
"Rasanya aku tidak ingin melepaskan pelukkan ini. Aku ingin seperti ini sebelum kita berpisah. Biarkan aku memilikimu walau sesaat kak,"
Air mata Najwa tambah mengucur deras, namun Ega sama sekali tidak mendengar isak tangis Najwa. Mungkin efek obat yang pria itu minum sudah bekerja dengan sempurna.
Setelah melihat Ega tertidur lelap, Najwa memutuskan mengusir gundahnya dengan berjibaku di dapur. Dia ingin membuat makanan sehat untuk suaminya.
"Sayang...." teriakkan Ega dari arah kamar, membuat Najwa menghentikan aktifitasnya yang sedang mencuci peralatan yang dipakai sehabis memasak.
Najwa bergegas membasuh tangannya yang masih belepotan oleh busa sabun cuci piring. Najwa kemudian bergegas memasuki kamar Ega, karena takut terjadi sesuatu dengan suaminya itu.
"Ada apa kak? apa ada yang sakit?" tanya Najwa panik.
"Bajuku basah lagi oleh keringat. Minta digantikan lagi." Jawab Ega.
Dengan polosnya Najwa menuruti apa yang Ega katakan. Wanita itu meraih sehelai baju kaos dari dalam lemari dan kemudian melepaskan baju Ega, setelah itu barulah dia memasangkan baju yang bersih untuk suaminya itu.
Ega menatap wajah cantik Najwa tanpa lepas sedikitpun. Tangan Ega kemudian meraih kedua tangan Najwa yang terlihat sibuk merapikan baju yang sedang dia kenakan.
Cup
Ega mengecup kening Najwa dengan durasi hampir 10 detik. Najwa memejamkan matanya, menghayati ciuman itu karena dia ingin menyimpan di dalam memorinya sebelum perpisahan mereka.
"Terima kasih sudah merawatku," ujar Ega, setelah ciuman itu berakhir dua detik yang lalu.
"Kak,"
"Hem?"
"Maukah kakak memelukku?" tanya Najwa.
Ega mengerutkan dahinya, setahunya Najwa bukan tipe wanita yang agresif. Selama hampir 4 bulan menikah, tidak sekalipun Najwa berinisiatif untuk kontak fisik dengannya lebih dulu.
"Kemarilah!" ujar Ega sembari merentangkan tangan.
Najwa segera berhambur kepelukkan Ega, tanpa pria itu tahu Najwa sudah menyembunyikan air matanya. Ega dengan lembut membelai rambut panjang milik Najwa. Sesekali pria itu mencium puncak kepala istrinya itu.
"Ada apa. Hem? apa suasana hatimu sedang buruk? tadi pagi kakak perhatikan raut wajahmu sangat mendung," tanya Ega.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya sedang datang bulan, jadi sedikit sensitif." Jawab Najwa dengan suara yang sedikit bergetar karena tangisan.
__ADS_1
Najwa memang tidak berbohong saat ini, karena dirinya memang sedang datang bulan sejak kemarin sore. Mendengar suara Najwa bergetar, Ega bergegas menjauhkan Najwa dari dekapannya. Najwa yang tidak sempat menghapus air matanya, jadi menerima rentetan pertanyaan dari Ega.
"Kamu kenapa menangis? apa ada yang menindasmu? apa perutmu sakit? atau bagaimana? katakan!" Ega sedikit khawatir.
Najwa menggeleng cepat. Dia tidak mungkin mengatakan pada pria itu penyebab dirinya menangis saat ini.
"Cuma lagi pengen nangis aja." Jawab Najwa asal.
"Eh? aneh sekali, apa wanita yang sedang datang bulan perangainya memang aneh-aneh? Najwa suka menangis, sementara Melody suka marah-marah nggak jelas. Beruntung aku terlahir sebagai pria," batin Ega.
Ega menyeka air mata Najwa, hidung dan bibir Najwa tampak ikut memerah karena Najwa terlalu banyak menangis. Ega menarik tangan Najwa, hingga gadis itu jadi duduk di pangkuannya.
"Aku tidak ingin melewatkan momen satu ini," bisik Ega dengan suara sensualnya.
Najwa yang semula menangis jadi berhenti seketik. Terlebih saat Ega dengan gesit mencium dan melu**t bibir atas dan bawahnya. Najwa yang ingin meluapkan perasaannya, tanpa Ega duga membalas ciuman itu tidak lembut seperti biasanya. Ciuman itu sangat bergairah, hingga membuat pertahanan Ega runtuh seketika.
Ega perlahan membaringkan Najwa diatas tempat tidur, tatapan mata mereka beradu sejenak, sebelum akhirnya kembali berpagutan mesra.
Sretttttt
Ega yang tengah terbakar api gairah, tangannya sudah meraja lela. Pria itu sudah menarik resleting gamis yang Najwa kenakan, hingga aset berharga Najwa yang indah tersembul menggoda.
Najwa yang tengah terbakar oleh cumbuan Ega diceruk lehernya, tidak sadar saat Ega dengan lihai melepas pengait penyangga dadanya.
Ega mere**s dengan gemas gundukkan besar dan indah itu, hingga membuat Najwa menggigit kecil bibirnya agar menahan suaranya supaya tidak keluar.
"Ah...k-kak...."
Najwa tidak kuasa menahan suaranya lagi, saat Ega dengan lihai bermain dipuncak dadanya yang sudah menegang sempurna. Najwa menutup mulutnya, karena suara merdunya yang sudah lolos begitu saja. Sementara tangannya yang lain meremas lembut rambut Ega, untuk menyalurkan rasa nikmat yang dia rasakan.
Ega semakin tak terkendali saat mendengar *******-******* kecil yang masih bisa dia dengar meski Najwa sudah menahannya sekuat mungkin.
Tangan Ega sudah bermain nakal di pa*a Najwa yang putih mulus. Namun saat Ega akan menarik kain segitiganya, Najwa tiba-tiba menahannya.
"Ka-Kak. Aku sedang datang bulan," ujar Najwa dengan nafas yang masih tersenggal.
Ega menggeram kesal. Kepalanya mendadak pusing, karena benda keramat di bawah sana sudah lama tidak pernah di service.
"Maaf," ujar Najwa lirih.
__ADS_1
"Tidak apa," ucap Ega sembari bangkit dari atas Najwa.
Ega kemudian pergi ke kamar mandi sampai waktu yang tidak Najwa hitung. Entah apa yang di lakukan pria itu di dalam sana. Najwapun jadi takut kalau-kalau Ega saat ini sedang marah padanya.
"Entah aku harus senang atau sedih karena tidak bisa melayani kamu selayaknya seorang istri kak. Sejujurnya aku takut, saat kamu berhasil merampas segalanya, kamu malah pergi meninggalkanku," batin Najwa.
Karena tidak ingin membuat suasana jadi canggung, Najwa memutuskan kembali untuk mencuci peralatan dapur yang kotor. Sementara itu Ega heran, karena tidak menemukan Najwa di kamarnya.
Ega memutuskan untuk mencari keberadaan Najwa, karena dirinya sudah merasa baik-baik saja.
"Kakak kenapa keluar? aku bisa rasakan kalau nafas kakak masih hangat," ujar Najwa.
"Aku sudah baik-baik saja. Karena tadi sudah diberikan minuman bergizi." Jawab Ega.
"Minuman bergizi?" Najwa heran, karena seingatnya Najwa tidak menawakan minuman lain, selain air putih.
Grepppp
Ega memeluk Najwa dari belakang, kemudian mere**s lembut kedua gundukkan indah milik Najwa.
"Ini minuman bergizinya. Makanya aku cepat sembuh," bisik Ega dengan Nakal.
Mendengar itu tentu saja Najwa jadi merona. Dia tidak menyangka kalau Ega memiliki tingkat kemesuman yang lumayan parah.
"Mulai besok aku ingin moodbosterku ditambah dengan yang ini ya?" tanya Ega asal.
"Aku nggak denger." Jawab Najwa sembari melepaskan diri dari pelukkan Ega.
"Mending sekarang kita makan aja. Setelah makan kakak bisa istirahat lagi," sambung Najwa.
"Makan kamu boleh?" tanya Ega
"Kak..." mata Najwa mendelik, sementara Ega jadi terkekeh.
Najwa menaruh nasi serta sayur dan ikan kedalam piring Ega. Najwa diam tanpa banyak bicara sembari menikmati makannya. Dua insan itu seolah hanyut dalam pikirannya masing-masing.
"Tuhan aku masih ingin berada di sisinya. Bukan seperti pemeran piguran yang hanya numpang lewat. Tolonglah aku, aku masih ingin bersamanya. Namun jika memang tidak bisa, aku mohon jangan buat bersemi rasa cintaku untuknya," batin Najwa.
"Sekarang aku tidak ragu lagi. Nanti kalau Melody kembali, aku akan memutuskan hubunganku dengannya. Aku sadar sepenuhnya, kalau Najwalah yang terbaik untukku. Najwa, tunggulah sebentar lagi, aku akan mengungkapkan perasaanku saat aku sudah memutuskan hubunganku dengannya. Kita akan bersatu selamanya, sampai maut memisahkan. Aku mencintaimu Najwa, aku sudah jatuh cinta padamu," batin Ega.
__ADS_1
Hati mereka saat ini sedang bersebrangan. Disaat Ega merasakan hatinya berbunga-bunga, Najwa malah merasakan hal sebaliknya. Baginya perlakuan manis Ega tidak ubahnya seperti penderma. Ega hanya merasa kasihan padanya, setelah waktunya tiba, dirinya akan di campakkan juga.
To be continue...🤗🙏