
"Ha-Hallo," suara Najwa terbata, saat menghubungi nomor kontak Arga.
"Ya?" diseberang sana Arga bersorak senang, karena Najwa menghubungi dirinya.
"I-Ini Najwa. Apa kakak ingat?" tanya Najwa.
"Tentu saja. Apa ada yang bisa saya bantu?"
"Itu. Masih ada nggak lowongan pekerjaan yang kakak bilang waktu itu?" tanya Najwa.
"Masih. Apa kamu mau?" tanya Arga
"Ya. Tapi aku ingin tahu dulu waktu kerjanya bagaimana." Jawab Najwa.
"Biasanya kalau pekerja yang bertugas memasak, akan datang subuh. Ada juga yang memang tinggal disana. Tapi kalau pekerja kasir sepertimu, kamu bisa datang jam 8. Karena masakkan juga selesai sekitar jam 9 sampai jam 10," ujar Arga.
"Lalu waktu pulangnya bagaimana?" tanya Najwa.
"Kamu menginginkan pulang jam berapa?"tanya Arga.
"Eh? memangnya aku bisa menentukan jam pulang sendiri?"
"Biar tidak kelelahan, temanku mempekerjakan dua kasir. Biar mereka bisa masuk bergantian. Karena restaurantnya buka sampai jam 10 malam." Jawab Arga.
"Boleh tidak, aku minta shif pagi setiap hari? dari jam 8 sampai jam 2 atau jam 3 sore?" tanya Najwa.
"Tentu saja boleh." Jawab Arga.
"Eh? kok kakak yang putuskan? kan kakak bukan bosnya?" tanya Najwa.
"Eh? ka-karena dia teman baikku. Apapun yang aku minta, pasti dia akan mengabulkannya." Jawab Arga asal
"Jadi penasaran. Bagaimana rupa bos yang baik itu," ujar Najwa.
"Ya sudah. Kapan aku bisa mulai masuk kerja kak? dimana alamatnya?" tanya Najwa.
"Besok kamu sudah bisa mulai bekerja. Nanti akan aku kirim lokasinya." Jawab Arga.
"Makasih ya kak atas bantuannya," ucap Najwa.
"Sama-Sama." Jawab Arga.
__ADS_1
Najwa mengakhiri percakapan itu dengan senyum semringah. Meski pekerjaan itu tidak sesuai dengan keahliannya, tapi Najwa tipe orang yang selalu mengerjakan apapun dengan sungguh-sungguh.
Najwa berberes rumah, setelah itu dia pergi memasak, karena Ega sebentar lagi akan pulang bekerja.
Waktu menunjukkan pukul 16.30, saat suara bel berbunyi. Najwa yang selesai mandi dan berpakaian, bergegas membuka pintu.
Krieekkkk
Hal yang pertama Ega temui saat seseorang membukakan pintu untuknya adalah senyum cantik istrinya. Senyuman yang membuatnya suka teringat saat sedang bekerja.
"Kakak sudah pulang?" ujar Najwa sembari meraih tangan Ega dan menciumnya.
"Ya. Apa kamu sudah selesai masak? aku sudah sangat lapar," tanya Ega.
"Sudah kak. Kakak bersihkan diri dulu, setelah itu kita makan bersama." Jawab Najwa.
"Ya."
Ega kemudian masuk ke kamar untuk membersihkan diri. Setelah selesai, dia bergegas keluar setelah berpakaian santai.
Ega melihat makanan menggugah selera terhidang di meja. Hal yang tidak pernah dia temui saat bersama dengan melody. Gadis itu selalu memesan makanan dari luar, karena dirinya memang tidak memiliki keahlian memasak.
"Ini," Najwa menyodorkan sebuah pisang ambon untuk Ega makan sebelum menyantap menu utama.
Najwa menaruh dua sendok besar nasi putih kedalam piring Ega. Najwa juga meletakkan potongan ikan goreng, sayur dan juga sambal kedalam piring itu.
Ega menatap wajah istrinya yang sedang melayaninya itu. Entah mengapa dia merasakan perasaan yang aneh, sejak berciuman dengan Najwa.
"Pantas saja Affan sangat menyukai dia. Selain cantik, sholeha, dia juga memiliki keahlian yang tidak semua wanita memilikinya. Bisa dikatakan dia ini paket lengkap," batin Ega.
Najwa mengambil satu sendok besar nasi untuk dia letakkan kedalam pirinya sendiri. Dia juga menaruh sepotong ikan, satu sendok sayur dan juga sambal kedalam piringnya. Sebelum makan, Najwa berdo'a terlebih dahulu. Hal yang selalu Ega lihat, sebelum wanita itu menyantap makanannya.
"Melihat wajahnya, aku selalu merasa tenang," batin Ega.
"Kak," seruan Najwa membuyarkan lamunannya.
"Ya kenapa?" tanya Ega.
"Besok aku sudah mulai bekerja. Waktu kerjanya di perkirakan dari jam 8 sampai jam 2 atau 3 sore." Jawab Najwa.
"Apa kamu benar-benar menyukai pekerjaan itu?" tanya Ega.
__ADS_1
"Aku tidak tahu menyukainya atau tidak, karena aku belum pernah mencobanya. Tapi aku benar-benar tidak mau menganggur dirumah." Jawab Najwa.
"Baiklah aku mengerti. Lakukan apa saja yanv membuat kamu nyaman dan bahagia," ujar Ega.
"Dia yang lembut seperti ini, takutnya aku akan jatuh cinta dengan cepat padanya. Aku harus bisa membentengi diriku, agar tidak terpesona dengan ketampanannya dan juga terkena bujuk rayunya. Aku tidak mau hancur sendirian, disaat dia lebih memilih kekasihnya itu," batin Najwa.
"Ap-Apa kekasihmu jadi pulang bulan depan?" tanya Najwa.
Mendengar pertanyaan itu, Ega menghentikan kunyahannya. Pria itu jadi teringat sosok Melody yang sempat terhapus dari ingatannya sudah dua hari ini.
"Tidak jadi. Dia akan pulang sesuai dengan rencana awal." Jawab Ega sembari melanjutkan makan.
Setelah itu tidak ada percakapan lagi, seketika hening tanpa ada suara sampai makan bersama itu usai.
Najwa membersihkan peralatan makan, dan peralatan dapur yang kotor lainnya. Setelah itu diapun kembali ke kamarnya, karena Ega sudah pergi lebih dulu.
Ega saat ini tengah menatap foto besar yang ada di dinding kamarnya. Foto dirinya dan Melody yang sangat mesra. Dan Entah mengapa seketika dirinya merasa begitu tidak adil pada Najwa.
"Aku menciumnya di kamar ini, sementara aku masih memajang foto wanita lain di kamar ini. Entah bagaimana perasaannya, dia pasti merasa sudah di manfaatkan," ujar Ega lirih.
Ega seolah kesurupan saat ini. Foto yang terpajang selama bertahun-tahun satu persatu dia turunkan. Dia sudah bertekad untuk memberikan kesempatan bagi dirinya dan Najwa untuk memulai hubungan baru sesuai yang sudah di sepakati. Ega ingin memanfaatkan waktu yang tersisa, untuk menjalin hubungan yang sesuai, sampai waktu penentuan nanti.
Najwa mengerutkan dahinya saat melihat Ega yang tampak sibuk memindahkan bingkai foto ke dalam gudang.
"Apa yang kakak lakukan? apa aku bisa membantu?" tanya Najwa.
"Tidak usah. Ini yang terakhir kok." Jawab Ega.
"Emang tadi itu foto apa?" tanya Najwa.
"Bukan apa-apa. Buatin kakak minuman dingin gih. Kakak haus," ujar Ega.
"Baiklah. Kakak tunggu di kamar saja ya?" ucap Najwa.
"Iya." Jawab Ega.
Najwa kemudian pergi ke dapur untuk membuatkan Ega es buah segar. Setelah selesai, Najwa membawa es buah itu ke kamar suaminya.
Kesan pertama saat Najwa memasuki kamar itu adalah, seperti ada sesuatu yang kurang. Najwa menatap Ega, yang tengah bermain ponsel di tempat tidur.
"Kak. Aku buatin es buah buat kakak. Apa kakak menyukainya?" tanya Najwa sembari menyodorkan es buah di hadapan Ega.
__ADS_1
"Suka. Terima kasih," ujar Ega.
Najwa mengerutkan dahinya saat baru menyadari di kamar itu tidak lagi terpajang foto Ega dan Melody. Namun Najwa tidak ingin menanyakannya, karena dia ingin tahu apa tujuan suaminya menurunkan semua foto-foto itu.