MATIMU MEMBERIKU JODOH

MATIMU MEMBERIKU JODOH
74. Kesedihan Najwa


__ADS_3

"La kuomongke nian. Dak usahlah nak nikah dengan betino itu, betino itu pasti dak beres. Mak ini tebukti kan? betino itu pembawo sial. Laki pertamo mati dak sampai seminggu dio nikah. Ini Arga kecelakaan, jugo baru seminggu dio nikah. Kalian dak katek yang galak nenger omonganku," ujar Sri.


(Sudah kubilang. Tidak usah menikah dengan wanita itu. Wanita itu pasti ada yang tidak beres. Sekarang terbukti kan? wanita itu pembawa sial. Suami pertama mati tidak sampai seminggu setelah dia menikah. Ini Arga kecelakaan, juga baru seminggu dia menikah. Kalian nggak ada yang mau dengar omongnku).


"Sudahlah ngoceh terus kamu ini. Jingok papa samo mama lagi sedih, kamu malah ngoceh dak keruan ini. Diam bae, anggor dak bedo'a bae," ucap Alman.


(Sudahlah ngoceh terus kamu ini. Lihat papa sama mama lagi sedih, kamu malah ngoceh nggak karuan seperti ini. Diam saja, lebih baik berdo'a saja).


Alman sekeluarga kini tengah berada dirumah sakit. Saat ini mereka tengah berada di depan ruang operasi, karena keadaan Arga cukup memprihatinkan.


Drap


Drap


Drap


Langkah kaki Najwa tampak tergesa-gesa dan nyaris tersungkur, saat dirinya berlari menyusuri koridor rumah sakit.


Hosh


Hosh


Hosh


Nafas Najwa tersenggal, saat dirinya baru tiba di depan ruang operasi. Seluruh keluarga suaminya sudah menunggu di depan ruangan itu dengan wajah cemas dan khawatir. Tidak seorangpun dari mereka yang perduli saat Najwa tiba, terlebih ingin membuat wanita itu tenang. Semua orang seperti sudah terdoktrin oleh ucapan Sri yang mengatakan Najwa pembawa sial.


Najwa mengerti saat ini semua orang cemas, dan Najwa tidak banyak bicara karena semua orang sedang menunggu kabar dari petugas yang sedang mengoperasi suaminya itu.


Setelah menunggu hampir 1 jam lamanya, seorang dokter keluar dari ruang operasi karena operasi itu sudah selesai.


"Dok. Bagaimana keadaan anak saya?" tanya Lina.


"Beruntung pak Arga cepat dibawa ke rumah sakit, jadi nyawanya sempat tertolong. Dan bersyukur karena saat ini Arga sudah melewati masa kritisnya." Jawab dokter.

__ADS_1


Semua orang menghembuskan nafas lega, tak terkecuali Najwa yang mengucapkan kata syukur dalam hatinya.


"Apa dia sudah siuman?" tanya Sulaiman.


"Belum pak. Karena luka-luka di tubuhnya cukup parah, kemungkinan untuk siuman memerlukan sedikit waktu." Jawab dokter.


"Sebentar lagi pak Arga akan dipindahkan ke ruang perawatan, kalian bisa menunggunya disana," sambung dokter.


"Terima kasih dok," ucap Sulaiman.


Dokter itupun berlalu dari hadapan mereka, Sulaiman sekeluargapun pergi ke ruang perawatan tempat dimana Arga akan dirawat nanti.


"Aku sarankan kamu itu pergi diruqiyah. Agar kesialanmu tidak menular pada orang lain. Apa kamu itu tidak sadar, setiap orang yang memiliki hubungan denganmu, pasti mengalami kesialan? salah satunya Arga. Tidak hanya restauran yang terbakar, nyawa Argapun hampir melayang," ujar Sri.


"Astagfirullahaladzim," batin Najwa.


Najwa melirik kearah semua orang. Tak ada satupun dari mereka menghentikan perkataan Sri, seolah merekapun percaya dengan ucapan Sri yang mengatakan dirinya pembawa sial. Najwa mencoba bersabar, tidak mungkin baginya berselisih paham dengan kakak iparnya itu disitusai yang sedang sedih seperti ini.


Najwa memilih diam, dan tidak menggubris ucapan Sri. Tidak berapa lama kemudian, Argapun dipindahkan diruangan itu meski dalam keadaan masih tidak sadarkan diri.


"Cepatlah sadar Uda. Jangan buat semua orang khawatir," ujar Lina sembari terisak.


"Sabar ma. Uda pasti akan baik-baik saja. Dia sudah melewati masa kritisnya, sebentar kagi dia past siuman," ucap Sulaiman.


"Kasihan dia pa. Selama ini dia selalu baik-baik saja. Dia ini bukan tipe orang yang ceroboh," ujar Lina.


Najwa bukan tidak mengerti arti sindirin kata-kata Lina yang menusuk, namun Najwa memaklumi sikap ibu mertuanya itu sebagai bentuk kekhawatiran pada putranya itu.


"Mama sebaiknya pulang beristirahat sama papa. Biar kami yang menjaga Arga disini," ujar Alman.


"Iya ma. Mama tidak usah khawatir, kami tidak akan ninggalin Arga sendiri. Soalnya kita tetap harus waspada kan?" sindir Sri.


"Ya Allah. Berilah aku banyak kesabaran dalam menghadapi cobaan ini. Keluarga suamiku sepertinya tidak menyukaiku, dan menganggapku pembawa sial. Bukakanlah pintu hati mereka agar bisa menerimaku apa adanya," batin Najwa.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu papa dan mama pulang dulu. Kalian jaga Uda dulu, hari ini Marini akan datang. Jadi bisa gantian menjaga Uda," ujar Sulaiman.


"Iya pa." Jawab Alman.


Sulaiman dan Lina pergi tanpa mengucapkan apapun pada Najwa. Najwa benar-benar merasa sangat sedih di perlakukan seperti itu. Najwa kemudian perlahan mendekat kearah Arga, dan menggenggam tangan suaminya itu.


"Hikz...cepat sadar kak. Aku nggak mau sendirian lagi," Najwa terisak.


"Seharusnya malam tadi aku ikut sama kakak. Agar kakak tidak merasakan sakit sendirian," sambung Najwa.


"Iya. Agar kamu juga jadi merepotkan orang lain, setelah menjadi beban bagi Arga," timpal Sri.


"Sudahlah. Ini rumah sakit," ujar Alman setengah berbisik.


Najwa lagi-lagi tidak menghiraukan ucapan Sri. Baginya kesembuhan Arga adalah yang utama. Jadilah sepertiga malam itu Najwa habiskan untuk berdzikir. Najwa berharap ada keajaiban untuk suaminya itu.


*****


Ega bersiap berangkat kerja setelah sarapan. Saat di loby desas desus orang membicarakan tentang kebakaran santer terdengar di telinganya, terlebih saat security yang dia kenal menyebut-nyebut nama Arga.


"Ada apa ya pak?" tanya Ega.


"Itu pak Ega. Restauran pak Arga semalam kebakaran. Terus saat pak Arga menuju lokasi kebakaran, pak Arga mengalami kecelakaan. Nggak tahu gimana keadaannya sekarang." Jawab Security itu."


Deg


Seperti ada palu yang memukul jantung Ega saat mendengar ucapan Security itu. Orang yang paling dia pikirkan saat mendengar hal itu adalah Najwa. Dia bisa membayangkan mantan istrinya itu pasti sedang menangis saat ini.


Ega bergegas mencari informasi akurat tentang kecelakaan itu. Ega segera pergi ke rumah sakit terdekat, untuk melihat keadaan Arga. Meski Ega masih merasakan sakit hati pada Arga, tapi Arga tetaplah sahabatnya. Terlebih dia ingin memastikan keadaan Najwa baik-baik saja.


Setelah tiba di rumah sakit, Ega segera mencari pasien dengan nama Arga Sulaiman. Resepsionis itupun mencari nama itu di layar komputernya dan memberitahu ruangan pasien sesuai tempat Arga berada.


Kriekkkk

__ADS_1


Ega membuka pintu itu perlahan. Pria itu ingin memastikan keberadaan orang yang dia cari memang benar adanya. Saat pintu terbuka, Ega dan Najwa bersitatap. Setelah itu Najwa memutus tatapan itu karena tidak enak dengan kakak iparnya.


__ADS_2