
Ega tiba-tiba berlutut di kaki Najwa dan memeluk kedua kaki istrinya itu dengan wajah yang penuh dengan air mata. Najwa bergegas menghapus air matanya yang sempat terjatuh, agar Ega tidak tahu bahwa dirinya sedang rapuh saat ini.
"Lalu apa yang kakak inginkan dariku?" tanya Najwa dengan segala ketegarannya.
"Maafkan aku sudah mengecewakanmu sayang. Tapi aku tidak bermaksud begitu."
"Aku tahu." Jawab Najwa.
Ega segera bangkit dan menggenggam kedua tangan Najwa kembali.
"Meski ini sangat terlambat, aku hanya ingin mengatakan hal ini padamu sejak lama. Aku mencintaimu Najwa, aku sangat mencintaimu. Keputusan yang ingin ku ambil hari ini adalah aku ingin hidup bersamamu selamanya,"
Ega meraih kotak cincin yang sejak tadi berada dalam saku celananya. Ega meraih cincin itu dan langsung menyematkannya di jari Najwa. Sunggu ada lonjakkan bahagia di hati Najwa. Namun perasaan senang itu berubah jadi luka, saat teringat kehamilan Melody.
"Tapi kata-kata cintamu sudah tidak ada artinya lagi kak. Sekarang situasinya sudah berbeda, bahkan meski aku juga sangat mencintaimu, tapi ada orang lain yang lebih membutuhkan cintamu daripada aku. Yaitu Melody dan anakmu," ujar Najwa dengan tetesan air mata.
Mendengar hal itu tentu saja Ega jadi senang. Ega meraih kedua sisi wajah Najwa.
"Kamu juga mencintaiku?" tanya Ega.
"Emm. Sangat." Jawab Najwa dengan menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu bertahanlah. Jangan perdulikan dia, karena aku sama sekali tidak perduli padanya meskipun ada anak itu di rahimnya. Orang yang aku cintai adalah kamu, yang ku inginkan adalah kamu. Aku ingin hidup denganmu sampai maut memisahkan."
Najwa menggeleng dengan wajah yang sudah dipenuhi air mata juga.
"Maaf kak. Jangan pernah kamu menyuruhku bertahan. Aku sungguh belum bisa untuk hidup di madu. Karena Aisyah Ra, juga pernah merasakan cemburu. Apalagi aku yang hanya manusia biasa. Aku akan melepaskanmu kak. Bukan demi dia, tapi demi anakmu yang membutuhkan ayahnya."
"Tidak. Jangan pernah kamu katakan berpisah denganku. Aku nggak bisa tanpa kamu. Aku sudah terbiasa denganmu. Please, ku mohon bertahanlah sebentar saja. Aku akan menceraikannya setelah anak itu lahir. Aku mohon bertahanlah disisiku sebentar lagi. Hikz...."
"Maaf kak aku benar-benar tidak bisa. Aku tidak akan membiarkan siapapun merusak hatiku dengan sengaja. Melody sama sekali tidak memenuhi kualifikasi sebagai madu yang baik untukku. Aku tidak masalah jika harus jadi janda dua kali, yang penting harga diriku tetap tegak."
"Jadi lepaskanlah aku. Mungkin kamu akan mencintai dia sekali lagi, seiring kalian bersama. Jangan sia-siakan anakmu, karena anakmu tidak berdosa," sambung Najwa.
"Tapi aku tidak mencintainya lagi, aku sangat membencinya." Jawab Ega.
"Istigfar kak. Bencilah dia sekedarnya saja. Walau dia seperti itu, tapi dia orang yang pernah kamu cintai. Lagipula apapun yang akan kakak katakan, aku tetap ingin meminta cerai," ujar Najwa.
Cup
Ega mencium bibir Najwa. Kata-Kata cerai dari mulut istrinya itu benar-benar terdengar menyakitkan ditelinganya. Ega mencium Najwa dengan rakus, sangat berbeda dari biasanya. Namun diluar dugaan Ega, Najwa membalas ciuman itu tidak kalah liar. Najwa ingin mencium pria itu sepuasnya sebelum benar-benar pergi dari kehidupan Ega untuk selamanya.
__ADS_1
Hosh
Hosh
Hosh
"Aku mohon jangan pergi dariku. Aku sangat mencintaimu Najwa," ujar Ega dengan kening mereka yang masih tertempel.
"Maaf kak. Keputusanku sudah bulat, aku tetap ingin bercerai darimu." Jawab Najwa.
Najwa kemudian melepaskan diri dari Ega dan kembali masuk kekamarnya.
Brakkkkk
Ceklet Cekklet
Najwa mengunci pintu. Kemudian tubuhnya merosot didaun pintu itu. Tubuh Najwa bergetar hebat, tangisannya terdengar sangat pilu di telinga Ega yang sedang berada di luar pintu kamar. Tangisan yang sama, saat Najwa menangisi kepergian Affan untuk selamanya.
Tubuh Ega merosot ditembok tepat di sebelah pintu. Najwa sungguh menempati ruang terbesar dalam hatinya, hingga dia merasakan sedih yang mendalam atas keputusan Najwa yang membuatnya sangat menderita.
Najwa bergegas bangkit dan menarik koper dari atas lemari. Wanita itu tidak ingin membiarkan dirinya dijadikan pecundang oleh siapapun.
"Maafkan aku mas. Aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi, karena aku merasa aku sudah kalah. Aku tidak mungkin bertahan disisinya dan menyakiti diriku sendiri. Jadi aku akan memilih pergi. Amanatmu sudah ku jalankan, meski jodohku dengan dia tidak terlalu panjang. Aku harap kamu bisa ngerti Mas," ujar Najwa lirih.
Setelah memasukkan semua pakaiannya kedalam koper, Najwa bergegas keluar kamar karena dia tidak ingin berada di rumah itu lagi.
Krieekkkk
Saat Najwa membuka pintu dan menyeret kopernya, wajah Ega berubah jadi pias. Bayang-Bayang kehilangan Najwa benar-benar menakutkan baginya.
Grepppp
Ega menahan tangan Najwa yang tengah menyeret koper. Jangan ditanya bagaimana air mata pria itu, Najwa tak sampai hati melihat Ega menangis sedemikian rupa.
"Aku mohon jangan tinggalkan aku. Kakak tahu kakak salah, tapi jangan hukum kakak seberat ini. Kalau kamu pergi kakak tidak ingin hidup lagi," ujar Ega terisak.
"Apa yang kakak katakan. Meskipun kakak kehilanganku, tapi kakak tidak boleh kehilangan iman. Allah membenci orang-orang yang berputus asa dengan mengakhiri hidupnya sendiri," ucap Najwa.
"Ya tapi aku mohon jangan tinggalkan aku. Aku nggak mau kehilanganmu. Aku mohon bertahanlah sebentar saja. Hanya 9 bulan, setelah 9 bulan aku berjanji akan menceraikannya."
"Maaf kak. Aku tidak ingin bahagia diatas penderitaan orang lain. Sekarang juga aku mohon kakak talak aku!" ucap Najwa.
__ADS_1
"Tidak! sampai matipun aku tidak mau melakukannya." Jawab Ega.
"Aduh...belum juga selesai dramanya? aku seperti sedang menonton opera saat ini," ujar Melody.
"Diam kamu!" hardik Ega, dengan tatapan membunuh.
"Lagipula aku juga tidak ingin dimadu. Kamu hanya miliku saja," ucap Melody.
"Aku tidak akan bertanggung jawab atas anak itu," ucap Ega.
"Kak. Jangan seperti itu," ujar Najwa.
"Tidak Najwa. Aku benar-benar tidak bisa. Bahkan meski itu adalah anak kandungku sekalipun, aku tidak perduli." ucap Ega.
"Kalau begitu siap-siap masuk penjara," ujar Melody.
"Lakukan saja. Aku lebih memilih masuk penjara daripada harus menikahimu." Jawab Ega.
Najwa mendekati Ega, dan meraih kedua sisi wajah suaminya yang sudah sembab karena terlalu banyak menangis.
"Kakak mencintaiku kan?" tanya Najwa.
"Emm." Ega mengangguk sembari meraih kedua tangan Najwa dan menciumnya berkali-kali.
"Kalau kakak memang mencintaiku, nikahi dia. Mungkin aku memang terlalu naif dan sok dermawan dengan menyerahkan suamiku pada wanita lain. Tapi inilah keputusan yang terbaik kak. Aku tidak ingin dimadu, sementara anakmu butuh kamu. Kita tidak tahu, Tuhan mau memberikan jalan takdir untuk kita seperti apa. Tapi yang pasti, keputusanku tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun. Bukankah kakak sudah berjanji akan memenuhi semua permintaanku hari ini? aku ingin kakak bahagia meski tidak bersamaku," ujar Najwa.
"Mungkin aku tidak pantas mengatakan ini, padahal kamulah disini yang paling menderita. Tapi Najwa, kamu sungguh kejam padaku. Tidak kah kamu tahu? keputusanmu ini sangat menyakitkan bagiku," ucap Ega.
"Maaf," ujar Najwa lirih.
Najwa kemudian meraih tangan Ega, yang tiap hari selalu dia cium. Dan kali ini dia ingin menciumnya untuk terakhir kalinya. Ega memalingkn wajahnya, tidak ingin menatap kearah Najwa. Air mata pria itu mengucur laksana air terjun dari ketinggian.
"Aku pergi kak," ucap Najwa dengan menahan ledakkan tangis.
Ega berbalik badan, tidak mau melihat kearah Najwa yang ingin berpamitan. Meski Najwa juga merasakan sakit yang sama, wanita itu tetap melangkah dengan air mata yang tumpah ruah.
Krieeekkkkkkkk
Najwa membuka handle pintu. Namun betapa terkejutnya dia, saat dirinya melihat orang yang ada di depannya.
TO BE CONTINUE...🤗🙏
__ADS_1