
6 hari kemudian...
Tok
Tok
Tok
Krieekkk
Najwa mengerutkan dahinya saat melihat Gina yang mendatangi rumahnya dengan pakaian yang menurutnya tidak senonoh itu. Terlihat sekali tujuan Gina tidaklah baik, terutama saat Najwa melihat bagian dada gadis itu yang seolah sengaja dibuat menyembul nyaris separuhnya.
Ditangan gadis itu terdapat sebuah paperbag berwarna hitam, dan sebuah tas berlogo H yang tergangung di lengan kirinya.
"Siapa yang datang Yank?" tanya Ega sembari keluar dari kamar.
"Tidak usah keluar kak. Bukan muhrim!" teriak Najwa dari depan pintu.
Langkah Ega yang semula ingin melangkah kedepan, mendadak berhenti saat dia mendengar ucapan Najwa.
"Bukan muhrim? maksudnya bagaimana?" ucap Ega lirih.
"Ega...ini aku Gina, keluarlah!" teriak Gina dengan tidak tahu malunya.
"Gina? mau apa dia kesini? gawat. Najwa bisa salah paham lagi nanti. Bisa-Bisa aku akan disuruh tidur diluar beneran kali ini. Lebih baik aku cari aman dan kabur saja,"
Ega bergegas kembali ke kamar dan menutup pintu.
"Jangan kamu kira aku tidak berani menamparnu, kalau kamu masih bersikap tidak sopan dan ingin menggoda suamiku. Disini bukan wilayahmu, aku bisa mempermalukan dirimu kalau kamu masih saja mengganggu suamiku," ucap Najwa sarkas.
"Kenapa? kamu takut kalah saing dari aku? kamu nggak PD dengan penampilanmu yang seperti seorang pembantu ini? dimana-mana pria lebih suka yang sexy. Suatu saat Ega pasti berpaling dari wanita yang penampilannya membosankan kayak kamu," ujar Gina penuh percaya diri.
Najwa memijat keningnya. Sebenarnya dia ingin tertawa melihat tingkat percaya diri gadis itu yang dangat luar biasa. Dia membandingkan penampilam dirinya yang saat ini hanya menggunakan daster, bahkan tanpa ****** *****.
__ADS_1
Itu semua keinginan Ega. Agar pria itu tidak perlu repot, saat akan memasuki dirinya. Bahkan di pagi minggu ini, mereka sudah bermain sebanyak 3 kali setelah subuh.
"Astagfirullah. Kenapa aku jadi membandingkan dirinya dengan diriku. Secara tidak langsung aku jadi membanggakan diri sendiri. Tapi mau bagaimana lagi, kedua asetku memang jauh lebih menggoda dari punya dia. Mana mungkin kak Ega lebih tertarik sama punya dia," batin Najwa.
"Ega. Keluarlah! aku membawakan sesuatu untukmu. Bukankah kamu menginginkan benda ini sejak lama?" Gina sengaja berteriak, agar Najwa tahu dirinya mampu membelikan barang pria pujaannya itu.
"Benda apa yang Gina maksud? kak Ega sangat menginginkannya? bahkan aku istrinya saja tidak tahu apa-apa dengan apa yang dia inginkan selama ini. Apa aku ini istri yang payah? apa aku ini hanya istri yang tahu melayani di kasur saja?" batin Najwa.
"Kenapa dengan wajahmu itu? tidak mampu beli ya? ya iyalah nggak mampu. La wong kamunya cuma kasir kan ya?" tanya Gina yang menyudutkan Najwa.
"Jadi istri itu tidak hanya pintar melayani diatas ranjang. Tapi juga harus tahu keinginan dan kebutuhan suami. Istri juga harus bisa berkorban apapun untuk suaminya. Seperti aku, aku menghabiskan tabunganku, cuma buat beli benda yang dia mau," sambung Gina sembari memperlihatkan paperbag tepat di depan wajah Najwa.
"Najwa. Mari kita bersaing secara sehat. Biarkan aku mendapatkan hati suamimu selama satu bulan. Kalau dia memang tidak ada perasaan setelah satu bulan, maka aku akan mundur sepenuhnya."
Mendengar ucapan Gina, Najwa jadi tidak tahan untuk tidak tertawa. Baginya permintaan gadis itu sangat lucu dan tidak masuk akal.
"Aku tidak tahu kamu punya rasa percaya diri darimana. Apa kamu pikir hubunganku dengan Ega dibangun atas dasar pondasi yang mudah roboh?" tanya Najwa.
"Kenapa tidak? kalian pernah bercerai satu kali, karena rasa percayamu terhadapnya yang setipis kulit ari,"
"Kamu tidak diterima disini. Jadi lebih baik kamu pergi saja. Jangan sampai kamu melihat kegilaanku, yang Egapun tidak pernah melihatnya." Sambung Najwa.
"Aku tidak akan pulang sebelum bertemu dengan Ega. Aku ingin memberikan dia ini secara langsung. Agar dia tahu, mana wanita yang tulus dan mana wanita yang hanya modus,"
"Modus? modus apa maksudmu?" tanya Najwa.
"Kalau bukan modus apa namanya? sudah menikahi pria lain, minta balik setelah dicampakkan. Kamu terhadap Ega cuma mau numpang hidup kan?"
Tangan Najwa benar-benar gatal ingin menampar gadis yang berada di hadapannya itu.
"Masih belum bertindak juga kau kami lihat? mau sampai kapan kau biarkan mocong bebek ini menghinamu?" tanya Butet yang datang bersama Marina secara tiba-tiba.
"Menangani pelakor kayak gini, harus dengan cara seperti ini kak," ujar Marina sembari menarik rambut Gina.
__ADS_1
"Awww...apa kamu sudah gila? sakit tahu nggak? aku bisa melaporkanmu tentang pasal penganiayaan?"
"Kak Butet. Kau rekamkan videonya. Kita viralkan dimedia sosial dengan judul pelakor gatal," ujar Marina.
"Oke...oke...kau jambak yang keras dia. Biar videonya makin mantap," ujar Butet sembari mengeluarkan ponsel dari celananya.
"Dasar Gila!"
Gina mendorong Marina dan segera kabur, dengan meninggalkan paperbag yang tergeletak dilantai. Sementara itu Butet dan Marina tertawa puas melihat Gina kabur terbirit-birit.
"Sepertinya puas sekali kalian," ujar Najwa sembari duduk di kursi teras.
"Kau pula. Kenapa diam saja diperlakukan dia seperti itu. Ini bang Ega kemana? bagaimana kalau sampai gadis gatal itu berbuat nekat sama kau?" tanya Butet.
"Dia ada didalam. Memang sengaja tidak kusuruh keluar. Bahaya kalau dia lihat dada lepek gadis itu," ujar Najwa.
"Widihh...sudah ada kemajuan kau. Rasa cemburu bisa menghina orang rupanya. Tapi bukan menghina sih, dibandingkan dengan asetmu, jelaslah punya dia jauh lebih lepek. Harusnya kau bilang begitu sama dia tadi," ujar Butet.
"Gila aja Tet. Ngapain aku meladeni dia. Aku tidak mengkhawatirkan hubunganku dengan kak Ega. Karena cinta kami sudah teruji kualitasnya," ujar Najwa.
"Tapi ngomong-ngomong apa ini?" tanya Marina sembari meraih paperbag dari lantai.
"Tidak tahu. Katanya dia menghabiskan uang tabungannya buat membeli barang itu, yang dia beli buat kak Ega." Jawab Najwa.
"Aku buka ya kak? penasaran aku," ujar Marina.
"Terserah. Kalau sudah lihat bisa kamu buang," ujar Najwa.
"Eh? jangan gitu. Walau bagaimanapun secara tidak langsung ini milik bang Ega. Jadi dia yang berhak memutuskan benda ini mau di-apa-kan...."
Kata-Kata Marina menggantung, saat melihat sebuah jam mewah merk Rolex membuat matanya terbelalak.
"Astaga apa gadis itu sudah gila? kalau ini Rolex ori, harganya bisa ratusan juta kak. Aduh, air liurku sampai mau netes membayangkannya," ujar Marina.
__ADS_1
Najwa menatap benda yang katanya mahal itu dari kejauhan. Entah mengapa dirinya jadi berkecil hati saat ini.