MATIMU MEMBERIKU JODOH

MATIMU MEMBERIKU JODOH
31. Bertemu Lagi


__ADS_3

Terik panas membuat langkah Najwa gontai. Selain belum mendapatkan pekerjaan, Najwa juga kepikiran tentang rencana dirinya keluar dari rumah Ega. Meski dirinya tampak tegar di depan Ega, namun sesungguhnya dia sedikit merasa sedih. Bukan sedih karena dirinya akan bercerai dari pria yang belum dia cintai itu, tapi lebih ke sedih karena nasibnya yang tidak beruntung.


Najwa duduk di pinggir trotoar sembari meluruskan kakinya. Sesekali Najwa menyedot teh botol dengan sedotan untuk menghilangkan rasa dahaganya. Arga yang tengah melintas, tidak sengaja melihat gadis cantik yang sudah dua hari ini tidak dia lihat, meskipun sudah berusaha mencari informasi.


Arga dan motor bututnya berhenti tepat didepan Najwa. Najwa yang tengah melamun, sama sekali tidak menggubris orang yang ada di hadapannya itu.


"Hai cantik. Kita bertemu lagi," ujar Arga sembari memberikan senyum terbaiknya.


Kepala Najwa mendongak seketika, dan memutar bola mata dengan malas saat melihat keberadaan Arga di hadapannya.


"Apa kamu tidak memiliki pekerjaan lain, selain mengganggu wanita yang bukan muhrimmu?" tanya Najwa.


"Siapa yang mengganggu? aku cuma khawatir, kamu sendirian di kota seperti ini. Apa kamu tidak tahu, di kota ini rawan kejahatan?" ucap Arga.


"Tidak usah mengkhawatirkanku. Kita tidak memiliki hubungan, hingga kamu harus mengkhawatirkan aku." Jawab Najwa.


"Galak sekali," canda Arga, namun tidak di gubris oleh Najwa.


Arga melirik kearah map coklat yang ada di pangkuan Najwa. Dan dia bisa tahu kalau wanita itu bernama Najwa, dari tulisan di map coklat itu.


"Najwa. Kamu sedang cari kerja?" tanya Arga.


Najwa terkejut, karena Arga bisa tahu namanya.


"Kamu tahu namaku? kamu menguntitku?" tanya Najwa marah.


"Jangan su'udzon. Tuh namamu tertulis di amplop coklat." Jawab Arga, hingga membuat Najwa terdiam.


"Kamu belum dapat kerja? kamu lulusan apa?" tanya Arga.


"Belum. Pendidikkan guru." Jawab Najwa singkat.


"Oh...buk guru," ujar Arga.


"Emang kalau pekerjaan yang tidak sesuai dengan pendidikkanmu, kamu nggak mau?" tanya Arga


"Apa saja yang penting halal." Jawab Najwa.


"Kalau kamu mau, di restaurant padang temanku membutuhkan seorang kasir disana. Kalau kamu mau, aku bisa merekomendasikan kamu sama dia," ujar Arga.


"Restaurant padang?" tanya Najwa.

__ADS_1


"Emm." Arga mengangguk dan penuh harap.


"Apa aku harus bekerja tidak sesuai dengan keahlianku? tapi mencari kerja di kota ini sangat sulit. Semua guru matematika di sekolah SD sudah terisi semua. Tapi kalau aku menolak pekerjaan dari orang ini, aku harus bagaimana melanjutkan hidup setelah bercerai nanti?" batin Najwa.


"Kamu bisa pikirkan dulu. Pokoknya kamu tidak usah khawatir, pekerjaan itu akan selalu ada buat kamu. Aku yang akan menjaminnya," ucap Arga yang melihat Najwa tampak ragu.


"Kenapa temanmu itu harus mendengarkanmu? dia sangat butuh karyawan, sudah pasti kalau ada yang melamar langsung dia terima," tanya Najwa.


"Rumit kalau di jelaskan. Kalaupun dia nerima orang lain, kalau aku minta pecat, pasti akan dia pecat."Jawab Arga.


"Jangan begitu. Itu namanya mematikab rejeki orang. Ya sudah, aku akan pikir-pikir dulu," ucap Najwa sembari berdiri.


"Nomor ponselmu? bagaimana caranya kamu menghubungiku, kalau kamu tidak tahu nomor ponselku?" tanya Arga.


Najwa melihat kearah Arga sejenak, semula dirinya tampak ragu. Namun akhirnya Najwa dan Arga bertukar nomor ponsel juga.


"Aku harap nomor Hp ku tidak kamu salah gunakan," Ujar Najwa.


"Maksudnya?" tanya Arga.


"Aku nggak mau nomor ponselku kamu jadikan bahan untuk mencari keuntungan dariku. Karena walau bagaimanapun, aku ini wanita yang sudah bersuami." Jawab Najwa.


Mendengar itu Arga jadi tertawa keras. Pria itu sama sekali tidak percaya apa yang Najwa katakan. Baginya itu hanya alasan klise untuk menolak seorang pria yang mendekatinya.


"Buat apa?" tanya Najwa.


"Akan ku tunjukkan pada temanku, sebagai bahan pertimbangan." Jawab Arga.


Najwa menghela nafas, diapun menyodorkan amplop coklat pada Arga. Baginya tidak masalah kehilangan satu berkas, dia masih memiliki banyak kopiannya.


"Emm. Jelas-Jelas di KTP masih lajang," ujar Arga.


"Belum sempat ngubah status." Jawab Najwa.


"Tidak percaya," ujar Arga.


"Ya terserah kalau nggak percaya," ucap Najwa sembari berlalu pergi.


"Kamu lulusan cumlaude jurusan matematika?" tanya Arga, namun tidak ada jawaban dari Najwa.


"Eh?" Arga mencari kesana kemari, namun tidak menemukan keberadaan najwa. Karena asyik melihat CV Najwa, Arga tidak sadar kalau Najwa sudah pergi dari tempat itu.

__ADS_1


"Tidak masalah, yang penting aku sudah mendapatkan nomor ponsenya," ujar Arga dengan senyum semringah.


*****


waktu menunjukkan hampir pukul 5 sore, saat Ega pulang kerumah. Najwa yang tengah memasak buat makan malam, menghentikan kegiatannya dan menyambut suaminya. Seperti biasa Najwa meraih tangan Ega dan mencium tangan suaminya itu.


"Mau teh atau kopi kak?" tawar Najwa.


"Teh." Jawab Ega. Jawaban pertama kali, selama Najwa menawarkan pria itu Teh atau kopi selama mereka tinggal bersama.


"Kakak bersihkan diri saja dulu, nanti tehnya kakak akan aku bawa ke kamar," ucap Najwa.


"Tidak perlu. Letakkan di meja makan saja. apa kamu sudah selesai masak?" tanya Ega.


"Sebentar lagi. Apa kakak mau makan?" tanya Najwa.


"Ya. Setelah mandi aku akan langsung makan." Jawab Ega.


"Baiklah. Setelah kakak mandi, makanan pasti sudah jadi," ujar Najwa.


Ega masuk ke kamarnya untuk segera membersihkan diri. Ega ingin segera memberi tahu tentang Melody yang mempercepat kepulangannya.


Setelah selesai mandi, Ega segera pergi keruang makan. Berbagai jenis masakkan yang menggugah selera sudah Najwa siapkan. Seperti biasa, Ega akan memulai makan pisang kesukaannya sebelum makan makanan utama.


"Kepulangan Melody di percepat. Tadi siang dia memberitahuku, kalau dia akan pulang bulan depan," ucap Ega membuka suara.


Najwa berusaha tetap tenang, sembari berpikir keras. Najwa menuangkan nasi ke piring Ega, dan meletakkan sepotong ayam goreng diatasnya. Najwa juga meletakkan satu sendok sayur capcay, dan satu sendok sambal.


"Cukup," ujar Ega.


Najwa duduk di kursinya dan mengambil nasi juga lauk pauk dan sayur kedalam piringnya.


"Berarti kakak sudah memikirkan keputusan yang baik untuk kita," ucap Najwa.


"Kenapa kamu harus pindah rumah. Aku sedikit keberatan kamu melakukan itu," ujar Ega.


"Kalau kakak keberatan, maka aku lebih keberatan kakak melakukan hal yang tidak masuk akal. Atau begini saja, kalau kakak tidak mau aku keluar dari rumah, maka aku yang akan tidur di kamar kakak. Dan wanita itu tidur di kamarku. Dengan syarat, sebelum kita resmi bercerai, tidak ada hubungan intin diantara kalian." Jawab Najwa.


"Kakak bisa berdiskusi dengan wanitamu itu lagi. Waktu satu bulan cukup memutuskan hal ini," sambung Najwa.


"Ini persyaratan yang berat. Bagaimana mungkin aku bisa tahan tidak menyentuh Melody? sejak Najwa disini saja, aku sudah lama tidak berhubungan dengan wanita lainnya," batin Ega.

__ADS_1


Najwa melanjutkan makan dengan tenang. Dia tidak perduli dengan raut wajah Ega yang tampak kebingungan, memikirkan tentang masalah mereka.


TO BE CONTINUE...🤗🙏


__ADS_2