MATIMU MEMBERIKU JODOH

MATIMU MEMBERIKU JODOH
73. Kecelakaan


__ADS_3

Tidak ada yang berubah di hari-hari hidup Najwa. Sudah satu minggu dirinya mejadi nyonya Arga Sulaiman, namun dirinya masih berkutat menjadi kasir di restauran suaminya itu. Najwa ingin menjalani kehidupan rumah tangganya seperti air yang mengalir, saat ini dia sedang berusaha menerima suaminya dan melupakan masa lalunya bersama Ega.


"Kak. Aku pergi ke super market ya?" tanya Najwa.


"Biarkan kakak menyelesaikan ini dulu, kita bisa pergi bersama nanti." Jawab Arga.


"Kalau kakak sibuk, sebaiknya biar aku pergi sendiri saja. Nanti aku akan kembali kesini lagi setelah belanja keperluan kita," ujar Najwa.


Arga menatap Najwa sejenak, kemudian pria itu tersenyum kearah istri cantiknya itu.


"Apa sungguh tidak apa-apa? kakak ingin sekali mengantarmu belanja," tanya Arga.


"Tidak apa kak. Nanti lain kali kita bisa pergi bersama," ujar Najwa.


"Baiklah." Jawab Arga sembari mengeluarkan dompet dari saku celananya.


"Bawa ini bersamamu. Aku sudah merubah pin ATM nya menjadi tanggal ulang tahunmu," ujar Arga sembari menyodorkan kartu ATM di hadapan Najwa.


Najwa menatap ATM yang Arga berikan padanya, wanita itu sedikit terharu karena Arga begitu mempercayainya.


"Apa tidak ada uang cash aja kak?" tanya Arga


"Tidak ada. Uang di meja kasir belum tahap serah terima untuk hari ini. Sementara uang yang kemarin sudah di tabung di bank." Jawab Arga.


Najwa meraih kartu ATM itu dan memasukkannya kedalam tas. Najwa melirik jam, yang ternyata sudah menunjukkan pukul 4 sore.


"Nanti kamu langsung pulang kerumah saja. Biar kakak menemuimu dirumah," ujar Arga.


"Iya kak. Aku pergi ya?" ucap Najwa sembari meraih tangan Arga untuk dia cium.


"Hati-Hati. Untuk sementara pakai angkot dulu ya? besok kita pergi ke dealer. Kita beli motor buat kamu," ujar Arga.


"Eh? nggak usah kak." Jawab Najwa sembari menolak dengan tangannya.


"Kenapa? kamu mau mobil? kakak akan belikan untukmu, kakak juga sudah kepikiran buat beli itu. Selama ini kakak nggak beli, karena kakak pikir belum membutuhkannya. Sekarang kakak punya kamu, kakak nggak mau membuat kamu kepanasan terus," ucap Arga.


"Nggak usah begitu juga kak. Kita jalani hidup apa adanya saja. Aku pikir kita belum memerlukannya juga," ujar Najwa.


"Ya sudah kalau gitu kita beli motor saja ya? jadi enak buat kamu pergi kemana-mana saat ada keperluan mendesak," tanya Arga.


"Ya terserah kakak saja kalau begitu." Jawab Najwa sembari menghela nafas.


Najwa kemudian pergi ke super market seorang diri. Najwa langsung pergi menuju tempat bahan makanan berada, karena dia memang ingin membeli kebutuhan dapur. Setelah selesai, Najwapun membayarya di kasir.


"Tadi pisang kesukaanmu sudah dibeli belum?" tanya seorang gadis dari arah belakang punggung Najwa yang sedang mengantri di dekat meja kasir.


"Sudah. Apa kamu yakin tidak ada yang ingin dibeli?" tanya Ega.


Deg


Najwa yang begitu hafal dengan suara Ega, langsung berbalik badan dan tidak sengaja matanya langsung bersitatap dengan mata Ega.


"Najwa," batin Ega. sementara gadis yang tengah menghadap Ega itu sama sekali tidak tahu kalau Najwa sedang melihat kearah Ega.


Najwa memindai matanya menatap penampilan gadis yang tengah berdiri membelakanginya itu. Dapat Najwa lihat gadis itu bertubuh indah. Dia tinggi, putih, sedikit berisi namun langsing. Gadis itu memiliki rambut yang panjang, meski tidak sepanjang dirinya. Namun Najwa tahu, rambut gadis itu sudah merupakan tipe yang Ega sukai.

__ADS_1


Entah mengapa jantung Najwa jadi bergemuruh, dan dia tahu betul saat ini dirinya tengah di landa cemburu. Cemburu yang tidak pada tempatnya. Najwa kembali menatap Ega, dapat Najwa lihat air muka Ega jadi berubah sedikit cemas. Air muka yang tidak seharusnya pria itu tunjukkan, karena Najwa sudah menjadi milik orang lain.


"Ternyata dia sudah menemukan penggantiku. Melihat dari seragam mereka yang sama, sepertinya gadis ini mempunyai karier yang sama dengan dirinya. Karier yang cemerlang sama seperti dia, tentu saja tidak sebanding denganku yang hanya ibu rumah tangga biasa," batin Najwa. Najwa tiba-tiba tertunduk, suasana hatinya mendadak buruk.


"Ada apa dengan wajahnya itu? kenapa dia terlihat sedih? apa dia tidak bahagia dengan pernikahannya? atau dia cemburu melihatku jalan degan Geby?" batin Ega.


"Andai saja dia benar-benar cemburu padaku, alangkah bahagianya aku. Tapi...."


Ega mendadak mengepalkan tangannya, saat membayangkan Najwa sudah di cumbu mesra oleh Arga. Ega benar-benar merasa cemburu saat membayangkan Arga menyentuh Najwa di bagian yang paling dia sukai.


"Geby. Ayo kita cari meja kasir yang lain, disini antriannya sangat panjang," ujar Ega.


Geby melihat ke kanan dan ke kiri, kemudian tersenyum.


"Ayo," ujar Geby sembari merangkul lengan Ega.


Nafas Najwa terasa sesak, saat melihat Ega tampak mesra dengan wanita lain. Terlebih Najwa salah mendengar, saat Ega memanggil nama Geby. Najwa mendengar Ega memanggilnya dengan sebutan Baby, yang berarti panggilan sayang Ega untuk gadis itu.


Ega dan Gaby pergi kemeja kasir yang bersebelahan dengan Najwa. Ega melihat Najwa dengan ekor matanya, dapat pria itu lihat kalau Najwa saat ini masih menatap kearahnya.


Tes


Air mata Najwa menetes tanpa di komando Najwa bergegas menyeka air matanya, namun hal itu bisa Ega tangkap segera.


"Najwa menangis? tapi kenapa? apa dia menangis karena cemburu? atau dia menangis karena merasa bahagia, sebab menganggap aku sudah menemukan pengganti dirinya?" batin Ega.


Najwa bergegas mengeluarkan barang belanjaannya, saat gilirannya sudah tiba. Najwa ingin segera pergi dari situ, karena dirinya sudah tidak tahan melihat Ega bersama wanita lain. Tanpa menoleh lagi Najwapun segera pergi menjauh dari tempat itu.


"Tidak ada gunanya aku berharap dia menjadi milikku lagi. Dia sudah bersama Arga saat ini. Lambat laun Najwa pasti bisa menerima Arga, sementara aku masih berkubang dengan do'a-do'a burukku. Gaby, gadis di depanku ini sudah sangat lama menyukaiku bahkan sebelum aku bertemu dengan Melody. Mungkin dengan aku bersama Gaby, perlahan aku bisa melupakan Najwa," batin Ega.


Najwa menyusun barang belanjaannya, saat dirinya sudah tiba dirumah. Najwapun bergegas memasak, karena ternyata Arga belum tiba dirumah.


Najwa jadi terisak, entah mengapa moodnya mendadak buruk, setelah pertemuannya dengan Ega.


"Najwa. Kamu tidak bisa begini terus, sekarang kamu sudah punya suami. Kasihan kak Arga kalau kamu belum bisa membuka hatimu terus menerus,"


"Malam ini aku akan menyerahkan diriku padanya. Aku sudah bertekad akan menjalani rumah tangga ini dengan sungguh-sungguh," ucap Najwa lirih.


Krieekkkk


Arga membuka pintu rumahnya dan langsung disambut Najwa dengan senyuman. Senyuman yang tidak biasa, membuat Arga jadi Heran.


"Kakak sudah pulang? mau makan? atau mau mandi dulu?" tanya Najwa.


Tap


Arga mencekal tangan Najwa, saat istrinya itu tampak sibuk menawarkan dirinya sesuatu.


"Ada apa?" tanya Arga.


"Kenapa? kakak heran ya? aku sudah memutuskan ingin menjalani rumah tangga ini dengan sungguh-sungguh. Aku sudah memutuskan ingin membuka hatiku selebar-lebarnya buat kakak." Jawab Najwa.


"Sungguh?" tanya Arga semringah.


"Emm." Najwa mengangguk.

__ADS_1


Greppp


Arga memeluk Najwa dengan erat. Hingga tubuh Najwa jadi menegang.


"Bolehkah kakak melihat rambutmu?" tanya Arga.


Najwa perlahan menarik jilbab dan juga membuka ikatan rambutnya. Arga sangat kagum melihat kecantikan istrinya yang tanpa hijab itu.


"Ap-Apa malam ini kakak boleh meminta hak kakak?" tanya Arga.


Najwapun mengangguk, meskipun jantungnya berdegup dengan kencang. Arga tersenyum senang dan bergegas untuk membersihkan diri.


Najwa dan Arga kini tengah makan malam bersama, setelah selesai mereka kemudian melakukan sholat isya berjama'ah. Setelah selesai, Argapun menagih janji Najwa yang akan memberikan haknya.


"Apa kamu sudah siap?" tanya Arga.


"Si-Siap," ucap Najwa gugup.


Arga perlahan membelai wajah cantik yang sudah berada dibawah kungkungannya itu. Sejenak dia melafalkan sebait doa di ubun-ubun istrinya dan mulai mencium kening istrinya itu.


Tringggg


Tringggg


Tringggg


Ponsel Arga berdering dan itu benar-benar membuat konsentrasi Arga terpecah.


"Angkat dulu kak, siapa tahu penting," ucap Najwa.


"Biarkan saja. Apa yang nelpon tidak tahu, aku sedang gugup malam pertama ini," ujar Arga.


Mendengar itu Najwa jadi terkekeh. Najwa kemudian bangkit dan meraih ponsel Arga.


"Dari Azwar pegawai di restauranmu," ujar Najwa.


"Restauranmu juga sayang," ucap Arga sembari meraih ponselnya dari tangan Najwa.


"Hallo ada apa war?" tanya Arga.


"Uda. Cepatlah ke restauran, restauran kita kebakaran." Jawab Azwar diseberang telpon


"Ap-Apa?" Arga terkejut dan langsung mengakhiri panggilan itu.


"Ada apa kak?" tanya Najwa.


"Restauran kita kebakaran. Aku harus kesana sekarang," ucap Arga.


"Aku ikut kak," ujar Najwa.


"Tidak usah. Kamu tolong telpon mobil pemadam kebakaran saja," ucap Arga.


"Ya. Kabari aku kalau butuh bantuanku ya kak?"


"Emm. Baik- Baik dirumah," ujar Arga semabari mengenakan bajunya yang sempat terlepas dari tubuhnya.

__ADS_1


Setelah Arga pergi, Najwa sama sekali tidak bisa tidur. Dia menunggu kabar dari Arga dengan gelisah. Sampai akhirnya ponsel Najwa berdering dan seseorang mengabarinya kalau Arga mengalami sebuah kecelakaan saat ini.


To be continue...🤗🙏


__ADS_2