
"Hati-Hati selama disana ya ndok? buk'e akan selalu rindu sama kamu. Kabari buk'e kalau sudah sampai," ujar Sumirah setelah pelukkan mereka terlerai.
Saat ini Sumirah, Suratmo dan besannya tengah berada di stasiun kereta api. Mereka memang ingin mengatar Najwa ke stasiun, karena Najwa menolak naik pesawat dengan alasan takut ketinggian. Merekapun memutuskan menuruti keinginan Najwa, meskipun harus mengalami peristiwa di sepanjang perjalanan menuju Stasiun itu.
Sumirah yang nyaris tidak pernah melakukan perjalanan jauh, terpaksa harus mabuk perjalanan hingga seluruh ruangan mobil dipenuhi aroma minyak angin yang menyengat. Tapi itu tidak mengapa bagi Sumirah, asalkan bisa mengantar putri tercintanya, apapun akan dia lakukan walau harus mabuk perjalanan sekalipun.
"Buk'e tenang saja. Nana pasti akan sampai dengan selamat." Jawab Najwa sembari menyeka air matanya.
"Kamu sudah diberitahu alamat tempat tinggal Ega kan?" tanya Intan.
"Sudah ma." Jawab Najwa.
"Ya sudah. Kamu hati-hati ya?" ujar Intan.
"Emm." Najwa mengangguk.
Najwa meraih koper yang dia bawa, suara panggilan pada penumpang kereta api sudah berkali-kali disiarkan. Najwa kemudian menyeret koper itu, dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
Air mata Najwa merebak dari balik punggungnya. Ini kali pertama dia berpisah jauh dari orang tuanya.
"Ndok...." Seru Sumirah dengan lelehan air mata.
"Sudah buk'e. Jangan dipanggil lagi, nanti dia jadi berat perginya," ujar Suratmo sembari merangkul pundak istrinya.
Bukan Najwa tidak mendengar seruan Sumirah, tapi tubuhnya memang sengaja tidak ingin berbalik. Najwa takut para orang tua itu mengetahui, bahwa saat ini wajahnya sudah dipenuhi dengan air mata.
Sungguh ini perpisahan paling berat yang Sumirah rasakan, daripada berpisah dengan Najwa ketika putrinya itu pindah tinggal dirumah mertuanya.
*****
Ular besi itu membawa Najwa meninggalkan kota kelahirannya. Wanita itu menyeka sisa air matanya dan berusaha tegar, meski harus berpisah dari orang-orang terkasihnya.
"Mas. Nana berangkat dulu. Semoga masa depan yang lebih baik menanti Nana ditempat yang baru. Nanti kalau Nana pulang, Nana akan berkunjung ketempatmu lagi," batin Najwa.
Perjalanan yang panjang, cukup membuat mata Najwa lelah. Wanita itu tanpa sadar, jatuh tertidur.
Najwa terbangun, saat dirinya tiba di stasiun kota J. Waktu menunjukkan pukul 4 subuh, dan Najwa memutuskan untuk sholat subuh di stasiun. Setelah selesai, Najwa bermaksud ingin menghubungi Ega dan mengabari suaminya bahwa dirinya sudah sampai di stasiun kota J.
Namun alangkah terkejutnya, saat Najwa menyadari ponsel miliknya telah hilang. Najwa berusaha mengingat-ingat, namun dia yakin dirinya meletakkan ponsel miliknya didalam tas yang dia peluk disepanjang perjalanan.
Najwa menghela nafas panjang. Tidak perlu dipikirkan lagi, pelakunya pasti orang yang duduk disebelah tempat duduknya. Seorang gadis berusia sekitar 20 an memang duduk disebelahnya, tanpa pernah mengajaknya berbicara. Gadis itu juga tampak memejamkan mata, dengan headset terpasang ditelinganya.
Sekarang Najwa harus berjuang sendiri, agar bisa sampai dikediaman suaminya itu. Dengan tekad dan keberanian, Najwa akhirnya naik taksi dan minta diantarkan ke alamat yang ada disecarik kertas.
Setelah melewati perjalanan yang lumayan panjang, Najwa akhirnya tiba disebuah gedung yang menjulang. Yah...Najwa tiba di sebuah kawasan apartemen, yang membuat Najwa jadi kebingungan. Najwa tidak tahu harus berbuat apa, karena disecarik kertas itu Ega tidak menyebutkan nomor unit apartementnya. Najwa juga baru tahu, kalau Ega selama ini tinggal disebuah apartement.
__ADS_1
"Bagaimana ini? ponselku hilang, dan aku tidak hafal nomor ponsel kak Ega. Jadi bagaimana caranya aku menemukan dia?" ucap Najwa lirih.
Najwa menarik kopernya dan masuk ke loby apartement untuk mencari informasi. Beruntung Najwa bertemu dengan seorang security yang memang ditugaskan untuk berjaga-jaga disana.
"Maaf pak, numpang tanya. Apa bapak kenal dengan orang yang bernama Ega?" tanya Najwa.
"Apa yang Nona maksud Ega Dirgantara?" tanya Security.
"Betul pak." Jawab Najwa semringah.
"Kenal. Ada apa ya?" tanya pria itu.
"Saya baru datang dari kampung, tapi saya lupa menanyakan berapa nomor unit apartemennya. Sementara ponsel saya hilang. Apa bapak tahu berapa unit apartemennya?" tanya Najwa.
"Maaf. Nona siapanya pak Ega?" tanya Security.
"Saya istrinya." Jawab Najwa.
"Istri?" Security itu tampak terkejut.
Security itu melihat penampilan Najwa dari atas hingga bawah. Security itu sama sekali tidak percaya dengan apa yang Najwa katakan. Pasalnya dia cukup mengenal Ega, yang sering membawa wanita sexy ke apartemennya, dan itu wanita yang berbeda-beda. Hanya satu gadis yang Ega kenalkan secara resmi padanya, gadis itu tak lain adalah Melody.
"Mana mungkin dia istrinya? aku tahu betul selera pria itu. Dia itu penggila gadis sexy berdada besar. Sementara gadis ini...."
"Oh...anda istrinya ya?" ujar Security itu.
"Pak Ega tinggal di unit 149. Tapi anda juga tidak bisa menemuinya sekarang,"
"Kenapa?" tanya Najwa.
"Pak Ega pagi-pagi sekali sudah berangkat bekerja. Jadi anda tunggu saja di loby ini." Jawab pria itu.
"Jam berapa dia pulang?" tanya Najwa.
"Jam 4 sore." Jawab Pria itu.
"Apa bapak tidak keberatan memberitahu kedatangan saya dengan ponsel bapak?" tanya Najwa.
"Maaf. Saya nggak punya nomor ponsel pak Ega." Jawab pria itu.
Najwa menghela nafas panjang. Jujur saja, dirinya benar-benar lelah saat ini dan membutuhkan istirahat. Najwa juga sudah sangat lapar.
"Pak. Saya nitip koper saya dulu ya? saya harus cari makanan buat ganjal perut saya," ujar Najwa.
"Baiklah. Silahkan anda taruh saja di bawah meja itu," ucap pria itu sembari menunjuk kearah meja yang biasa dia duduki.
__ADS_1
"Terima kasih pak," ucap Najwa.
"Emm." Security itu mengangguk.
Najwa masih bersyukur, karena gadis itu tidak mencuri dompetnya juga. Najwa masih bisa mengisi perutnya dengan membeli beberapa makanan, sampai Ega kembali pulang.
Tring
Tring
Tring
Suara ponsel Ega berdering. Pria itu melirik layar ponselnya, yang ternyata Intanlah yang menelponnya.
"Ya ma?"
"Najwa sudah sampai kan?" tanya Intan.
"Dia jadi ke kota J?" tanya Ega balik.
"Apa maksud pertanyaanmu? Najwa sudah berangkat dari jam Dua siang. Seharusnya dia sudah sampai jam 4 subuh di stasiun. Ponselnya mama hubungi sama sekali tidak aktif," ucap Intan
"Dia sama sekali tidak menghubungiku. Aku pikir dia tidak jadi berangkat kemarin. Sekarang Ega berada di tempat kerja." Jawab Ega.
"Ya Tuhan...jangan-jangan terjadi sesuatu dengan anak itu. Ega pulanglah kerumahmu, pastikan dia berada disana atau tidak. Mama sangat khawatir," ujar Intan.
"Baiklah." Jawab Ega, dan kemudian mengakhiri panggilan itu.
"Ckk...wanita bodoh ini sungguh merepotkan," gerutu Ega.
Dengan terpaksa Ega meminta izin keluar kantor. Dia tidak ingin sampai terjadi sesuatu dengan Najwa. Bukan dia mengkhawatirkan istrinya itu, tapi dia tidak ingin disalahkan keluarganya terlebih keluarga mertuanya.
Dengan kecepatan penuh Ega mengendarai mobilnya. Meski beberapa kali terjebak macet, Ega akhirnya berhasil sampai di kawasan apartemennya.
"Pak," sapa security.
"Ada apa?" tanya Ega.
"Tadi ada seorang gadis mengaku sebagai istri bapak. Dia menanyakann unit apartemen bapak, dan tidak bisa menghubungi anda karena ponselnya hilang " Jawab Pria itu.
"Dia juga menitipkan koper disana," sambung pria itu sembari menunjuk kearah koper yang ada dibawah meja.
"Sekarang dia ada dimana?" tanya Ega.
"Katanya keluar sebentar, dia ingin cari makanan." Jawab pria itu.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara Ega duduk disebuah kursi panjang. Sembari menunggu, dirinya kembali berbalas chat dengan sang pujaan hati.
To be continue...🤗🙏