
Sesuai janjinya Dea mengajak kedua anaknya berkunjung ke mansion Keano dulu yang sekarang sudah menjadi milik Lily. Ano sebenarnya malas ikut tapi karena semua orang pergi, mau tidak mau Ano harus ikut pergi juga. Dea mengurus satu persatu bayi-bayi besarnya.
"Mommy giliran Ano, dari tadi Ana terus. Ano juga mau di pilihkan pakaian dan di pakaikan pakaian sama Mommy" Ano protes pada Dea karena Mommynya itu terus mengurus adiknya sedangkan dirinya masih mengenakan handuk.
"Sebentar ya Ano sayang, nanti setelah Ana selesai giliran Ano, oke." Ano memang cuek dan masa bodo tapi jika menyangkut perhatian Dea. Ano akan selalu berebutan dengan Ana. Tidak rela jika Ana mendapat perhatian lebih dari Mommynya.
Ana memperlihatkan wajah konyolnya sambil menjulurkan lidahnya ke arah Ano. Merasa dirinya menang dari Ano masalah mendapat perhatian Mommynya, mengejek Ano dengan wajah konyolnya. Membuat Ano kesal.
"Mommy, Ano kan abang jadi Ano yang seharusnya di dahulukan!" Ana di dahulukan oleh Dea sebab Ana mengeluarkan jurus andalannya berupa tangisan suling miliknya yang teramat merdu suaranya. Hingga membuat gempar seisi rumah.
"Bentar ya Ano, Ana sebentar lagi selesai kok." Dea jadi serba salah karena Ano membuatnya terburu-buru. "Akhirnya selesai. Sini Ano Mommy siapkan" Ano pun mendekat ke arah Dea. Ana berjalan melewati Ano dengan gaya sombongnya, merasa dirinya sudah rapi sedangkan Ano masih mengenakan handuk.
"Sayang, tolong pakaikan dasinya ya" pinta Keano yang ikut ribut seperti anaknya. Bukannya tidak bisa memakainya sendiri, ada telpon tepat saat Keano sedang mengenakan dasi dan Keano harus mengangkatnya. Jadi Keano meminta tolong pada istrinya untuk memakaikan dasi, sampai tidak menyadari jika istrinya sedang sibuk mengurusi kedua anaknya.
"Antri papa! Sekarang waktunya Ano yang Mommy persiapkan. Papa nanti setelah Ano!" Keano ternganga melihat anaknya memarahinya. Sedangkan Dea menahan tawanya.
Setelah semua siap dan rapi dengan pakaian yang di pilihkan oleh Dea. Ano dan Ana langsung berlari menuju mobil, mereka berebut duduk dibelakang bersama Mommynya.
"Ngapain kamu duduk dibelakang. Sana didepan sama papa!" Sentak Ano pada Ana karena melihat kembarannya duduk disampingnya.
"Tamu tehalusnya yang duduk didepan ama papa talena tamu tama-tama lati-lati!"
Keano yang sudah berada didalam mobil bersama kedua anaknya sebenarnya merasa sedih. Karena salah satu dari anaknya tidak ada yang mau duduk di kursi depan bersamanya. Tapi, kesedihan itu hilang saat melihat istrinya menuju ke arah mobil dan hendak duduk di kursi depan bersamanya. Senyum kemenangan menghiasi wajah tampannya.
__ADS_1
"Berangkat yuk, Mommy sudah masuk mobil nih" ucap Keano dengan senyum penuh kemenangan, menghentikan aktivitas kedua bocil yang sedang beradu mulut.
Ano dan Ana bersamaan menatap Dea yang sudah duduk bersama papanya, dengan senyum manis yang menghiasi wajah imut mommynya. Keduanya saling beradu mata, timbul rencana dalam otak mereka.
"Mindil Ana duluan yang nyampek"
"Enak saja aku dulu yang nyampe! Jadi aku yang seharusnya duduk di pangkuan Mommy!" Si kembar keluar secara bersamaan, beradu kecepatan untuk duduk di kursi depan berada di pangkuan Mommynya.
Dea memandang kedua anaknya yang sedang bertengkar karena masalah berebut posisi berada dekat dengannya. "Berhenti!" Sentak Dea yang pusing mendengar celotehan si kembar. Keduanya diam menunduk. "Biar adil untuk semuanya, Mommy akan duduk dibelakang bersama anak-anak Mommy yang tampan dan imut ini. Bagaimana?" Tawar Dea dan di jawab sebuah anggukan penuh semangat oleh keduanya.
Keano yang mendengar tawaran Dea tentu sangat sangat tidak menyetujuinya. Bagaimana bisa istri serta anak-anaknya duduk dibelakang sedangkan dirinya duduk didepan sendirian sambil nyetir mobil. Supir pribadi dong, kalo gitu? Padahal tadi Keano sudah merasa menang dari kedua anaknya. Karena Dea memilih duduk disebelah bersamanya. Tapi sekarang...
"Tidak setuju! Itu sangat tidak adil untuk papa. Kalau kalian semua dibelakang, siapa yang menemani papa duduk didepan?" Protes Keano saat Dea berniat duduk bersama anak-anaknya.
"Bukannya tidak berani Ana sayang, tapi kalau semuanya duduk dibelakang, papa sendirian didepan, papa jadi supir dong?" Keano menarik napas panjang untuk menahan amarahnya yang memuncak karena anaknya.
"Memangna tenapa talau supil? Supil 'kan pekeljaan yang mulia, iya 'kan Ommy?"
"Iya sayang. Pinter banget sih anaknya Mommy" Dea menjawab sambil menahan tawanya agar tidak meledak. Keano selalu tak dapat berkutik setiap kali berdebat dengan anak-anaknya. Seorang CEO yang di segani serta di takuti oleh semua orang, kalah dan tak bisa berbuat apa-apa saat berhadapan dengan anaknya yang masih berusia lima tahun.
"Sekali-kali jadi supir tidak masalah pah. Lagian papa jadi supir keluarga sendiri, tidak akan ada orang yang tahu" karena terlalu lama berdiri, Ano pun ikut menimbrung pembicaraan agar masalah cepat selesai dan memulai perjalanannya.
"Baik. Papa yang jadi supir. Puass?!" Keano sudah tak mau berdebat, percuma, dirinya selalu saja yang akan kalah.
__ADS_1
🌻🌻🌻
"Pakde..." setelah keluar dari mobil, Ana langsung berlari dan berteriak memanggil Reno yang sedang lari sore di halaman mansion. Reno menghentikan aktifitasnya saat melihat keponakannya. Senang tapi juga sedih, itulah yang di rasakan Reno saat Ana datang.
"Padahal besok om mau ke rumah Ana. Ehh udah datang duluan kesini, pasti kangen sama om ganteng ya?" Reno langsung menggendong Ana dan menciumi pipinya yang cubby seperti bakpao. Karena sifat lucu, usil, menggemaskan dan pipi cubbynya yang selalu Reno ciumi itu, Ana seperti good mood bagi Reno, rasa kesal dan bosan Reno bisa seketika menghilang saat sedang bersama Ana.
"Iya, Ana tangen banget sama Pakde. Tapi tangen di beliin jajan dan mainan tama pakde doang" padahal Reno sudah senang saat Ana mengatakan kalimat pertamanya tapi senyumnya pudar saat Ana melanjutkan kalimat keduanya.
"Om Reno tidak akan membelikan Ana jajan sama mainan, kalo masih panggil om Reno 'pakde'" ancam Reno. Itulah hal yang membuat Reno sedih saat Ana datang. Sudah di peringatkan untuk memanggilnya om tapi Ana masih memanggilnya pakde. Memang sama artinya, tapi terdengar kurang keren bagi Reno.
"Pakde pakde pakde" bukannya menuruti perkataan Reno, Ana malah semakin menekankan kata pakde. Ana berlari ke arah Lily untuk mencari berlindung dari Reno.
Lily berdiri ditengah pintu, menunggu kedatangan anak, menantu serta cucunya dengan wajah yang gembira. Dea berjalan bersama Ano Dan Keano, menemui Lily yang tengah menunggunya. Dan Dea terkejut masuk kedalam mansion, matanya melihat sosok yang amat Dea rindukan tengah menanti dirinya. Orang tua Dea. Lily langsung menyuruh supirnya untuk menjemput Rifa'i dan Dena saat Dea mengatakan akan datang ke mansion. Lily memberi kejutan pada Dea dengan cara mendatangkan orang tua Dea.
Dea langsung berlari dan memeluk bapaknya yang kalem berlanjut memeluk ibunya yang cerewet. "Ngapain kesini?! Gak bilang-bilang lagi."
"Kamu makin perhatian aja sama ibu, gak usah repot mempersiapkan hal yang macam-macam. Ibu gak mau ngerepotin kamu hehe" ucap Dena, Dena berpikir jika Dea akan mempersiapkan suatu hal besar untuknya jika di mengatakannya dulu semacam penyambutan.
"Dihh pede bener. Ngapain Dea ngrepotin diri sendiri. Kalo ibu bilang mau kesini, Dea bisa beli kapas untuk menutupi telinga Dea, biar saat ibu bicara gak tembus sampai selaput gendang!" Dena langsung menarik telinga Dea saat Dea selesai bicara. Dea selalu ngajak berdebat Dena, masalah kecil bahkan sering di berdebatkan dan berujung dengan memerahnya telinga Dea.
"Nenek!" Si kembar berteriak sambil memelototi Dena, seakan tidak terima Mommynya di jewer. Meskipun Dea bersalah, tapi bagi si kembar Mommynya selalu benar.
Dena melepaskan telinga Dea, karena mendapat tatapan tajam dari cucunya. Apalagi Ana, dia melotot sambil menggerakkan giginya seakan siap memakan mangsa. "Nenek hanya bercanda kok hehe" ucapnya setelah melepas telinga Dea. Dena memilih tidak memuaskan menyiksa Dea. Daripada puas tapi terdapat bekas gigitan Ana di tubuhnya?
__ADS_1
Bersambung...