
Arga mengeluarkan kotak cincin dalam saku celananya. Pria itu menggenggamnya dengan erat dan hendak melemparkannya ke semak-semak.
"Eittt...apaan itu bang?" tanya Butet menghalangi.
"Cincin buat melamar Najwa tadi. Tapi sekarang sudah tidak ada gunanya." Jawab Arga.
Greepppp
Butet merampas kotak cincin itu, kemudian membukanya.
"Jangan mentang-mentang banyak uang, lalu mau sok buang barang berharga. Ketimbang dibuang, mending disedekahkan pada jari yang membutuhkan. Ini contoh jari kekurangan kasih sayang," ucap Butet sembari memperlihatkan jarinya yang sudah dilingkari cincin yang hendak Arga buang.
"Untukmu akan aku belikan lagi yang baru. Yang itu jual saja kalau kamu mau," ujar Arga.
"Kenapa harus mubazir bang. Buat Najwa atau buatku sama saja. Yang penting tetap tanda pengikat." Jawab Butet.
"Kamu tidak keberatan?" tanya Arga.
"Tidak." Jawab Butet.
"Huffftt Butet. Aku tidak mengerti jalan pikiranmu. Kenapa pikiranmu terlalu lempeng. Kalau gadis lain pasti sudah menolak cincin yang akan ditujukan untuk wanita lain," ujar Arga.
"Itu karena aku sudah tahu jalan ceritanya. Kalau belum tahu, mungkin akan kutolak juga," ucap Butet.
"Jadi apa rencanamu sekarang?" tanya Arga.
"Kita temui Najwa. Kita beritahu tentang rencana pernikahan kita. Oh ya bang, aku juga maunya kita nikah siri," ujar Butet.
"Nikah siri? kenapa?" tanya Arga.
"Agar kalau kita pisah nanti, nggak capek ngurus cerainya." Jawab Butet.
"Astaga Butet. Belum juga nikah, udah bilang pisah aja," ujar Arga.
"Buat jaga-jaga bang. Ayo kita pergi ke rumah Najwa," ucap Butet.
"Tet. Apa nanti Najwa tidak akan mengira aku ini sudah gila? aku kan baru patah hati, tapi aku malah ngembat sahabatnya. Aku takut dia jadi salah paham," tanya Arga.
"Aku juga sudah gila bang. Aku nerima lamaran abang, padahal aku tahu hati abang masih punya Najwa." Jawab Butet.
Arga menghela nafas berat. Dia cuma bisa pasrah mau bagaimana pendapat Najwa tentang dirinya.
Wajah Arga dan Butet memerah, saat mereka tiba didepan teras rumah Najwa. Bagaimana tidak? disiang bolong, mereka terpaksa harus mendengar suara-suara merdu dari Najwa dan Ega yang suaranya terdengar dari kamar samping rumah.
"Mak inang...bergairah sekali mereka bang. Celana dalamku jadi basah ini," ujar Butet yang langsung dapat pelototan mata dari Arga.
"Astaga. Apa keputusanku menikahi Butet benar? bagaimana bisa aku menikahi gadis yang tidak tahu malunya akut sekali," batin Arga.
"Butet sebaiknya kita pergi saja. Besok saja kita kesini lagi," ujar Arga yang merasa malu sendiri saat mendengar percintaan panas itu.
"Nanggung bang. Bentar lagi pasti kelar mereka." Jawab Butet yang masih menikmati saund sistem gratis itu.
__ADS_1
Setelah menunggu hampir 10 menit, suara-suara merdu itu kini mereda. Butetpun mengetuk pintu rumah Najwa.
Hosh
Hosh
Hosh
"Siapa sih yang ganggu? nggak tahu apa orang mau tempur lagi?" ucap Ega kesal.
"Lagi apa kak? nggak mau ah...udah capek banget kak. Sudah cukup 3 kali dulu ya?" protes Najwa.
Ega tidak menjawab. Pria itu segera memakai celananya namun tanpa menggunakan baju bagian atas. Ega membiarkan tanda cinta yang bertambah, dan keringat masih mengkilap ditubuhnya.
"Arga? mau apa dia kemari lagi? kesempatan. Aku bisa manasin dia lagi," ucap Ega lirih.
Ega yang tidak melihat Butet yang bersandar di tembok, langsung membuka pintunya dengan lebar.
"Ada apa?" tanya Ega.
Arga bisa melihat tanda merah yang dia lihat beberapa waktu yang lalu kini sudah bertambah jumlahnya. Terlebih keringat Ega yang mengalir, sudah membuktikan kalau pria itu benar-benar menikmati percintaan panas itu.
"Enak ya bang?" tanya Butet yang mengagetkan Ega tiba-tiba.
"Bu-Butet?"
"Panggilkan Najwa. Ada urusan penting aku sama dia," ujar Butet.
"Sayang. Ada Butet dan Arga di teras. Mereka ingin bicara sama kamu," ujar Ega.
"Butet dan Arga? mau apa mereka?" tanya Najwa yang bergegas bangkit dan pergi ke kamar mandi.
Setelah berbenah diri, Najwapun keluar untuk menemui Butet dan Arga sembari membawa 4 cangkir teh dan camilan. Tidak berapa lama kemudian Ega menyusul dengan dandanan yang lebih pantas.
"Nggak panas Na?" tanya Butet.
"Eh? panas kenapa?" Najwa sudah waspada, saat Butet sudah bertanya.
"Suaramu dan bang Ega terdengar fals dari sini. Nyanyi siang bolong begini." Jawab Butet.
Arga hanya bisa memijat keningnya. Sementara Ega jadi mengulum senyumnya.
"Ehemm...jadi kalian ada maksud apa datang kemari?" tanya Najwa yang ingin mengalihkan pembicaraan.
"Aku mau kawin." Jawab Butet tanpa basa basi.
Arga jadi menggigit lidahnya sendiri, saat mendengar jawaban Butet.
"Nikah sama siapa? kapan?" Najwa terkejut sekaligus membenahi ucapan Butet.
"Bang Arga." Jawab Butet.
__ADS_1
"Ap-Apa?" Najwa lagi-lagi terkejut.
"Apa ada rasa cemburu dihatimu sedikit saja, saat tahu aku menikahi wanita lain Na?" batin Arga.
Najwa kemudian terdiam. Wanita itu seolah sedang berpikir keras saat ini.
"Kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?" tanya Najwa.
"Eh? ka-kau setuju Na aku menikah dengan bang Arga?" tanya Butet.
"Kenapa aku harus tidak setuju? kamu pasti sudah memikirkannya lebih dulu daripada aku. Apapun yang membuatmu bahagia, aku pasti akan mendukungmu." Jawab Najwa.
"Aku mau menikah siri seperti yang kamu lakukan dulu," ujar Butet.
"Kenapa?" tanya Najwa.
"Kami belum saling mencintai. Jadi kalau nanti tidak cocok, bubarnya akan mudah." Jawab Butet.
Najwa melihat kearah Arga yang tampak tengah memegang dagunya. Sementara Ega terlihat sibuk dengan ponselnya.
"Aku tidak tahu tujuan kak Arga menikahi Butet dengan tiba-tiba, setelah tadi pagi datang menemuiku karena ingin mengajakku rujuk. Tapi satu hal yang kakak harus tahu. Jangan pernah berpikir untuk membalas dendam padaku dengan menikahi Butet, karena Butet tidak layak untuk disakiti oleh pria manapun. Aku tidak akan memaafkanmu, kalau sampai aku tahu kamu menyakiti hatinya ataupun menyakiti badannya," ucap Najwa.
Deg
Butet melupakan fakta yang satu itu. Gadis itu kemudian menoleh kearah Arga, namun pria itu sama sekali tidak merasa bersalah ataupun gentar dengan ancaman Najwa.
"Mungkin rencana pernikahan ini memang terdengar tidak masuk akal bagimu. Tapi tidak apa-apa. Aku dan Butet sudah membuat perjanjian untuk hubungan kami," ucap Arga.
"Kalau kalian sudah memutuskan, sebaiknya niat baik disegerakan. Aku pribadi merestui kalian."
"Aku harap kakak bisa menjaga Butet sepenuh hati. Kembalikan dia padaku, jika memang kakak tidak suka orangnya, kepribadiannya. Jangan pernah menyakiti tubuhnya, karena cuma aku yang dia miliki di dunia ini. Butet sangat berharga bagiku. Aku tidak akan membiarkan ada orang yang menyakitinya, atau meragukannya," sambung Najwa.
"Aku berjanji." Jawab Arga tegas.
"Selamat ya Tet. Akhirnya kamu akan menikah juga," ujar Najwa.
"Iya. Aku sudah penasaran kali, mau lihat terong layu bangkit dari kematian," bisik Butet yang langsung dibalas gelengan kepala oleh Najwa.
"Selamat ya Bro. Dimana kalian akan melangsungkan pernikahan? kalau disini, aku yang akan mengurus semuanya untukmu," ujar Ega.
"Aku akan menghubungi keluargaku agar datang kesini." Jawab Arga.
"Apa boleh request bang?" tanya Butet.
"Apa?"
"Tinggalkan saja iparmu yang cerewet itu. Takutnya bukan acara ijab qobul nanti kita. Malah acara jambak menjambak jadinya." Jawab Butet.
"Butetttt...."
Najwa melotot kearah Butet. Sementara Butet jadi tersenyum kaku pada sahabatnya itu.
__ADS_1
To be continue...🤗🙏