
Najwa masuk kedalam kamar ketika jam menunjukkan pukul 9 malam. Ega sudah terlihat tidur lelap, meski sesekali tangannya memukul sesuatu di tubuhnya, karena sakit akibat gigitan nyamuk.
Najwa juga bisa melihat, wajah Ega sedikit berkeringan, karena kipas angin yang ada didinding putarannya cukup lambat, meski sudah diatur yang paling kencang sekalipun. Tapi angin itu bagi Najwa sangat cukup, karena dirinya juga tidak terlalu suka kalau anginnya terlalu kencang.
Najwa membuka laci meja belajarnya, dan meraih obat nyamuk oles kemasan saset dari dalam sana.
"Apa saat aku mengoles obat nyamuknya dia akan terbangun? kalau bangun kan jadi canggung. Tapi kalau tidak di oleskan, kasihan badannya bentol-bentol. Apalagi kalau ada nyamuk demam berdarah, kan bisa bahaya," batin Najawa.
"Lagian kenapa juga harus buka baju sih. Aku kan jadi nggak enak liatnya, meskipun dia suamiku,"
Najwa mulai menggunting ujung obat nyamuk saset, dan memencet benda itu ke telapak tangannya. Najwa perlahan mengoleskan itu pada tangan Ega, dan sedikit berhati-hati karena takut Ega terbangun. Ega yang lumayan sensitif dengan sentuhan, dirinya langsung terjaga, namun masih memejamkan mata. Dia ingin tahu, apa yang akan dilakukan Najwa padanya.
"Agresif. Tunggu! bukankah ini bau obat nyamuk? jadi dia mengoleskan obat nyamuk untukku?" batin Ega.
Najwa kemudian mengoleskan obat nyamuk itu dibagian belakang dan kaki Ega, namun saat akan mengoleskan dibagian depan, tangannya terhenti. Karena dia cukup kesulitan, sebab Ega tidur dengan posisi miring.
Ega yang melihat Najwa ragu dari celah matanya, langsung mengubah posisi tidurnya menjadi terlentang. Pria itu ingin tahu apa Najwa mempunyai keberanian menyentuhnya lagi?
Namun Najwa malah memutuskan untuk tidak mengoleskan obat nyamuk lagi, dia cukup segan untuk mengusap tubuh bagian depan Ega yang terlihat sangat menggoda imannya itu.
Najwa kemudian ikut berbaring setelah meletakkan satu bantal guling ditengah-tengah mereka. Najwa juga membelakangi Ega dengan jilbab yang masih bertengger diatas kepalanya. Setelah dirasa tidak ada pergerakkan lagi, Ega segera membuka matanya dan melihat Najwa yang tengah membelakangi dirinya.
"Jilbabnya masih dia pakai. Terlihat sekali kalau dia sama sekali tidak percaya padaku dan belum menerimaku sebagai suaminya. Tapi itu sama sekali bukan masalah buatku. Tanpa di bukapun aku sudah tahu, tubuhnya itu sama sekali tidak enak dilihat, walaupun hanya sekedar rambutnya saja," batin Ega.
Ega memutuskan untuk memejamkan matanya kembali. Namun tanpa mereka sadari, mereka kini saling memeluk satu sama lain dengan bantal guling yang entah berada dimana.
*****
Suara panggilan umat berkumandang, mengusik telinga Najwa yang tengah terlelap. Perlahan matanya terbuka, saat merasakan hembusan nafas yang menerpa wajahnya. Spontan Najwa menjauhkan wajahnya karena terkejut, bahkan Najwa sampai menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.
"Astaga. Ap-Apa semalam kami tidur berpelukkan seperti ini?" batin Najwa.
__ADS_1
Jantung Najwa berdegup kencang, saat menyadari posisi mereka saat ini sangatlah intim. Najwa menarik perlahan salah satu kakinya yang terjepit diantara kedua kaki Ega. Tubuh mereka benar-benar menempel, hal yang sering dilakukan Najwa saat tidur berpelukkan dengan mendiang suaminya dulu.
"Matilah aku kalau kak Ega sampai tahu. Ini kenapa dia meluknya erat banget sih?"
Najwa sedikit kesulitan menarik diri, karena Ega memeluknya cukup erat. Hingga Najwa bisa mencium aroma khas dari tubuh pria yang tengah bertelanjang dada itu.
"Atau sebenarnya dialah yang memelukku duluan. Pria mesum ini sengaja ingin mencari keuntungan dariku kan?"
Setelah berjuang cukup keras, Najwa akhirnya bisa lepas dari dekapan Ega. najwa kemudian langsung membersihkan diri dan Menunaikan sholat subuh.
"Kak. Bangun! nanti waktu sholat subuh keburu habis ini," ujar Najwa sembari menyentuh ujung kaki suaminya.
"Malas, ngantuk!" ucap Ega yang langsung merubah posisi tidurnya jadi tengkurap.
Najwa tidak ingin memaksa Ega. Dia ingin melakukan perubahan secara perlahan. Dia tahu sosok Ega bertolak belakang dengn Affan. Bahkan Affan selalu bangun dini hari, untuk melaksanakan sholat sunah.
Najwa melepas mukenahnya dan kemudian pergi kedapur untuk membantu Sumirah menyiapkan sarapan. Setelah selesai, Najwa kemudian berniat ingin membangunkan suaminya untuk sarapan bersama.
Najwa melihat Ega baru selesai berganti pakaian setelah membersihkan diri. Pria itu terlihat tampan dengan pakaian santainya.
"Tunggu!" ucap Ega.
"Ada apa kak?" tanya Najwa.
"Hari ini kamu harus ikut pulang kerumah papa, mama. Ada yang ingin aku bahas denganmu." Jawab Ega.
"Ya." Jawab Najwa dan kemudian berbalik badan.
Ega kemudian mengekor dibelakang Najwa untuk sarapan bersama dengan mertuanya. Najwa kemudian menuangkan dua sendok besar nasi goreng kepiring Ega, dan satu butir telor dadar.
"Ayo dimakan nak! jangan sungkan," ujar Sumirah saat melihat Ega yang tampak kebingungan.
__ADS_1
Najwa menghela nafas. Karena dia lupa dengan kebiasaan Ega yang harus makan pisang sebelum memulai makan makanan utama.
"Maaf ya kak, aku lupa kalau kakak harus makan pisang dulu sebelum makan yang lain," ujar Najwa.
"Eh? Enggak kok," Ega langsung menyuapkan nasi goreng kedalam mulutnya, karena tidak enak hati dengan mertuanya.
"Oalah...mantu suka makan pisang ya? kenapa ndak bilang? tahu gitu pak'e belikan buat kamu," ujar Suratmo.
Ega hanya tersenyum kaku. Dia benar-benar merasa tidak enak hati pada mertuanya itu.
"Jadi Najwa juga tahu tentang kebiasaanku itu? apa Affan yang memberitahunya?" batin Ega.
Ega hendak menyendokkan sambal kedalam piringnya, namun dicegah oleh Najwa.
"Maaf kak. Tadi saya lupa mengingatkan ibu, kalau seharusnya ibu tidak usah memasukkan pete kedalam sambal itu. Kakak tidak suka pete kan?"
"Eh? i-iya." Jawab Ega terbata.
"Hebat sekali dia? dia bahkan mengingat apa yang aku suka dan yang tidak aku sukai. Apa mama memberitahu semua tentang kebiasaanku? termasuk kebiasaan mengigauku?" batin Ega.
Ega jadi teringat saat insiden dirinya mencium najwa waktu itu. Dan itu membuat dirinya melirik Najwa seketika.
"Ada apa kak? apa makanannya tidak enak?" tanya Najwa.
"Nggak kok. Ini malah terlalu enak," ujar Ega asal dan kembali menyuapkan nasi goreng kedalam mulutnya.
"Oh ya. Habis makan, kami akan pulang kerumah kak Ega dulu," ujar Najwa sembari melihat kearah Sumirah dan Suratmo secara bergantian.
"Sepertinya aku harus mengatakannya disini saja, soalnya takutnya nggak sempat bilang," ujar Ega.
"Ada apa?" tanya Sumirah.
__ADS_1
"Ini bu. Rencananya besok Ega akan langsung kembali ke kota J. Saya sudah terlalu sering cuti kerja, terlebih di kantor sangat banyak pekerjaan saat ini." Jawab Ega.
Najwa menghentikan kunyahannya. Dia benar-benar lupa memikirkan kehidupannya setelah menikah dengan Ega. Hanya satu yang ada dibenaknya, apa dia harus mengorbankan kariernya dan ikut suaminya?