Married With Possesive Boss

Married With Possesive Boss
85. KEBAHAGIAAN YANG UTUH


__ADS_3

Saat di tengah perjalanan menuju rumah sakit, Dea terbangun dari pingsannya dan dalam kondisi yang sama yakni menangis.


"Bu, pesawat yang di tumpangi suami Dea jatuh hiks hiks" Lily syok mendengar pernyataan mantunya. Jadi yang membuat Dea menangis, pingsan sampai keluar darah melalui organ vitanya terrnyata karena Keano kecelakaan. Lily ingin ikut menangis tapi Lily harus kuat untuk menguatkan mantunya.


"Dengar ibu De, Keano akan baik-baik saja. Jadi kamu harus memperjuangkan anak-anak kamu. Agar saat Keano pulang, dia bisa melihat anak-anak imutnya sudah menangis minta Keano gendong"


"Dea pasti akan memperjuangkan anak-anak Dea. Keano pasti pulang kan bu?" Tanya Dea sekali lagi, Dea ingin meminta kepastian keselamatan Keano pada Lily. Yang tidak tahu sendiri, keadaan Keano sebenarnya. Apakah masih hidup atau tidak?


Lily hanya mengangguk menjawab pertanyaan Dea sambil tersenyum, tapi air matanya juga ikut menetes. Seakan ia harus menampilkan kesedihannya dengan topeng senyum kebahagiaan.


Setelah mendengar kepastian Lily yang tidak pasti itu. Entah mengapa perasaan Dea sedikit lega. Tapi Dea kembali pingsan lagi.


"Pak cepat, bapak tidak lihat keadaan anak saya!" Sentak Lily pada supirnya. Lily sudah frustasi melihat keadaan Dea di tambah Keano yang tidak jelas keberadaannya.


"Baik nyonya, tapi sekarang sedang macet. Mau tidak mau kita harus menunggu" jawab pak supir gemetar, pak supir juga ikut ketakutan melihat kondisi Dea sekarang. Kalau sampai terjadi sesuatu pada Dea, ia bisa kena akibatnya karena dia yang di beri tanggung jawab mengantar Dea.


🌻🌻🌻


Para dokter serta perawat sudah menyiapkan brankar dorong untuk pasien. Karena sebelumnya Lily sudah menelpon pihak rumah sakit untuk menyiapkan semuanya, sebelum mereka sampai.


"Kamu harus kuat De, berjuang untuk anak kamu" ucap Lily yang ikut berjalan di sisi brankar dorong yang di tempati Dea.


Tapi tanpa Lily duga, ada suara yang amat ia kenal juga ikut menyemangati Dea. Dan betapa terkejutnya Lily, ternyata anaknya, Keano ada bersamanya. Dalam keadaan sehat tanpa ada kecacatan sedikitpun di tubuhnya. Lily ingin tidak mempercayainya, tapi ia sudah melihatnya sendiri secara langsung dengan jelas.

__ADS_1


"Keano?" Lily berucap sambil menatap Keano heran juga takjub. Keano mengerti maksud Lily.


"Sudahlah bu, ceritanya panjang. Deu bangun, aku ada di sampingmu, sesuai janjiku, aku datang dan akan menemanimu untuk memperjuangkan kelahiran anak kita. Aku tidak apa Sayang, aku baik-baik saja. Aku mohon bangunlah, jangan buat aku gila dengan keadaanmu sekarang" Keano berusaha memberi semangat pada istrinya yang tak sadarkan diri itu. Hal konyol memang, berbicara pada orang yang pingsan. Mana bisa menjawab? Tapi Keano tetap yakin, suaranya akan terdengar di telinga Dea dan membuat istrinya bersemangat lalu sadar dari pingsannya.


Suara itu? Aku mengenal suara hangat itu. Keano, dia tidak apa? Dia memanggil namaku. Ini khayalan dalam mimpiku karena terlalu merindukan Keano atau memang nyata?


Dea tersadar, matanya memaksanya untuk melihat keadaan yang sebenarnya. Walau hatinya berusaha menghiraukannya karena ia tidak ingin berharap banyak dan akhirnya terluka. Dan beruntung, perndengaran dan pengliatannya benar. Air mata kebahagian mulai membasahi pipinya dan senyumnya pun ikut terukir indah di bibir mungil Dea.


"Kamu tidak apa?" Tanya Dea dengan keadaannya yang lemah.


"Aku tidak apa Sayang. Kamu harus kuat ya, aku akan selalu menemanimu selama proses melahirkan nanti. Kamu bebas mencakar, menjabak rambut bahkan mencubit bagian tubuhku sesukamu" Dea tersenyum mendengar celotehan Keano yang menurutnya lucu.


Karena Dea sudah sadar, Dokter menyarankan pada Keano untuk lahiran secara normal dan itu di setujui oleh Keano dan Dea. Ada rasa khawatir dalam diri Keano karena Dea lahir sebelum waktunya, tapi karena sudah terlanjur Dea sudah pecah ketuban dan sudah bukaan ke tuju, masa mau di undur? Keano hanya iya-iya saja mendengar penjelasan Dokter karena jujur, Keano tidak tahu apa itu air ketuban, bukaan satu sampai seratus ribu atau sejuta. Yang terpenting istri serta anak-anaknya harus selamat dan sehat.


Dokter wanita itu hanya menatap bingung juga takut ke arah Keano. Mana ada lahiran secara normal yang tidak terasa sakit? Dokter hanya mengiyakan permintaan Keano. Daripada dirinya dalam bahanya?


Di dalam ruang bersalin sudah ada Dokter, beberapa suster dan Keano di samping Dea.


"Ayo dorong terus, kepala bayinya sudah hampir terlihat"


"Aaaaaa" Dea mendorong dengan sekuat tenaganya dengan teriakan yang sudah ia keraskan. Dan tangannya yang memegang rambut Keano dengan kuat, Keano ikut menjerit bersama saat Dea menjerit, karena merasakan sakit di kepalanya akibat cambakan dari Dea.


Oek oek oek... Suara bayi sudah terdengar menandakan jika bayinya sudah keluar dari rahim Dea. Suara tangisnya terdengar cool karena bayi pertama Dea yang berjenis kelamin laki-laki itu, menangis saat baru keluar dari rahim Dea setelah berada di kendongan suster, bayinya langsung diam seperti malu menangis.

__ADS_1


"Sayang anak kita sudah lahir, masih ada satu lagi. Semoga yang satunya lari dan menyusul kakaknya ya,"


"Iya..." balas Keano singkat.


"Dokter, saya bilang buat istri saya melahirkan tanpa merasa kesakitan. Kenapa istri saya sampai berteriak kesakitan sambil menarik ramb--"


Belum sempat Keano menyelesaikan aksi protesnya pada Dokter, Dea sudah berteriak lagi. Dan kali ini Dea berteriak sambil menarik kemeja Keano. Posisi Keano sampai hanya berharap dua cm saja dari wajah Dea. Seperti ingin mengajak bertarung.


"Aaaaa" teriakan Dea panjang.


Oek oek oek oek... Bayi perempuan sudah lahir dengan sehat, selamat dan imut seperti Dea. Tapi kali ini bayi ini terus menangis, tidak seperti abangnya yang hanya nangis beberapa menit saja.


Keano langsung mengadzani kedua anaknya, memperkenalkan Tuhan mereka sedari bayi. Dan masih dengan keadaan yang sama yakni Evana adik perempuan Evano yang masih nangis. Akhirnya Keano mendahulukan Evana untuk di adzani olehnya, agar bisa segera Dea susui. Dan saat di susui oleh Dea, Evana langsung mencari letak puti*g susu Dea dan dalam sekejab langsung ketemu. Tangisnya hilang entah kemana.


"Sayang kamu ambil Ana, sekarang giliran Ano yang nyusu. Meskipun Ano diam saja tapi aku yakin dia pasti lapar" Dea belum bisa menyusui kedua bayinya secara bersamaan. Dea melihat Deka sudah tertidur nyenyak setelah minum dengan lahap air susunya, jadi gantian Ano, pikirnya.


Keano menuruti perintah Dea, mengambil Ana dari pelukan Dea. Dan hebatnya, Ana terbangun dan menangis lagi bahkan lebih kencang dari sebelumnya. Akhirnya Keano tidak jadi mengambil Ana, Dea menyusuinya lagi dan ajaibnya Ana langsung diam.


"Evana sayang, gantian kakak kamu ya, dia juga lapar" jelas Keano pada anaknya yang dengan lahap meminum ASI Dea dan masih belum mengerti apa-apa itu. Tapi yang jelas kalau masalah isi perut, Evana sudah mengerti.


"Ana anak Mommy gantian abang Ano ya minumnya?" Dan akhirnya Ana melepas puti*g Dea dengan sendirinya setelah mendengar penjelasan dari Dea.


Keano segera mengambil Evana dari pelukan Dea dan memposisikan Evano agar bisa minum ASI. Walau sedikit kesal dengan anak perempuannya yang tidak menurutinya saat Keano yang memintanya tadi. Untung anaknya, kalau tidak sudah habis di tangan Keano karena sudah berani membantah perintahnya. Tapi yaa sudahlah, namanya juga anak bayi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2