MATIMU MEMBERIKU JODOH

MATIMU MEMBERIKU JODOH
71. Kecewa


__ADS_3

Tok


Tok


Tok


"Assalammu'alaikum," seru Intan dari luar pintu rumah Sumirah.


Intan berulang kali mengetuk pintu rumah itu namun sama sekali tidak ada jawaban.


"Duh...kayaknya nggak ada orangnya pa. Apa jangan-jangan mereka sedang pergi ke pasar ya pa?" ucap Intan.


"Mungkin juga. Sebaiknya kita tunggu saja sebentar. Sudah tangggung sampai sini, jangan langsung pulang," ujar Rahmat.


Namun saat sedang menunggu kedatangan tuan rumah, seorang tetangga dekat Sumirah keluar dari rumahnya karena ingin mencari udara segar.


"Loh siapa itu yang nunggu di depan rumah bude Sumirah?" ujar Elsy.


Intan tersenyum kearah Elsy saat tidak sengaja mereka bertemu pandang.


"Nungguin siapa bu? bude Sumirah?" tanya Elsy sembari mendekat.


"Iya. Orangnya kemana ya? apa mereka sedang kepasar?" tanya Intan.


"Oh ibu nggak di kasih kabar sama bude Mirah ya? mereka kan pergi ke kota J kemarin." Jawab Elsy.


"Ke kota J? oh mau ngunjungin Najwa ya?" tanya Intan.


"Mengunjungi sih iya. Tapi lebih tepatnya pakde mau jadi wali nikahnya Najwa. Kalau tidak ada halangan hari ini Najwa akan menikah." Jawab Elsy.


Jdeeeeeeerrrr

__ADS_1


Jawaban gadis yang ada di depan Intan membuat Intan dan Rahmat terkejut setengah mati. Bahkan langkah Intan sampai mundur beberapa kali. Bayang-Bayang kecewa di wajah putranya seakan menari-nari di pelupuk mata Intan.


"Terima kasih atas informasinya ya ndok. Kita permisi dulu," ujar Rahmat sembari merangkul Intan yang masih syok dengan kabar itu.


"Ayo ma kita pulang," ucap Rahmat sembari menuntun Intan untuk masuk kedalam mobil mereka.


Intan tampak diam selama menuju perjalanan pulang. Dia tidak menyangka Najwa akan menikah lagi secepat itu meskipun perpisahan dengan putranya sudah hampir mencapai 1 tahun.


"Sudahlah ma. Ikhlaskan Najwa, biarkan dia bahagia dengan pilihannya," ucap Rahmat.


"Mama hanya kasihan dengan nasib Ega pa. Mama tidak bisa membayangkan bagaimana nasib Ega, saat dia tahu tentang berita ini. Dia pasti sangat kecewa dan sedih, padahal dia sangat berharap ingin kembali rujuk dengan Najwa." Jawab Intan.


Sementara itu di tempat berbeda, Ega yang tidak sabar menunggu kepulangan Najwa, terpaksa turun dari mobilnya. Pria itu masuk kearea restauran yang mulai berangsur sepi. Namun Ega sama sekali tidak melihat ada tanda-tanda kehadiran Najwa disana.


"Maaf mbak. Najwanya masuk kerja nggak hari ini?" tanya Ega pada kasir disana.


"Loh mas nya nggak tahu ya? mbak Najwa dan Uda Arga menikah hari ini." Jawab Gadis itu.


Ucapan gadis itu seperti sambaran petir bagi Ega. Tubuh pria itu nyaris limbung, kalau saja dirinya tidak berpegang pada salah satu meja disana. Darah Ega seolah terhempas dari atas ketinggian, dengan tubuh yang bergetar hebat. Tanpa banyak tanya lagi, Ega berjalan dengan meyeret langkahnya saat menuju mobil.


"Na-Najwa menikah? i-ini tidak mungkin kan?" bibir Ega bergetar dan kemudian tertunduk di stir mobil.


Ega terisak sambil sesekali memukul stir mobilnya.


"Aaaakkkhhh....hikz....aaaaaaakkkkkhhh...."


Ega berteriak sambil sesekali memukul-mukul stir mobilnya.


"Kenapa kamu tega ninggalin aku...kenapa kamu tidak menungguku. Hikz...Najwa aku sangat mencintaimu, kenapa kamu tidak sabar menungguku. Kenapa? hiks...."


Tubuh Ega bergetar hebat karena tangisan. Namun dia tidak ingin berpangku tangan terus menerus. Ega bergegas tancap gas, karena ingin segera memastikan sendiri kebenarannya.

__ADS_1


Ega segera berlari menuju unit apartemen Arga dan menekan bel beberapa kali. Namun sudah berapa kali dia menekan bel apartemen itu, tak ada seorangpun yang keluar membuka pintu.


Ega duduk dilantai sembari bersandar di tembok. Dirangkulnya kedua lututnya dan dibenamkannya kepala diatas lututnya itu.


"K-Kak Ega," sapa Najwa terbata.


Mendengar suara Najwa, kepala Ega langsung tertoleh seketika. Dapat Ega lihat Najwa datang dengan mengenakan baju kebaya berwarna putih, dengan menyeret sebuah koper ditangan kanannya. Sementara itu Arga disampingnya mengenakan jas berwarna hitam, dengan kopiah hitam diatas kepalanya.


Ega segera bangkit dari duduknya dan menghampiri Najwa dengan langkah gemetar. Ditatapnya wajah cantik yang sudah dipoles make up natural itu. Dapat Ega lihat, mata Najwa sedang berkaca-kaca saat ini, sama seperti matanya. Kalau saja Najwa belum menjadi milik orang lain, Ega sudah pasti membawa Najwa langsung kedalam pelukkannya.


"Jadi berita yang kakak dengar semuanya benar? kenapa kamu begitu tidak sabar menunggu kakak sebentar saja. Hem?" air mata Ega dan Najwa sama-sama terjatuh.


"Kakak sudah bercerai dengan Melody. Sesuai dugaanku, anak itu bukan anakku. Dia sengaja menjebakku karena pria yang menghamilinya tidak bisa memberikan dia nafkah. Hah...tapi tidak ada gunanya aku menjelaskannya padamu, sekarang kamu sudah menjadi pengantin orang lain. Hikz...." Ega terisak.


Najwa jadi tergugu saat melihat Ega begitu menderita karenanya. Ingin rasanya Najwa memeluk pria yang tubuhnya tengah bergetar saat ini. Ingin sekali dia menenangkannya.


"Maafkan aku kak...maafkan aku ...hikz...."


Tanpa banyak kata lagi, Ega menyeret langkahnya dengan berat sembari terisak. Tangan Najwa menggantung di udara, saat akan menghentikan langkah pria itu. Ingin rasanya dia memeluk tubuh pria itu dari belakang, tubuh pria yang diam-diam masih dicintainya itu.


"Maafkan kakak Najwa. Karena kakak terpaksa jadi orang jahat, yang telah memisahkan cinta kalian. Kakak tahu kalian masih saling mencintai, tapi kakak yakin, suatu saat kamu pasti akan mencintai kakak," batin Arga.


Setelah Ega menghilang dibalik tembok, tubuh Najwa lunglai di lantai dengan terisak. Berkali-Kali Najwa mengurut dadanya yang terasa sesak karena himpitan perasaan yang tak terbendung. Isak tangis Najwa semakin lama semakin menjadi, hingga Arga terpaksa membawa Najwa masuk ke apartemennya dengan segera.


Setelah pintu apartemen itu tertutup, Ega keluar dari balik tembok. Dia bisa mendengar dengan jelas isak tangis Najwa yang pecah. Sementara Ega yang sedang menangis tergugu terpaksa menutup mulutnya dari balik tembok, agar Najwa tidak mendengarnya.


"Maafkan semua kebodohanku sayang. Gara-Gara kebodohanku, kita sekarang terpisah. Aku Do'akan semoga kamu bahagia bersama dia, meski tidak bersamaku. Maaf kalau selama bersamaku kamu belum merasakan kebahagiaan, malah selalu menderita. Aku mencintaimu Najwa, aku mencintaimu,"


Ega menekan lift menuju unit apartemennya. Saat ini tubuh pria itu seolah hanya memiliki raga namun tanpa nyawa. Ega sedang mengingat semua kenangan-kenangan manis saat bersama Najwa. Kenangan yang sama sekali tidak bisa dia lupakan.


Sementara itu ditempat berbeda, Najwa masih terisak dikamar. Arga membiarkan istrinya itu menangis sepuasnya tanpa ada rasa marah sedikitpun. Arga mencoba bersabar untuk merebut hati Najwa, meskipun sebenarnya dia merasakan rasa cemburu yang sangat luar biasa. Namun dirinya sadar, karena dirinyalah yang sudah hadir diantara Ega dan Najwa.

__ADS_1


To be continue...🤗🙏


__ADS_2