Married With Possesive Boss

Married With Possesive Boss
26. RUMAH DEA


__ADS_3

Dea sudah sampai di rumah orang tuanya yang begitu ia rindukan ibunya yang cerewet, bapaknya yang penyayang dan kasurnya yang selalu membuatnya nyaman.


"Tidak sabar jadinya pengen segera bertemu dengan kasurku" ucapnya sambil berjalan ke arah rumahnya.


Dea menggedor pintu dengan sangat keras seperti orang yang datang untuk menagih hutang yang sudah lama tidak di bayar-bayar.


"Siapa itu mengetuk pintu seperti mengajak perang saja" kata Dena yang berjalan menuju pintu.


Tapi saat Dena membuka pintunya tidak ada orang.


"Siapa?" kata Dena, karena tidak ada yang menjawab Dena kembali ke dalam.


"Mungkin orang gila yang nyasar" gerutu Dena karena tidak mendapati orang di luar.


Dan...


'Dorr' ucap Dea mengagetkan Dena sambil menepuk punggung ibunya, Dena sangat terkejut sedangkan Dea malah tertawa bahagia dan Dena langsung memarahi Dea karena membuatnya terkejut.


"Kau ini ya datang-datang bukanya membawa buah tangan malah membuat ibumu kaget, kamu ingin ibumu mati karena serangan jantung" bentak Dena pada Dea.


"Memangnya tangan bisa berbuah seperti pohon ya bu?


Terus-terus kalo membuat kaget orang memang ampuh bisa buat orang serangan jantung secara tiba-tiba bu?" tanya Dea yang pura-pura tidak mengerti.


"Bodoh kok di pelihara.


Ya, bisa membuat orang serangan jantung secara tiba-tiba" jawabnya.


"Ibu tahu darimana berita seperti itu?"


"Dari Kisah Beneran yang sering ibu tonton di tv"


"Ahh kalo begitu aku buat ibu kaget saja setiap harinya, biar kaya kisah-kisah yang ibu tonton bedanya ini lebih beneran dan nyata hahaha" ucapnya sambil berlari untuk menyelamatkan diri dari Dena.


"Hei awas kau ya ku kuliti nanti" teriak Dena.


Di pabrik Ida terus mencari dan menelpon Dea, yang sudah beberapa hari tidak berangkat kerja, Ida khawatir terjadi sesuatu pada Dea.


"Kenapa nomornya tidak bisa di hubungi beberapa hari ini, dia juga sudah tidak masuk kerja belakangan ini, kemana sebenarnya Dea sih" katanya yang khawatir dengan Dea.


Ida menelpon Al untuk mengetahui informasi darinya, mungkin saja Al tahu kemana Dea berada.


"Hallo, Al apa kau tahu dimana Dea berada, beberapa hari ini Dea tidak masuk kerja dan ponselnya juga tidak bisa di hubungi" katanya pada Al lewat ponsel.

__ADS_1


"Dia sudah ganti nomor jadi kamu tidak bisa menghubunginya"


"Lantas kemana Dea, mengapa tidak berangkat kerja belakangan ini?" tanyanya lagi pada Al.


"Dea sudah menikah kemarin dengan tuan Keano Atmaja" jelasnya dengan nada lemah karena Al sejatinya mencintai Dea namun cintanya itu bertepuk sebelah tangan.


"Kamu becandanya tidak lucu Al, mana mungkin Dea menikah dengan pengusaha kaya itu, lagian jika Dea mau menikah pasti memberi tahu aku" jawabnya tidak percaya.


"Aku tidak berbohong Da, ini kenyataannya"


Ida mengakhiri panggilannya bersama Al karena jam istirahatnya sudah habis tapi sebelum itu, Ida meminta nomor Dea yang baru kepada Al.


Dea sedang tertidur di kamarnya setelah makan siang dan berbincang-bincang dengan kedua orang tuanya, sampai ia lupa mengabari Keano jika ia sedang di rumah orang tuanya.


Keano sudah selesai dengan pekerjaan kantornya dan pulang ke mansionya, tapi saat Keano sampai di mansionnya ia tidak mendapati Dea menyambutnya.


Kenapa nona belum juga pulang, tuan muda pasti akan marah. batin pak Jamal.


"Dimana istri saya?" tanya Keano pada pak Jamal.


Mengapa tuan tidak tahu, apa nona belum memberitahu tuan.


"Memangnya nona tidak meminta ijin kepada tuan?"


"Di rumah orang tuanya tuan"


Keano langsung pergi ke rumag mertuanya sendiri tanpa Ken, mengendarai mobilnya seperti orang yang sedang kesetanan.


Tapi saat sampai di rumah orang tua Dea Keano berusaha mengendalikan emosinya, karena tidak ingin memperlihatkan sisi buruknya pada mertuanya tersebut.


Tok... tok...


"Ehh nak Keano, mau menjemput Dea ya?" tanya Dena yang melihat Keano datang.


"Iya, dimana ia sekarang tante"


"Jangan tante dong manggilnya, panggil aku ibu sama seperti Dea memanggilku.


Dea sedang tidur di kamarnya, mari masuk ibu antarkan" ucap Dena yang menggandeng tangan Keano untuk mengantarkannya ke kamar Dea.


Kamu enak-enakan tidur dan melupakan peritahku, awas kamu.


"Baik, mari" jawab Keano yang mengikuti Dena.

__ADS_1


"Apa tidak sebaiknya kamu menginap dulu di sini, ini sudah larut malam" tawar Dena yang berjalan menuju kamar Dea.


"Apa boleh?"


"Tentu saja, rumah ini juga rumahmu sekarang" jawab Dena.


Dena dan Keano sudah sampai di den pintu kamar Dea, Dena menyuruh Keano untuk masuk ke dalam dan membangunkan Dea sendiri.


"Berani kamu keluar rumah tidak meminta ijin terlebih dahulu kepada saya, akan saya pastikan kamu menerima hukumanmu nanti" katanya pelan sambil menatap Dea yang sedang tertidur.


"Malam ini kamu selamat, karena kamu sudah tertidur terlebih dulu, tapi besok saya pastikan kamu tidak akan selamat" ucap Keano yang langsung ikut tidur di sebelah Dea.


Keano ikut tidur di sebelah Dea, ia akan menghukumnya besok saat Dea sudah bangun dan pulang ke mansionnya, Keano tidak ingin orang tua Dea tahu bahwa Keano sudah tidak bersikap baik pada Dea dan juga tidak tega membangunkan Dea yang tengah lelap tertidur.


Pagi sudah tiba, Dea sudah bangun dari tidur nyenyaknya sampai menetes air liurnya karena terlalu nyenyak tertidur, tapi ia belum sadar jika Keano suaminya sedang berada di sisinya.


"Nyenyak sekali tidurku" katanya sambil menggerakkan kedua tangan dan kepalanya ke arah kanan dan kiri, Dea kembali menggerakkan kepalanya ke kanan karena sepertinya ada seseorang yang sangat ia kenal.


"Oh tidak bos Keano, kenapa aku bisa lupa untuk menyambutnya dan kenapa ia bisa ada di sini. Game over sudah hidupku" gerutunya yang terkejut sekaligus menyesal karena bisa melupakan perintah Keano.


"Kamu sudah bangun, mengapa tidak membangunkan saya" ucap Keano dengan santai tapi seperti bom bagi Dea.


Dia sudah bangun, bantu aku Tuhan.


Dea menengok ke arah Keano sambil tersenyum pada Keano, "Hehehe, bos kok bisa di sini?"


"Tentu saja menjemput istri saya, memangnya untuk apa lagi saya kemari"


Kata-katanya terdengar sangat romantis tapi itu malah terdengar sangat mengerikan bagiku.


"Bos maafkan saya bos, saya tidak minta ijin pada bos, saya lupa menyambut bos dan, ahh pokoknya salah saya banyak pada bos, bos jangan hukum saya bos.


Saya janji setelah ini saya akan terus meminta ijin pada bos saat akan pergi" ucap Dea yang merasa ketakutan dan berharap Keano mau memaafkannya.


"Saya memaafkanmu, tapi kamu akan tetap mendapatkan hukumanmu nanti" katanya sambil melangkah pergi dari ranjang dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Kalau bos tetap saja menghukum itu sama saja, aku tidak bos maafkan, tamat sudah riwayatmu setelah pulang dari sini De.


**Hai kakak-kakak yang baik hati dan tidak sombong terima kasih sudah main ke novelku, aku harap kalian suka dengan novel ini.


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan rate bintang 5 yup.


Terima kasih dan jumpa lagii bayyy***.

__ADS_1


__ADS_2