
Setelah berusaha membujuk sedemikian rupa, akhirnya Ega sekarang berada dipengadilan untuk melakukan sidang terakhir. Najwa bersikeras ingin berpisah dari Ega dengan pemikiran yang sudah sangat matang.
Meskipun sebenarnya dia tidak rela, tapi menurutnya tidak akan ada penyelesaian selama Melody mengaku kalau anak itu adalah anak Ega. Sementara untuk dilakukan tes DNA masihlah sangat dini, karena usia kehamilan Melody masih ditahap trimester pertama.
Daripada membiarkan masalah berlarut-larut, sementara Najwa sendiri tidak ingin dimadu. Najwa memutuskan untuk tetap memilih bercerai. Najwa akui dirinya keras kepala dan terlalu gegabah mengambil keputusan, namun Melody juga tidak bisa menunggu lama, karena suatu saat perutnya akan membesar.
Sementara itu, Ega terpaksa meyakini kalau anak yang dikandung Melody adalah anaknya sendiri. Setelah seminggu Najwa pergi dari rumah, Ega pernah juga membawa Melody pergi untuk memeriksakan kandungannya. Namun dokter itu mengatakan kalau usia kehamilan Melody saat ini sudah sesuai dengan perkiraan.
Tentu saja Ega menjadi frustasi saat mengetahui hal itu. Sementara itu, tanpa Ega tahu Melody selalu menyunggingkan senyum misteriusnya.
"Dengan ini hakim memutuskan. Pasangan Ega Dirgantara dan Najwa Azzahra dinyatakan resmi bercerai."
Tok
Tok
Tok
Hakim mengetuk palu sebanyak 3 kali. Saat dinyatakan resmi bercerai, air mata Najwa dan Ega sama-sama tidak bisa dibendung lagi. Bahkan hal tak terdugapun terjadi, Ega jatuh pingsan diruang sidang.
Blammmmmm
Mata Ega terbuka perlahan, pria itu melirik ke kiri dan kekanan. Tampak Intan tertidur di sofa, Ega cukup tahu kalau saat ini dirinya sedang berada di rumah sakit karena di punggung tangan kirinya terdapat selang infus.
"Mama," seru Ega lirih.
Intan terbangun, saat mendengar Ega memanggilnya. Intan kemudian mendekat.
Kriekkkkk
Rahmat masuk keruangan itu. Intan dan Rahmat mendekat perlahan secara bersamaan. Air mata Ega menetes, diraihnya tangan intan dan diciumnya berkali-kali.
"Maafkan Ega ma. Maafkan Ega. Hikz...." Ega tergugu.
"Jadikan perceraianmu menjadi pengalaman yang berharga bagimu. Jangan ulangi lagi setelah nanti kamu menatap masa depan yang baru," ujar Intan sembari mengelus kepala putranya.
__ADS_1
"Tapi Ega benar-benar tidak sengaja menyakitinya Ma. Ega benar-benar mencintai Najwa. Hikz..." Ega terisak.
"Bersabarlah. Kita tidak tahu Allah mempunyai rencana apa dibalik perpisahan kalian ini. Jika memang Tuhan menghendaki, bisa saja kalian akan berjodoh kembali," ujar Intan.
"Sekarang yang jadi masalahnya, kamu mau apakan gadis bernama Melody itu? lama-lama perut anak orang akan buncit. Apa kamu sudah mengajaknya periksa ke dokter? apa itu benar-benar anak kamu?" tanya Rahmat.
"Kata dokter itu, usia kehamilannya sesuai dengan waktu kejadian itu. Aku tidak tahu Pa. Mau anakku, atau bukan. Aku sudah pasrah saja. Toh Najwa juga sudah meninggalkan aku, jadi buat apa aku menyelidikinya secara gila-gilaan. Aku hanya percaya, jika suatu saat Allah akan membongkar semuanya, pasti akan tiba waktunya juga. Entahlah...aku tidak mau memikirkan itu lagi. Aku sudah mau gila rasanya." Jawab Ega sembari menyeka air matanya.
"Kalau begitu kamu nikahi dia secara siri dulu," ujar Rahmat.
"Kenapa aku harus menikahinya? lalu kenapa pula harus menikah siri?" tanya Ega.
"Mau tidak mau kamu harus menikahinya untuk menyelamatkan karier dan reputasimu. Kenapa harus menikah siri? tentu saja agar lebih mudah kamu membuang gadis itu, kalau memang terbukti dia menipumu." Jawab Rahmat.
"Kenapa terdengar seperti jahat sekali pa? seolah jadi mempermainkan pernikahan," timpal Intan.
"Semuanya terserah padamu. Kalau kamu memang mau menjalani rumah tangga yang sungguh-sungguh, ya kami bisa apa? mungkin dimulut kami memang pernah mengatakan kecewa padamu. Tapi anak tetaplah anak, tidak mungkin kami membiarkanmu terpuruk. Lihatlah tubuhmu," ujar Rahmat memindai pandangan matanya pada tubuh Ega yang terlihat sangat kurus.
"Padahal bertemu 1 bulan yang lalu tubuhmu masih sangat gemuk. Sekarang cacing gelangpun kalah sama kamu,"sambung Rahmat.
"Tidak ada kerugian yang lebih rugi lagi kehilangan sosok istri seperti dia. Tapi mungkin ini adalah nasibku, takdirku. Aku kehilangan berlian, dan digantikan dengan rongsokkan," sambung Ega.
"Sekarang semuanya sudah terjadi. Untuk sekarang kalian sudah menjadi masa lalu. Jangan ada dendam apapun, tetap jaga silahturahmi," ujar Rahmat.
"Ya." Jawab Ega.
"Istirahatlah," ujar Intan.
"Pa. Ega bawa pulang saja ya? rawat dirumah saja," ujar Ega.
"Baiklah. Biar papa urus administrasinya dulu, kalian tunggu saja disini." Jawab Rahmat.
Rahmat kemudian keluar dari ruangan itu untuk mengurus administrasi. Setelah menyelesaikan semuanya, Egapun pulang kerumah karena dirinya hanya kekurangan nutrisi dan cairan akibat kurangnya asupan makanan pada akhir-akhir ini.
Sementara itu ditempat berbeda, Najwa tengah melamun ditepi jendela kamarnya. Air matanya membasahi pipi hingga kedagunya. Bayang-Bayang kebersamaannya dengan Ega memenuhi memori ingatannya, hingga menjadi slide satu persatu.
__ADS_1
Krieekkk
Sumirah membuka pintu kamar Najwa perlahan. Dilihatnya Najwa termenung di dekat jendela, dengan air mata yang sudah memenuhi wajahnya. Sumirah jadi menitikkan air mata, dia merasa sangat kasihan dengan nasib putrinya itu.
Sumirah bergegas menyeka air matanya, dia tidak ingin air matanya menjadi kelemahan bagi putrinya.
"Jangan menyesalinya ndok. Bukankah ini keputusanmu sendiri?" tanya Sumirah sembari membelai rambut panjang putrinya.
"Sakit sekali rasanya buk'e. Apa aku ini bodoh? kenapa aku mudah menyerahkan suamiku untuk wanita lain. Hikz...." Najwa memeluk Sumirah.
"Yang sudah terjadi biarlah terjadi. Apapun yang terjadi pasti ada campur tangan Allah. Berdo'a saja, semoga kedepannya semua urusanmu di mudahkan," ucap Sumirah.
"Kamu jangan tunjukkan kesedihanmu di depan pak'e mu. Akhir-Akhir ini dia banyak melamun, sepertinya dia kepikiran tentang perpisahanmu dengan Ega," sambung Sumirah.
"Pak'e mana buk'e?" tanya Najwa sembari menyeka air matanya.
"Ada di ruang tamu." Jawab Sumirah.
Najwa berdiri dari kursi, dan segera pergi menemui Suratmo.
"Pak'e," seru Najwa dengan memasang senyum terbaiknya.
"Ndok? ono opo?" tanya Suratmo.
"Pak'e jangan sedih lagi yo? Nana ndak apa-apa meski jadi janda dua kali. Kalau pak'e sedih, Nana jadi merasa bersalah," ujar Najwa.
Air mata Suratmo mengucur tiba-tiba. Air mata yang sudah sejak lama dia tahan. Sejak dari sidang perceraian Najwa yang pertama.
Najwa memeluk Suratmo, dengan menahan ledakkan tangis. Najwa tidak ingin Suratmo tahu, bahwa dirinya sangat menderita saat ini.
"Kasihan sekali awakmu ndok. Kok kamu bisa setabah ini menghadapi cobaan seberat ini. Hikz...." Suratmo terisak.
Sementara itu Najwa bergegas menghapus air matanya dari balik punggung Suratmo.
"Nana ini wanita pilihan pak'e. Ujian yang diberikan Allah pada Nana, pasti memiliki hikmah. Nana tidak masalah jadi janda berkali-kali, asalkan jadi janda terhormat." Jawab Najwa.
__ADS_1
Najwa melerai pelukkannya pada Suratmo, dan menghapus air mata pria parubaya itu.