
Najwa melemparkan sebuah kotak berwarna hitam diatas tempat tidur, tepat di dekat kaki Ega.
"Apa ini?" tanya Ega.
"Kata Gina itu barang yang sangat kakak sukai, dan kakak inginkan. Dia menghabiskan tabungannya hanya ingin membuat kakak senang dan melihat kearahnya," ujar Najwa sembari mematut dirinya di cermin.
Tanpa berkata apapun, Ega membuka kotak berwarna hitam itu dan dia sempat terkejut saat mengetahui isinya sebuah jam tangan yang pernah dia inginkan sejak lama. Gina memang tahu soal itu, karena dia pernah pergi ke mall bersama gadis itu. Ega memang pernah bilang tentang keinginannya punya jam tangan mewah dengan merk Rolex. Namun itu hanya sekedar keinginan baginnya.
Ega yang tampak melamun, tertangkap basah oleh Najwa melalui pantulan cermin.
"Sepertinya kak Ega memang menyukai jam tangan itu. Apa aku harus mengizinkannya memakai jam tangan pemberian dari wanita lain? berapa pastinya harga jam tangan itu? apa aku bisa menabung buat membelikan barang serupa?" batin Najwa.
Ega terlihat menutup kotak itu dan meletakkannya diatas meja, tanpa ada niat ingin mencobanya. Dia tidak ingin menambah masalah pada rumah tangganya yang sudah berjalan harmonis. Ega memutuskan akan mengembalikan benda itu, dan lebih tegas lagi pada Gina.
"Kenapa tidak kakak pakai? jam tangan yang kamu inginkan kan?" tanya Najwa sembari menahan letupan di dadanya.
"Dulu aku menginginkannya. Tapi sekarang tidak lagi. Lagi pula buat apa beli barang semahal itu. Lebih baik kutabung buat beli rumah yang lebih besar buat kita dan anak-anak nanti." Jawab Ega.
Jawaban Ega membuat dada Najwa terasa berbunga-bunga. Rasa sesak yang semula menghimpit, mendadak longgar seketika.
Ega perlahan mendekat kearah Najwa. Dan memeluk leher istrinya itu dari belakang.
Cup
Ega mencium puncak kepala Najwa, dengan tatapan mata mereka yang beradu lewat cermin.
"Aku tidak akan membiarkan ada celah bagi wanita lain masuk dalam hubungan kita. Aku minta maaf kalau kedatangan Gina hari ini membuat suasana hatimu menjadi buruk, ataupun bersedih,"
"Tapi apa yang dikatakan Gina benar adanya kak. Aku memang nggak mampu menyenangkan hatimu dengan membeli barang yang kakak mau. Apalah dayaku yang hanya seorang kasir," ujar Najwa dengan wajah sedih.
"Husssttt....," Ega membelai bibir Najwa lembut dengan ibu jarinya.
"Apa kamu tahu? sejujurnya aku lebih suka kamu diam dirumah, daripada kamu bekerja di luar. Sejujurnya aku trauma. Aku takut ada pria lain yang memperhatikanmu dan merebutmu dariku seperti yang Arga lakukan dulu."
"Tapi aku tidak mau egois. Kamu juga butuh bersosialisasi dengan teman-temanmu. Kamu juga punya kebutuhan yang mungkin tidak bisa aku penuhi,"
"Apa kakak ridho aku bekerja?" tanya Najwa.
"Ridho sayang. Kalau aku tidak ridho, pasti aku akan bilang." Jawab Ega sembari membelai rambut indah istrinya.
__ADS_1
"Apa kakak yakin mau mengembalikan jam itu?" tanya Najwa memastikan.
"Tentu saja. Kalau aku memakainya, itu akan membuat dia berpikir masih ada celah buat dia masuk diantara kita. Sudah aku bilang, aku tidak ingin wanita lain dalam hidupku, selain kamu." Jawab Ega.
"Aku mencintaimu kak," ujar Najwa.
"Aku lebih mencintaimu lagi." Jawab Ega.
"Kakak mandi gih. Udah hampir jam 11," ujar Najwa yang membuyarkan imajinasi seorang Ega.
"Ckk...sayang. Kamu mah suka gitu deh. Udah bagus kata-kata terakhir kita terdengar romantis. Kalau di film-film adegan selanjutnya pemeran utama pria dan wanita pasti akan berciuman, dan berakhir diatas ranjang yang panas. Lah ini? aku malah disuruh mandi. Ambyar semua imajinasiku," ujar Ega yang dibalas kekehan oleh Najwa.
"Lagian apa nggak bosan kak? kita kan udah 3 kali mainnya?" tanya Najwa.
"Urusan satu itu mana bisa bosan. Terlebih punyamu bikin nagih," ucap Ega yang membuat mata Najwa melotot saat mendengar kata-kata fulgar dari suaminya.
"Sekali lagi oke?" sambung Ega sembari mengedip-ngedipkan matanya yang menggemaskan.
"Ya sudahlah. Sekalian mandi bersama saja." Jawab Najwa yang langsung membuat Ega bersorak.
Dan jadilah dua sejoli itu bercinta di dalam kamar mandi, hingga waktu yang merekapun tidak tahu kapan berakhirnya.
*****
Senyum Arga terkembang dibibirnya, saat dirinya baru turun dari pesawat dan tiba di bandara Soekarno Hatta. Saat tiba, dirinya sudah dijemput oleh keluarganya dengan penuh suka cita.
Argapun memutuskan segera pulang ke apartemennya. Rumah yang sangat dia rindukan, karena banyak menyimpan kenangan antara dirinya dan Najwa.
Kriekkkk
Suasana sunyi begitu menggigit saat pertama kali dirinya melangkah masuk ke dalam rumah itu.
"Ahh...aku masih merasakan kehadiranmu disini sayang," ujar Arga sembari meraba seprei yang dia tinggalkan sewaktu terakhir kali berpisah dengan Najwa.
Arga memutuskan untuk beristirahat. Dia akan menemui Najwa keesokkan harinya.
*****
"Tolong rangkaikan aku bunga mawar merah ," ujar Arga pada seorang pedagang bunga.
__ADS_1
Setelah menunggu beberapa saat, Argapun menerima buket bunga mawar merah yang di rangkai dengan sangat cantik.
Arga bergegas pergi dengan motor kesayangannya. Setelah memakan waktu hampir 15 menit, diapun tiba di rumah kontrakkan Butet yang dia kira mereka masih tinggal disana.
Tok
Tok
Tok
Arga mengetuk rumah kontrakkan itu. dan keluarlah seorang gadis dari dalam rumah itu.
"Mau cari siapa mas?" tanya gadis itu.
"Kamu siapa? apa kamu temannya Butet? Butetnya ada?" tanya Arga.
"Butet? Butet siapa? maaf mas, saya baru ngontrak disini setelah penghuni sebelumnya pindah." Jawab gadis itu.
Arga tertegun. Dia sangat kecewa karena dia tidak bisa bertemu dengan Najwa.
"Kalau mereka tidak ada disini, lalu mereka pindah kemana?" batin Arga.
Arga bergegas ke restauran tempat Butet bekerja. Dia masih berharap Butet masih bekerja di restauran miliknya. Namun harapan tinggal harapan. Di restauran Arga juga tidak menemukan keberadaan Najwa dan Butet.
Arga mencoba menghubungi nomor ponsel Najwa dan Butet. Namun ternyata nomornya sudah mereka blokir.
"Uda Arga cari Butet?" tanya salah seorang pegawainya.
"Ya. Apa kamu tahu sesuatu?" tanya Arga.
"Butet dan Uni Najwa sudah kembali ke kampungnya," jawab gadis itu.
Mendengar itu tentu saja Arga terkejut. Dia tidak menyangka kalau luka yang dia berikan pada Najwa, membuat wanita itu berpikir akan kembali kekampung halamannya.
"Tidak apa. Untuk membujuk wanita yang terluka, aku harus berkorban bukan? sejauh apapun dia pergi, aku akan mengejarnya," batin Arga.
Arga memutuskan akan pergi kerumah Najwa keesokkan harinya.
To be continue...🤗🙏
__ADS_1