
"Kak. Kamu kenapa? aku mohon bangunlah! jangan menakutiku. Hikz...." Najwa terisak sembari mengguncang tubuh Ega.
Daripada tangisan Najwa, teman-temannya lebih gagal fokus pada foto besar yang terpanjang didinding kamar Ega. Mereka cukup mengerti, kalau selama ini Ega hanya mengingat Najwa saja.
"Kalian kenapa diam saja? bantu aku gotong kak Ega keluar. Terus ada yang cegat taksi. Kita bawa kak Ega kerumah sakit sekarang," ujar Najwa.
Namun karena teman-tannya seperti fokus melihat sesuatu, mau tidak mau Najwa jadi ikut melihat kearah itu. Air mata Najwa bertambah mengucur deras, saat melihat foto dirinya terpajang di dinding kamar mantan suaminya.
"Kak. Apa selama ini kamu begitu menderita dengan perpisahan kita? aku juga menderita kak. Aku masih sangat mencintaimu. Hikz...."
Setelah para wanita itu berjuang, Ega akhirnya bisa masuk rumah sakit. Najwa harap-harap cemas, saat dirinya menunggu hasil pemeriksaan di depan ruang IGD.
Krieeeekkkkk
Seorang dokter keluar setelah memeriksa keadaan Ega.
"Dok bagaimana dengan keadaan kak Ega?" tanya Najwa.
"Apa anda istrinya? atau apa ada diantara kalian yang bernama Najwa? pasien mengigau menyebut nama itu," tanya dokter.
"Ya Tuhan...sepertinya ikatan batin mereka masih sangat kuat. Rasa mau jantungan melihat kisah cinta mereka ini," batin Butet.
"Saya istrinya dok. Apa yang terjadi dengan suami saya?" tanya Najwa.
"Suami anda kena Typus. Suhu tubuhnya panas tinggi. Ditambah suami anda juga kurang cairan. Apa akhir-akhir ini suami anda tidak makan dengan baik? suami anda juga kekurangan nutrisi," ujar dokter.
"Kak. Kenapa kamu begini?" batin Najwa.
"Suami saya sibuk bekerja. Jadi kurang memperhatikan kesehatannya," ujar Najwa.
"Baiklah. Nanti pak Ega akan kita bawa keruang perawatan dulu, setelah itu baru bisa di jenguk," ujar dokter.
"Ya." Jawab Najwa.
Najwa begitu tidak sabar ingin melihat keadaan Ega. Setelah Ega di pindahkan ke ruang perawatan, Najwapu bergegas masuk kedalam untuk melihat kondisi Ega. Dan benar saja yang dokter katakan, Ega masih saja menyebut namanya beberapa kali.
__ADS_1
Najwa yang terbawa suasana meraih tangan Ega, dan menciumnya beberapa kali.
"Bangunlah kak. Aku sudah ada disini. Kakak jangan sedih lagi ya? maafkan aku sudah membuatmu menderita selama ini. Hikz...." Najwa kembali terisak.
Marina yang sudah tahu cerita Najwa dan Ega dari Butet, ikut meneteskan air mata. Tak ada rasa kecewa atau dendam pada Najwa, karena diapun sadar Najwa memang pantas untuk dicintai.
Marina mendekat kearah Najwa dan memegang pundak teman barunya itu. Najwa menoleh kearah Marina dan bergegas menghapus air matanya.
"Mar. A-Aku...." Najwa baru teringat kalau temannya itu sangat menyukai mantan suaminya itu.
"Aku tak apa kak. Justru kalau kali ini kalian sampai pisah lagi, aku benar-benar tidak akan memberi kalian kesempatan buat bersatu," ujar Marina.
"Makasih Mar. Aku janji tidak akan meninggalkan dia lagi. Tapi...."
"Tapi kenapa? apa kakak masih memikirkan para gadis yang tidak jelas itu?" tanya Marina.
"Ya." Jawab Najwa lesu.
"Apa foto yang terpajang didinding itu belum menjelaskan semuanya? bang Ega begitu menderita selama ini. Jangan perdulikan para gadis itu, bisa jadi itu hanya cara bang Ega buat ngelupain kakak yang sama sekali tidak bisa dia lupakan," ujar Marina.
"Bersikap egois sekali-kali nggak apa kali Na. Kamu harus mempertahankan apa yang seharusnya jadi milikmu. Buat apa kamu bersikap jadi seorang dermawan menyerahkan Ega pada wanita lain, sedangkan pada kenyataannya hanya kamulah yang ada di hatinya," timpal Butet.
Najwa menoleh kearah Ega. Kini dirinya sadar, meski pria yang tengah mengigau itu berkencan dengan puluhan gadis, hanya dirinya saja yang ada di hati pria itu.
Seorang petugas penghantar makanan meletakkan satu mangkuk bubur diatas nakas. Dokter memang menyarankan agar Ega makan bubur dulu untuk sementara waktu.
Setelah menunggu beberapa saat Ega mulai membuka matanya. Mata yang sedikit lama terpejam itu tampak menyesuaikan dengan cahaya yang berada di sekitar ruangan itu. Namun matanya lebih fokus menatap wanita berjilbab yang tengah tersenyum kearahnya.
"Ah...aku pasti sudah gila karena selalu memikirkan dia. Dimana aku berada, aku selalu melihat dia. Sepertinya sebentar lagi aku akan masuk kerumah sakit jiwa," gerutu Ega.
Gryuuutttt
Najwa mencubit tangan Ega, dan mata pria itu jadi melotot.
"Eh? apa dalam halusinasi seseorang bisa menyakiti orang lain? Najwa. Kamu kejam sekali, tidak di dunia nyata, bahkan di dunia halu pun kamu masih saja menyakitiku," ucap Ega.
__ADS_1
"Apa aku sungguh menyakiti hati kakak?" tanya Najwa.
"Na-Najwa? ap-apa ini benar-benar nyata?" Ega terkejut.
"Ya. Aku disini kak." Jawab Najwa.
Tanpa Najwa duga, Ega malah duduk seketika dan meraih kedua sisi wajahnya. Ega kemudian mencium dirinya, yang membuat Najwa terkejut setengah mati. Tidak hanya dirinya, teman-teman Najwa juga ikut terkejut.
"Ya Allah...hitunglah dosaku sebanyak mungkin untuk hari ini. Tapi jujur saja, aku memang merindukan pria ini," batin Najwa.
Najwa kemudian melingkarkan kedua tangannya di leher pria yang tengah me**mat habis bibirnya itu. Najwa dengan nalurinya membalas ciuman hangat itu. Tanpa mereka sadari, mereka berciuman sama-sama dengan meneteskan air mata.
"OMG rasanya punyaku dibawah sana ikut berdenyut melihat siaran langsung begini. Punyaku tiba-tiba terasa gatal," ucap Marina lirih.
"Najwa. Aku rela ikut menanggung dosamu. Hari ini aku akan membiarkanmu berbuat dosa, asal kau sama Ega bisa bahagia bersama," batin Butet.
Hosh
Hosh
Hosh
Nafas kedua insan itu tersenggal. Setelah ciuman itu berakhir. Ega menempelkan keningnya di kening Najwa.
"Maaf. Aku terlalu merindukanmu, hingga aku lupa kalau kamu sudah jadi milik orang lain," ujar Ega dengan wajah yang sudah dipenuhi air mata.
Najwa menyeka air mata Ega, dan diraihnya kedua sisi wajah mantan suaminya itu.
"Sekarang aku bukan milik siapa-siapa lagi. Karena Allah tahu, aku hanya milik kakak seorang. Meski aku berlari sejauh mungkin, meski aku menyangkal sekuat apapun. Aku akan tetap kembali pada kakak dengan takdir yang sudah Allah tetapkan," ucap Najwa.
"Ap-Apa maksudmu bukan milik siap-siapa?" Ega terkejut.
" Aku sudah bercerai dari kak Arga."
Sungguh jawaban Najwa hal yang mengejutkan dan sekaligus hal yang membahagiakan bagi Ega. Ega kemudian terkekeh bahkan tertawa keras, sebelum akhirnya dia memeluk erat wanita yang dia cintai itu.
__ADS_1
"Ehemmm...apa kalian sudah puas memberikan tontonan gratis pada kami?" tanya Butet.
Mendengar suara orang lain diruangan itu. ega dan Najwa sama-sama melepaskan diri. Mereka sama-sama tersipu dan jadi merasa malu