
"Apa kamu sudah selesai memilih mie nya?" tanya Arga.
"Sudah." Jawab Najwa namun matanya masih melihat ke arah Ega.
Najwa benar-benar hilang kendali kali ini, hanya karena dia sangat merindukan pria dihadapannya itu. Dia ingin melepas rindu, walau hanya melihat Ega sepuasnya.
"Apa masih ada yang ingin kamu beli?" tanya Arga.
"Tidak ada." Jawab Najwa seadanya.
"Kalau begitu ayo kita pulang," ujar Arga yang mulai merasakan cemburu dihatinya.
"Ya." Jawab Najwa yang kemudian tertunduk.
Najwa berbalik badan, namun langkahnya terhenti saat Ega kembali menyeru namanya.
"Sayang. Aku masih merindukanmu," ujar Ega.
Najwa memejamkan matanya. Tanpa Ega tahu, air mata Najwa sudah mengucur begitu saja.
"Najwa. Begitu besarkah rasa cintamu pada Ega? padahal jelas-jelas dia sudah menyakiti hatimu. Apa aku tidak lebih layak jika dibandingkan dengan dia?" batin Arga.
"Beri kakak nomor ponselmu," ujar Ega.
"Maaf Ga. Aku terpaksa ikut campur," Arga bersuara. Dia takut perasaan Najwa goyah kembali.
"Hubungan antara kamu dan Najwa sudah selesai. Aku harap kamu tidak lagi mengganggu dia, karena kamu sudah memiliki istri. Saat ini kami sedang dalam masa penjajakkan. Biarkan Najwa menemukan kebahagiaan bersamaku," ujar Arga.
Mendengar itu tentu saja Ega jadi terkejut. Ega bergegas berpindah tempat menjadi dihadapan Najwa.
"Sayang. Please jangan lakukan itu. Aku pasti menepati janjiku padamu. Saat anak itu lahir, aku pasti akan menceraikannya," Ega memohon.
__ADS_1
"Kak aku mohon jangan seperti ini. Ini hanya masalah waktu saja. Suatu saat kita pasti bisa saling melupakan. Keputusan yang aku ambil, bukan keputusan main-main. Kak Arga benar, biarkan aku bahagia juga kak. Kakak juga harus belajar menerima Melody dan anak kakak. Aku yakin kakak pasti bisa, karena sebelumnya kalian pernah bersama," ucap Najwa.
"Tidak Najwa. Kakak tidak bisa mencintainya lagi, kakak hanya mencintaimu saja." Jawab Ega.
"Najwa ayo kita pergi dari sini. Kalian sudah jadi pusat perhatian orang. Apa kalian mau di buat viral di media sosial?"
"Maaf kak. Aku harus pergi," Najwa bergegas melangkah. Meninggalkan Ega yang teihat sangat bersedih.
Najwa bergegas berlari ke tempat parkir. Wanita itu terisak disana. Melihat Najwa yang begitu menderita, Arga menjadi tidak tega. Tapi sejak awal dia sudah bertekad agar bisa menaklukkan hati Najwa dan membantu Najwa agar bisa melupakan Ega.
Najwa bergegas menyeka air matanya, dia baru sadar Arga memperhatikannya dari tadi, dengan ekspresi kebingungan.
"Maaf kak. Aku terlalu emosional," ujar Najwa.
"Sepertinya kamu masih sangat mencintainya. Apa dia sepenting itu di hati kamu? hingga kamu melupakan rasa sait yang sudah dia beri," tanya Arga.
"Sejujurnya aku percaya kalau dia tidak ada niat untuk menyakitiku. Selama tinggal bersamanya, dia selalu baik padaku. Dia juga menafkahiku dan juga sangat perhatian padaku. Kami seperti layaknya pasangan suami istri normal sebelum badai itu datang. Jadi kak, tidak semudah itu bagi kami untuk saling melupakan. Kami saling mencintai, kami berpisah karena keadaan, bukan keinginan." Jawab Najwa.
"Apa itu artinya kamu akan rujuk dengannya? lalu bagaimana denganku dan anak itu?" tanya Arga.
Najwa terdiam. Perkataan Arga lagi-lagi membuat hatinya bimbang. Namun Najwa bisa mengingat dengan jelas, air mata kesedihan dimata Ega.
"Maaf kak. Bukannya kita sudah sepakat? apapun keputusan yang aku ambil nantinya kakak akan menerima dengan lapang dada?"
Arga terdiam. Dia benar-benar lupa dengan janjinya itu karena sudah terbakar api cemburu.
"Maaf," ujar Arga tertunduk.
Najwa kembali menyeka air matanya dan menarik nafasnya dalam-dalam.
"Ayo kita pulang kak. Aku sangat lelah," ujar Najwa.
__ADS_1
"Emm." Arga mengangguk.
Sementara itu dari kejauhan Ega hanya bisa kembali menatap kepergian Najwa dengan tatapan kesedihan dan tidak berdaya.
"Kamu darimana aja? aku sudah sangat lapar," ujar Melody.
Ega yang baru memasuki rumah sudah diberondong pertanyaan yang memuakkan bagi Ega. Ega tidak menjawab pertanyaan Melody, pria itu segera berlalu ke dapur dan memasukkan bahan-bahan makanan yang dia beli ke dalam kulkas.
Tidak perlu lagi baginya membandingkan Melody dengan Najwa. Perbedaannya sudah sangat jelas bak langit dan bumi. Dan mengingat itu semua, jelas saja Ega jadi bertambah merindukan Najwa.
"Sayang. Aku sudah merasakan karmaku. Dulu saat ada kamu, aku disambut dengan senyum manis. Dan kita akan bercumbu mesra diatas sofa kesayangan kita. Tapi sekarang aku disambut bak seorang majikan yang menunggu pelayan pulang dari membeli makanan."
"Dulu saat aku pulang semua makanan sudah tersedia. Dan aku tinggal membersihkan diri. Bahkan kadang-kadang kamu menyuapiku dengan tangan lembutmu. Kamu akan menatapku dengan penuh cinta. Ah...rasanya ini sungguh menyesakkan dadaku," Ega menyeka air matanya yang meleleh karena merindukan Najwa.
"Kamu kok diam aja aku tanya? anak kamu sudah kelaparan ini," ucap Melody.
"Jangan jadikan anak sebagai alasan untuk kamu bersikap manja. Sekarang zaman sudah canggih. Kamu bisa pesan makanan melalui aplikasi." Jawab Ega.
"Kamu kenapa sih? dulu kamu selalu manjain aku. Kamu masakin aku, nyuapin aku. Sekarang ini aku sudah jadi istri kamu. Seharusnya kamu lebih perhatian lagi sama aku. Terlebih saat ini aku sedang mengandung anak kita," ucap Melody dengan wajah sedih.
Dulu Melody selalu menjadikan mimik wajah itu sebagai senjata andalannya untuk meluluhkan hati Ega. Tapi sekarang bukannya mendapat pelukkan, Ega malah memutar bola mata dengan malas.
"Dulu karena aku buta bisa mencintaimu tanpa logika. Sekarang Tuhan sudah membukakan mata dan pintu hatiku untuk melihat kebenaran. Melody, tidakkah kamu berpikir kalau selama ini kamu keliru memahami arti kebersamaan kita? soalnya aku baru sadar, dulu mungkin aku tidak mencintaimu. Aku hanya terobsesi karena kamu selalu menyuguhiku makanan enak saat diranjang. Tanpa aku berpikir panjang, mungkin saja kamu melakukan hal itu sepuasnya di luar negeri," ujar Ega.
"Apa maksudmu mengatakan hal itu padaku? kamu menuduhku? aku ini sangat mencintaimu, aku selalu setia padamu. Kamu ngomong gini buat aku sedih tahu nggak? hikz ..." Melody terisak.
"Simpan saja air matamu, tak guna kamu menangis. Aku sudah bosan melihat permainan sandiwara cintamu itu. Kita sama-sama tahu, saat kita melakukan itu kamu tidak lagi perawan. Aku menerimamu apa adanya saat itu, karena aku sudah dibutakan oleh hawa nafsu."
"Melody. Sekarang terserah saja. Kalau kamu tahan dengan sikapku yang seperti ini, maka lanjutkan saja. Kalau tidak tahan pergilah dari sini. Tapi aku akan beritahu kamu satu hal, aku akan tetap menceraikanmu setelah bayi itu lahir," sambung Ega.
Ega segera berlalu setelah dia mengatakan apa yang ingin dia katakan. Sementara itu tinggallah Melody yang mematung dengan tangan Terkepal.
__ADS_1