Married With Possesive Boss

Married With Possesive Boss
68. KELUAR DARI RS


__ADS_3

Setelah tuju hari tuju malam berada di rumah sakit, tapi boong. Dea akhirnya pulang dari rumah sakit setelah membujuk suami tercintrong dengan susah payah. Ehh udah manggil suami tercintrong dong, kan udah nyatain cinta tadi. Kalian tahu kan jika meminta sesuatu dari Keano harus membalasnya, memberi imbalan, entah itu sekarang atau lima puluh tahun lagi. Cie siapa yang bacanya sambil nyanyi?


Dan jika Keano meminta imbalan pasti imbilannya harus di bayar dengan tubuh molek Dea tapi kali ini Dea bisa meminta sesuatu tanpa harus menumbalkan tubuh moleknya. Mau tahu caranya, ikuti terus channel ini dan jangan lupa subreknya. Ehh kok jadi youtube sih, inikan novel yak?


Makan malam ala-ala nenek Kebayan sudah selesai, saatnya bojel dulu. Tapi sebelum bobo jelek, Dea minta sesuatu dulu sama suaminya yaa, biar tidurnya bisa tenang sampai ke alam baka.


"Sayang, besok aku pulang ya? Kan udah sembuh" rayunya dengan seutas senyum manis, semanis janjinya mas mantan.


"Tidak!" Jawabnya spontan. Etdah gak di kunyah, di cerna dan di telen dulu kek permintaan Dea, main jawab tanpa pikir dulu.


Wajah dengan senyum manis tadi berubah jadi kecut kaya bau keteknya Keano, "Tapi Sayang, ini maunya bayi kecebong kita, emang kamu mau anak kita nanti lahirnya jadi kodok beneran karena kemauannya gak di turutin, gimana?" Nih ibunya kodok minta di jadiin cilok sama Keano kayaknya, masa anak sendiri di bilangin anak kecebong.


"Jangan sebut anak ku bayi kecebong! Dan tidak usah membodohiku dengan omongan palsumu! Mana ada bayi manusia lahirnya jadi katak" nah baru nyahokan Dea, lagian buat alasan ngada-ngada gak masuk akal lagi. Tapi bukan Dea namanya kalo hanya diam bersemedi di kamar mandi.


"Hehe maaf Sayang, itu panggilan kesayangan dariku karena aku suka sama Keroppi. Jadi ya gitu deh. Tapi aku gak bisa tidur di rumah sakit, jika aku tidak tidur otomatis bayi kece-- hehe," hampir aja Dea ngomong kecebong, untung aja mulutnya bisa di rem. Jak ilah makin canggih aja nih mulut lamis, mulut aja bisa di rem kaya kendaraan bentar lagi bisa terbang kaya tentara payung, biar saat ada orang ngomong nyeklit gak di rem di terbangin aja supaya kagak bisa julid sama ciuman lagi, "Maksudnya bayi kita juga gak bisa tidur, terus nanti kalo bayi kita lahir belekan terus, gimana?" Sambungnya. Pinter juga ibunya kodok nyari alesan, Keano sampai berpikir keras nyampe ngebul kepalanya. Kaya bakso yang baru di buka dari wadahnya.


"Ini benar kemauan bayi kita?" Tanyanya, akhirnya ragu juga Keano.


Dea mengangguk cepat, "Iya Sayang, aku udah bicara dari hati ke hati dengan bayi kita dan bayi kita maunya pergi dari rumah sakit ini" maunya kamu tuh Deu, janin umur empat minggu mana udah membentuk. Tapi gak tau juga sih kalo Dea ternyata anak Indihome, ralat Indigo maksudnya.

__ADS_1


"Baiklah, tapi kamu akan tetap dalam pengawasanku!" Dea mengangguk setuju. Tidak apalah cuma dalam pengawasan doang. Yang penting bisa keluar dari rumah sakit dan tidak makan bubur lagi.


Keano menggeser Dea yang awalnya di tengah ranjang rumah sakit, jadi di pinggir. Bapaknya kecebong mau ngapain dah pake pindahin ibunya kecebong, kalo kata lagunya Syahrini ada Sessuatuh, "Sayang kamu ngapain geser aku?" Tanyanya was-was.


Belum juga jawab udah ada di atas ranjang aja nih bapaknya kecebong, "Aku tahu kamu tidak bisa tidur jika aku tidak memelukmu. Jadi sebagai suami dan calon ayah yang baik, aku akan memberikan kenyamanan untuk kalian" katanya yang udah meluk Dea dan menutup matanya. Pedenya tingkat dewa 19 woy, tanpa Keano peluk pun Dea bisa tidur tuh malah lebih nyaman dan tentram.


Dea ingin menolak, tapi saat Dea memanggil-manggil nama suami tercintrongnya, Keano tak menggubris. Keano lebih memilih pura-pura merem. Coba kalian bayangkan ranjang rumah sakit yang sempitnya kek kuburan di muat dua orang, mana orangnya gagah bener kaya ondel-ondel.


"Sayang, sempit aku gak bisa gerak" ucap Dea. Bukannya Keano turun terus tidur di lantai. Kejem bener dah masa suami sendiri di suruh tidur di lantai.


Ya udah! Keano turun dari ranjang terus tidur di sofa kek, malah semakin ngencengin pelukannya.


Nyutt... Suara apa tu? Kedua buah dada Dea menempel di dada Keano. Sakit tapi nikmat itulah yang Dea rasakan.


Duhh kok aku jadi seneng gini sih? Padahal kedua balonku ternodai dan rasanya sakit tapi nikmat sedaap gimana gitu. Ini otak udah mulai kotor sama hal mesum mesti di cuci sama pemutih biar putih dan suci lagi nih.


🌻🌻🌻


Pagi yang sangat indah karena hari ini Dea pulang dari rumah sakit, tidak sia-sia juga semalam Dea ngibulin Keano masalah dirinya yang pura-pura ngidam pengen pulang.

__ADS_1


"Untuk apa kursi roda ini Sayang" tanya Dea. Ia melihat Keano membawa kursi roda, perasaan di sekitarnya gak ada orang yang lumpuh dah.


"Untuk membawaku keluar dari rumah sakit ini" jawabnya dengan santai. Mulai nih posesifnya kumat, orang Dea waras wiris di suruh naik kursi roda.


"Tidak mau! Memangnya aku terkena sirop apa! Maksudnya Stroke apa! Orang aku sehat dan kuat kok" ucapnya yang tidak mau naik kursi roda.


Bukannya membujuk atau menenangkan Dea supaya mau kursi roda, eh malah seenak jidadnya maksa Dea, "Kamu mau naik kursi roda atau aku akan menggendongmu?!" Ini nawarin apa maksa? Kok gak ada bedanya, pake nada tinggi pula.


"Jalan sendiri!" Jawab Dea. Ia melihat mata Keano yang mendelik ke arahnya. Dea segera mencari akal untuk selamat dari amukan Keano.


"Eh iya sayang ada apa? Mommy di sini, apa? Kamu mau jalan aja sama Mommy? Tapi Bapake minta Mommy naik kursi roda, gimana dong?" Ucapnya sambil melihat ke arah perutnya, seolah-olah sedang bicara pada anaknya. Keano melongo melihatnya antara tidak yakin dan tidak percaya. Tidak yakinnya, masa janin bisa mengungkapkan keinginannya dan tidak percaya ia bisa mencintai seorang wanita yang seperti Dea bentukannya.


"Tuh Sayang, anak kita maunya jalan gak mau naik kursi roda dan juga gak mau kamu gendong. Jadi aku jalan sendiri saja, ya? Kamu mau anak kita ngambek terus gak mau berkembang dan keluar dari pe--" ucapnya terpotong.


"Baiklah! Tapi jangan panggil aku Bapake! Dan jalannya harus pelang-pelan!" Yang benar saja Keano di panggil Bapake, si Dea panggilannya Mommy. Beda jauh oyy kalau Dea di panggil Mommy seharusnya Keano di panggil Papa dong. Ehh ini malah di panggil Bapake kaya Narji dong, BAPAKE INYONG. Keano memilih percaya saja dengan perkataan Dea karena Keano tidak tahu masalah apapun mengenai masalah kehamilan dan ngidamnya seorang wanita hamil. Yang ia tahu cara membuatnya saja.


"Tapi bagus Sayang panggilan Bapake, terdengar romantis," romantis dari mana coba, emang dalam hubungan sepasang kekasih pake kata romantis segala. Keano lebih milih diam tidak menjawab perkataan Dea yang ngawurnya minta di semprot.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2