MATIMU MEMBERIKU JODOH

MATIMU MEMBERIKU JODOH
38. Pertanyaan Serupa


__ADS_3

Hari ini adalah hari libur yang sudah ditentukan oleh Najwa dan Ega. Karena pasangan ini sudah sepakat akan mengikuti tabligh akbar yang akan di adakan di salah satu masjid besar di kota J. Najwa terlihat cantik dan anggun saat menggunakan gamis putih polos, dengan jilbab berwarna serupa.


Sementara Ega terlihat tampan dengan baju koko berwarna putih, dan celana dasar berwarna hitam. Tidak lupa Ega melegkapi penampilannya dengan sebuah peci hitam di kepalanya.


"Cantiknya istriku," ujar Ega yang membuat Najwa tersipu saat mendengar pujian indah itu.


"Ayo kita berangkat kak. Takutnya nggak dapat tempat duduk lagi," ucap Najwa.


Ega mengulurkan tangannya, agar Najwa juga mengulurkan tangannya, merekapun memasukki lift sembari bergandengan tangan. Ega mengedipkan matanya, saat security yang dia kenal menatap Ega dan Najwa tanpa berkedip.


"Apa wanita itu sungguh istrinya? apa pak Ega sudah putus dengan nona Melody? tapi istrinya ini menurutku jauh lebih cantik dan anggun dari Melody. Ah...anak muda jaman sekarang," batin Security.


Sementara itu di dalam mobil terdengar alunan lagu-lagu rohani yang menyejukkan hati. Tidak ada lagi musik metal yang biasa Ega dengar sebelum Najwa berhasil masuk kedalam hatinya. Saat akan melewati lampu merah, Ega sesekali memegang tangan Najwa dan mencium punggung tangan yang dirasanya sangat lembut itu.


Mendapat perlakuan yang tidak biasa itu, tentu saja membuat jantung Najwa berdebar. Pipi Najwa merona, terlebih Ega dengan nakal sesekali mencuri ciuman darinya.


"Ya Tuhan...kuatkan hatiku. Aku tidak boleh jatuh terlalu dalam pada pesona suamiku sendiri. Aku belum tahu apa dia sudah mencintaiku atau belum. Aku tidak mau terluka lagi ya Allah," batin Najwa.


"Najwa. Jujur saja, kamu sudah berhasil menggetarkan hatiku. Kecantikanmu, tutur katamu, juga caramu memperlakukanku, terasa aku sangat dicintai olehmu. Maafkan aku Najwa, aku belum bisa memberiku kejelasan untuk hubungan kita saat ini. Jika memang kita berjodoh panjang, Tuhan pasti memberikan jalan untuk kita bersatu selamanya," batin Ega.


"Wah...ramai sekali yang datang kak," ujar Najwa saat melihat kerumunan yang datang di masjid yang akan mereka datangi.


"Nanti kita akan terpisah. Pokoknya kalau nggak melihat keberadaanku, kamu tunggu saja di dekat mobil kita. Biar nggak bingung, kamu hafalkan plat nomor mobilnya," ucap Ega.


"Iya kak." Jawab Najwa.


Ega mencari tempat parkir untuk mobilnya. Meski agak sulit, akhirnya dia menemukan tempat parkir untuk mobilnya itu. Ega dan Najwa sedikit berjalan menuju masjid yang memiliki halaman parkir yang lumayan luas itu. Setelah sampai dipintu masjid, merekapun berpisah untuk sementara waktu.

__ADS_1


"Ingat pesan kakak tadi. Kalau ngga lihat kakak, kamu tunggu di dekat mobil, jadi kakak nggak payah mencarimu," ujar Ega.


"Iya kak." Jawab Najwa


Najwa dan Ega masuk ke masjid, namun dengan arah berlawanan. Karena tempat duduk untuk pria dan wanita sudah dibedakan. Najwa duduk bersama jama'ah lainnya, yang mengenakan baju berwarna senada dengan dirinya.


Setelah menunggu beberapa lama, seorang ustad yang akan memimpin tabligh itupun tiba. Ega yang berhasil duduk dibarisan depan itu, melihat dengan jelas sosok yang menjadi salah satu panutan umat itu.


"Alhamdulillah. Meskipun tidak melihat secara dekat, tapi aku bisa melihat beliau secara langsung. Nanti saat pulang aku akan menelpon buk'e. Buk'e pasti akan senang mendengar ceritaku tentang ustad Abdul mamat," batin Najwa.


Suasana seketika hening, saat ustad Mamat memegang sebuah microfon. Ustad Mamat mulai membuka tausiyahnya dengan salam pembuka terlebih dahulu.


"Tabligh," seru ustad Mamat.


"Allah huakbar." Jawab jama'h serentak.


"Setuju." Jawab Jama'ah serentak.


"Kalau begitu kita akan bicara tentang cinta kita pada pasangan, agar cinta kita sampai pada Allah. Lalu apa hubungan korelatif antara keduanya? tentu saja sangat berhubungan. Karena sejatinya pernikahan adalah ibadah, dan ibadah kita harus di ridhoi oleh Allah agar bisa diterima. Lalu bagaimana caranya agar ibadah kita itu bisa diterima?...."


Ustad Abdul Mamad memberikan tausiyah yang begitu mengena dihati Ega dan Najwa. Sepasang suami istri itu jadi larut dalam pemikiran mereka masing-masing.


Setelah bertausiyah hampir satu jam lebih, ustad Abdul Mamat akhirnya mengakhiri tausiyahnya, dan kemudian meraih sebotol air mineral dan menuangkannya kedalam gelas. Setelah itu beliau meminumnya, untuk membasahi tenggorokkannya yang sudah terasa kering.


Untuk selanjutnya acara itu diambil alih oleh moderator, karena akan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Para jama'ah yang hadir dipersilahkan untuk menulis pertanyaan, yang nanti akan dijawab oleh ustad Abdul Mamat.


Najwa yang membawa pena dan secarik kertas, tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. pena dan kertas itu memang dia siapkan dari rumah, karena memang sudah niatnya ingin mengajukan pertanyaan pada ustad idolanya itu.

__ADS_1


Sementara itu Ega yang melihat pena dan buku yang dipegang oleh jama'ah lain, meminjam alat tulis itu, karena juga ingin mengajukan pertanyaan. Setelah semua pertanyaan terkumpul, sang moderatorpum memberikan arahan.


"Alhamdulillah sekali pak ustad, ternyata para jama'ah sangat antusias menyimak tausiyah yang ustad berikan. Itu terbukti bejibunnya kertas dalam kardus ini," ujar Moderator sembari terkekeh.


"Alhamdulillah. Itu membuktikan juga, banyak rumah tangga mereka yang bermasalah disini," canda ustad Abdul Mamat yang disambut tawa oleh jama'ah.


"Iya betul. Tapi kita beritahukan pada para Jamaah, bahwa kita hanya akan memilih 15 pertanyaan secara acak. Karena tidak mungkin kita membacakan dan menjawab semua pertanyaan yang ada disini. Bisa-Bisa kita pulang 3 hari kemudian," ujar sang moderator sembari terkekeh.


"Jadi silahkan ustad buat memilih secara acak, pertanyaan yang ada disini," sambung moderator.


Ustad Abdul Mamatpun mengambil 15 kertas yang ada di kardus, dan meletakkannya dihadapannya.


"Pertanyaan pertama. Ustad berikan pencerahan pada saya. Saya seorang wanita bersuami, saya menikah karena ingin menjalankan isi wasiat dari almarhum suami saya yang terdahulu. Saya menikahi kakak ipar saya, dan sampai saat ini mungkin tidak ada cinta diantara kami. Ustad, kami sama-sama belum menunaikan kewajiban kami sebagai pasangan suami istri meski sudah sebulan lebih menikah. Bukan saya menolak, tapi sebelum menikah suami saya sudah memiliki kekasih yang sangat dia cintai. Mohon pencerahannya ustad, apa yag harus saya lakukan?"


Deg


Jantung Ega dan Najwa berdetak bersamaan. Najwa tahu betul itu pertanyaan miliknya, sementara Ega merasa pertanyaan itu sama persis dengan kehidpan rumah tangganya.


"Luar biasa. Pertanyaan ini, luar biasa panjang. Saya sempat merasa sedang membaca buku diary," canda ustad mamat yang disambut tawa oleh jama'ah.


"Intinya anda berdosa jika menolak ajakkan suami, meskipun dengan alasan ada perempuan lain diantara kalian. Saran saya banyak-banyak mendo'akan suami anda, biar dibukakan pintu hatinya. Bisa jadi setelah anda memberikan hak suami, suami bisa lebih dekat dengan anda. Karena biasanya hubungan seperti itu akan memperkuat cemistry antara suami dan istri,"


Ustad Abdul mamat kemudian membacakan sedikit dalil-dalil, yang membuat kepala Najwa manggut-manggut.


"Pertanyaan kedua. Ustad mohon bimbingannya. Saya seorang pria beristri, tapi saya memiliki wanita lain jauh sebelum saya menikahi istri saya. Kami menikah tanpa cinta, karena kami hanya menjalankan sebuah amanah dari adik saya yang sudah meninggal. Ustad saya lagi dilema saat ini, jujur saya belum menunaikan kewajiban saya sebagai suami. Tapi malah sebaliknya saya sering melakukan hal itu bersama kekasih saya. Ustad, berikan saya pencerahan agar saya tidak bimbang lagi untuk menentukan siapa yang patut saya perjuangkan,"


"Pertanyaan serupa ini. Kalau yang bertanya pasangan suami istri, artinya kalian itu benar-benar berjodoh. Dari ribuan kertas, pertanyaan kalian bisa terpilih di 15 lembar kertas ini. Ini sangat menarik sekali untuk dibahas."

__ADS_1


Jantung Ega dan Najwa kembali berdentum hebat. Mereka merasakan debaran yang sama, saat menanti jawaban dari ustad Abdul Mamat.


__ADS_2