MATIMU MEMBERIKU JODOH

MATIMU MEMBERIKU JODOH
103. Pingsan


__ADS_3

"Kenapa? apa kamu pikir aku masih Ega yang dulu? yang lebih mendahulukan emosi daripada pikiran?" tanya Ega.


"Aku bersyukur memiliki Najwa dalam hidupku. Karena dia banyak merubah hidupku yang dulu tidak sempurna. Sekarang aku sudah memilikinya secara utuh, aku tidak akan pernah membuat dia lepas dariku lagi,"


"Dan soal yang kamu bilang tadi, sepertinya aku harus meluruskan sesuatu. Aku tidak tahu siapa yang kamu tiduri itu, karena seingatku akulah pria yang pertama kali menidurinya."


"Omong kosong. Apa kamu melupakan Affan adikmu?" tanya Arga.


"Dia memang menikahi Najwa. Tapi akulah yang berhasil memperawaninya." Jawab Ega dengan bangga.


Arga terkejut saat mendengar fakta itu. Namun dia tidak ingin kalah dengan mudah.


"Tidak perduli Affan atau kamu yang mengambil perawannya, yang pasti saat bersamaku dia sangat liar diranjang," ujar Arga.


"Dasar bodoh. Ternyata kamu belum mengerti juga arah ucapanku. Biar aku perjelas lagi ucapanku kalau begitu."


"Aku mendapatkan perawan Najwa setelah kami menikah untuk yang kedua kalinya. Kamu tahu itu artinya apa? itu artinya kamu belum menyentuhnya sampai ketahap itu," ujar Ega sembari mengedipkan mata ke arah Arga.


Brukkkkk


Arga tersandar lemas di sofa. Dia tidak menyangka Najwa wanita yang begitu terpelihara. Hingga sudah menikah 3 kalipun dia masih perawan.


"Na-Najwa kakak...."


Najwa menghentikan ucapan Arga dengan tangannya. Air mata wanita itu sudah jatuh dipipinya.


"Entah apa yang ada dipikiranku waktu itu, sehingga aku bisa memberimu kesempatan buat masuk kedalam hidupku. Kata-Kata fitnahmu, sudah membuktikan kalau kamu sama sekali tidak pantas mendapatkan hal terbaik dalam hidupmu,"


"Pergilah kak! mari saling melupakan. Anggap pernikahan kita yang dulu adalah sebuah kesalahan besar. Aku bukan hanya tidak cocok denganmu, tapi juga tidak cocok dengan keluargamu. Sama sepertimu, keluargamu selalu mencari kesempatan untuk menghinaku hanya karena aku seorang janda dua kali,"


"Jangan pula kakak seenaknya setelah mencampakkanku, menghinaku, malah datang lagi ingin rujuk denganku. Aku ini bukan mainan, yang bisa kakak pungut lalu kakak buang seenaknya," sambung Najwa.


"Sekarang aku sudah sangat bahagia. Kakak carilah kehidupan baru, aku do'akan moga kakak dapat wanita yang jauh lebih baik dari aku," ujar Najwa.


"Tapi kabar buruknya kamu tidak akan dapat yang sama seperti Najwa. Karena wanita seperti Najwa satu-satunya di dunia ini," tinpal Ega.


"Kak...." Najwa melotot kearah Ega.


Arga yang tidak tahan lagi langsung keluar dari rumah itu. Ega bergegas menutup pintu rumahnya yang langsung dipelototi oleh Najwa.


"Lain kali aku tidak mengizinkanmu membuka pintu, kalau tamu yang datang itu si Arga," ujar Ega.


"Kok gitu?" tanya Najwa.


"Aku nggak mau dia mencari kesempatan lagi buat misahin aku sama kamu." Jawab Ega.


"Kalau gitu aku nggak izinin kamu lihat wajah Gina lebih dari 3 detik," ujar Najwa.


"Kok gitu?" tanya Ega.

__ADS_1


"Karena aku nggak mau mata suamiku jelalatan melihat dada obral." Jawab Najwa yang langsung masuk ke kamarnya.


"Sayang. Tunggu! kapan aku melihat dada obral? aku cuma suka dadamu sayang...." teriak Ega sembari menyusul Najwa.


Sementara itu Arga berjalan dengan langkah gontai. Pria itu bahkan hampir tertabrak mobil, saat akan menyeberang jalan raya. Arga memang harus menyeberang, karena dia memarkir mobil rental dekat kontrakkan Butet dan kawan-kawan.


"Alamakkk...ganteng kali terong satu ini kak," bisik Marina.


"Tapi terongnya layu," bisik Butet.


"Layu bagaimana kak?"


"Husssttt nanti orangnya dengar," ujar Butet meletakkan jari telunjuk di bibirnya.


Arga terkejut saat melihat Butet dihadapannya. Entah apa yang ada dipikiran pria itu saat ini, hingga tiba-tiba pria itu langsung memeluk Butet sembari menangis. Lain pula dengan reaksi Butet, tubuh gadis itu jadi menegang seketika.


"Ya Tuhan...aku iri," ceplos Marina.


Tidak jauh berbeda dengan Marina, teman-temannya yang lain menunjukkan reaksi yang sama dengan Marina.


"Butet. Dia ninggalin aku. Dia sudah milik orang lain. Hikz...aku benar-benar tidak sanggup kehilangan dia. Hikz...."


"Ka-kak lepasin dulu ya? ki-kita bukan muhrim," ujar Butet.


Mendengar itu Arga langsung melepaskan Butet seketika. Pria itu kemudian berjalan kearah mobilnya. Namun karena beban perasaannya lebih besar, Arga tiba-tiba jatuh pingsan.


"Terong eh terong...."


"Sudahlah bang. Abang harus ikhlaskan kak Nana. Mereka itu saling mencintai. Abang bisa cari pengganti dia. Wanita banyak di dunia ini bang," ujar Marina.


"Marina misalnya," timpal Butet yang langsung dipelototi oleh Marina.


"Meski pencinta cogan, ogah juga kalau terongnya layu," batin Marina.


"Bisa juga Maryam," Marina melemparkannya pada Maryam.


"Eh?" Maryam yang terkejut, langsung menoleh siapa yang lebih tepat untuk menjadi sasaran bullynya.


"Atau yang lebih tepat kak Butet. Bukankah abang lebih kenal dengan kak Butet?" ujar Maryam.


"Setuju." Jawab Maryam dan Marina bersamaan.


"Dasar teman laknat. Giliran terong layu, langsung saling melempar," batin Butet.


"Terima kasih karena sudah menghiburku," ujar Arga.


Arga langsung bangkit setelah berbaring cukup lama.


"Abang mau kemana?" tanya Butet.

__ADS_1


"Pulang." Jawab Arga.


"Pulang ke kota J?" tanya Butet.


"Ya." Jawab Arga sembari berjalan kearah mobil dan disusul oleh Butet.


"Sebaiknya abang jangan pulang dulu, sebelum hati abang tenang. Takutnya terjadi sesuatu sama abang,"


Brakkkk


Arga yang masuk mobil langsung menutup mobilnya. Tapi anehnya mobil itu tidak berjalan, dan tiba-tiba Arga membuka pintu kaca mobilnya.


"Butet. Maukah kamu mengajakku jalan-jalan?" tanya Arga.


"Eh? sekarang?" tanya Butet.


"Ya. Aku ingin bercerita banyak hal denganmu." Jawab Arga.


"Bo-Bolehkah aku ajak temanku?" tanya Butet.


"Yang ingin kuceritakan ini tentang privasi hidupku. Aku hanya percaya padamu," ujar Arga.


Butet sejenak ragu. Namun walau bagaimanapun, Arga adalah mantan bosnya. Dia ingin menghibur Arga sebagai bentuk balas budi.


Butet akhirnya pergi bersama Arga kesebuah taman. Arga menceritakan banyak hal tentang dirinya yang melakukan terapi keluar negeri agar bisa bersama kembali dengan Najwa.


"Tapi semua yang aku lakukan percuma. Dia sudah jadi milik orang lain," ujar Arga setelah menutup ceritanya.


"Jadi terong abang tidak layu lagi?" tanya Butet dan langsung menutup mulutnya karena keceplosan.


"Terong?" tanya Arga.


"Eh? a-anu, itu maksudku terong dalam arti kiasan. Lebih tepatnya pisang kulit punya abang." Jawab Butet yang tambah Arga tidak mengerti.


"Astaga. Masak iya aku harus jelasin detil bang?"


"Ya kamunya jangan pakai kata sandi dong. Akunya mana ngerti." Jawab Arga.


"Itu burung-burung. Burung dalam celana abang," perkataan Butet membuat wajah Arga jadi merona.


"Gadis ini benar-benar. Kenapa dia segila ini?" batin Arga.


"Kamu akan tahu setelah mencobanya." Jawab Arga asal.


"Mana bisa masuk kalau layu bang," ujar Butet.


"Astaga Butet,"


Arga menepuk keningnya. Ternyata Butet lebih gila dari yang dia perkirakan.

__ADS_1


To be continue...🤗🙏


__ADS_2