
Pagi ini Keano ada pertemuan dengan kliennya yang berasal dari luar kota. Keano datang terlambat hari ini, karena ada masalah kecil yang harus ia bereskan tadi. Semua klien sudah berkumpul menunggu Keano saja. Keano datang terlambat tapi kedatangannya disambut hangat oleh semua orang.
"Selamat pagi tuan" semua tamu berdiri memberi salam pada Keano, dengan senyum selebar daun kelor.
"Pagi" balas Keano cuek dan langsung duduk di kursi yang sudah disiapkan untuknya.
Sekretaris Ken mendekat ke arah Keano dan berbisik di telinganya. Keano langsung mengambil dan membuka ponselnya setelah di bisiki oleh Ken.
Huek... Keano rasanya ingin muntah saat mengambil ponselnya. Aroma tengik tikus semerbak menempel di ponsel serta tangannya. Keano membuang ponselnya di lantai, semua orang tentu heran.
"Tuan?" Tutur Ken, seakan bingung dengan sikap Keano yang tiba-tiba membuang ponselnya.
"Katakan ada apa?!" Sekretaris Ken langsung memperlihatkan ponselnya pada Keano.
"Kenapa bisa ada foto saya di ponselmu?" Bisik Keano, karena ada banyak orang di hadapannya. Keano tidak pernah merasa mengirim foto dirinya pada sekretaris Kenan.
"Tuan muda yang mengirimkannya bahkan tuan mengirimnya pada semua orang termasuk klien yang ada di hadapan anda sekarang" jelas sekretaris Kenan.
Keano malu, tak tahu mesti menaruh wajah sombong, dingin, berwibawa dan terhotmatnya dimana. Pasalnya foto yang Keano lihat di ponsel Ken adalah foto dirinya yang sedang tertidur tanpa mengenakan baju dengan mata setengah terbuka dan setengah tertutup. Serta mulut menganga yang menampilkan rentetan gigi depan Keano.
"Baiklah kita mulai meetingnya, silahkan tuan Arga, tuangkan pemikiran anda untuk menangani masalah proyek ini" Keano memilih melanjutkan meetingnya, secara profesional dengan gaya pemimpinannya yang dingin dan angkuh. Menutupi rasa malunya dengan gaya angkuhnya. Agar semua orang tetap menghormatinya dan tak menghinanya.
Meeting berjalan dengan lancar, Keano langsung keluar dari ruang pertemuan meninggalkan semua kliennya. "Hapus foto tuan Keano yang ada di ponsel anda-anda, jika kalian masih ingin hidup tenang. Jangan pernah menyebarkan atah membocorkannya pada orang lain. Kalau sampai fotonya tersebar dan ada orang lain yang mengetahuinya, kecuali anda semua. Maka bersiap-siaplah untuk hancur!" Ken memberi peringatan sekaligus ancaman pada klien. Semua klien mengiyakan perintah dari orang kedua dari perusahaan KA Groups. Sekretaris Ken menyusul bosnya yang dari tadi sudah meninggalkan ruang pertemuan lebih dulu.
"Kosongkan semua jadwal saya hari ini!" Perintah Keano pada Ken yang baru saja datang di ruangannya. Keano segera bergegas untuk pulang setelah keinginannya untuk menyampaikan pesan pada Ken telah tersampaikan.
"Tuan!" Panggil sekretaris Kenan, Keano berhenti mendengar Ken memanggilnya. Keano berbalik, mendongakkan kepalanya serta alisnya keatas, respon Keano saat sekretarisnya memanggilnya.
"Ponsel anda tuan" sekretaris Ken menyodorkan ponsel Keano yang tadi Keano buang karena ada aroma tengik tikus.
__ADS_1
"Buang saja dan belikan saya ponsel baru, kirim ke rumah saya. Sebelum itu salin semua dokumen penting yang ada di ponsel bau itu, ke ponsel yang baru!" Ken menggangguki perintah Keano. Sedangkan Keano kembali melanjutkan perjalanannya menuju rumahnya.
Dalam perjalanan menuju rumahnya, Keano benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan putrinya, bisa-bisanya Ana memotretnya saat sedang tidur dengan wajah yang sama sekali tidak estetik. Dan parahnya Ana sampai mengirimkannya ke semua kontak yang tersimpan di ponsel Keano.
"Anak siapa sebenarnya Ana itu? Apa dia tertukar dengan anak musuhku yang sudah aku hancurkan dan sekarang ingin membalas dendam padaku? Ahh tidak mungkin. Tapi jika Ana putriku, mengapa dia membuat papanya sendiri malu? Sial!" Keano memukul stir mobilnya
Dea terkejut saat berbalik dan membuka matanya, Keano sudah berdir
"Loh kok udah pulang Sayang?"
"Kamu sudah buka ponselmu?" Dea menggeleng menjawab pertanyaan Keano. Dea lebih suka bermain hal nyata bersama kedua anaknya, melewati hari bersama anaknya, daripada bermain ponsel.
"Ambil dan cek ponselmu sekarang!" Melihat wajah lesu suaminya, tanpa pikir panjang dan bertanya lagi, Dea segera mengambil ponselnya yang ada di kamar.
Pufff.... hahahaha... tawa Dea menggelegar memenuhi ruangan setelah ia membuka ponselnya dan mendapati foto Keano yang sama sekali tidak mencerminkan seorang Keano yang terkenal akan keangkuhannya.
"Tapi kamu terlihat imut saat foto seperti itu, Sayang," Keano sontak senang karena Dea memujinya, rasa ketidakpercayaan dirinya mendadak pergi.
"Benarkah aku terlihat imut? Kalau imut berarti aku seperti anak kecil dan anak kecil biasanya mendapat banyak ciuman. Kalau begitu cium aku gih" Keano sudah memejamkan mata sambil menunjuk pipinya menggunakan jari telunjuknya.
"Imut seperti curut(tikus kecil)! Lagian foto sendiri, sudah tahu malu-maluin di sebar ke orang-orang " Dea pergi mencari anak-anaknya, meninggalkan Keano yang tengah menanti ciuman darinya.
Keano menghentikan Dea dengan cara memegang tangannya. Mendudukkannya di pangkuan Keano. Tanpa meminta ijin Dea, Keano langsung gerak cepat mencium bahkan mel*mat bibir mungil Dea. Mumpung anak-anak sedang tidak ada, Keano bisa puas mencium bibir Dea tanpa ada gangguan.
"Nyium kok dadakan, kalau ada anak-anak gimana? Tidak baik dilihat untuk mereka yang masih kecil!" Sentak Dea memarahi Keano. Dea mendorong tubuh Keano karena sudah terlalu lama Keano menciumnya. Dea juga takut Ano dan Ana melihatnya.
"Papaaa," teriak Ana yang melihat Keano pulang. Ana keluar dari tempat persembunyiannya dan memeluk Keano.
Keano rasanya ingin menjitak kepala Ana dengan segepok uang saat mengingat kelakuannya yang kelewat jenius. Tapi Ana anaknya, mana tega Keano melakukannya.
__ADS_1
"Papa tok puyang cepet cih, tangen cama Ana yaa?" Keano tersenyum menanggapi pertanyaan centil anaknya.
"Ana sayang, jangan potret papa saat papa sedang tidur dan mengirimkannya ke semua orang ya. Memangnya Ana mau papa di ejek orang dan wibawa papa hilang?" Jelas Keano yang berjongkok, menyamakan tingginya dengan Ana. Dea yang mendengar perkataan Keano kaget, ternyata Ana yang sudah melakukan hal menakjubkan tersebut.
"Ana ndak potlet papa kok" bela Ana.
"Terus siapa yang sudah memotret papa dan mengirimkannya foto papa ke semua orang?"
"Tangan Ana gelak sendili pa. Dasal tangan natal, udah pa tangannya udah Ana putul" Ana memukul tangan tangan kanannya. Sedangkan Keano hanya ternganga memandang Ana.
"Wahh, pa anak kita sepertinya punya bakat jadi fotografer sejak dini. Buktinya Ana sudah bisa ambil gambar papanya saat sedang dalam ekspresi menggemaskan"
"Otoglapel apa mah?"
"Orang yang pekerjaannya memotret orang. Makanya baca buku biar pintar. Bukannya pelihara hewan aneh!" Ano ikut nimbrung, menjawab pertanyaan adiknya karena mendengar ada percakapan.
"Papa... Ono natal, Caty di putul pate butunya dan mati huhu" Ana memeluk Keano lagi sambil menangis kadal, mengadukan perlakuan Ano terhadap hewan peliharaannya.
Syukurlah...
"Ya sudah tidak apa, jangan di tangisi terus Catynya, entar Caty gak bisa bobok dengan tenang, ya" Ana mengangguk dengan mata sayunya. Melepaskan pelukannya.
"Apa ini, kenapa ada yang gerak-gerak didalam pakaianku?" Keano menggerak-gerakkan pakaiannya agar sesuatu yang ada di dalam pakaiannya keluar. Hewan merayap keluar dari dalam pakaian Keano. Keano menatap horor Ana. Sedangkan Ana tersenyum kaku melihat senyuman papanya.
"Maap pa, cicak itu pelihalaan Ana yang balu, pendanti Caty yang udah mati kalena Ono utul" setelah berkata seperti itu, Ana langsung lari meninggalkan papanya, mencari jalan aman untuk menyelamatkan diri.
"Anaaaa!" Teriak Keano yang merasa kesal tingkah laku anaknya yang selalu berhasil membuat darah tingginya kumat.
Bersambung...
__ADS_1