
Hari ini Najwa dan Arga kembali pergi ke luar kota. Kali ini kota tujuan mereka adalah kota B. Di kota B mereka akan mengunjungi dua tempat sebagai sasaran Arga untuk berobat.
"Najwa. Bagaimana kalau usaha kita ini gagal lagi?" tanya Arga.
"Kakak jangan bicara sembarangan. Kakak harus meyakinkan diri kalau usaha kita kali ini pasti akan membuahkan hasil." Jawab Najwa.
"Ini jika seandainya saja. Aku ingin tahu bagaimana pendapatmu," ujar Arga.
"Kalau kali ini tidak berhasil, maka kita akan mencari tempat lainnya lagi. Pokoknya sampai ke ujung duniapun kita akan mencari tempat yang bisa mengobati penyakit kakak." Jawab Najwa.
"Najwa. Apa aku sungguh egois mempertahankan wanita sebaik dan setulus dirimu? aku harus bagaimana kalau aku berat melepaskanmu. Kamu adalah tujuan hidupku, aku ingin bersamamu hingga aku mati. Tapi melihatmu yang seperti ini aku jadi tidak tega. Kamu juga berhak bahagia setelah melewati banyak penderitaan cinta," batin Arga.
"Apa yang sedang kakak pikirkan? jangan berpikiran macam-macam. Stres juga mengurangi tingkat kesembuhan loh? kita sudah hampir telat ini," ujar Najwa.
"Emm." Arga mengangguk.
"Jangan putus asa ya kak? aku janji akan menemanimu sampai akhir," ujar Najwa.
Najwa mengulurkan tanganya untuk Arga genggam. Argapun mengulurkan tangannya untuk diraih oleh Najwa. Merekapun pergi menuju bandara untuk kembali berobat ke kota B.
Seperti biasa, setelah sampai di kota tujuan, mereka segera mencari penginapan. Kali ini penginapan yang mereka pilih penginapan yang dekat dengan pantai. Najwalah yang mengusulkan tempat itu menjadi tempat penginapan mereka. Najwa ingin mencari tempat yang bisa membuat Arga rileks, agar bisa membantu proses penyembuhan suaminya itu.
Keesokkan harinya Arga mulai melakukan pengobatan tradisional. Rasa malu dan pertentangan pasal aturan agama terpaksa dia singkirkan terlebih dahulu. Pasalnya rata-rata setiap melakukan pengobatan, yang mengobati Arga selalu menyentuh alat vitalnya. Terlebih ada juga yang mengobatinya itu adalah seorang wanita parubaya.
"Sepertinya sakitmu memang agak parah. Pasalnya saya juga pernah mengobati orang yang juga mengalami lemah syahwat atau impoten. Tapi syukurnya berhasil. Aku juga merasa aneh, burungmu sama sekali tidak mengembang, apalagi mau punya daya angkat. Padahal ini hari ketiga kita mengobatinya," ujar orang yang mengobatinya.
"Jadi gimana pak? apa penyakit saya ini memang tidak bisa disembuhkan lagi?" tanya Arga kecewa.
"Jangan putus asa. Meski saya sudah angkat tangan, kamu juga tidak boleh menyerah. Pasti di suatu tempat ada yang bisa mengobati masalahmu ini. Bersabarlah, denganku mungkin kamu belum berjodoh. Tapi yakinlah, suatu saat kamu pasti bisa sembuh,"
__ADS_1
Tes
Air mata Arga menetes. Najwa jadi ikut berkaca-kaca melihat kesedihan Arga. Wanita itu mengusap-usap punggung suaminya dan mengajak pria itu pergi dari sana.
"Hikz...aku sudah tidak berguna Najwa . Aku sudah tidak berguna," tangis Arga pecah saat mereka sudah tiba di penginapan.
Saat ini Arga tengah menumpahkan kesedihannya di pelukkan Najwa. Najwa hanya bisa diam dan mendengarkan semua keluh kesah suaminya. Namun tiba-tiba Arga menyeka air matanya dan menatap mata Najwa.
"Najwa. Bagaimana kalau aku memang tidak bisa disembuhkan lagi?" tanya Arga.
"Kakak jangan bicara gitu. Aku percaya suatu saat kakak pasti akan sembuh." Jawab Najwa.
"Tapi bagaimana kalau selamanya memang punyaku tidak bisa bangun lagi? itu artinya kamu tidak akan pernah mendapatkan nafkah batin, dan kita tidak bisa memiliki anak," ujar Arga.
"Kak. Aku mengerti kekhawatiran kakak itu. Tidak memiliki anak tidak masalah. Kita bisa mengadopsinya di panti asuhan," ujar Najwa.
"Tapi bagaimana dengan nafkah batin?" tanya Arga.
"Oh Najwa. Aku sungguh merasa ingin gila karena kebaikkanmu ini. bagaimana mungkin di zaman sekarang ini masih ada wanita unik sepertimu. Mungkin aku akan lebih gila lagi kalau sampai berpisah denganmu," batin Arga.
"Sekarang berhentilah berandai-andai yang tidak perlu. Kita harus kembali memikirkan tempat baru tujuan berobat kita. Kita tidak perlu lagi pulang kerumah dulu, kita langusng berpetualang dari kota satu ke kota yang lain saja," ujar Arga.
"Apa kamu sungguh tidak lelah menemaniku?" tanya Arga dengan tatapan sendu.
"Kakak bicara apa. Mana mungkin aku membiarkan suamiku berkubang dalam keputus asaan seorang diri. Aku kan sudah bilang, bahwa aku akan menemani kakak hingga akhir. Sampai kepercayaan diri kakak kembali lagi." Jawan Najwa.
Greppppp
Arga membawa Najwa kedalam pelukkannya.
__ADS_1
"Kakak benar-benar beruntung memiliki istri sebaik dan setulus kamu. Terima kasih sudah hadir dalam hidupku," ujar Arga.
"Kakak sabar ya? semua masalah pasti akan ada solusinya," ujar Najwa.
"Emm. Terima kasih sudah selalu menguatkanku," ucap Arga.
"Karena itu sudah menjadi tugasku sebagai seorang istri," ujar Najwa sembari mengusap-ngusap punggung suaminya.
"Sekarang berhentilah memasang wajah muram seperti itu. Allah tidak suka melihat hambanya yang mudah berputus asa bukan?"
"Emm. Bantu aku mencari tempat lain," ujar Arga.
Arga dan Najwapun mencari-cari di internet dan menemukan satu tempat di kota yang berbeda. Tidak ingin membuang waktu, merekapun langsung terbang kesana. Dan seperti yang sudah-sudah, semua selalu berakhir dengan kegagalan. Argapun memutuskan untuk kembali ke kota J. Sejak pengobatan terakhir itu, Arga lebih banyak diam. Dia lebih suka mengurung dirinya di kamar.
"Kak. Aku kepasar dulu ya? kakak mau dimasakkan apa?" tanya Najwa.
"Apa saja." Jawab Arga dengan nada datar.
"Sekalian kalau jadi mau mampir ke kontrakkan butet sebentar," ujar Najwa.
"Ya." Jawab Arga.
Najwapun pergi kepasar dan dia juga mampir ke kontrakkan butet yang kebetulan dia sedang libur bekerja hari ini.
"Bagaimana kabar suamimu? apa sudah sembuh?" tanya wanita berhijab itu.
"Belum Tet. Kasihan kak Arga, aku jadi bingung harus menghiburnya dengan cara apalagi. Sejak pengobatan yang terakhir itu, semangat hidupnya semakin tidak ada. Aku sangat kasihan padanya," unar Najwa.
"Insya Allah kalau Tuhan berkehendak, pasti akan ada keajaiban," ucap Butet.
__ADS_1
Najwa senang Butet sudah memperdalam agama barunya dengan sangat baik. Gadis berkulit hitam manis itu segera memutuskan untuk berhijab, setelah dirinya memutuskan menjadi seorang Mualaf.
Kini Najwa tidak canggung lagi kalau ingin membahas segala hal dengan Butet. Di waktu senggang mereka saling berbagi ilmu yang mereka dapat. Karena Najwa tidak banyak cukup waktu untuk mengajari saudara seimannya itu, Najwa lebih sering menyarankan agar Butet sering bergabung di pengajian atau sejenis majlis taklim lainnya. Dan Najwa sangat bersyukur, Karena butet memang sungguh-sungguh ingin belajar. Namun satu hal yang hingga saat ini Najwa masih penasaran. Yaitu tentang alasan Butet yang memutuskan untuk Mualaf.