MATIMU MEMBERIKU JODOH

MATIMU MEMBERIKU JODOH
44. Demam


__ADS_3

"Ini bekal buat kk. Itu kenapa sarapannya tidak dihabiskan?" tanya Najwa.


Ega menatap wajah datar Najwa. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, hari ini wajah Najwa terlihat datar dan dingin. Tidak seperti hari-hari sebelumnya yang penuh ceria dengan senyum yang menawan.


"Apa kakak ada berbuat salah?" tanya Ega.


Ingin rasanya Najwa mencuci otak Ega dengan sekarung deterjen. Agar otak suaminya itu bersih dan bisa berpikiran dengan waras. Najwa tahu Ega bukan tipe pria yang peka, tapi dia tidak menyangka kalau tingkat ketidakpekaan itu akan separah ini.


"Tidak ada. Ayo kita berangkat, nanti kakak terlambat ke kantor," ujar Najwa.


"Iya." Jawab Ega.


Tidak ada adegan mesra hari ini. Acara bergandengan tangan saat akan menuruni lift juga tidak ada. Najwa terkesan menghindar, saat Ega akan meraih tangan istrinya itu. Dan situasi itu berlanjut saat berada di dalam mobil. Sepanjang perjalanan Najwa hanya diam dan memejamkan matanya.


"Sayang. Bangun! kamu sudah sampai," ujar Ega yang membangunkan Najwa yang tampak tetpejam.


Najwa perlahan membuka matanya, dan mengamati daerah sekitar. Ega mengusap pipi Najwa dengan lembut.


"Ngantuk ya? apa kamu mau pulang saja?" tanya Ega.


"Nggak. Aku harus tetap bekerja." Jawab Najwa.


Najwa meraih tangan Ega dan menciumnya. Namun saat Ega akan mencium kening Najwa, istrinya itu seperti menghindar dan segera turun dari mobil. Sementara itu Ega tampak memperhatikan punggung Najwa, hingga istrinya itu menghilang di balik tembok.


"Huffffttt...sepertinya dia sedang marah padaku. Apa dia marah karena aku bertelponan dengan Melody? tapi biasanya dia tidak keberatan," ujar Ega lirih.


Ega kemudian menginjak gas mobilnya, dan kemudian maju perlahan. Ega juga mematikan ac mobilnya, entah mengapa hari ini dirinya merasa kedinginan.


"Pagi-Pagi udah cemberut aja, kenapa? nggak dapat jatah semalam?" canda Arga.


"Kakak tahu saja. Ngintip ya?" Najwa meladeni candaan Arga. Namun tanpa Najwa tahu, pria dihadapannya itu sedang cemburu berat.


"Sudah sarapan?" tanya Arga.


"Sudah tadi barengan kak Ega." Jawab Najwa yang tidak ingin memperlihatkan kemelut resah diwajahnya.

__ADS_1


Lagi-Lagi jawaban Najwa membuat Arga tidak enak hati. Seperti biasa Najwa bekerja dengan sepenuh hati, meski tanpa orang tahu dirinya saat ini sedang mengalami guncangan batin yang hebat. Bayang-Bayang jadi janda dua kali terasa sudah berada di depan matanya. Bagi Najwa pribadi bukan dia tidak ikhlas Ega ceraikan, tapi lebih ke tidak ingin melihat orang tuanya malu. Dia tidak ingin orang-orang menggunjingkan orang tuanya, karena mengecap putrinya tidak beres.


Waktu menunjukkan pukul 1 siang, saat ponsel Najwa berdering. Najwa mengerutkan dahinya saat melihat dilayar ponselnya tertera nama suaminya. Karena masih merasa kesal, Najwa mengabaikan panggilan itu hingga puluhan kali.


Sementara itu Arga berpura-pura tidak melihat dan mendengar, dia cukup mengerti saat melihat raut wajah Najwa yang tampak tidak senang. Setelah dua jam kemudian, Najwa bersiap-siap pulang kerumahnya.


"Aku pulang dulu kak," ujar Najwa yang langsung melenggang pergi begitu saja.


Arga hanya bisa menghela nafas, sembari melihat punggung Najwa yang perlahan hilang dibawa sebuah angkot.


Ceklekkk


Najwa membuka pintu apartement saat sudah berhasil menekan beberapa sandi. Kesan pertama saat masuk rumah itu tentu saja sepi. Namun matanya terbelalak, saat melihat sosok Ega tengah berbaring di sofa panjang dengan masih mengenakan seragam kantornya.


Najwa mendekati Ega, dan menatap wajah tampan suaminya itu yang tampak sedikit pucat.


"Kak. Kakak sudah pulang?" tanya Najwa.


Ega perlahan membuka matanya yang sedikit terasa panas.


Najwa perlahan mendekat, dan sangat terkejut saat Ega meraih tangannya. Bisa Najwa rasakan, kalau suhu tubuh Ega sangat panas saat ini. Najwa bergegas duduk di tepi sofa, dan memeriksa kening Ega dengan punggung tangannya.


"Kakak demam?" Najwa tampak panik.


"Emm." Ega mengangguk.


"Sudah makan siang belum? sudah minum obat belum?" tanya Najwa.


"Ega hanya menjawab dengan gelengan lemah. Najwa menghela nafas, dan membantu Ega untuk masuk ke kamar.


"Kakak tunggu sebentar, aku akan pergi ke apotik untuk mencari obat buat kakak. sekalian mau cari makanan juga," ujar Najwa.


Najwa beranjak dari tepi tempat tidur, namun ditahan oleh Ega.


"Jangan tinggalin aku. Aku butuh kamu," ujar Ega.

__ADS_1


"Tapi kakak harus makan dan minum obat. Pokoknya aku janji nggak akan lama, kakak tunggu sebentar ya?" ucap Najwa.


Dengan berat hati Ega melepaskan tangan Najwa. Sejujurnya Najwa juga iba meninggalkan Ega sendirian, namun dia tetap harus pergi untuk mencari makanan dan obat.


Setelah keluar hampir 30 menit, Najwa kembali dengan semangkuk bubur, dan beberapa obat yang dia beli di apotik. Najwa kemudian membantu Ega bersandar di tempat tidur, dan menyuapi makan suaminya itu.


"Sekarang minum obatnya," ujar Najwa setelah bubur yang dia suapkan sudah habis.


Ega menurut apa yang Najwa katakan. Najwa kemudian berjalan kearah lemari, dan mengambil sehelai baju kaos dan juga celana santai untuk suaminya.


"Sekarang kakak ganti pakaian ya? pakaian ini sudah basah karena keringat," ujar Najwa sembari mencubit ujung lengan baju Ega.


Entah apa yang ada dipikiran Najwa, hingga tanpa canggung dirinya membantu Ega melepaskan pakaian dan membantu Ega berpakaian kembali. Diam-Diam Ega menahan tawanya, karena dia juga merasa dirinya tidak sakit separah itu. Dia masih mampu membuka dan memakai pakaiannya sendiri. Namun Ega sengaja membiarkan Najwa melakukan apapun yang wanita itu sukai.


"Sekarang kakak istirahat saja," ujar Najwa sembari merapikan selimut diatas tubuh suaminya itu.


Tap


Ega menahan tangan Najwa, saat istrinya itu akan beranjak pergi.


"Jangan tinggalkan aku," ujar Ega.


Najwa mengurungkan niatnya yang ingin kembali ke kamarnya. Ega menyuruhnya agar ikut berbaring disampingnya.


"Biarkan aku tidur sembari memelukmu," ujar Ega yang sudah memeluk Najwa.


Najwa terpaksa menuruti kemauan Ega. Meskipun dadanya masih merasakan sesak. Ditatapnya wajah pucat suaminya itu, sungguh tidak bisa Najwa pungkiri bahwa dirinya benar-benar sudah jatuh cinta pada sosok casanova itu.


"Kenapa aku harus mengalami hal seperti ini? kapan aku bahagia? kenapa aku tidak bisa melepaskan suamiku untuk wanita lain. Apa aku egois menginginkan dia agar selalu disisiku?" batin Najwa.


Ting


Sebuah chat masuk kedalam ponsel Ega. Terasa gatal tangan Najwa ingin membuka isi chat itu. Dapat Najwa lihat, chat itu berasal dari melody. Karena saat di scroll kebawah, nomor kontak dengan nama 'pacarku' terpampang nyata di sana.


Meski tidak membuka isi chat itu, namun tulisan di pangkal chat itu cukup mengguncang hati Najwa. Gadis itu menanyakan apakah Ega sudah mengurus surat cerainya atau belum. Air mata Najwa seketika tumpah ruah, Najwa kemudian berbaring kembari sembari memeluk erat tubuh suaminya. Seakan pelukkan itu tidak ingin dia lepaskan sampai kapanpun.

__ADS_1


__ADS_2