Married With Possesive Boss

Married With Possesive Boss
32. MEMINTA IJIN


__ADS_3

Keano keluar dari kamar mandi karena ia sudah selesai mandi, Dea juga ikut keluar bersama Keano, padahal Dea belum mandi tadi ia hanya memandikan Keano.


"Mau kemana kamu?" tanya Keano yang melihat Dea mengikutinya keluar dari kamar mandi bersamanya.


"Mau keluarlah Sayang," jawabnya.


"Kamu kan belum mandi, sana mandi dulu.


Saya tidak mau tidur saya terganggu karena bau badan kamu" ucapnya yang menyuruh Dea kembali ke kamar mandi.


"Tapi Sayang, tubuhku masih wangi kok, nih ya kalo kamu tidak percaya" ucap Dea sambil memegang ketiaknya dan menciumnya.


"Heem harumnya, kamu mau Sayang" ucapnya sambil menghirup tangannya dan menawari Keano karena ia melihat dari tadi Keano terus memperhatikannya saat ia mencium tangannya.


Keano hanya menggelengkan kepalanya pertanda tidak mau.


"Tapi Sayang ini itu wangi sekali, bahkan wanginya ketiakku mengalahkan parfum milik Syahrini yang harganya jutaan itu. Ayo cobalah, sebentar saja" ucapnya sambil tersenyum dan menyodorkan tangannya.


"Heii, jauhkan tanganmu itu dari wajah saya, kalau sampai tanganmu itu mendekat lagi saya patahkan tanganmu." ucapnya yang emosi dan mengancam Dea, membuat Dea langsung merasa takut dan tangannya ia jauhkan dari wajah suaminya.


"Cepat sana mandi!"


"Baiklah" balasnya dengan lesu dan kembali ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Selalu saja mengancam, seharusnya dia bersyukur sebab tidak banyak orang yang bisa dengan mudah mencium ketiakku, dia sudah aku beri gratis pula, malah menolak.


Selesai mandi Dea melihat suaminya sedang berada di depan laptopnya, mengerjakan pekerjaan kantornya.


Dea berinisitif menawarkan teh atau kopi kepada Keano.


"Sayang" panggilnya pada Keano.


"Heem" jawabnya yang begitu singkat dan jelas.


Ham hem ham hem memangnya kamu mau nyanyi lagu Nissa Sabyan, dasar pelit bicara.


"Kamu mau saya buatkan kopi atau teh tidak?" tawar Dea, Dea berpikir bahwa ia seharusnya melayani Keano karena bagaimanapun juga Keano sekarang sudah menjadi suaminya.


Keano langsung memandang Dea setelah mendengar tawaran Dea, karena tidak biasanya Dea perhatian padanya, "Tidak usah, jika saya ingin sesuatu saya akan memanggil pelayan kemari."


Memangnya saya akan mengijinkamu apa untuk keluar kamar apalagi dengan keadaan rambutmu yang masih basah seperti itu. batin Keano.

__ADS_1


"Sayang, kamu kan sedang bekerja pasti lelahkan, bagaimana kalau saya pijitin bagaimana?" tawar Dea pada suaminya yang membuat Keano heran.


Ada apa dengannya mengapa ia begitu aneh sekarang. Apa karena dia sudah melihat tubuh saya yang begitu sempurna tadi, hingga dia langsung berubah dan menyukai saya. batin Keano yang berpikir apa yang menyebabkan Dea bersikap aneh seperti sekarang.


"Ya, pijitlah tapi pijit dengan hati-hati!"


Memangnya mau nyebrang jalan, pake hati-hati segala.


"Baik Sayang" ucapnya sambil tersenyum manis.


Dea mulai memijit pundak Keano dan yang Dea lihat Keano sepertinya merasa begitu nyaman.


"Apakah pijitan saya enak Sayang?" tanyanya yang penasaran dengan jawaban Keano.


"Lumayan."


"Wahh kalau begitu saya buka jasa tukang pijat untuk umum saja, bagaimana menurutmu Sayang?" tanyanya yang niatnya hanya becanda, Dea mengarahkan wajahnya ke depan wajah Keano dan tersenyum padanya.


"Tidak, nanti orang yang kamu pijit tubuhnya pegal-pegal karena pijitanmu yang tidak becus ini dan saya tidak mau mengeluarkan uang untuk pengobatan bagi para calon korbanmu itu" jawabnya.


Setelah mendengar jawaban Keano, Dea langsung lesu di campur cemberut dan kembali ke belakang Keano untuk memijitnya lagi.


"Dasar pelit. Tidak becus begini kamu juga menikmati pijatanku dari tadi" gumam Dea pelan.


Dea melakukan semua itu sebenarnya antara ingin menjadi istri yang baik untuk Keano selaligus untuk membujuk Keano agar Keano mau menuruti keinginannya.


Bagimana ini, aku bilang tidak padanya, ahh bilang sajalah mana tahu aku di ijinkan.


"Sayang" panggilnya yang masih terus memijat Keano dan Keano masih menatap laptopnya.


"Heem"


"Sayang, boleh tidak saya bekerja lagi seperti dulu?" tanyanya berharap Keano akan mengabulkannya.


"Untuk apa kamu bekerja, apa semua fasilitas yang saya berikan kepadamu kurang?" tanyanya yang bukannya menjawab pertanyaan Dea tapi malah balik bertanya.


"Bukannya kurang, hanya saja saya hanya ingin keluar bertemu dengan teman-teman di pabrik, di sini memang semuanya ada, tapi semua orang melaksanakan pekerjaan mereka masing-masing hanya saya saja yang tidak melakukan apa-apa." jelasnya.


Keano tidak menjawab perkataan Dea tapi Keano malah pergi dan mengambil sesuatu di dalam lacinya.


"Pakailah ini, gunakan sesukamu untuk belanja dan bersenang-senang, jadi kamu tidak perlu bekerja lagi" ucap Keano sambil menyodorkan black card pada Dea.

__ADS_1


"Apa ini semacam kartu ATM?"


"Heem"


"Tapi mengapa warnanya hitam?


Padahal aku punya warnanya biru, mengapa ini warnanya hitam, apa karena kamu sering menjemurya di bawah sinar matahari ya Sayang, makanya jadinya seperti ini." tanyanya yang begitu polos.


"Hahaha, kamu ini bodoh sekali ya, katanya dulu sering juara kelas saat SMA tapi kartu seperti ini saja tidak mengerti.


Atau nilaimu yang bagus itu berasal dari hasil mencontek haha" ucapnya yang terus tertawa karena mendengar jawaban Dea yang begitu bodoh menurutnya.


"Sembarangan kalau bicara, saya tidak pernah menyontek justru teman-teman saya yang menyontek jawaban dari saya.


Lagi pula untuk apa kartu jelek seperti ini lebih bagus juga kartu saya, nih warna biru seperti laut terlihat begitu indah." ucapnya yang menegaskan bahwa waktu SMA ia tidak pernah menyontek sambil mengeluarkan kartu ATM berwarna biru miliknya.


"Ini namanya black card, hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu saja dan asal kamu tahu di sini jumlah saldonya tidak terhitung dan tidak akan pernah habis meski kamu berbelanja terus.


Tidak seperti kartu biru milikmu itu yang hanya ada uang 50 ribu itupun tidak bisa di ambil karena itu untuk pajak hahaha" ucapnya yang menghina kartu ATM milik Dea.


Mengapa semua perkataan yang di campur dengan hinaan yang terucap dari mulutnya itu benar semua.


Dea menerima black card yang Keano berikan kepadanya karena merasa dirinya sudah kalah dari Keano, Dea memilih langsung tidur bersama dengan Keano di ranjangnya.


*Itu berarti dia tidak mengijinkanku bekerja dong, baiklah, kamu bilang uang dalam kartu ini tidak akan habiskan, maka besok akan aku habiskan tidak tersisa, aku akan belanja sesuka hatiku.


Tapi kasian juga jika nanti habis, dia kan sudah bersusah payah bekerja dan aku malah berniat menghabiskannya begitu saja*.


pikirnya yang tengah berbaring di atas ranjang sebelah Keano.


"Sayang" panggil Dea, namun Keano tidak menjawabnya membuat Dea berpikir jika Keano sudah tidur.


"Wahh kalau tidur seperti ini wajahnya yang galak dan jelek ini, terlihat lumayan tampan juga, tapi boong hehehe" ucapnya sambil manatap Keano yang tengah tertidur, rasanya senang sekali bisa membalas menghinanya seperti sekarang walau Keano sudah tertidur.


Dea pun akhirnya tidur pulas setelah menghina Keano tadi, tapi ternyata Keano dari tadi belum tidur dan ia mendengar semua hinaan Dea yang terlontar dari mulut Dea untuknya.


"Beraninya kamu menghina saya secara diam-diam seperti tadi, lihat saja besok kamu akan menerima hukumannya." katanya sambil melihat Dea yang tertidur dan memberikan kecupan selamat malam untuk Dea di keningnya.


💙Hai kakak-kakak yang baik hati dan tidak sombong terima kasih sudah main ke novelku, aku harap kalian suka dengan novel ini.


Mohon kritik juga sarannya yup kakak.

__ADS_1


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan rate bintang 5 yup.


Terima kasih dan jumpa lagii bayyy💙.


__ADS_2