
Ega dengan kekonyolannya hari ini izin tidak masuk bekerja karena ingin memastikan ucapan Arga. Pria itu menunggu tidak jauh dari apartemen Arga, karena ingin tahu bahwa Najwa benar-benar datang ke apartemen itu atau tidak.
Setelah menunggu beberapa lama, Najwa akhirnya muncul bersama Arga sembari berbincang. Namun langkah kedua orang itu terpaksa berhenti saat melihat Ega dihadapan mereka.
"Kak Ega," Najwa menelan air ludahnya. Dia mendadak gugup, seolah baru saja ketahuan mencuri seseuatu.
Ega menatap Najwa dengan lekat. Sementara yang ditatap hanya bisa menundukkan kepalanya. Ega berjalan perlahan mendekati Najwa, dan berhenti tepat di depan mantan istrinya itu.
"Tegakkan kepalamu!" ucap Ega.
Seperti kerbau dicucuk hidung, Najwa melihat kearah Ega dengan menatap takut-takut.
"Apa ini? apa kamu sungguh ingin meninggalkan kakak?" tanya Ega.
"Ini tidak dibenarkan. Kamu mengintimidasinya," ucap Arga tidak senang.
"Diamlah! aku tidak sedang berbicara denganmu. Jadi jangan coba-coba ikut campur," Ega memperingatkan sembari menunjuk kearah Arga.
Najwa lagi-lagi menelan air ludahnya. Wanita itu begitu takut Ega dan Arga bertengkar karena dirinya.
"K-Kak," ucap Najwa lirih.
"Katakan! apa secepat ini kamu ingin melupakan kakak? apa kamu sungguh tidak ingin menungguku sebentar lagi? Najwa Jangan siksa dirimu sendiri, karena menikah dengan orang yabg tidak kamu cintai," ujar Ega.
"Jangan mendoktrinnya!" suara Arga sudah tinggi beberapa oktaf.
"Diamlah! aku sedang bicara dengannya," hardik Ega.
"Cukup!" teriak Najwa.
Ega dan Arga menoleh kearah Najwa yang matanya sudah berkaca-kaca.
"Lihatlah. Karena ulahnu dia menangis lagi. Sampai kapan kamu ingin menyiksanya dengan cinta palsumu itu," ujar arga.
__ADS_1
"Cintaku tidak palsu brengsek! aku sungguh-sungguh mencintainya. Kamulah yang membuatnya bimbang," hardik Ega.
"Apa kalian belum juga cukup bertengkarnya? kalau belum cukup juga, silahkan lanjutkan. Aku mau pulang saja," ujar Najwa yang langsung berbalik badan seraya menyeka air matanya.
"Najwa please jangan lakukan ini. Keluargaku sudah menunggu didalam. Aku tidak bisa menghadapi mereka lagi, kalau sampai kamu tidak jadi datang menemui mereka," mohon Arga.
Najwa mendongakkan kepalanya. Wanita itu kini benar-benar dilema. Dan dia memutuskan mengikuti ucapan Arga. Saat akan berlalu dari hadapan Ega, tiba-tiba Ega meraih tangan Najwa, hingga kepala wanita itu jadi tertoleh kebelakang.
"Kakak mohon jangan pergi," ujar Ega dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Najwa menelan ludahnya berkali-kali. Sekuat mungkin dia tidak ingin air matanya melesak keluar. Hatinya merasa sakit melihat Ega begitu menderita dengan perpisahan mereka.
"Kak. Aku mohon lepaskanlah aku. Biarkan aku menemukan kebahagiaanku sendiri. Kita sudah dijalan yang berbeda saat ini. Kamu ingin melihatku bahagia bukan? kalau kamu ingin aku bahagia, maka lepaskan aku dengan ikhlas," ujar Najwa.
Tes
Tes
Tes
"Kita sudah sampai, hapus air matamu," ujar Arga.
Najwa bergegas menghapus air matanya. Dan sesaat sebelum masuk ke apartemen Arga, Najwa menoleh ke arah Ega yang masih diam mematung tidak jauh dari Apartemen itu.
"Maafkan aku kak....maafkan aku," batin Najwa.
Najwa dan Arga memasuki apartement itu. Sementara Ega langsung memukul dan menendang tembok yang berada di dekatnya sembari terisak.
Sementara itu. Najwa yang baru masuk sudah disambut oleh kedua orang tua Arga dan saudara-saudara Arga beserta keponakkannya. Mereka tampak ramah dan menyukai Najwa dengan mengajak Najwa berbincang banyak hal, termasuk tentang status jandanya.
"Aku jadi heran dengan adikmu. Sekian banyak betino dimuka bumi ini, ngapo adikmu nak ngambek jando nian. Jando la duo kali pulo. Jandonyo baru berapo bulan pulo. Ngapo dak nyari yang laen bae," ujar Salah seorang ipar Arga yang berasal dari kota pempek itu.
"Sudahlah jangan galak melok urusan wong. Arga galak samo dio, jadi kito dak perlu ikut campur urusan dio." Jawab Kakak Arga yang ikut berbahasa istrinya itu.
__ADS_1
"Itulah galak igo dibuyanke betino. Asak galak bae nak bebini, payo berijo nyari yang laen. Bayak igo betino elok di kota ini," ucap Sri.
"Yo cakmano lagi. Dio galaknyo dengan betino itu. Yo sudahlah, jangan galak ngomong basing lagi. Kagek tedengar oleh wongnyo laju dak lemak. Cepat bawolah teh ini kedepan," ucap suami Sri.
Sri dengan cemberut membawa nampan teh ke ruang tamu. Namun saat berada diruang tamu, ekspresinya sudah berubah jadi semanis gula.
"Jadi kapan ya kira-kira keluarga kami bisa berkunjung ke rumah Najwa? Arga ini sudah tidak sabar ingin nikah sama kamu," ujar Lina ibu Arga.
"Bu. Apa keluarga ini sungguh tidak keberatan dengan status yang Najwa sandang. Sejujurnya Aku belum kepikiran buat nikah lagi. Tapi kak Arga selalu berhasil meyakinkan aku, buat percaya kalau dia benar sungguh-sungguh," ucap Najwa.
"Kalau keluarga kami semuanya diserahkan dengan Arga. Kalau Arga senang, bahagia sama kamu, ya kami cuma bisa merestui saja." Jawab Lina.
"Kalau begitu nanti akan aku bicarakan dulu dengan orang tuaku. Sebenarnya mereka belum tahu sama sekali tentang kedekatanku dengan kak Arga," ujar Najwa.
"Untuk menghindari yang tidak-tidak, bagaimana kalau kalian menikah siri saja dulu?" tanya Lina.
"Eh?" Najwa langsung menoleh ke arah Arga. Namun Arga terlihat memalingkan wajah kearah lain dengan sengaja.
"Emm...nanti akan aku tanyakan dulu pada orang tua Najwa. Apa mereka punya waktu untuk pergi ke kota J? lagi pa aku harus memberitahu mereka pelan-pelan agar mereka tidak terkejut." Jawab Najwa.
"Aduh kenapa jadi begini pertemuannya? kenapa jadi membahas soal pernikahan? ini terkesan sangat buru-buru," batin Najwa.
"Maafkan Kakak Najwa. Keluarga kakak terkesan memaksa karena itu memang keinginanku. Tapi percayalah, aku akan membuatmu menjadi wanita yang paling bahagia di dunia," batin Arga.
"Ya sudah ayo kita makan bersama," ujar Dirman ayah Arga.
Merekapun makan siang bersama sembari berbincang ringan. Setelah itu Najwa berpamitan pulang yang di antar oleh Arga. Saat keluar dari apartemen, Najwa tidak melihat lagi sosok Ega disana. Najwa cukup merasa lega, karena dirinya tidak mengalami tekanan lagi saat melihat keberadaan pria itu.
"Kak. Apa ini tidak terlalu terburu-buru? aku baru saja menyelesaikan masa Iddahku. Sejujurnya aku masih malu kalau mau melangsungkan pernikahan secepat itu," ucap Najwa.
"Pandang dari sisi baik buruknya dengan statusmu yang sekarang ini. Sebenarnya aku lebih takut kamu di ganggu Melody, saat tahu suaminya masih mengganggumu. Aku tahu betul temperamen Melody seperti apa. Kalau kamu menikah denganku dia pasti tidak berani berbuat yang macam-macam denganmu," ujar Arga.
"Aku sama sekali tidak takut dengannya. Yang aku pikirkan tentang terlalu cepatnya aku memutuskan menikan denganmu." Jawab Najwa.
__ADS_1
Arga menghena nafasnya. Begitu sukit baginya menyakinkan Najwa agar cepat memilihnya dan mengakhiri status jandanya.
To be continue ...🤗🙏