
Dua Bulan Kemudian....
Tring
Tring
Tring
"Butet? tumben dia nelpon jam segini?" ujar Najwa setelah melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 10 malam.
"Hallo Na," suara Butet terdengar dingin diseberang telpon.
"Ada apa Tet? kok tumben kamu nelpon di jam segini?" tanya Najwa.
"Na. Aku lagi galau. Kau tahu sendiri sekarang Aku sudah hidup sendiri sejak kepergian mamakku. Kiranya kau mau tidak nampung aku bersamamu?" tanya Butet.
Najwa memang kasihan dengan nasib Butet yang sekarang sudah hidup sebatang kara. Sebulan yang lalu, ibu Butet yang biasa dia panggil Boru itu sudah meninggal dunia. Kini Butet tinggal sendirian.
"Maksudmu bagaimana Tet? kamu jalani saja kariermu disana. Jangan mengikuti jejakku yang sedang amburadul begini," ujar Najwa.
"Aku pengen hidup bebas seperti kau. Bingungnya aku hidup sendiri, aku tidak perduli lagi dengan karierku sekarang ini," ucap Butet.
"Jangan begitu. Boru pasti sedih kalau kamu tidak jadi guru lagi. Beliau sangat suka kamu jadi seorang guru," ujar Najwa.
"Jadi kau tidak mau mendukung keputusanku?" tanya Butet.
"Eh? Bu-Butet. Janganlah kamu jadi salah faham," sejenak Najwa mengehela nafasnya.
"Jadi sebenarnya kamu mau bagaimana? kamu mau nyusulin aku ke jota J? kalau mau nyusul ya nyusul aja. Tapi kamu jangan nyesal kalau nggak dapat kerjaan yang nggak sesuai dengan keinginanmu,"
"Sekarang saja aku cuma kerja sebagai kasir di salah satu reatauran padang," sambung Najwa.
"Kalau begitu bantu aku masuk kerja ditempatmu itu." Jawab Butet.
"Akan aku bicarakan dengan bos ku dulu. Kamu urus dulu masalahmu disekolah sana," ucap Najwa.
"Baiklah. Sampai jumpa di kota J kawan," ucap Butet dengan penuh gairah.
__ADS_1
Najwa menghela nafasnya. Dia tidak mengerti dengan jalan pikiran Butet. Disaat dirinya berat meninggalkan kariernya karena terpaksa mengikuti suami, tapi Butet meninggalkan kariernya hanya karena suntuk dan galau.
Dan ternyata keinginan gadis itu, bukanlah keinginan yang main-mainn. Buktinya saat ini Butet benar-benar sedang berada di kereta karena ingin menyusul Najwa ke kota J. Dan berhubung hari ini adalah hari minggu, Najwapun pergi menjemput Butet di stasiun agar gadis itu tidak tersesat.
Dan keesokkan harinya Butet mulai masuk bekerja sebagai pelayan di restauran Arga.
"Na. Apa itu pria yang sedang mendekatimu?" bisik Butet.
"Ya." Jawab Najwa setengah berbisik.
"Beruntungnya kau. Dia tampan, kaya dan mapan. Kenapa kau selalu dikelilingi oleh mahluk tampan, sementara aku tak satupun yang mau mendekati aku," ucap Butet.
"Belum aja. Kamu harus lebih rajin lagi berdo'a," ujar Najwa.
"Apa karena do'a kita beda ya?" tanya Butet yang hanya dijawab senyum dan gelengan kepala oleh Najwa.
"Najwa. Besok jadi kan?" tanya Arga.
"Eh? ja-jadi." Jawab Najwa terbata.
"Kalau begitu kakak akan mempersiapkan semuanya. Karena kakak mau mereka datang ke apartementku," ujar Arga.
"Ya." Jawab Najwa.
Arga pergi dari hadapan dua mahluk cantik dihadapannya itu.
"Mau apa dia?" tanya Butet.
"Besok dia mau mengajakku bertemu dengan keluarga besarnya." Jawab Najwa.
"Apa kau yakin ingin melepas masa jandamu secepat ini?" tanya Butet.
"Sebenarnya aku juga tidak ingin. Tapi aku sudah terlanjur janji padanya. Lagipula aku merasa tidak enak kalau menolak permintaannya bertemu keluarga besarnya, dia sudah baik membantuku selama ini." Jawab Najwa.
"Hah...aku juga tidak tahu mau seperti apa jalan hidupku ini. Aku pasrah ajalah Tet," Sambung Najwa.
"Tapi hebat kali kau. Bisa menggaet para pria tampan dengan status jandamu itu," ujar Butet.
__ADS_1
"Jangan ngomong ngawur lagi. Sana pergi beres-beres meja," ucap Najwa yang dibalas cebikkan bibir oleh Butet.
Sementara itu di tempat berbeda. Arga yang sudah berada di super market tengah sibuk membeli beberapa bahan masakkan, untuk menyambut keluarga besarnya di apartemen pribadinya. Tanpa sengaja dirinya bertemu dengan Ega yang tengah membeli stok bahan makanan.
"Jangan kamu mengira dekat dengan Najwa, bisa merebut hatinya secepat itu. Kamu pasti tahu hati Najwa hanya tertuju padaku," ujar Ega dari arah belakang punggung Arga.
"Kenapa nada suaramu terdengar sepertinya kamu sedang panik saat ini. Jangan khawatirkan lagi tentang hati Najwa, karena sebentar lagi hatinya itu akan terisi penuh olehku." Jawab Arga.
"Apa kamu tahu apa yang sedang kulakukan saat ini?" tanya Arga.
"Seperti yang kamu lihat. Aku sedang belanja buat kebutuhan besok. Besok adalah hari pertemuan Najwa dengan keluarga besarku. Emm...apa sekalian aku undang kamu saja ya? biar kamu sadar dan tidak lagi berharap pada Najwa. Datanglah besok ke apartemenku," sambung Arga.
Deg
Jantung Ega terasa hendak berhenti berdetak saat mendengar ucapan Arga. Bayang-Bayang kehilangan Najwa terasa sudah di depan mata. Namun Ega tidak ingin memperlihatkan rasa sedih dan sakit yang dia rasakan saat ini. Dia tidak ingin dianggap pecundang sejati oleh saingan cintanya itu.
"Tidak masalah. Bahkan orang yang akan menikah besokpun bisa gagal menikah, apalagi kamu yang baru akan memperkenalkan Najwa pada keluargamu. Aku harap kamu tidak akan kecewa atau bahkan jadi gila, saat gagal menikah dengah Najwa nanti,"ucap Ega.
Mendengar ucapan Ega. Arga jadi terkekeh. Dia tahu betul perangai Ega yang sangat pandai menutupi perasaannya.
"Aku malah mengkhawatirkanmu. Apa jadinya saat kamu tahu aku sudah menikah dengan Najwa nanti. Sebaiknya kamu mendaftarkan dirimu dirumah sakit jiwa sekarang juga. Takutnya nggak keburu dan kamu malah berada di jalanan." Jawab Arga.
"Mimpi saja kamu kalau mengharap hal itu terjadi padaku. Sebenarnya aku masih tidak menyangka sebagai teman kamu malah menusuk temanmu dari belakang. Kamu tahu betul aku dan Najwa saling mencintai, tapi kamu sengaja masuk diantara kami. Apa kamu tidak takut dosa karena sudah mendambakan istri orang lain?" tanya Ega.
"Dulu kuakui aku memang berdosa karena memendam cintaku pada istrimu. Tapi sekarang kalian sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi. Jadi aku bebas mau menyukai dia, karena tidak ada unsur dosa di dalamnya." Jawab Arga.
"Hah...ya sudahlah aku sudah selesai dengan urusanku. Aku duluan ya?" sambung Arga yang pergi begitu saja.
Sementara Ega jadi diam mematung. Pria itu mendongakkan kepalanya, agar air matanya tidak sembarangan mengucur secara tiba-tiba.
"Sayang. Apa kamu sungguh-sungguh ingin meninggalkanku? apa secepat itu kamu berpaling dariku? aku benar-benar belum bisa ikhlas kamu bersama pria lain," batin Ega.
Ega memutuskan kembali kerumah. Suasana hatinya benar-benar sedang buruk saat ini.
"Ega. Bagi uang dong," ujar Melody yang sejak tadi menunggu Ega pulang.
"Uang? bukankah baru seminggu yang lalu aku berikan uang 3 juta?" tanya Ega.
__ADS_1
"Kamu bagaimana sih? uang 3 juta cukup apa? aku kemarin baru dari salon, uangnya habis." Jawab Melody.
"Dasar wanita gila. Mau uang banyak kerja sendiri." Jawab Ega sembari berlalu. Pria jtu tidak menggubris Melody, meskipun pria itu berteriak-teriak memanggil namanya.