
"Bangunlah! mau sampai kapan kamu tidur disini? ini bukan rumah pribadimu," ujar Ega dengan suara dinginnya.
Mendengar suara yang dia kenal, Najwa seketika membuka matanya. Najwa kemudian duduk tegap, dan berusaha mengembalikan nyawanya yang sempat mengembara dialam bawah sadar.
"Kakak sudah pulang?" tanya Najwa sembari meraih tangan suaminya untuk dia cium.
Diperlakukan seperti itu, yang tadinya hendak mengomel, kata-katanya jadi hilang ditelan tenggorokkannya. Tanpa banyak kata, Ega kembali menenteng barang belanjaannya dan pergi menuju lift.
Melihat Ega yang bergegas, Najwa tidak ingin ketinggalan dan kehilangan jejak suami galaknya itu. Najwa bergegas meraih kopernya, dan mengekor di belakang Ega.
Tak ada pembicaraan saat mereka berada didalam lift. Najwa bahkan merasa, Ega saat ini sama sekali tidak suka melihat kehadirannya ditempat itu.
Tat tit
Tat tit
Ega menekan beberapa angka di depan pintu apartemennya, Pintu itu kemudian terbuka dan mereka masuk kedalamnya. Najwa yang bingung harus melakukan apa, jadi duduk saja di sebuah sofa berukuran panjang. Ega bahkan sama sekali tidak menawari dirinya buat masuk ke kamar mereka, ataupun menanyakan tentang perjalanannya selama menuju kota J.
"Ya ampun...kok rasanya gini amat ya? aku kayak nggak dianggap gitu? jadi aku harus apa ini? apa dia ingin kami pisah kamar?" batin Najwa.
Sementara itu Ega yang sudah dulu masuk kamar, bergegas membersihkan diri. Najwa yang melihat barang belanjaan Ega, berinisiatif untuk menyusunnya kedalam kulkas. Najwa juga mencuci beberapa piring kotor di washtafel, piring kotor yang Ega tinggalkan sebelum berangkat bekerja.
Saat sudah selesai, Najwa yang hendak berbalik badan, dikejutkan oleh kehadiran Ega yang berada di belakangnya.
"Kamu jangan masak apapun sebelum aku menyuruhmu. Kamu boleh masak apapun tapi itu untuk dirimu sendiri. Aku kurang suka masakkan orang lain, kecuali masakkan mama, atau restaurant yang memang sudah jadi langgananku. Apa kamu mengerti?" tanya Ega.
"Iya kak." Jawab Najwa.
"Itu kamarmu, kamu tidur disana," ucap Ega sembari menunjuk kearah salah satu kamar yang lain.
Najwa mengerutkan dahinya saat mendengar Ega yang seolah mengajaknya tidur di kamar terpisah. Untuk memastikannya, Najwa harus bertanya dengan jelas, agar tidak terjadi kesalahfahaman.
"Apa kita tidur di kamar terpisah?" tanya Najwa.
"Kenapa? kamu begitu ingin tidur sekamar denganku?" tanya Ega.
"Tidak. Aku hanya memastikannya saja. Karena aku takut berdosa, karena salah mengartikan ucapan kakak. Sekarang aku mau minta izin agar bisa masuk ke kamarku dan beristirahat." Jawab Najwa.
Najwa segera berlalu dari hadapan Ega, dan masuk kedalam kamar yang Ega maksud.
Brakkkk
__ADS_1
Suara pintu yang ditutup terdengar di telinga Ega. Tanpa pria itu tahu, Najwa menghela nafas kasar karena sejujurnya dia sedikit merasa tersinggung dengan sikap Ega.
"Pertanyaan macam apa itu? seolah aku ini ngemis banget minta tidur sekamar sama dia. Apa dia tidak tahu? aku begitu lega jauh dari harimau seperti dia," gerutu Najwa sembari menyeret kopernya di dekat lemari.
"Apa itu tadi? tidak memperbolehkan aku masak untuk dia? baguslah itu, aku jadi tidak usah repot masak buat dia. Laki-Laki mulutnya kayak cabe sekilo," Najwa menggerutu sembari memasukkan pakaian di lemari.
Belum juga selesai, suara panggilan umat menghentikan aktifitasnya. Najwa bergegas membersihkan diri dan menunaikan kewajiban setelahnya.
Tang ting
Tang ting
Suara sendok dan garpu beradu dengan piring. Najwa yang baru keluar kamar, melihat Ega tengah menikmati makanan yang dia masak sendiri, dengan porsi yang hanya untuk dirinya saja.
Najwa benar-benar merasa asing dirumah itu. Wanita itu kemudian membuka kulkas, bermaksud ingin membuat makanannya sendiri.
"Aku tidak tahu seperti apa selera makanmu. Jadi aku membuat makanan hanya untuk diriku sendiri saja," Ega bersuara tanpa menoleh kearah Najwa yang sibuk di dapur.
"Tidak masalah. Begini juga bagus. Aku juga tidak tahu seleramu, dan kamu juga tidak tahu seleraku. Aku juga kurang nyaman kalau yang masak makananku seoarang laki-laki," sindir Najwa.
"Sepertinya kamu sangat pandai bermulut pedas. Apa dengan Affan kamu juga seperti itu? atau malah berpura-pura polos, hingga dia tertipu?" pertanyaan Ega syarat akan ejekkan.
"Tergantung lawan bicara kita siapa. Meski aku tinggal di kampung, tapi aku pernah mengenyam pendidikkan. Aku tidak akan membiarkan ada orang yang ingin menindasku. Dan satu lagi, kakak tidak bisa membandingkan mas Affan dengan pria yang ada di muka bumi ini. Mas Affan pria sempurna dimataku, dia tidak pernah bicara kasar apalagi menghinaku. Itulah sebabnya aku juga selalu bersikap lembut padanya." Jawab Najwa.
Ega mengepalkan tangan dibawah meja. Dia paling tidak suka dibandingkan dengan orang lain, meskipun itu adik kandungnya sendiri. Ega tiba-tiba menyudahi makannya yang masih tinggal separuh itu.
Melihat makanan Ega yang ditinggalkan begitu saja, Najwa hanya bisa menghela nafasnya. Najwa kemudian membuat sebutir telur dadar, kemudian memakannya bersama nasi goreng yang Ega tinggalkan. Meski dia tidak suka dengan sikap Ega padanya, tapi Najwa tidak suka melihat pria itu membuang-buang makanan. Najwa hanya perlu memindahkan makanan ke piring lain, dan menganggapnya baru saja di masak olehnya.
Setelah selesai makan malam, Najwa kembali ke kamarnya. Tubuhnya benar-benar sangat lelah, hingga tanpa sadar diapun jatuh tertidur.
*****
Seperti biasa, Najwa sudah bangun lebih dulu karena dia harus menunaikan ibadah sesuai panggilan. Setelah itu Najwa bergegas kedapur untuk membuat sarapan pagi. Meski Ega berkata tidak suka memakan masakkannya, tapi Najwa tetap membuat makanan sesuai yang Ega sukai. Beruntung saat masih bersama Affan, dirinya memiliki banyak informasi tentang suami barunya itu. Pagi ini dia membuat dua omelet sebagai menu sarapan mereka.
Najwa melirik jam dinding, dan waktu sudah menunjukkan pukul 6 lewat 20 menit. Dia sedikit khawatir kalau-kalau suaminya itu terlambat pergi bekerja.
Tok
Tok
Tok
__ADS_1
"Kak. Apa kakak tidak pergi bekerja hari ini?" tanya Najwa dari arah luar pintu.
Ega yang sedang mengigau, sayup-sayup mendengar suara dari arah luar pintu kamarnya. Pria itu pun terpaksa terjaga dari tidurnya, karena ketukan pada pintu makin lama makin keras.
Krieekkk
"Kamu mau bangunin orang tidur, atau mau ngerampok?" tanya Ega dengan sarkas.
"Kakak nggak pergi kerja?" tanya Najwa.
"Pergi. Sekarang sudah jam berapa?"
"Hampir setengah tujuh." Jawab Najwa.
"Terima kasih sudah membangunkan,"
"Ya." Jawab Najwa.
Brakkkk
Tanpa basa basi Ega menutup pintu tepat di depan wajah Najwa. Semula Najwa mengira pria itu tulus mengucapkan terima kasih padanya, namun pada akhirnya tetap saja pria itu akan bersikap menyebalkan.
Setelah hampir 30 menit, Ega akhirnya keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah rapi. Pria itu terlihat tampan dengan kemeja dan dasi yang bertengger di lehernya.
"Kakak tidak sarapan dulu?" tanya Najwa yang menunggu di meja makan.
Ega melirik kearah menu sarapan yang ada di atas meja, dan sedetik kemudian mengabaikannya.
"Aku sudah mengatakannya padamu, jangan masak apapun tanpa ku suruh. Lagi pula aku tidak suka omelet," ujar Ega.
"Eh? apa aku salah informasi? tapi jelas-jelas mas Affan bilang, kalau kak Ega menyukai Omelet. Apa seleranya sudah berubah?" batin Najwa.
Najwa memutuskan untuk tidak mempermasalahkan hal itu. wanita itu kemudian mengantar Ega hingga kedepan pintu.
"Tunggu kak!" ucap Najwa, saat Ega hendak pergi begitu saja.
"Ada apa?" tanya Ega berbalik badan.
Najwa kemudian meraih tangan Ega, dan mencium tangan suaminya itu.
"Hati-Hati ya kak," ujar Najwa dengan tersenyum manis. Senyum yang membuat jantung Ega jadi berdebar.
__ADS_1
Tanpa menjawab ucapan Najwa, Ega langsung pergi begitu saja.
TO BE CONTINUE...🤗🙏