
"Najwa. Bisa kau jaga sebentar mantan iparmu itu? aku takut moncongnya itu kena tusuk kondeku, gara-gara terlalu lemes. Ini hari pentingku, aku tidak mau dia mengacaukan segalanya," bisik Butet pada Najwa.
"Butet. Bisakah kamu membiarkan segalanya mengalir dengan apa adanya? kak Arga pasti sudah menperhitungkan segalanya," bisik Najwa.
Hari ini adalah hari pernikahan Butet. Meski tidak dilakukan secara meriah, tapi keluarga Arga setuju jika Arga menikahi Butet, dari pada harus kembali pada Najwa.
Karena sudah pernah melakukan ijab qobul, Arga tidak lagi gugup seperti saat menikah dengan Najwa. Dengan satu tarikkan nafas, Butet akhirnya berhasil dijadikan istri olehnya.
"Kamu yakin mau tinggal disini untuk sementara waktu?" tanya Sri.
"Yakin uni. Ini sudah menjadi kesepakatan kami." Jawab Arga.
Sri melirik kearah Butet dengan tatapan yang tidak bisa diartikan oleh Butet.
"Mau ngomong apa moncong kau. Kalau kau berani berkoar yang menyakiti hatiku, aku jamin akan aku tampol mulutnya pakai sendal," batin Butet.
"Jaga adikku selama disini. Dia tidak pernah hidup susah. Perhatikan makanan dan pakaiannya," ujar Sri yang membuat Butet meradang seketika.
"Ka...."
Arga tiba-tiba menggenggam erat tangan Butet, dengan sedikit menggelengkan kepala kearah istrinya itu.
"Astaga...secara tidak langsung aku sudah jadi Najwa kedua kalau seperti ini. Mungkin lewat pernikahan ini aku memang harus berlatih ilmu kesabaran," batin Butet.
"Iya kak." Jawab Butet.
Arga menyunggingkan senyumnya sembari mengelus punggung tangan Butet.
"Sepertinya Butet tipe wanita yang mudah diberitahu, meskipun dia melakukannya demi aku," batin Arga.
"Uda. Kami langsung kembali ke Kota J siang ini," ujar ibrahim.
"Iya pa. Hati-Hati saja." Jawab Arga.
Arga dan Butet menyalami keluarga mereka yang hendak kembali pulang ke kota J.
"Selamat ya Tet. Akhirnya kamu sudah jadi seorang istri sekarang," ujar Najwa.
"Iya. Tidak menyangka aku juga." Jawab Butet sembari terkekeh.
"Apa kalian punya rencana bulan madu?" tanya Ega.
"Tidak. Kami akan menghabiskan waktu di rumah saja." Jawab Arga.
Najwa melirik kearah Butet. Dia melihat wajah sahabatnya itu yang sedikit agak murung. Najwa memberi kode pada Arga, yang langsung dimengerti oleh pria itu.
__ADS_1
"Kecuali Butet mau berhenti kerja, dan benar-benar menjadikan dirinya sebagai istri seutuhnya," sambung Arga yang membuat Butet menoleh seketika dengan pipi merona.
"Sebaiknya kalian pulanglah dulu kerumah kalian masing-masing. Aku pengen penjajakkan dulu dengan suamiku," ujar Butet.
Perkataan Butet jelas saja membuat Najwa dan yang lain membelalakkan matanya. Sementara Arga yang malu hanya bisa tertunduk dengan wajah memerah.
"Gaya kali kau kak Butet. Mentang sudah dapat terongmu. Kau usir semua teman seperjuanganmu," ujar Marina.
"Tahu kali kau apa yang ada dalam pikiranku." Jawab Butet.
Najwa dan yang lain jadi mencebikkan bibir mereka. Butet kemudian menyeret tangan Arga kedalam rumah, lalu menutup pintu. Marina yang kesal jadi berteriak-teriak.
"Aku sumpahi terongmu bangun terus nggak tidur-tidur. Biar disangka orang kondoran kau karena susah jalan dibuatnya," teriak Marina.
"Ayo kak kita pulang. Bisa gila aku melihat kelakuan teman-temanku," ujar Najwa.
"Sepertinya ada yang nggak mau kalah saingan nih. Buat anak yuk yank? jangan sampai keduluan Butet buntingnya," ucap Ega.
"Apaan sih kak? kok jadi ikutan gesrek sih?" tanya Najwa.
Ega kemudian menggenggam tangan Najwa, pria itu ingin membawanya pulang dan menuntaskan hajatnya segera.
"Tet. Bisa nggak kamu jangan terlalu ekspresif begini? malu Tet," ujar Arga.
"Abang tidak usah khawatir. Kalau di depan teman-teman aku memang gila. Tapi aku juga tahu batasan kok." Jawab Butet.
Arga melepaskan kancing kebaya butet satu persatu. Dan hanya menyisakan kain kemben untuk menutupi bagian dadanya. Kulit Butet memang tidak seputih Najwa, karena Butet memang berkulit hitam manis.
Butet menghadap kearah Arga dan memperlihatkan penampakkan dadanya yang lumayan membusung.
"Nafsu tidak bang?" Butet bertanya dengan konyolnya.
"Apaan sih Tet?" Arga langsung memalingkan wajah dan hendak pergi ke kamar mandi.
Tap
Butet memegang tangan Arga, hingga pria itu menoleh kearah istrinya.
"Kok gitu bang reaksinya? jangan-jangan terong abang masih layu ya? aku jadi malu sendiri, udah terbuka begini abang malah tidak berselera denganku. Pakai kabur lagi," ujar Butet.
"Bukankah kamu sendiri yang bilang, kalau kamu mau disentuh setelah ada perasaan diantara kita?" tanya Arga.
"Kan test sedikit boleh bang. Setelah kupikir-pikir aku berdosa juga kalau memberikan syarat seperti itu. Aku kan sudah sah jadi istri abang." Jawab Butet.
"Boleh nggak bang aku ngintip terong abang? cuma pengen tahu beneran sudah bangun apa masih layu?" tanya Butet.
__ADS_1
"Oh...astaga...aku benar-benar mendapat istri gila. Kenapa dia tidak punya malu sama sekali," batin Arga.
Arga melepas sabuk yang melingkar di pinggangnya, sembari menatap kearah Butet.
"Tu-Tunggu dulu bang. Biarkan aku menarik nafasku dulu. Takutnya aku langsung lemas saat melihatnya," ujar Butet dengan menutupkan jari tangannya ke muka, namun jari-jarinya bercelah dengan melihat kearah pusaka Arga berada.
"Tunggu dulu bang. Biar aku pastikan dulu pintu terkunci. Takutnya Marina nyelonong masuk dan ngintipin kita yang lagi uha...uha."
Butet berlari keluar kamar dan bergegas melihat pintu rumahnya.
"Ah...aman rupanya," ujar Butet dan kembali ke kamar.
"Bang. Abang mandi?" tanya Butet sembari mengetuk pintu dari luar.
"Ya." Jawab Arga dari luar.
"Butet ikut kedalam bang," ujar Butet.
"Gantian saja Tet. Bentar lagi abang keluar." Jawab Arga.
Suasana mendadak hening. Arga tidak mendengar lagi suara Butet dari luar pintu. Arga bergegas menyelesaikan mandinya dan keluar setelahnya.
"Wah...roti sobek," ujar Butet sembari menghampiri Arga.
"Ckk...Butet. Kamu nggak malu sama sekali ya?" ucap Arga.
"Kenapa harus malu? punya suami sendiri. Kalau suami orang baru malu. Boleh pegang tidak bang?" tanya Butet.
Tanpa menunggu jawaban Arga, Butet meraba perut balok Arga yang membuat nafas pria itu jadi naik turun seketika.
"Abang kenapa? sakit asma?" tanya Butet.
Tap
Arga menangkap tangan Butet. Dan kemudian mendorong istrinya itu keatas tempat tidur. Dengan sekali hentakkan, Arga melepas handuknya hingga membuat Butet menjerit kaget.
"Alamak...ular anaconda," teriak Butet.
"Anaconda?" ucap Marina dari balik tembok rumahnya.
Rupanya Marina dan kawan-kawannya sengaja menempelkan telinga mereka ke dinding kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Butet.
"Sekarang sudah percaya kalau terongku sudah tidak layu lagi?" tanya Arga.
"Ini bukan hidup lagi bang. Tapi terongnya kelebihan pupuk. Jadi tumbuh besar dianya." Jawaban Butet membuat Arga menepuk jidatnya.
__ADS_1
Namun sesaat kemudian, mata Arga melotot dan terpejam, saat Butet dengan berani menggenggam miliknya dan kemudian menjilatnya.