
shaaaaaaaa
Suara gemericik air keluar dari shower yang membasahi tubuh Ega. Pria itu berulang kali mengusap dua tanda merah didadanya. Entah mengapa kali ini Ega merasa jijik dengan dirinya sendiri, padahal tanda-tanda itu biasa dibuat oleh Melody, setiap kali mereka bercinta.
Namun kali ini sangat berbeda. Ega merasa sangat bersalah pada Najwa. Dua tanda itu mengingatkan dirinya atas kecerobohannya malam tadi.
"Maafkan kakak Najwa. Maaf," air mata Ega mengucur, saling berlomba dengan turunnya air shower yang ada diatas kepalanya.
"Oh iya. Kak Ega kan lagi mandi, aku belum menyiapkan baju bersih buat dia," ujar Najwa.
Najwa meletakkan pisau yang dia gunakan untuk mengiris bawang. Wanita itu bergegas masuk ke kamar Ega, untuk menyiapkan baju bersih untuk suaminya itu. Saat Najwa selesai meletakkan baju diatas tempat tidur, Egapun keluar dari kamar mandi.
"Kak itu ba...ju," Najwa terdiam saat melihat ada dua tanda merah di dada suaminya. Namun Najwa segera memalingkan wajahnya berpura-pura tidak melihat.
Sementara itu Ega yang terkejut langsung berpura-pura menutupi dadanya. Namun tanpa Ega tahu, Najwa sudah terlanjur melihat semuanya.
"Ada apa sayang?" tanya Ega bersikap santai.
"Itu bajunya sudah aku siapkan. Aku mau lanjut masak lagi." Jawab Najwa.
"Makasih istri sholehaku," goda Ega, sementara Najwa hanya membalasnya dengan senyuman hambar.
Najwa kemudian keluar dan menutup pintu. Seiring pintu itu tertutup, jatuh berdentum pula air matanya. Ada rasa sesak didadanya, saat melihat tanda-tanda percintaan suaminya dengan wanita lain.
"Hikz...kenapa sakit sekali ya Allah...."
Najwa terisak sembari berjalan menuju dapur. Sementara di dalam kamar, Ega menghembuskan nafas lega. Karena merasa tanda merah itu tidak sempat Najwa lihat.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan? apa aku harus menceritakan kejadian semalam dengan detail? tapi dia pasti akan terluka. Pokoknya apapun yang terjadi, bulan depan aku harus mengungkapkan perasaanku padanya. Aku akan melamarnya sekali lagi secara resmi. Sebagai tanda perasaanku sudah benar-benar tumbuh, dan aku akan membuat dia benar-benar jatuh cinta padaku," ucap Ega sembari mengenakan pakaian yang di pilihkan oleh Najwa.
Tak
Tak
Tak
Najwa merajang sayur diatas talenan dengan lumayan kasar. Suasana hatinya mendadak buruk setelah melihat dua tanda cinta di dada suaminya. Tanda yang belum pernah dia lukis di tubuh orang yang dia cintai itu.
"Awwww...." Najwa menjerit sembari menghapus air matanya. Saat tidak sengaja pisau yang dia gunakan untuk memotong sayur, mengenai ujung jarinya.
Najwa mengibas-ngibaskan jarinya, karena terasa perih sekaligus sakit. Namun rasa sakit itu tidak sebanding dengan rasa sakit dihatinya.
Najwa pergi ke washtafel, dan membasuh lukanya dibawah air yang mengalir. Setelah itu dia mengelap sisa air dengan lap tangan, dan pergi ke kamar untuk mencari plaster luka.
__ADS_1
"Kemana dia?" ujar Ega saat pria itu tidak melihat keberadaan Najwa di dapur.
Ega kemudian memeriksa di kamar Najwa, dan benar saja Najwa sedang berada di kamar itu sembari menangis.
"Sayang. Kamu kenapa menangis?" tanya Ega panik.
Najwa bergegas menyapu air matanya, karena tidak ingin Ega curiga penyebab dirinya menangis.
"A-Aku terluka kena pisau." Jawab Najwa seadanya.
"Apa? mana?" Ega panik dan meraih tangan Najwa.
Ega melihat luka itu sudah dibalut Najwa dengan plaster. Ega kemudian membuka plaster itu untuk memastikan seberapa parah luka itu. Ega bisa bernafas lega, karena luka itu tidak separah yang dia kira. Pria itu menatap wajah cantik Najwa yang sudah memerah karena terlalu banyak menangis.
"Bahkan luka sekecil ini bisa membuat dia menangis sedemikian rupa. Bagaimana kalau sampai dia tahu, malam tadi suaminya...."
"Apa ini sangat sakit?" tanya Ega yang hanya dijawab anggukkan oleh Najwa.
"Apa kita perlu kerumah sakit. Hem?" tanya Ega sembari mengelus wajah cantik Najwa.
"Tidak perlu. Ini hanya luka kecil kak." Jawab Najwa.
"Tapi kenapa kamu nangis sampai segitunya? lihatlah, wajah cantikmu jadi merah," ujar Ega.
Sementara itu mendengar jawaban polos Najwa, Ega jadi tertawa keras. Bahkan pria itu membawa kepala Najwa berada dalam dekapannya.
"Hari ini tidak usah masak. Kita makan diluar saja yuk?" tanya Ega.
"Eh? kakak mau ajak aku jalan-jalan?" tanya Najwa.
"Iya. Kemarin kan kita gagal jalan. Hari ini kakak mau menebus kegagalan yang kemarin." Jawab Ega.
"Ide yang tidak buruk. Kalau begitu aku mau makan ice cream sepuasnya hari ini," ujar Najwa.
"Ice cream?" tanya Ega.
"Ya. Apa boleh kak?"
"Tentu saja. Kakak akan membawamu ketempat yang khusus menyediakan aneka sajiian ice cream." Jawab Ega.
"Benarkah?" Najwa terlihat semringah. Ega sangat bahagia, karena berhasil mengembalikan senyum diwajah istrinya itu.
Sesuai janji Ega. Pria itu membawa Najwa mengunjungi suatu tempat yang bertuliskan 'Rumah Ice cream'. Senyum semringah terbit dari bibir Najwa. Sebagai pencinta ice cream, mata Najwa jadi berbinar saat melihat box-box berisi ice cream dengan beraneka toping.
__ADS_1
"Disini kamu bisa makan ice cream sepuasnya. Dengan memilih berbagai toping yang kamu sukai," ujar Ega.
"Benarkah? jadi bagaimana cara mereka menentukan harganya?" tanya Najwa.
"Berdasarkan wadah yang kamu pakai. Semakin besar wadah yang kamu gunakan, maka semakin mahal harga ice creamnya." Jawab Ega.
"Tapi kamu jangan pikirkan masalah harganya, kamu makan saja apa yang kamu sukai," sambung Ega.
Karena terlalu senang, Najwa memesan beberapa menu ice crem dan memakannya dalam jumlah banyak.
"Ah...ya Tuhan...ini sungguh mengenyangkan," ujar Najwa sembari mengelus-elus perutnya.
"Kenyang apanya? yang ada perutmu akan kembung. Kamu terlalu banyak memakannya, takutnya kamu sakit," ucap Ega.
"Nggak akan. Aku jagonya kalau makan ice cream." Jawab Najwa dengan sombongnya.
"Ya sudah. Kita mau kemana lagi ini?" tanya Ega.
"Terserah kakak. Aku sih nurut saja," ujar Najwa.
"kita pergi ke mall yuk? kemarin kan rencananya kita mau pergi ke mall," ucap Ega.
"Oke." Jawab Najwa.
Dua sejoli itupun pergi ke mall. Ega mengajak Najwa pergi ke toko perhiasan.
"Kita mau apa kak kesini?" tanya Najwa.
"Mau beli tempe. Ya beli perhiasan dong." Jawab Ega.
"Apa dia ingin membelikan Melody tapi minta pendapatku?" batin Najwa.
"Aku mau kalung itu," ujar Ega menunjuk kalung yang terbuat dari Emas putih.
"Sekalian bandulnya yang itu," sambung Ega.
Pegawai toko itu pun membungkus pesanan Ega yang bernilai 10 juta rupiah itu. Setelah itu Ega memasukkan benda itu kedalam tas Najwa, tanpa berkata apapun.
"Dia tidak mengatakan apapun. Dia juga tidak meminta pendapatku. Apa ini memang permintaan Melody?" batin Najwa.
Ega menggenggam tangan Najwa. Ega menyelipkan jari-jarinya di sela jari Najwa. Pria itu kemudian membawa Najwa ketempat toko yang menjual aneka baju muslim.
To be continue...🤗🙏
__ADS_1