Married With Possesive Boss

Married With Possesive Boss
84. COBAAN?


__ADS_3

Setelah Keano pergi, Dea hanya menonton tv sambil memegang makanan ringan sesekali ia memakannya dan di temani beberapa ARTnya, mereka juga ikut menonton tv bersama Dea, menjaga sekaligus menemani istri dari tuan muda muda mereka.


"Bi Narsih, Siti, Dini dan lainnya, ayo kemari duduk di sofa semua. Masa Dea saja yang duduk, tidak sopan dong" Dea mengajak semua ARTnya duduk bersama tapi semuanya hanya berdiri diam sambil menunduk. Ada sepasang mata yang memperhatikan gerakan mereka. Siapa lagi kalau bukan kepala ART bapak Jamal, yang sudah tua tapi masih memiliki sorot mata seperti senter, menyala terang dengan aura yang dapat membutakan mata.


"Tidak Nona, kami berdiri saja. Tidak pantas kalau kami duduk bersama majikan di sofa mahal ini. Dan jika kami lelah kami akan duduk di lantai saja" jawab salah satu pelayan dan di angguki oleh semua pelayan. Dea hanya menghela nafas, ia tahu penyebab dari ketakutan mereka. Dea melirik pak Jamal yang terlihat santai tanpa merasa berdosa sedikitpun.


"Hemm pak Jamal, bisa tolong ambilkan ponsel Dea yang tertinggal di kamar" Dea sengaja menyuruh pak Jamal untuk mengambilkan ponselnya karena memang hanya pak Jamal yang diperbolehkan masuk ke kamar Dea oleh Keano. Dan juga ada sesuatu yang akan Dea lakukan dan akan terlaksana dengan mulus setelah pak Jamal pergi dari hadapannya.


Pak Jamal langsung menuruti perintah Dea, sebenarnya dalam hatinya sudah tak enak. Akan ada sesuatu yang akan Dea lakukan. Tapi pak Jamal harus tetap mengambilkan ponsel Dea, karena hanya dia orang kepercayaan Keano. Dea mulai berdiri mendekat ke arah pelayan saat pak Jamal mulai pergi.


"Kita semua sama-sama manusia ciptaanNYA, sesama mahlukNYA harus saling menghormati. Masa Dea duduk di atas, bi Narsih yang udah berumur duduk di lantai? Lagipula kita semua sama di mata Tuhan, yang miskin dan kaya,cantik dan jelek semua sama. Hanya amal yang membedakan kita. Jadi jangan pernah berpikir kita berbeda hanya karena harta. Dulu sebelum Dea menikah dengan bos Keano, Dea juga orang miskin hanya seorang karyawan biasa yang gajinya bahkan di bawah kalian. Ayo duduk di sini, bersama seorang gadis miskin dengan gaji yang cukup. Bukan bersama nona kaya yang kayanya hasil kerja keras suaminya" semua pelayan terharu mendengar perkataan Dea yang menurutnya sangat menghargai mereka yang hanya seorang pelayan biasa.


Pak Jamal kembali dan sudah ia duga akan terjadi sesuatu. Dan benar, saat pak Jamal datang untuk memberikan ponsel pada Dea, semua pelayan sudah duduk di sofa sambil fokus menatap tv, ada yang sudah menangis tersedu-sedu karena melihat seorang suami yang tega menghianati istrinya. Ada juga yang merasa jengkel dan ingin mencekik sang suami dari istri yang telah dihianati.


"Kurang sajen tuh mulut suaminya, udah menghianati istrinya malah istrinya yang di salahkan dengan alasan kurang modis!" Tutur Dini dengan kesal.

__ADS_1


"Kasihan sekali istrinya, untung saja suamiku baik dan setia hiks" bi Narsih sampai menangis terbawa suasana.


"Miskin belagu, pakai selingkuh segala. Coba aja kalau istrinya minta cerai gak akan punya apa-apa dia!"


"Iya, kenapa istrinya lembek banget sih. Udah di selingkuhin sama di banyak masih aja bertahan." Satu persatu suara mereka mulai terdengar. Dea senang karena melihat semua pelayannya menjadi diri mereka sendiri.


"Nona, ini ponsel anda" pak Jamal datang, berbicara menengahi perdebatan para pelayan. Pelayan langsung diam menunduk tak berani mendebatkan masalah tv.


"Terima kasih pak. Pak Jamal jangan memarahi mereka ya, mereka duduk atas permintaan Dea" pak Jamal mengangguk mengerti perkataan Dea. Mau bagimana lagi, para pelayan sudah terlanjur duduk manis. Pak Jamal akhirnya memilih undur diri mengurus masalah dapur. Dea dan teman-temannya bisa kembali berekspresi seperti tadi.


"Nona ponsel ada bernyanyi" ucap Dini, memberitahu Dea karena Dea terlalu asik dengan tontonannya sampai tidak menyadari ponselnya yang terus bernyanyi.


Dea mengambil ponselnya, melihatnya dan ternyata sekretaris Kenan yang menelponnya bahkan sudah memiscallnya selama tiga kali, "Ada apa, mengapa tumben sekali dia menelponku" gumam Dea dan segera mengangkat panggilannya.


"Apa apa" ucap Dea sekenanya karena Ken sering bersikap seperti itu padanya. Sekarang gantian dirinya.

__ADS_1


Tapi Dea tidak mendengar balasan Ken, sinyalnya tidak bagus di tambah kebisingan tv dan para pelayan yang beradu argumen. Dea menyingkir, menjauh dari para pelayan, "Iya ada apa? Kenapa menelponku sampai beberapa kali? Kalau tidak ada kepentingan lebih baik tidak usah menelpon. Aku sedang sib--" Dea belum selesai mengucapkan dialognya, tapi si Ken sudah menyelanya.


"Pesawat yang di tumpangi tuan Keano jatuh" sela Ken. Dea yang mendengar perkataan Ken langsung menjatuhkan ponselnya tidak mendengar kelanjutan cerita Ken. Dea menangis histeris, hingga membuat semua pelayan terkejut.


"Jadi ini kejutan yang akan kamu berikan padaku? Kamu pergi meninggalkanku dan anak-anak kita. Kamu pergi dan pamit kepada kami untuk pergi sebentar dan kembali lalu menemaniku memperjuangkan anak kita. Kenapa kamu tega melakukannya? Hiks hiks hiks..." Dea sudah di kerubungi para pelayan, yang khawatir melihat kondisi Dea. Ada satu pelayan yang memanggil Lily, untuk memberitahukan keadaan Dea.


"Nona apa yang sudah terjadi? Kenapa nona menangis?" Tanya bi Narsih seperti seorang ibu yang bertanya pada anaknya, sambil merangkul pundak Dea. Tapi Dea bukannya menjawabnya, malah suara isak tangisnya bertambah keras.


"Bik, lihat kaki nona Dea ada darahnya" Dini berkata sambil menunjuk kaki Dea yang berdarah. Dea ikut melihat kakinya dan benar kakinya berdarah. Karena terlalu meratapi keadaan Keano, Dea tidak menyadari ada darah yang keluar melalui organ vitalnya. Dea hanya merasakan perutnya yang sakit tapi rasa sakit di perutnya seperti tidak terlalu terasa. Karena sakit hatinya atas berita jatuhnya pesawat Keano sudah mendominasi.


Cobaan apa lagi ini, Tuhan? Mengapa Engkau memberiku cobaan sekaligus, salah satu saja aku masih belum nyakin bisa menjalaninya.


Dea langsung pingsan, setelah melihat ke arah kakinya. Bersamaan dengan pingsannya Dea, Lily datang.


"Cepat siapkan mobil. Dan bawa Dea ke rumah sakit terdekat!" Teriak Lily. Dea di gotong oleh bodyguard Keano dan di masukkan ke dalam mobil. Perasaan Lily tidak kalah khawatir, saat melihat mantunya pingsan dengan keadaan darah keluar melalui organ vitalnya, di tambah dengan tangis Dea yang terlihat begitu berat. Apa yang sebenarnya terjadi? Pikir Lily sekarang.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2