MATIMU MEMBERIKU JODOH

MATIMU MEMBERIKU JODOH
54.Memberi Syarat


__ADS_3

Ega menatap cincin emas putih yang dia beli seminggu yang lalu. Cincin yang dia masukkan kedalam kotak beludru berwarna Navy. Dan cincin itu adalah cincin yang dia siapkan untuk melamar Najwa kembali nantinya.


"Besok adalah hari penentuan. Semoga tidak ada lagi masalah yang menghadang hubungan kami agar tetap bersatu selamanya. Aku sudah memutuskan hidup dan matiku hanya untuk Najwa saja, tidak akan ada lagi orang ketiga diantara kami," batin Ega.


"Pulang Ga. Melamun aja loe. Cincin buat siapa lagi itu? buat Melody?" tanya salah seorang rekan kerja Ega.


"Bukan. Ini untuk istriku." Jawab Ega mantap.


"Apa?"


Semua rekan kerja Ega terkejut. Pasalnya mereka tidak ada yang tahu kalau Ega rekan kerja mereka sudah menikah.


"Nikah apaan? jangan bohong kamu. Kapan kamu nikahnya? tega sekali kamu nikah sama Melody nggak ngundang-ngundang," ujar Yanto salah seorang rekan kerja Ega.


"Istriku bukan Melody. Aku sudah tidak ada hubungan lagi dengan dia," ujar Ega.


"What? bagaimana bisa?" Reza menimpali.


"Bukan jodoh." Jawab Ega.


"Lalu siapa yang kamu nikahi?" tanya Yanto.


"Ada. Seorang gadis cantik dan sholeha." Jawab Ega.


"Pfffffffffff" Reza dan Yanto tertawa saat mendengar jawaban Ega.


"Udah tobat rupanya casanova kita. Bagaimana bisa seleramu jadi jauh begitu? bukankah kamu itu pencinta gadis sexy dan berdada besar?" ujar Reza terkekeh.


Pukkk


Ega meninju pelan lengan Reza. Dan berdiri sembari memasukkan kotak berisi cincin kedalam saku celananya.


"Jadi kapan kamu mau buat acara makan-makan? sekalian kenalin sama kita-kita istri sholeha ala-ala bang Ega," ledek Reza.


"Nantilah kalau istriku sudah siap ketemu kalian, baru aku akan mengundang kalian kerumah. Kalau sekarang jangan dulu, masih bulan madu soalnya." Jawab Ega sembari mengedipkan matanya.


"Ega sialan. Mentang sering nyicipin lobang, seenaknya saja bikin jomblo iri," ujar Reza.


"Makanya mukamu di permaks. Biar kalau tiap nembak cewek nggak di tolak terus," ucap Ega.


"Sialan. Mukaku ganteng gini nggak perlu di permaks. Dasar cewek-cewek aja pada rabun." Jawab Reza.


Ega dan Yanto mencebik bibir secara bersamaan.


"Pulang dulu ah. Mau kelonan ama bini dirumah," ujar Ega sembari menenteng tas kerjanya.


"Terossss aja terooosss," ujar Reza yang dijawab kekehan oleh Ega.


Ega mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Saat melalui rambu-rambu, dirinya terpaksa terjebak lampu merah dan berhenti beberapa saat disana.


"Bang bunganya bang,"


Seorang anak perempuan berusia sekitar 10 tahun menjajakan bunga mawar. Ega membuka kaca jendela mobil, dan tersenyum kearah bocah itu.

__ADS_1


"Beli satu tangkai mawar merah," ujar Ega.


Bocah itu menyodorkan setangkai mawar merah dengan rona bahagia.


"10 ribu bang," ujar bocah itu sembari menyerahkan bunganya.


Ega membuka dompetnya dan menyerahkan uang 50 ribu satu lembar.


"Kembaliannya buatmu jajan ya?"


"Makasih bang." Jawab Bocah itu dengan senyum semringah.


Ega kembali melaju, karena lampu merah sudah berganti menjadi hijau. Ega begitu tidak sabar ingin bertemu istrinya yang selalu membuatnya rindu setiap hari itu.


Ceklekkkk


Ega menekan handle pintu, dan mendapati Najwa sudah menunggu Ega di ruang tamu.


"Kakak sudah pulang?" tanya Najwa sembari berdiri dari duduknya.


Diraihnya tangan Ega, kemudian diciumnya punggung tangan pria itu. Seperti biasa ega mencium kening Najwa, namun kali ini tidak mengajak Najwa berciuman mesra.


"Apa itu kak?" tanya Najwa yang melihat Ega menyembunyikan sesuatu di tangan kirinya.


"Taraaaaa...."


Ega menyodorkan setangkai bunga merah, yang membuat Najwa jadi tersipu.


"Makasih kak," Najwa meraih bunga itu dan menciumnya agar mendapat harumnya.


"Suka." Jawab Najwa dengan senyum tersungging dibibirnya.


"Apa kakak lapar?" tanya Najwa.


"Ya. Tapi kakak mau mandi dulu,"


"Mandilah. Aku akan menyiapkan baju bersih buat kakak,"


"Tidak usah. Kamu tunggu saja di meja makan. Nanti kakak akan menyusul," ujar Ega.


"Baiklah." Jawab Najwa.


Ega berlalu meninggalkan Najwa sendiri yang terpaku menatap setangkai mawar merah ditangannya. Mawar itu bisa dibilang hadiah kedua setelah kalung yang diberikan Ega beberapa waktu yang lalu.


"Apa mawar ini punya arti?"


Najwa memainkan kelopak mawar itu dengan ujung jarinya, sembari menunggu kehadiran Ega.


"Masak apa nih?" Ega membuyarkan lamunan Najwa, yang sempat melanglang buana entah kemana.


"Rendang. Sama sayur dan sambal." Jawab Najwa.


"Wihhh...mantap."

__ADS_1


Najwa menuangkan dua sendok besar nasi kedalam piring Ega, serta meletakkan dua potong daging rendang beserta sayur dan sambal. Najwa tersenyum, saat melihat Ega makan dengan lahapnya.


"Nambah?" tanya Najwa saat melihat piring Ega yang sudah hampir kosong.


"Cukup sayang. Sejak menikah denganmu kakak merasa berat badan kakak jadi bertambah," ujar Ega.


"Bukankah kata kakak kalau gendut tandanya hidup senang?" tanya Najwa sembari terkekeh.


"Tapi kakak takut kalau sampai kamu korbankan buat lebaran haji," ujar Ega sembari terkekeh.


Najwa membawa piring kotor ke washtafel, dan membersihkannya disana. Setelah selesai, Najwa menghampiri Ega yang tengah bermain ponsel diruang tamu.


"Kak. Bukankah besok adalah hari tepat 6 bulan pernikahan kita? itu artinya besok adalah hari atau bulan penentuan bagi hubungan kita bukan?" Najwa mengingatkan, meskipun sebenarnya dirinya sangat gugup saat ini.


Mendengar pertanyaan itu, Ega menghentikan pergerakkan tangannya saat akan menscrool video di salah satu akun media sosial.


"Duduklah!" ucap Ega sembari menepuk sofa disebelahnya.


Ega kemudian membuat Najwa merebahkan kepalanya dipangkuannya. Ega kemudian membelai rambut panjang, yang sangat dia sukai itu.


"Kakak ingat semuanya. Jadi tunggulah sampai besok. Tapi Najwa, apa kita boleh menambah 1 poin syarat lagi? kalau kamu mau, kamu boleh mengajukan satu syarat juga," tanya Ega.


"Poin apa yang ingin kakak tambahkan?" tanya Najwa.


"Apapun keputusan yang kakak ambil nanti, kamu sama sekali tidak boleh mempertanyakan alasan dibalik keputusan itu." Jawab Ega.


Najwa tampak mencerna ucapan Ega, yang terdengar sangat ambigu ditelinganya. Namun mau tidak mau dia harus menyetujuinya.


"Aku setuju." Jawab Najwa.


"Lalu apa ada syarat yang ingin kamu ajukan?" tanya Ega.


Najwa tampak berpikir keras. Dia tidak ingin melewatkan kesempatan yang bisa menguntungkan dirinya.


"Bagaimana kalau permintaanku beriringan dengan syarat yang kakak ajukan?"


"Maksudnya bagaimana?" tanya Ega.


"Aku ingin kakak mengabulkan satu permintaanku, saat kakak sudah mengambil keputusan itu." Jawab Najwa.


Ega tampak terdiam. Namun karena dia sudah tahu apa yang akan dia putuskan untuk besok, diapun menyanggupi perminataan Najwa yang terdengar sepele menurutnya.


"Kakak setuju. Apapun yang kamu minta pasti akan kakak kabulkan," ujar Ega.


"Janji jari kelingking," ucap Najwa yang langsung disambut oleh kelingking Ega.


"Mau nonton nggak?" tanya Ega.


"Nontin tv?"


"Nonton bioskop sayangku." Jawab Ega.


"Ah...kata-kata sayangmu seperti angin segar bagiku kak," batin Najwa.

__ADS_1


Najwa kemudian mengangguk dan menyetujui ajakan Ega. Setelah habis magrib, merekapun pergi nonton ke bioskop.


__ADS_2