MATIMU MEMBERIKU JODOH

MATIMU MEMBERIKU JODOH
63.Berbeda


__ADS_3

Ega bangun dari tidurnya, waktu sudah menunjukkan pukul 04.30 pagi. Pria itu bergegas membersihkan diri dan menunaikan ibadahnya. Setelah selesai, dia kembali ke kamar pribadinya untuk berpakaian kerja. Karena hari ini dia mulai masuk kerja kembali.


Diliriknya Melody yang masih mendengkur diatas tempat tidur. Wanita itu terlihat tidur dengan damai, meskipun waktu sudah menunjukan hampir pukul 6 pagi.


Mungkin kalau dulu Ega sama sekali tidak keberatan. Pasalnya saat tidur bersama Melody, mereka bisa bangun hingga pukul 12 siang. Tapi entah mengapa kali ini Ega merasa tidak suka, terutama untuk ukuran seorang wanita.


"Dia sangat berbeda dengan Najwa. Kalau Najwa jam segini pasti sudah ada di dapur. Membuatkan aku sarapan dan bekal makan siangku. Saat aku mandi dia akan menyiapkan baju bersih untukku. Sayang, tunggulah aku sebentar lagi. Kita pasti akan bersama lagi," batin Ega.


Ega meraih tas kerjanya, dan keluar dari kamar itu. Tas itu dia letakkan di sofa, dan dia pergi menuju dapur untuk melihat kalau-kalau ada sesuatu yang bisa dia jadikan untuk sarapan pagi.


Ega membuka kulkas, namun tidak menemukan apa-apa disana. Ega menghela nafas, dan kembali menutup pintu kulkas itu. Diliriknya ke arah atas meja. Ega hanya menemukan sebuah pisang ambon yang tergeletak di atas wadah buah.


Ega tersenyum miris. Karena disaat ada Najwa, bahkan stok pisangpun tidak pernah kosong. Najwa selalu memperhatikan kebutuhannya hingga urusan yang paling kecil sekalipun.


Ega menarik kursi dan mulai menikmati pisang itu. Pisang yang tingkat kematangannya sudah parah. Bahkan sudah hampir tidak layak makan, karena sudah terlalu lembek. Namun Ega tetap memakannya dengan mata berkaca-kaca. Pisang itu merupakan pisang terakhir yang Najwa belikan, saat terakhir kali dia datang untung mengambil sisa barang-barangnya.


Ega menyeka air matanya dan meminum segelas air putih, untuk nendorong pisang yang dia makan agar masuk kedalam lambungnya. Setelah itu dia pergi berangkat kerja.


"Najwa. Maukah kamu menemani kakak ke supermarket setelah pulang kerja nanti?" tanya Arga.


"Mau ngapain kak?" tanya Najwa balik.


"Ada yang mau kakak beli. Barangkali kamu juga ada yang ingin dibeli." Jawab Arga.


"Iya juga sih. Kebetulan dikontrakkan tidak punya apa-apa lagi. Ya sudah aku ikut kakak saja," ujar Najwa.


"Lagipula anggap ini aksi pendekatan kita," ujar Arga.


"Eh?"


"Kenapa?"


"Nggak apa-apa." Jawab Najwa.


"Mulai sekarang kamu harus belajar membuka hatimu buat kakak?"


"Tapi kakak juga harus ingat, aku belum selesai masa Iddah loh. Kurang lebih tinggal 2 bulan lagi." Jawab Najwa.

__ADS_1


"Maafkan aku kak. Sebenarnya kita bisa saja langsung menikah, karena aku belum pernah melakukan hubungan suami istri dengan kak Ega. Tapi jujur saja aku belum siap," batin Najwa.


"Najwa. Aku sudah membicarakan hal ini dengan keluargaku. Dan alhamdulillah mereka menyetujui keputusanku. Mereka semua menyerahkan semua keputusan ada ditanganku," ujar Arga.


"Eh? ja-jadi kakak langsung memberitahu keluarga kakak?" tanya Najwa.


"Iya. Aku pikir untuk apa menunda-nunda hal baik. Iya kan?" tanya Arga.


"I-Iya." Jawab Najwa tidak enak hati.


"Kakak tahu dihatimu masih ada Ega. Tapi tidak apa-apa, untuk saat ini biar kakak saja yang mencintaimu. Kakak akan berusaha agar membuatmu bisa mencintai kakak."


"Kak. Kalau seandainya saat selesai masa iddahku, tapi tiba-tiba aku berubah pikiran. Apakah kakak akan membenciku?" tanya Najwa


"Tidak. Najwa, aku tulus mencintaimu. Meskipun pada akhirnya kamu akan menolakku, kakak tidak apa. Karena kakak juga menyadari, kalau cinta tidak harus memiliki." Jawab Arga.


"Dia sangat mencintaiku, bahkan dia mau merimaku apa adanya. Bukankah kata orang lebih baik dicintai daripada mencintai? ya Tuhan...kenapa Engkau selalu menempatkan aku disituasi sulit. Kak Arga orang baik, dia tulus ingin membina rumah tangga denganku. Tapi kenapa hatiku masih saja tertuju pada kak Ega? padahal kak Ega sudah menjadi milik orang lain," batin Najwa.


"Oh ya Na. Karena aku berniat ingin menjalin hubungan yang baik denganmu, maka aku pikir segala sesuatu harus dimulai dengan kejujuran. Sebenarnya restauran ini adalah milikku. Akulah bosnya disini. Selain disini, kakak juga memiliki cabang, kurang lebih ada 10 cabang di kota ini dan sekitar 20 cabang di kota lain," ujar Arga.


"Ap-apa? jadi kakak bohongin aku selama ini?" tanya Najwa.


Najwa menghela nafas berat. Wanita itu tertunduk murung.


"Aku tidak marah. Hanya saja aku jadi merasa tidak enak pada kakak. Aku ngambil shif kerja seenaknya, padahal kakaklah yang bosnya disini." Jawab Najwa yang dibalas sunggingan senyum.


"Tidak apa. Aku melakukan itu karena wujud rasa cintaku padamu," ujar Arga.


Najwa menatap kearah Arga sejenak, sesaat kemudian dia menundukkan pandangannya.


"Kakak jangan terlalu baik padaku. Aku jadi tidak enak hati kak," ucap Najwa.


"Santai saja Na. Lagi pula itu memang kemauan kakak sendiri. Tidak ada orang yang memaksaku melakukannya," ujar Arga.


"Sudah sore Na. Kita pergi sekarang saja yuk?" tanya Arga.


"Tapi bagaimana dengan meja kasir kak? nanti nggak ada yang nunggu," ucap Najwa.

__ADS_1


"Maaf ya Na, selama ini kakak membohongimu. Sebenarnya si Tari kasir tetap disini. Jadi saat kamu pulang, dialah yang menggantikanmu." Jawab Arga.


"Pantas saja tari kuperhatikan selalu masuk sore terus, ternyata begitu. Dan sekarang dia kakak jadikan pelayan, aku jadi tidak enak hati kak," ujar Najwa.


"Ya pokoknya mulai sekarang kamu cukup masuk dari pagi sampai siang saja. Jangan pikirkan masalah gajimu. Gajimu akan tetap kakak beri dua kali lipat seperti biasanya," ucap Arga.


"Jangan gitu kak. Aku jadi nggak enak," ujar Najwa.


"Nggak enak apa. Ya sudah ayo kita pergi! ntar kesorean kamu pulangnya," ucap Arga.


Najwa dan Arga akhirnya pergi ke salah satu pusat perbelanjaan. Najwa ingin membeli kebutuhan pokok dan lain sebagainya.


"Pengen cari cornet, dimana ya?" tanya Najwa.


"Kayaknya disebelah sana deh. Kalau disini kumpulan mie instan semua." Jawab Arga.


"Ya sudah kamu tunggu disini sebentar. Katanya kamu mau beli mie instan, biar kakak yang cari cornet disebelah sana," ujar Arga.


"Ya kak. Makasih ya?"


Saat Arga sudah pergi, Najwa memilih-milih mie instan untuk stoknya di kontrakkan.


"Sayang,"


Deg


Mendengar suara itu, membuat jantung Najwa seolah berhenti berdetak. Orang yang sangat dia rindukan, namun rindu yang terlarang. Perlahan Najwa berbalik badan, dan mendapati Ega menatapnya dengan pandangan mata berkaca-kaca. Perlahan Ega mendekat ke arah Najwa yang matanya juga sudah berkaca-kaca.


Ega mengangkat kedua tangannya, pria itu ingin sekali memeluk Najwa. Namun Najwa yang kewarasannya masih terjaga, bergerak mundur satu langkah. Membuat tangan Ega menggantung di udara.


"Kakak merindukanmu sayang," air mata Ega jatuh, begitu juga dengan Najwa.


"Nana. Kakak nemu cornet sapi nih, yang ini bukan?" tanya Arga yang muncul tiba-tiba dari arah belakang Najwa.


Najwa bergegas menyeka air matanya, karena tidak ingin Arga tahu kalau dirinya baru saja menangis. Sementara itu Ega cukup terkejut, karena Arga sudah terlihat dekat dengan Najwa. Ega menatap Najwa, mantan istrinya itu hanya bisa menundukkan wajahnya.


"Eh ada Ega," sapa Arga dengan santainya.

__ADS_1


Ega tidak menjawab sapaan Arga. Baginya Arga bukan lagi sahabatnya. Dia tidak suka karena Arga berniat ingin menikungnya.


To be continue....🤗🙏


__ADS_2