MATIMU MEMBERIKU JODOH

MATIMU MEMBERIKU JODOH
40. Liburan


__ADS_3

Hari ini adalah hari tepat ke 3 bulan pernikahan Najwa dan Ega. Karena Hari ini adalah hari weekend, Ega bermaksud mengajak Najwa pergi liburan ke daerah puncak. Ega ingin mengajak Najwa bermalam disana, dan menikmati pemandangan indah disana.


"Kita mau pergi berapa hari kak?" tanya Najwa.


"Kita nginap semalam saja. Hari senin kakak sudah mulai masuk kerja lagi." Jawab Ega.


Najwa memasukkan beberapa lembar baju kedalam sebuah tas, begitu juga dengan keperluan Ega.


"Jangan lupa bawa jaket atau mantel. disana udaramya sangat dingin," ujar Ega.


"Iya kak." Jawab Najwa.


Setelah persiapan selesai, Najwa dan Egapun berangkat dengan mengendarai mobil. Banyak perbincangan diatara mereka selama perjalanan menuju tempat liburan itu. Namun obrolan itu terpaksa berhenti, ketika Melody tiba-tiba membuat panggilan di ponsel Ega.


Entah mengapa Ega berubah jadi canggung. Padahal sebelumnya dia bersikap biasa, bahkan cenderung terbuka.


"Ehemm...itu Melody yang nelpon. Bolehkah aku menerima panggilan telponnya?" tanya Ega.


"Tidak masalah." Jawab Najwa.


"Hallo," sapa Ega setelah menggeser layar di ponselnya.


"Kamu ada dimana? berisik sekali," tanya Melody.


"Di jalan." Jawab Ega.


"Di jalan? kamu mau kemana? bukankah ini hari libur?" tanya Melody.


Ega merasa bimbang menjawab pertanyaan Melody. Najwa yang seolah cuek, memalingkan wajahnya menatap kearah luar jendela.


"Aku sedang pergi menuju puncak sekarang." Jawab Ega.


"Puncak? sama siapa? jangan bilang sama istri kamu itu," tanya Melody.


"Iya." Jawab Ega.


"Maksudnya apa kamu pergi sama dia? kamu sudah mulai suka sama dia? kamu mau menghianati aku?...."


Melody berbicara panjang lebar, hingga Ega pun lupa apa yang sudah di katakan oleh gadis itu. Ega memegang keningnya, karena pusing mendengar suara Melody yang sudah naik beberapa oktaf.


"Sekarang ada dimana wanita itu?" tanya Melody.


"Di sebelahku." Jawab Ega.


"Sekarang aku mau dengar. Kamu mengatakan cinta sama aku," ujar Melody.

__ADS_1


"Melo. Sudahlah, nanti akan ku telpon lagi," ujar Ega.


"Kenapa? kamu nggak pernah kayak gini sama aku. biasanya kamu langsung bilang tanpa ragu. Sekarang kamu kenapa? pokoknya kalau kamu nggak bilang sekarang, aku bakalan pulang besok," ucap Melody.


"Kamu kenapa jadi kekanakkan gini sih?" tanya Ega.


"Aku kekanakkan? kamu sadar dong, kamu itu sudah berubah tahu nggak. Aku benar-benar nggak tenang biarin kamu tinggal sama dia. Dan jangan bilang kamu sudah berhubungan suami istri sama dia. Awas saja kalau kamu berani lakuin itu," omel Melody.


"Sekarang aku mau kamu bilang, kamu cinta aku. Setelah itu aku baru sedikit percaya kalau kamu tidak main hati sama dia," sambung Melody.


"A-Aku mencintaimu," Ega melirik ke arah Najwa, namun Najwa berpura-pura memejamkan mata.


Tanpa Ega tahu, ada rasa berdenyut di hati Najwa.


"Najwa kenapa perasaanmu jadi buruk saat mendengar ucapannya? kenapa kamu harus jatuh dalam pesona suamimu secepat ini, dia bukan milikmu sepenuhnya. Dia masih mencintai wanjta lain," batin Najwa.


"Baiklah untuk sementara aku percaya. Ingat! aku nggak mau kamu nyentuh dia sedikitpun," ujar Melody.


"Ya."Jawab Ega.


Melody dan Ega mengakhiri percakapan itu. Ega meletakkan ponselnya di dashboard dan kemudian menoleh pada Najwa yang tampak terpejam.


Ega mengelus pipi Najwa dengan ibu jarinya, dan kemudian kembali fokus menyetir. Setelah menempuh waktu hampir 2 jam, merekapun tiba di puncak, dan langsung menyewa penginapan di sana.


Najwa terlihat menatap pemandangan indah diluar jendela kamar mereka. Ega yang baru keluar dari kamar mandi langsung memeluk Najwa dari belakang, dan meletakkan dagu di pundak istrinya itu.


"Emm. Sejuk dan indah." Jawab Najwa sembari mengangguk.


"Kakak pasti sering kesini bersama Melody," ujar Najwa.


"Dua kali." Jawab Ega.


Najwa tersenyum kecut mendengarnya. Pasalnya dia tahu betul hubungan suaminya dan gadis yang bernama Melody itu sangatlah bebas. Sudah barang tentu mereka menghabiskan malam bersama di tempat sejuk ini.


"Maaf," bisik Ega.


"Untuk?" tanya Najwa.


"Aku takut suasana hatimu jadi buruk seteah mendengar ucapanku. Terlebih ucapan saat di mobil tadi." Jawab Ega.


"Aku nggak dengar semuanya. Lebih tepatnya nggak ingat. Yang ku ingat cuma pas kakak bilang, mencintainya saja," ujar Najwa.


Ega terdiam. Pria itu mengeratkan pelukkannya pada Najwa.


"Maaf. Kakak pasti sudah menyakiti hatimu," ujar Ega.

__ADS_1


"Kakak tidak perlu minta maaf. Karena ini akan di tentukan setelah 3 bulan lagi. Kakak tidak perlu merasa tertekan, kakak hanya perlu mengikuti kata hati kakak saja." Jawab Najwa.


"Terima kasih sudah mengerti aku. Sekarang lebih baik kita turun kebawah buat cari makanan. Kakak sudah sangat lapar," ujar Ega.


"Emm." Najwa mengangguk.


Ega dan Najwa turun kebawah sembari bergandengan tangan. Setelah menikmati makan siang, Ega mengajak Najwa untuk berfoto-foto pada tempat yang memiliki view yang bagus.


Cekrek


Cekrek


Cekrek


Ega beberapa kali mengambil foto Najwa dari sudut pandang yang berbeda-beda.


"Istriku cantik banget sih. Hem?" Ega mencubit pelan pipi Najwa.


"Sini gantian. Biar aku yang foto kakak di ponselku," ujar Najwa.


Egapun mulai memasang beberapa gaya, yang berhasil di abadikan oleh Najwa dengan ponsel pribadinya.


"Nah sekarang kita foto selfie berdua ya?" ujar Ega.


Merekapun mulai berselfie ria. Untuk mengisi memori ponsel merek dengan kenangan mereka berdua.


Cup


Cekrekkk


Ega menciun kening Najwa, dan berhasil mengabadikan momen itu dengan kamera ponselnya.


"Baguskan hasilnya?" tanya Ega yang membuat Najwa tersipu.


"Ya bagus. Kakak kirim ke ponselku ya?" ucap Najwa.


"Ya. Pokokmya wallpaper kita harus pasang fofo ini," ujar Ega.


Ting


Sebuah chat masuk, dan itu berasal dari Ega yang mengirimkan foto selfie mereka berdua. Merekapun sepakat untuk memasang foto itu menjadi wallpaper di ponsel mereka.


Setelah selesai menikmati pemandangan di sana, Ega mengajak Najwa kembali ke kamar mereka. Udara yang dingin membuat mereka lebih suka berbicara didalam selimut yang sama. Jangan ditanya apa yang Ega lakukan pada Najwa yang polos. Sembari berbincang, sesekali Ega mengajak Najwa berciuman mesra. Tapi yang membuat Najwa aneh, Ega sama sekali tidak menyentuh lebih dirinya.


"Entah aku harus senang atau harus sedih karena kamu belum bersedia menunaikan kewajibanmu sebagai seorang suami. Kadang aku merasa kamu benar-benar menginginkan aku berada di sisimu, namun kadang-kadang juga merasa kamu masih jauh dalam gapaianku," batin Najwa

__ADS_1


"Aku harus berbesar hati, jika suatu saat kamu memang tidak bisa memilihku. Aku percaya, apapun pilihanmu nanti, itu akan membuatmu bahagia,"


Najwa menatap wajah tampan Ega yang tampak terlelap di sampingnya. Wajah yang berhasil meruntuhkan pertahanannya, wajah yang sudah diam-diam sudah dia cintai.


__ADS_2