MATIMU MEMBERIKU JODOH

MATIMU MEMBERIKU JODOH
93. Puas


__ADS_3

"Ssstttttt"


Najwa merasakan sakit dan nyeri di pangkal pahanya, saat dirinya akan beranjak dari tempat tidur. Sementara itu Ega tampak pulas disebelahnya. Pipi Najwa jadi merona, saat mengingat percintaan panas antara dirinya dan Ega tadi malam. Percintaan yang membuat dirinya dan Ega sama-sama puas.


Najwa menarik selimut hingga menutupi dada suaminya, namun dia cukup merasa geli, saat melihat kejantanan suaminya sudah bangun meski sang tuan masih tertidur lelap. Najwa akui suaminya itu sangat perkasa, dan juga sangat hebat di ranjang.


Tap


Ega menarik tangan Najwa, saat istrinya itu hendak beranjak dari tempat tidur.


"K-kak. Sudah jam 4 subuh. Aku mau bersih-bersih. Bentar lagi sholat subuh," ujar Najwa.


Blammmm


Mata Ega terbuka. Senyum pria itu terbit dari bibirnya. Dan kemudian bangkit dari berbaring.


"K-Kak tutup dulu itunya. Malu ih," ujar Najwa yang melihat suaminya sudah berdiri dihadapannya dengan tanpa busana.


"Kenapa harus malu. Kamu sudah melihat dan merasakannya," ujar Ega yang membuat pipi Najwa tambah merona.


Najwa kemudian di gendong Ega kedalam kamar mandi, dan di letakkannya ke dalam bathup. Namun karena tingkat kemesuman Ega yang sudah bangkit, tidak menunggu sampai bathup penuh, Ega langsung ikut masuk kedalamnya dan mencumbu Najwa.


"K-Kak. Semalam kan udah. Apa kakak belum puas juga?" tanya Najwa.


"Denganmu aku tidak akan merasa puas. Bahkan jika kita melakukannya ribuan kali." Jawab Ega.


"Ternyata rasa perawan emang beda ya?" sambung Ega sembari terkekeh.


"Sekali lagi ya? sebelum subuhan," tanya Ega yang diangguki oleh Najwa.


Ega dan Najwa kembali bercumbu mesra. Dinginnya air, sama sekali tidak mereka rasa. Karena panas tubuh mereka cukup membuat mereka jadi hangat.


Suara merdu Najwa memenuhi kamar mandi, saat Ega mulai bermain di puncak dadanya.


"Emmmppptt....ahhh..."


Najwa menggigit kecil bibirnya, saat Ega mulai membelah miliknya. Ada sedikit rasa sakit dan perih. Saat benda besar dan tumpul milik Ega menyeruak jauh kedalam sana. Namun rasa sakit itu lama-lama berubah jadi rasa nikmat yang Najwa inginkan lagi dan lagi. Ega sangat pandai membuat tubuhnya terasa bagai di awang-awang.


"Ahh...kak..." Najwa memeluk Ega dengan erat sembari kedua kakinya melingkar manja dipinggul pria itu.


Ega semakin keras menghujam Najwa, karena dia tahu istrinya itu akan segera mendapat pelepasannya.


"Oh...sayang...aku tergila-gila padamu,"

__ADS_1


"Ahh...ahhh..aaaaahhhhhh"


Kepala Najwa jauh terdorong kebelakang, saat hujaman keras Ega membuatnya sampai menuju puncak ternikmat miliknya. Tidak jauh berbeda dengan Najwa, Egapun menekan kuat miliknya saat pelepasannya sudah memuntahkan ca*ran cinta miliknya.


Hosh


Hosh


Hosh


"Ah...ini sangat luar biasa sayang. Rasanya aku ingin lagi dan lagi," ujar Ega di sela nafasnya yang memburu.


"Kita bersihkan diri dulu ya kak? sebentar lagi subuh. Nanti bisa lanjut lagi kalau kakak mau," ujar Najwa.


"Be-Benarkah? tentu saja aku mau," ucap Ega bersemangat.


"Dasar harimau. Apa dia ini tidak punya rasa lelah sedikitpun? tubuhku terasa remuk. Pinggangku rasanya sakit sekali," batin Najwa.


Najwa dan Egapun mandi bersama. Setelah selesai Ega membantu Najwa mengeringkan rambut panjangnya. Mereka kemudian sholat subuh berjama'ah saat adzan sudah berkumandang.


"Sayang. Aku pengen lagi dong," ujar Ega yang membuat mata Najwa jadi melotot.


"Ap-Apa aku tidak bisa memuaskan kakak?" tanya Najwa konyol.


"Tapi kali ini aku ingin kamu yang memimpin permainan. Aku akan mengajarkanmu cara memuaskanku," sambung Ega yang diangguki oleh Najwa.


Ega dan Najwa kembali bergumul mesra. Meski kaku, Najwa juga cepat belajar. Tidak butuh lama baginya membuat Ega mende*ah dibawahnya sembari memainkan dua aset berharga miliknya.


"Oh...baby...Lebih cepat sayang," Ega memegang pinggul Najwa untuk menuntun istrinya itu agar bergerak lebih cepat.


Najwa memejamkan matanya, karena diapun sudah hampir sampai pada pelepasannya. Dan benar saja, tidak berapa lama kemudian Najwa dan Ega mengerang bersamaan. Dan tubuh Najwa ambruk diatas tubuh suaminya.


"Waw...kamu sangat luar biasa sayang," ujar Ega dengan nafas yang masih memburu.


Sungguh Najwa malu ingin bangkit dari atas tubuh suaminya. Dia malam membenamkan wajahnya makin dalam.


"Kenapa harus malu, menyenangkan hati suami juga pahala bukan?"


"Aku jadi ingat ucapan Butet. Terong kak Ega memang luar biasa, membuatku ketagihan," Najwa tanpa sadar terkekeh.


"Hey...kenapa kamu tertawa. Hem? apa ada yang lucu?" tanya Ega yang membuat tawa Najwa jadi mereda seketika.


"Tidak ada. Kakak sangat tampan." Jawab Najwa asal.

__ADS_1


Brukkkk


Ega merubah posisi mereka hingga Najwa menjadi dibawah kungkungannya.


"Apa kata-Kata pujian itu sengaja ingin memberiku kode?" tanya Ega.


"Eh? ko-kode apa?" Najwa bingung.


"Bilang saja kamu menginginkannya lagi," ujar Ega.


"Ti-Tidak...tidak...," wajah Najwa merona.


Tring


Tring


Tring


Suara ponsel Najwa berdering. Najwa segera meraih ponselnya yang ternyata Butetlah yang membuat panggilan itu.


Tap


Ega merampas ponsel itu, namun tidak sengaja malah tergeser menjawab panggilan telpon.


"Bulan madu kita tidak boleh ada yang mengganggu," ujar Ega yang kembali mencumbu Najwa.


Sungguh Najwa mengakui Ega benar-benar jantan saat diatas ranjang. Dia benar-benar puas bermain dengan suaminya itu.


"Ah..ahh.."


"Panggil namaku baby,"


"Kak...Ega..ah..emmppttt"


Hujaman demi hujaman yang Ega berikan, membuat Najwa berteriak nikmat. Sementara tanpa mereka sadari, Butet, Marina, Maryam, dan teman-temannya yang lain dibuat melongo saat mendegar suara-suara merdu itu.


"Kak Butet. Bisakah kakak tatap keningku? rasanya panas dingin tubuhku ini," ujar Marina.


"Akupun sama. Sesak rasanya dadaku ini. Apa Najwa tengah dipaksa melakukan itu oleh Ega? akan ku hajar dia kalau memang dia memaksa Najwa," timpal Butet.


"Tapi suara mereka ini benar-benar membuat celana dalamku basah," ujar Marina.


"Jantungkupun berdebar-debar," timpal Maryam.

__ADS_1


Suasana tampak hening, meski terlihat protes. Tapi otak mesum mereka lebih bekerja. Merekapun dengan setia mendengarkan suara-suara merdu itu hingga akhir. Dan disaat percintaan itu berakhir, merekapun jadi ikutan lemas dan berteriak.


__ADS_2