MATIMU MEMBERIKU JODOH

MATIMU MEMBERIKU JODOH
59. Aku Sudah Kalah


__ADS_3

"Aku pergi kak," ujar Najwa sembari menyeret kopernya.


Ega berusaha menghalangi kepergian Najwa dengan meraih tangan wanita itu.


"Please jangan tinggalin kakak," ujar Ega sembari terisak.


"Ega sudahlah. Ingat ada anak kita yang butuh kamu," ucap Melody yang menarik tangan Ega sekuat mungkin.


"Lepaskan aku!" hardir Ega sembari menghempaskan tangan Melody.


"Sayang. Kakak mohon jangan mengambil keputusan untuk bercerai. Aku benar-benar tidak mau berpisah sama kamu," ujar Ega.


"Ya sudahlah Najwa, tidak masalah kalau kita tinggal serumah dan menjadi madu. Lumayan kamu bisa ngurus anak kami nanti," ucap Melody.


"Tutup mulut busukmu itu sialan!" hardik Ega penuh emosi.


Najwa terkejut saat melihat Ega memarahi Melody. Najwa tidak pernah melihat Ega semarah itu. Meskipun Najwa sadar, Ega memang tidak lagi mencintai Melody, tapi tetap saja keputusannya ingin bercerai sudah bulat. Kali ini bukan demi siapapun, termasuk demi anak itu. Tapi Najwa berpikir, kedepannya pasti Melody akan tetap mempertahankan rumah tangganya bersama Ega bagaimanapun caranya.


Dan tentu saja Najwa tidak tahan menghadapi hal seperti itu. Dia tahu betul dirinya tidak suka ditindas siapapun.


"Kak. Aku juga mohon tolong ikhlaskan aku. Kita ikuti alur saja. Kalau Allah memang ingin kita bersatu, pasti semuanya akan dimudahkan. Tapi kakak saat ini memang sedang punya tanggung jawab. Jangan sia-siakan anak yang tidak berdosa itu," ujar Najwa.


Selesai berkata-kata, Najwa bergegas keluar dari tempat itu meskipun dia membawa sejuta luka.


"Bukankah itu Najwa? kenapa dia menangis?" ucap Arga, saat pria itu tidak sengaja melihat Najwa yang akan menuruni lift.


Arga bergegas menuju arah lift, karena dia ingin tahu apa yang sudah terjadi pada wanita impiannya itu.


Arga melihat Najwa menyeret kopernya, saat hampir melewati loby apartemen. Arga bergegas berlari menghampiri Najwa, karena tidak ingin kehilangan jejak.


"Najwa," seru Arga.


Merasa namaya diseru, Najwapun menoleh sembari menyeka sisa air matanya.


"Kak Arga? kok kakak bisa ada disini?" tanya Najwa.


"Kamu lupa ya? kakak kan memang tinggal di apartemen. Yah...tapi unitku 1 tingkat diatas apartemen milik Ega." Jawab Arga.

__ADS_1


"Oh," Najwa hanya ber oh ria.


Arga memperhatikan raut wajah Najwa yang sendu, dengan mata yang sedikit agak sembab.


"Kamu mau kemana bawa koper begini?" tanya Arga penasaran.


"Mau cari kontrakkan kak." Jawab Najwa.


"Kontrakkan? buat apa? kamu sedang ada masalah dengan Ega?" tanya Arga.


"Najwa.Tidak baik kamu keluar rumah tanpa izin dari suami kamu," sambung Arga.


"Aku sudah kalah kak. Cintaku sudah kalah. Hikz...." tangis Najwa kembali pecah, dengan tubuh yang bergetar hebat.


Ingin rasanya Arga memeluk Najwa untuk menenangkan wanita pujaannya itu. Tapi dia tahu, Najwa pasti tidak mengizinkannya melakukan hal demikian.


"Menangislah kalau itu bisa membuat perasaanmu lebih baik. Maaf, hanya kata itu yang bisa kakak bantu untuk mengurangi rasa sedihmu. Seandainya kamu adalah muhrimku, tentu kamu sudah aku berikan pelukkan, agar bisa mengurangi bebanmu," ucap Arga.


"Aku akan mengantarmu mencari kontrakkan. Aku tahu kontrakkan yang lumayan bagus dan murah di sekitar sini," sambung Arga.


"Makasih kak. Maaf sudah merepotkan," ujar Najwa sembari menyeka air matanya.


Setelah menemukan kontrakkan yang sesuai, Arga dan Najwapun duduk di depan teras kontrakkan untuk mengobrol.


"Sebenarnya kenapa kamu jadi keluar dari rumah suami kamu? kalian bertengkar? kan masih bisa dibicarakan baik-baik. Kenapa kamu jadi pergi dari rumah?" tanya Najwa.


"Aku tahu sebenarnya tidak pantas bagiku mengumbar aib rumah tanggaku. Tapi aku benar-benar butuh teman saat ini. Aku mau bercerai dari Ega kak." Jawab Najwa.


"Ap-Apa? jangan gila kamu Na. Pernikahan itu bukan main-main. Kalau masalah bertengkar dalam rumah tangga, itu masih dalam tahap wajar. Tapi kalau mau ngambil keputusan bercerai, itu sangat gegabah menurutku," ujar Arga.


"Melody hamil." Jawab Najwa singkat.


"Ap-Apa? apa itu anak Ega?" tanya Arga terkejut.


"Aku tidak tahu. Yang pasti dia memang pernah bertemu Melody satu bulan yang lalu. Dan dia tidak pulang malam itu. Aku tidak tahu itu benar atau tidak, yang pasti aku tidak mau ambil pusing, apalagi dijadikan musuh oleh wanita yang mengaku hamil anak suamiku." Jawab Najwa.


"Najwa. Menurutku kamu terlalu gegabah. Kenapa mesti kamu yang harus pergi? kenapa bukan Melody yang kamu singkirkan. Ega suami kamu, seharusnya kamu mempertahankan rumah tanggamu bagaimanapun caranya," ucap Arga.

__ADS_1


"Maaf kak. Tapi aku tidak senaif itu. Aku ini manusia biasa yang bisa marah dan juga cemburu. Mereka ingin menawarkan agar aku hidup serumah alias bermadu, tentu saja aku tidak akan menerina itu meskipun aku sangat mencintai suamiku. Lagipula aku pergi juga demi anak itu, dan demi kebahagiaan diriku sendiri. Aku tidak mau menderita batin. Jadi lebih baik aku mengalah saja," ujar Najwa.


Arga terdiam. Dia tidak ingin memberi masukkan lagi pada Najwa, karena Arga tahu dia sedang kalut saat ini.


"Jadi apa yang mau kamu lakukan selanjutnya?" tanya Arga.


"Untuk sementara aku akan kembali ke kampungku. Aku ingin menyelesaikan semua dengan cepat." Jawab Najwa.


"Jadi untuk apa kamu menyewa kontrakkan ini?" tanya Arga.


"Untuk alasan tertentu, nanti aku akan kembali kesini lagi. Aku ingin merantau, tanpa membebani orang tuaku lagi." Jawab Najwa.


Lagi-Lagi Arga menghela nafas. Sebenarnya dia masih belum paham dengan jalan pikiran Najwa.


"Baiklah. Kakak pulang dulu ya? kabari saja kalau kamu mau kembali ke kampungmu," ujar Arga.


"Iya kak." Jawab Najwa.


Setelah Arga pergi, Najwa kembali masuk kedalam tempat tinggal barunya. Najwa meraih ponselnya dan melihat ada puluhan panggilan tak terjawab dari Ega. Bahkan setelah ponsel itu ditangannya, Ega masih saja menghubungi Najwa.


Najwa mengabaikan panggilan itu. Najwa merasa tubuhnya sangat lelah. Dia kemudian mematikan ponselnya dan pergi tidur.


Sementara itu ditempat berbeda, Ega dan Melody masih saja bertengkar.


"Kamu ngapain sih ngubungin dia lagi? dia sudah ngambil keputusan, kenapa kamu tidak coba membahas tentang masa depan kita? jadi kapan kamu mau nikahin aku?" tanya Melody.


"Melody tolong tinggalkan aku sendiri. Aku sedang tidak ingin bicara denganmu, apalagi membahas tentang pernikahan. Pulanglah! jangan sampai aku berbuat kasar padamu," usir Ega.


"Kamu sudah gila ya? kamu tega sekali dengan anak kamu sendiri? intinya kamu mau tanggung jawab atau tidak? kalau tidak mau aku akan menggugurkan anak ini," tanya Melody.


"Apa kamu sudah gila? dosamu sudah terlalu banyak Melody. Kenapa harus kamu tambah dengan dosa membunuh juga?"


"Yang pembunuh itu jelas-jelas adalah kamu. Kan kamu yang nggak mau bertanggung jawab dan Mengakui anak ini adalah anak kamu. Terus terang harga diriku seperti sedang kamu injak-injak saat ini," ucap Melody.


"Pada intinya kamu pulang saja dulu. Aku ingin menenangkan diri dulu. Nanti akan kita bahas lagi," ujar Ega.


Melody yang kesal menghentakkan kakinya dan pergi dari apartemen Ega, dengan wajah yang masam.

__ADS_1


TO BE CONTINUE ....🤗🙏


__ADS_2