MATIMU MEMBERIKU JODOH

MATIMU MEMBERIKU JODOH
36.Hari Pertama Kerja


__ADS_3

Najwa tampak sudah rapi , ketika Ega menghampirinya di meja makan untuk sarapan. Seperti biasa, Najwa menyodorkan sebuah pisang ambon untuk suaminya, sebelum pria itu mencicipi menu sarapan mereka.


"Kamu jadi masuk kerja hari ini?" tanya Ega sembari mengupas ujung pisang dan menariknya kebawah.


"Iya kak. Do'ain moga lancar ya?" ucap Najwa.


"Apa kalian sudah membuat kesepakatan tentang gajih yang akan kamu terima?" tanya Ega.


"Belum. Lagipula aku tidak terlalu mementingkan gajih, aku hanya ingin mencari kesibukan." Jawab Najwa.


"Terserah saja. Tapi kalau kamu memang tidak nyaman dengan tempat kerjamu, kamu jangan memaksakan diri. Aku masih sanggup menafkahimu," ujar Ega.


"Iya kak." Jawab Najwa.


"Kamu pergi naik apa?" tanya Ega.


"Rencananya naik angkot." Jawab Najwa.


"Apa tempat kerjamu satu arah dengan kantorku?" tanya Ega.


Najwa meraih ponselnya, untuk memperlihatkan titik lokasi yang sudah di kirim Arga melalui chat.


"Apa ini lokasinya searah dengan kantor kakak?" tanya Najwa sembari menyodorkan ponselnya.


Ega meraih ponsel itu dan melihat titik lokasinya.


"Ya. Ini satu arah. Dan tidak jauh juga dari kantorku. Kalau begitu kita pergi sama-sama saja setiap hari," ujar Ega sembari mengembalikan ponsel pada Najwa.


"Benarkah? baguslah kalau begitu," ucap Najwa tersenyum senang.


"Siapa itu kakak Minang?" Ega mempertanyakan nomor kontak yang di namai Najwa kakak minang.


"Oh itu kakak yang menawarkan aku pekerjaan." Jawab Najwa.


"Apa dia pemilik restaurant itu?" tanya Ega.


"Bukan. Dia bilang sih punya temennya." Jawab Najwa.


Najwa dan Ega ngobrol ringan sembari menikmati sarapan pagi. Setelah itu mereka pergi bersama menggunakan mobil pribadi Ega.


Ega mengerutkan dahinya saat tiba di lokasi. Tentu saja dia sangat mengenal restaurant tempat kerja baru Najwa, karena dirinya juga sering makan disana. Selain itu pemilik dari restaurant itu adalah salah satu sahabatnya. Bahkan sahabatnya sejak dari sekolah SMA.


"Jadi Najwa bekerja di restaurant Arga?" batin Ega.


"Kak. Aku berangkat kerja dulu ya?" ujar Najwa sembari meraih tangan Ega dan menciumnya.

__ADS_1


Cup


Ega mencium kening Najwa, hingga pipi wanita itu jadi merona.


"Hati-Hati," ujar Ega.


"Kakak juga hati-hati. Sampai ketemu di rumah ya," ucap Najwa.


"Emm." Ega mengangguk dan sedikit menarik sudut bibirnya.


Najwa membuka pintu mobil, dan melambaikan tangan saat Ega membunyikan klakson mobilnya. Najwa kemudian masuk kedalam restaurant dan di sambut Arga disana.


"Kakak disini?" tanya Najwa heran.


"Ya. Karena kebetulan kakak juga bekerja disini." Jawab Arga.


"Kakak bekerja disini juga? kenapa kakak nggak bilang? terus kakak disini bekerja sebagai apa?" tanya Najwa bertubi-tubi.


"Aku bekerja sebagai kasir yang akan menggantikanmu setelah kamu pulang." Jawab Arga sembari tersenyum.


"Be-Benarkah? kebetulan sekali ya kalau gitu," ujar Najwa.


"Maaf aku tidak bilang dari awal, kalau aku juga bekerja disini. Takutnya kamu akan salah paham padaku," ujar Arga.


"Dia sedang pergi ke luar kota. Maklum, cabang restaurannya sudah banyak. Jadi dia memang tidak bisa menetap di satu tempat." Jawab Arga.


"Jadi aku harus bagaimana ini?" tanya Najwa.


"Apanya yang bagaimana? aku yang akan membimbingmu, karena semuanya sudah di serahkan padaku. Ya bisa di bilang aku adalah orang kepercayaannya." Jawab Arga.


"Oh begitu. Kalau begitu mohon bimbingannya kak," ujar Najwa.


"Tidak sulit. Kamu hanya perlu menghafal semua menu yang ada disini. Juga menyusun uang sesuai nominal. Itu saja," ucap Arga.


"Tapi sepertinya harus menggunakan komputer ya?" tanya Najwa.


"Oh itu. Ya, tapi nggak sulit kok. Kemarilah, biar kakak mengajarimu," ujar Arga.


Arga kemudian menyuruh Najwa duduk di kursi kasir, dan mulai mengajari Najwa cara menginput menu dan harga di komputer. Najwa dengan seksama mendengarkan penjelasan Arga, dan langsung mempraktekkannya saat ada pelanggan yang datang.


"Selain cantik, dia juga smart. Aku tidak boleh melepaskan dia. Sejak pertama bertemu dengannya, aku yakin kalau dia ini adalah jodohku. Aku akan mendekatinya secara perlahan," batin Arga.


"Emm. Kamu kesini tadi diantar siapa?" tanya Arga.


"Suamiku."Jawab Najwa.

__ADS_1


Arga menghela nafas panjang. Pria itu berfikir Najwa membual karena ingin menjaga dirinya dari pria yang bermaksud menggodanya. Padahal tanpa Arga tahu, semua perkataan Najwa adalah kejujuran.


Najwa tampak serius bekerja, karena waktu makan siang adalah waktu teramai di restoran itu. Banyak sekali pengunjung yang datang, karena ingin makan siang disana. Arga tersenyum dari jauh, saat melihat keseriusan di wajah Najwa yang menatap layar komputer. Sudah berjam-jam pria itu memandang wajah cantik Najwa, namun tidak ada rasa bosan sedikitpun.


Setelah sibuk bekerja hampir seharian, kini Najwa bisa lega saat melihat jam di pegelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 14.45, dan Najwa ingin segera pulang kerumah.


"Kak. Situasi restauran sudah agak sepi. Bolehkah aku izin pulang sekarang?" tanya Najwa.


"Boleh. Apa kamu perlu diantar?" tawar Arga.


"Eh? ti-tidak usah kak. Biar aku naik angkot saja. Lagipula kita bukan muhrim, takutnya akan menimbulkan fitnah." Jawab Najwa.


"Baiklah. Hati-Hati ya?"


"Ya." Jawab Najwa


Arga hanya bisa menatap punggung Najwa yang semakin lama semakin menjauh, dan kemudian hilang saat wanita itu berhasil menemukan angkutan umum.


"Sabarlah Arga. Dia itu gadis yang berbeda. Kalau kamu ingin mendapatkan batu berlian, maka kamu harus pelan-pelan menggosoknya agar tidak mudah rusak," ujar Arga lirih.


Sementara itu Najwa tersenyum senang saat menuju jalan pulang. Arga sudah menjelaskan padanya, bahwa dia akan menerima gaji sesuai UMR di kota itu. Meski pada kenyataannya gaji itu di berikan Arga sesuai keinginannya pribadi.


Najwa bergegas memasuki rumah, karena dia ingin segera memasak untuk suaminya. Meskipun sebelumnya Arga pernah menawarkan dirinya untuk membawa masakkan dari restauran, namun Najwa lebih suka memasak makanan untuk suaminya dengan tangannya sendiri.


Setelah selesai memasak, Najwa bergegas membersihkan diri karena dia ingin menyambut suaminya dalam keadaan bersih dan wangi.


Ting tong


Ting tong


Meski Ega mengetahui kode apartemennya, dia lebih suka memberitahu kedatangannya dengan menekan bel rumahnya. Entah mengapa dia jadi suka di sambut oleh senyum cantik Najwa.


Ceklek


"Kakak sudah pulang?" tanya Najwa dengan senyum terbaiknya.


Sesuai dugaan pria itu, dia mendapatkan senyuman yang membuat lelahnya hilang seketika. Setelah menutup pintu dan Najwa sudah mencium tangannya, Ega meraih wajah Najwa dan tiba-tiba mencium istrinya itu. Ciuman yang lumayan panjang, hingga tidak terasa mereka sudah duduk disebuah sofa, dengan Najwa yang berada di pangkuan suaminya.


Host


Host


Host


Nafas keduanya tersenggal, dan tatapan mereka beradu. Sesaat kemudian, mereka kembali ternggelam dalam ciuman yang memabukkan.

__ADS_1


__ADS_2