
Kriekkkkk
Najwa membuka pintu dengan senyum semringah. Seorang pria tampan sudah berdiri di depannya, yang tidak lain suaminya sendiri. Najwa meraih tangan Ega, kemudian menciumnya.
Ega menarik tangan Najwa, setelah tas kerja dan rantang makanan dia letakkan diatas meja.
"Duduklah!" ujar Ega sembari menepuk pahanya setelah dirinya duduk di sebuah sofa panjang.
Ega menginginkan Najwa agar duduk di pangkuannya. Najwapun menurut, karena kegiatan itu sudah tidak asing lagi baginya. Akhir-Akhir ini mereka selalu melakukan kebiasaan itu saat Ega pulang bekerja.
Ega akan membelai rambut panjangnya, sebelum akhirnya mereka berciuman panjang dan mesra. Dan anehnya Ega hanya menyentuh Najwa sebatas itu saja. Meskipun Najwa menyadari Ega menginginkan lebih dirinya. Bukan asal menebak, tapi saat berada di pangkuan Ega, Najwa bisa merasakan benda keramat suaminya menonjol sempurna.
"Kamu sangat wangi sayang," ujar Ega saat meletakkan kepalanya di dada Najwa yang empuk.
Ega akui, Najwa seolah memiliki esense yang menenangkan. Rasa penat setelah seharian bekerja, akan hilang seketika saat mencium aroma istrinya itu. Terlebih cara Najwa menyambut kepulangannya, Ega merasa sangat dihargai dan dicintai.
"Kakak mandi dulu gih, udah bauk acem," ledek Najwa.
"Benarkah?" Ega mencium ketiak kiri dan kanannya, sementara Najwa menyembunyikan tawanya.
"Kamu ngerjain Kakak ya? mana ada kakak bauk acem," Ega menggelitik pinggang Najwa hingga istrinya itu berteriak meminta ampun.
Najwa dan Ega kemudian pergi ke kamar. Ega membersihkan diri, sementara Najwa menyiapkan baju bersih suaminya.
Ega keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan selembar handuk di pinggangnya. Otot-Otot perut pria itu tampak menonjol, hingga Najwa yang menatapnya jadi bersemu merah.
Ega bersiul-siul sembari memakai baju kaos berwarna hitam yang di siapkan Najwa untuk dirinya. Ega juga mengenakan celana selutut berwarna senada.
"Mau makan sekarang?" tanya Najwa.
"Boleh. Biar nggak gendut, jadi makan malamnya di ganti sore." Jawab Ega terkekeh sementara Najwa mencebikkan bibirnya.
Tring
Tring
Tring
Saat tangan Ega dan Najwa bertaut, sebuah panggilan telpon masuk kedalam ponsel milik Ega. Tidak perlu ditanya siapa yang menelpon, hingga Ega terpaksa melepaskan genggaman tangannya pada Najwa.
__ADS_1
Ega memberi isyarat pada Najwa, agar istrinya itu pergi lebih dulu kemeja makan. Sementara dirinya menerima telpon terlebih dahulu. Najwa terpaksa menuruti perkataan Ega, meski hatinya merasa berdenyut sakit.
"Ada apa?" tanya Ega.
"Kok gitu nanyanya? kamu kayak nggak senang gitu dengar suaraku. Biasanya kamu selalu bilang kengenlah, cepat pulanglah, sekarang kok gitu? Ega, aku benar-benar sudah tidak tahan lagi. Aku sudah putuskan akan kembali bulan depan. Aku nggak mau ambil resiko membiarkanmu dipengaruhi oleh kehadiran wanita itu," ujar Melody.
"Kamu ngomong apa sih? kenapa plin plan gitu? waktu itu kamu bilang mau pulang sesuai kesepakatan kita. Sekarang kok malah berubah lagi?" tanya Ega.
"Kamu kenapa sih? bukannya kamu senang aku pulang cepat. Kamu sadar nggak sih kalau kamu itu sudah berubah sekarang?"
"Berubah apanya? aku nggak berubah. Sekarang gini, kamu mau pulang cepat juga buat apa? aku dan Najwa sudah membuat kesepakatan 6 bulan. Kenapa kamu nggak sabar menunggu sampai waktu yang sudah di tentukan?"
"Aku memang nggak sabar, karena aku sangat khawatir. Kamu ngerti nggak sih kekhawatiran aku?" tanya Melody.
"Aku ngerti. Tapi kamu juga tidak bisa memaksakan kehendak kamu sekarang ini. Aku juga punya orang tua dan mertua yang harus di jaga perasaannya. Tolonglah kamu ngerti aku sedikit," ujar Ega.
"Aku kurang ngerti apa sih sama kamu? kamu menikahi wanita lain sudah membuat hancur hatiku. Masih kurangkah aku di matamu? mana ada wanita yang rela kekasihnya menikahi wanita lain. Ega, apa kamu mau mencampakkanku setelah puas menikmati tubuhku?" tanya Melody.
"Bu-Bukan begitu," Ega memijat keningnya. Sungguh hatinya dilanda kebimbangan saat ini.
"Kamu sudah menyakiti hatiku Ega. Hikz...," Melody terisak diseberang telpon.
"Kamu sebenarnya masih cinta nggak sih sama aku? atau jangan-jangan kamu sudah jatuh cinta sama istri kamu itu?" tanya Melody.
Ega terdiam. Dia benar-benar tidak tahu bagaimana mengartikan perasaannya pada Melody atau pada Najwa istrinya. Pasalnya sejak bersama Najwa, nama Melody memang lambat laun tergeser dari hatinya. Dan Ega bisa merasakan itu semua.
"Kok diam? apa semua kekhawatiranku itu sudah terbukti? jawab!" teriak Melody.
"Kamu bicara apa sih? aku itu mencintaimu, kamu tahu itu kan? sudahlah, jangan berpikir berlebihan lagi. Aku capek baru pulang kerja, dan kamu sudah ngajakin aku ribut-ribut." Jawab Ega.
"Pokoknya aku nggak mau tahu, bulan depan aku mau pulang. Dan aku mau kamu secepatnya mengurus surat perceraian kamu. Kamu dengar aku tidak?" tanya Melody.
"Ya aku akan segera mengurus surat perceraianku. Apa kamu puas?"
"Tentu saja belum. Aku akan senang setelah semuanya terbukti. Pokoknya bulan depan aku akan pulang. Aku sangat merindukanmu. Ega, katakan kalau kamu sangat mencintaiku," ujar Melody.
"Aku sangat mencintaimu. Apa kamu senang?" tanya Ega.
"Tentu saja. Siapa yang nggak senang mendapat kata-kata cinta dari kekasihnya." Jawab Melody.
__ADS_1
"Ya sudah aku mau makan dulu. Aku tutup telponnya," ujar Ega.
"Oke. I love you,"
"Love you too." Jawab Ega.
Sementara itu, dibalik pintu Najwa hanya bisa meneteskan air matanya. Tanpa sengaja Najwa mendengar ucapan Ega yang sangat menyakiti hatinya. Bukan hanya kata-kata cinta suaminya untuk wanita lain, tapi kata Ega yang akan mengurus perceraian mereka adalah kata yang seperti sebuah pukulan di dadanya.
Najwa yang tadinya berniat memanggil Ega buat makan, jadi mengurungkan niatnya saat mendengar percakapan itu. Najwa menghapus air matanya dan kembali kemeja makan.
Cup
Ega mengecup puncak kepala Najwa, sebelum pria itu duduk di kursinya.
"Wah...makan enak ini. Sayang, aku mau ayam itu dong," ujar Ega menunjuk menu ayam yang berlumuran cabe merah itu.
Tanpa banyak bicara Najwa menyendokkan ayam itu dan meletakkannya dipiring Ega.
"Sayang. Pengen disuapi kamu," ujar Ega.
Najwa juga menuruti ucapan Ega tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Melihat wajah datar istrinya, jelas Ega mengerutkan dahinya.
"Ada apa. Hem?" tanya Ega sembari mengelus lembut pipi Najwa.
"Tidak apa. Aku cuma ngantuk." Jawab Najwa asal.
"Capek ya? kalau capek nggak usah kerja lagi, kakak masih bisa nafkahin kamu," ucap Ega sembari mengusap kepala Najwa.
"Kalau nggak kerja, gimana mau melanjutkan hidup setelah kakak menceraikanku." Jawab Najwa.
Deg
Perkataan Najwa membuat Ega tersadar. Apa yang di katakan Najwa memang ada benarnya. Saat ini dirinya memang tengah berada disebuah dilema besar. Ega menatap wajah sendu Najwa, wajah yang membuat hari-harinya tenang.
"Bulan depan Melody akan kembali. Sebelum dia kembali aku harus sudah membuat keputusan. Aku harus sholat istikharah dulu, agar apa yang aku pilih tidak akan salah," batin Ega.
"Najwa bersabarlah. Tidak lama lagi kamu tidak akan menderita lagi. Entah itu aku akan melepaskanmu agar bebas dari pernikahan ini. Atau dengan masih bertahannya rumah tangga kita. Berikan aku waktu sedikit lagi, aku ingin mencari petunjuk dulu," batin Ega.
Tak ada obrolan lagi diantara mereka. Ega juga memakan makanannya sendiri tanpa disuapi Najwa lagi. Sementara itu Najwa memilih bersikap tenang, meskipun hatinya sedang menjerit kesakitan.
__ADS_1
To be continue....🤗🙏