
"Apa-Apaan istrimu itu? dia yang merebutmu dariku, kenapa dia yang jadi mengatur segalanya?" Melody terdengar berapi-api di seberang telpon.
"Sayang. Aku mohon bersabarlah, waktu 6 bulan tidak akan lama," ucap Ega.
"Tapi aku takut kamu tergoda sama dia, dan meniduri wanita itu," ujar Melody.
"Nggak akan. Kamu satu-satunya gadis yang aku cintai. Kamu kan tahu sendiri, aku setuju menikah dengannya hanya karena surat wasiat itu," ucap Ega.
"Tapi aku mana bisa tidak menyentuhmu, sementara kita tinggal serumah. Sepertinya istrimu itu memang sengaja ingin memisahkan kita," ujar Melody.
"Mengapa kamu harus merisaukan hal itu, dikota ini ada banyak hotel. Kita bisa menghabiskan waktu bersama dimanapun kita mau. Tidak harus di apartemen itu kan?" tanya Ega membujuk.
"Tapi kenapa kamu harus perduli dengan perasaan wanita itu? dengan kita berbuat semau kita, dia kan bisa nggak tahan dan bisa segera meminta perceraian?" ucap Melody.
"Sayang. Perceraian itu adalah hal yang pasti antara aku dan dia. Tapi kamu juga harus ingat, dia adalah wanita pilihan orang tuaku. Mereka sangat menyenangi Najwa. Aku mana bisa menceraikannya, sebelum Najwa sendiri yang meminta. Kamu bersabarlah, ini tinggal 5 bulan lagi, setelah itu kita bisa bersama selamanya," ujar Ega.
"Kalau begitu aku tidak jadi pulang cepat, aku benar-benar tidak bisa sabar kalau sampai bertemu istrimu yang menyebalkan itu. Biarlah aku pulang 5 bulan lagi," ucap Melody.
Tanpa Ega sadari, dirinya merasa senang saat Melody mengatakan hal demikian. Dirinya merasa bisa lepas dari masalah untuk sementara waktu.
"Ya sudah kalau begitu, aku juga berpikir demikian. Aku takut kamu tidak bisa mengendalikan diri dan mengacaukan semua rencana kita," ujar Ega.
"Ya sudah. Aku tutup dulu telponnya," ucap Melody.
"Oke. I love you,"
"Love you too." Jawab Melody dan langsung mengakhiri percakapan mereka.
Ega bisa bernafas lega, karena Melody tidak jadi kembali cepat. Dan hal itu tidak sabar dia ingin ceritakan pada Najwa. Entah apa yang ada di pikiran pria itu saat ini.
"Najwa...aku..."
"Aaaaaakkhhhh...."
Najwa berteriak saat Ega masuk secara tiba-tiba ke kamarnya, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Najwa yang baru selesai mandi, saat ini hanya mengenakan pakaian dalam, dengan rambut yang tergerai indah.
__ADS_1
Najwa bergegas menaiki ranjang, dan bersembunyi di balik selimut.
Glekkkkk
Ega menelan ludahnya sendiri, saat pemandangan indah, baru saja dia lihat di depan matanya.
"Apa aku tidak salah lihat? tubuh dibalik pakaian longgar itu, sangat indah dan menawan. Bahkan jauh lebih indah dari milik Melody. Dadanya...." batin Ega.
Ega masih mengingat jelas, dada Najwa begitu besar dan penuh. Najwa juga memiliki pinggul yang indah, dengan kulit yang putih mulus. Bukannya keluar dari kamar itu, Ega malah mendekat ke arah Najwa. Dia berpikir, dirinya tidak salah melihat Najwa seperti itu, karena Najwa adalah istrinya.
"Harus ya? kamu bersikap seperti itu pada suamimu? aku benar-benar tersinggung loh, biar wajahku dalam bayanganmu adalah seorang monster, tapi aku tetap suamimu, dan muhrimmu. Kamu akan berdosa kalau aku tidak ridho," ujar Ega.
Deg
Jantung Najwa berdegup. Perkataan Ega mengingatkannya, bahwa saat ini dirinya memang sudah menjadi istri sah bagi Ega.
"Bahkan aku belum membuat perhitungan denganmu, yang diam-diam masih tidur dengan memeluk foto dan baju koko dari mantan suamimu," sambung Ega.
Bukan tanpa alasan Ega mengetahui semua itu. Pernah satu malam beberapa waktu yang lalu, Ega masuk ke kamar Najwa karena ingin bertanya sesuatu. Tapi saat itu Najwa tengah tertidur sembari memeluk Foto dan Baju koko milik Affan.
Karena tak ada respon dari balik selimut, Ega keluar kamar dengan membanting pintu cukup keras.
Brakkkkk
Setelah Ega keluar, Najwa baru membuka selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Dia menyadari, meskipun hubungannya dengan Ega bukan seperti layaknya pasangan suami istri kebanyakkan, tapi semua ucapan Ega semuanya benar.
"Ya Tuhan...aku harus bagaimana ini? kalau aku tidak membiarkan suamiku melihat apa yang ingin dia lihat, dan menyentuh apa yang ingin dia sentuh, bukankah aku sangat berdosa? tapi aku benar-benar belum siap, terlebih aku tahu ada wanita lain di hati suamiku," ujar Najwa lirih.
Najwa bergegas mengenakan pakaian, dan memutuskan pergi ke kamar Ega untuk meminta maaf pada suaminya itu.
Tok
Tok
Tok
__ADS_1
"Kak, boleh aku masuk?" tanya Najwa dari luar pintu.
Ceklek
Ega membukakan pintu untuk Najwa. Ega melihat Najwa masih mengenakan jilbab saat mendatanginya, dan dia berpikir Najwa masih belum bisa mencerna apa yang dirinya katakan beberapa waktu yang lalu.
"Masuklah!" ujar Ega dan kemudian berjalan lebih dulu dari Najwa.
Najwa mengekor di belakang Ega, dan duduk di tepi tempat tidur saat melihat Ega bersandar di ranjang sembari bermain ponsel.
"Kak. Aku ingin meminta maaf padamu soal yang tadi. Aku hanya bersikap spontan, karena aku tidak biasa memperlihatkan auratku pada lawan jenis," ujar Najwa.
Mendengar ucapan Najwa, Ega berhenti menatap ponselnya dan berganti menatap Najwa.
"Aku sama sekali tidak melihat ketulusan dari ucapanmu itu. Buktinya kamu masih saja mengenakan jilbabmu di depanku. Itu artinya kamu sama sekali tidak menganggapku sebagai suami sejak awal. Jadi jangan menimpakan semua kesalahan padaku, saat kamu melihatku bersama Melody nanti, karena tanpa kamu sadari kamu juga sudah bermain serong di belakangku," ucap Ega.
"Tapi kak aku hanya...."
"Hanya apa? apapun alasannya, Affan mantan suamimu. Kamu tahu itu dosa kan? kamu pasti tahu hukum agama, jadi dalam hubungan kita, tidak hanya aku yang melakukan dosa disini, tanpa kamu sadari kamu juga melakukannya."
"Kak aku mohon jangan katakan itu. Aku minta maaf, aku janji tidak akan melakukan itu lagi," ucap Najwa dengan mata berkaca-kaca.
"Aku akan menguji ketulusanmu dulu, setelah itu aku akan percaya dan memaafkanmu," ujar Ega.
"Apa?"
"Lepas jilbabmu saat berada dalam rumah ini, dan itu aku mau sekarang juga!" ucap Ega.
Najwa menarik jilbabnya perlahan, setelahnya wajah wanita itu tertunduk.
"Dia benar-benar cantik. Kulitnya putih, seputih susu," batin Ega.
Tanpa sadar Ega mendekati Najwa, yang membuat Najwa jadi tegang seketika. Satu lagi yang menurut Ega mengira dirinya sudah terjangkit virus gila. Karena pria itu meminta izin untuk mencium Najwa, hal yang tidak pernah dia lakukan pada siapaun termasuk dengan Melody.
"Bolehkah aku menciummu?" tanya Ega saat tangan pria itu sudah meraih kedua sisi wajah Najwa yang sudah terlihat menegang.
__ADS_1