah.
"Disini saya yang akan menikah, jadi semua kriterianya terserah saya.
Bukan anda yang menentukan dan jangan pernah menghalangi saya untuk menikah dengannya" jelas Keano sambil mengepalkan tangannya menahan amarahnya.
Dan berjalan kembali, keluar menuju mobilnya.
"Tapi aku ini ibumu, jadi aku berhak memilihkan istri yang pantas untukmu" katanya berteriak agar Keano mendengarnya.
"Sudahlah bu... Biarkan kakak hidup bahagia, kakak sudah cukup menderita, jadi sekarang biarkan kakak menjemput kebahagiannya" kata Reno berusaha menghentikan ocehan ibunya.
"Cih ibu mana yang membiarkan anaknya terlantar" batin Keano yang mendengar perkataan ibunya, sambil terus berjalan dan memilih tidak menanggapi ibunya.
Di rumah, Dea sudah bersiap akan berangkat bekerja sebelum berangkat Dena selalu memaksa agar Dea sarapan terlebih dahulu.
__ADS_1
Saat sudah selesai sarapan, ia segera pergi meninggalkan meja makan dan berjalan keluar untuk berangkat kerja.
Tapi saat Dea membuka pintu, di depannya secara tiba-tiba ada pemandangan buruk dihadapannya yakni bos dan asistennya.
"Sial, untuk apa mereka datang kemari" batin Dea.
"Eh bos, mau ngapain bos kemari? Apa tadi malam ada barang yang tertinggal?" Tanyanya basa basi.
"Tidak ada. Saya kesini ingin menjemputmu, dan mengajakmu untuk mengukur dan memilih baju pengantin" jelasnya pada Dea.
"Ahh bos, tidak perlu saya ini kan imut dan cantik, jadi pakai baju apa saja tetap terlihat cantik kok. Jadi tidak perlu milih-milih, oke" ucapnya dengan pede, sambil tersenyum kepada kedua pria dihadapannya.
"Nona kau ini lucu sekali, pantas tuan muda menyukai anda" batin Ken dengan wajah datar, tapi dalam hatinya ia tertawa.
"Kau ini, memang kau kira saya miskin. Dan saya tidak ingin pernikahan saya jadi perbincangan publik, karena saya menikahi jadis jelek dan kecil seperti kau" ucapnya dengan nada yang ketus.
"Baiklah, kalau begitu saya akan ikut bos tapi saya pakai motor saya sendi..." belum sempat Dea melanjutkan Dea melanjutkan perkataannya tapi sudah di potong bosnya.
"Kau naik mobil bersama kami, saya tidak mau orang-orang berpikir saya akan menikah dengan tukang ojek"
"Haiss, sombong" gumam Dea pelan.
"Baiklah bos, saya akan ikut naik di mobil bos" ucap Dea, sambil tersenyum manis tapi hatinya sedang menahan kekesalannya pada bosnya.
Keano senang melihat raut wajah kesal Dea, yang Dea sembunyikan di balik senyum manisnya.
Dea berjalan lebih cepat mendahului bos dan sekretarisnya menuju mobil, tapi saat sudah sampai di dekat mobil, dan Dea hendak masuk mobil pintunya terkunci.
"Dasar bodoh, pemiliknya masih dibelakang dan kau sudah berjalan dulu" kata Keano.
Pintu mobil sudah bisa di buka karena Ken sudah menekan remotnya, begitu terbuka Dea segera masuk mobil dan duduk di depan sebelah kemudi.
Keano yang melihatnya sontak marah dan menyuruh Dea pindah ke belakang bersamanya.
"Kau turun dan pindah ke belakang" perintah Keano pada Dea.
Tapi bukan Dea namanya jika tidak membantah.
"Tapi bos saya ingin lihat pemandangan, jika saya duduk di belakang bersama bos pemandangannya tidak terlalu jelas bos" jelasnya pada Keano bohong, Dea duduk di depan hanya karena ia tidak ingin dekat-dekat dengan Keano.
__ADS_1
"Pindah sekarang atau saya cium kamu disini" kata Keano dan itu terbukti berhasil, Dea yang merasa ketakutan langsung turun dan pindah ke belakang bersama Keano.