
Mata Najwa terbuka lebar saat melihat kedatangan Intan dan Rahmat di depan pintu. Namun reaksi sebaliknya terjadi pada pasangan itu. Mulanya mereka memasang senyum, saat melihat Najwalah yang membukakan pintu. Namun setelah melihat air mata Najwa, senyum itupun lenyap seketika.
Najwa bergegas menyeka air matanya dan memasang senyum terbaik untuk kedua orang tua itu.
"Mama papa kapan sampai?" tanya Najwa sembari mencium tangan Intan dan Rahmat secara bergantian.
"Baru saja." Jawab Intan, namun matanya melirik kearah kedua orang yang tengah berada di belakang punggung Najwa.
Mendengar ada suara orang datang, Ega berbalik badan. Bisa Intan lihat wajah putranya itu sudah sembab, ditambah ada raut panik saat melihat kedatangannya.
"Ada apa ini?" tanya Intan sembari melangkah masuk kedalam rumah.
Langkahnya terhenti tepat di depan Melody berdiri. Intan melirik sekilas kearah Melody, kemudian kembali menatap putranya. Sementara itu Rahmat mengekor dibelakang Intan dengan tatapan mengintimidasi.
"Kenapa diam? apa kamu sudah bisu?" tanya Intan pada Ega.
Ega melihat kearah Najwa yang lebih dulu sudah tertunduk. Najwa juga merasa tidak sanggup menjawab perihal prahara rumah tangganya.
"Biar aku yang menjawabnya tante," ujar Melody.
"Diamlah melody!" hardik Ega.
"Biarkan dia bicara kalau kamu sudah gagu," ucap Rahmat yang membuat semua orang terdiam.
"Tapi papa bersumpah akan menghajarmu, kalau jawaban dari gadis ini membuatku kecewa," sambung Rahmat.
Glekkkk
Ega menelan ludahnya. Dia tahu betul sekeras apa didikan pria itu yang memang bersikap disiplin sejak dulu. Sebagai perwira polisi, Rahmat memang sangat berwibawa. Meskipun saat ini dirinya sudah pensiun sekalipun.
"Aku hamil anaknya Ega Om," ujar Melody bersuara.
Intan sangat syok mendengar ucapan gadis itu. Bahkan langkahnya beberapa kali mundur, sembari memegang dadanya. Beruntung Najwa bergerak cepat, jadi intan tidak sampai terjatuh.
"Dasar anak tidak tahu di untung!" hardik Rahmat.
Bagh
Buhg
Bagh
Bugh
"Om sudah om," Melody menghampiri Ega yang tersungkur di lantai akibat kena pukulan Rahmat yang bertubi-tubi.
__ADS_1
Namun Ega sama sekali tidak suka Melody bela. Ega mendorong Melody hingga gadis itu tersungkur.
"Jangan sentuh aku!" hardik Ega pada Melody.
"Ayo pa hajar Ega lagi. Bila perlu bunuh Ega. Ega nggak mau hidup lagi Pa," ujar Ega putus asa.
"Oh kalau begitu dengan senang hati papa akan mengabulkannya. Lebih baik nggak punya anak, daripada punya anak selalu mengecewakanku dan bikin malu," ucap Rahmat yang kembali melayangkan pukulan pada Ega.
Najwa tiba-tiba berhambur kepelukkan Ega. Menjadikan dirinya perisai bagi pria itu.
"Minggir Najwa. Biar papa habisi pria bajingan ini. Dikasih masuk surga malah milih masuk neraka. Biar dia rasakan dulu neraka di dunia ini," hardik Rahmat.
"Cukup pa, jangan lagi. Hikz...Nanalah orang yang paling menderita disini. Nana ikhlas jika harus melepas kak Ega, demi anak yang dikandung wanita lain," ujar Najwa terisak.
Najwa menyeka darah yang ada di sudut bibir suaminya. Air mata Ega dan Najwa sama derasnya saat ini.
"Najwa kemarilah! jangan dekat-dekat lelaki penghianat ini. Dia sama sekali tidak layak untuk wanita terhormat seperti kamu," ucap Intan sembari menarik tangan Najwa.
Tangan Najwa dan Ega yang semula saling genggam, terpaksa terlepas.
"Ma Ega mohon dengarkan penjelasan Ega dulu," ujar Ega.
"Tidak ada yang perlu di jelaskan. Semuanya sudah jelas. Mulai sekarang kamu bukan lagi anakku, biarlah aku tidak punya anak laki-laki. Mulai sekarang Najwalah yang menjadi putriku." Jawab Intan.
"Ma ampuni Ega ma. Ini juga bukan kemauan Ega. Hikz," ujar Ega sembari memeluk kaki Intan.
"Na-Nana mau bercerai ma." Jawab Najwa sembari memalingkan wajah. Karena Ega menatapnya penuh Iba.
"Kakak mohon jangan tinggalkan kakak sayang. Kakak benar-benar tidak bisa tanpa kamu," ujar Ega memelas.
"Kamu dengar itu kan? apapun keputusan Najwa, mama akan mendukungnya. Tidak usah sok memelas karena ini sudah jalan yang kamu pilih sendiri. Jadi berbahagialah dengan wanita pilihanmu," ucap Intan.
"Tidak Ma. Ini sama sekali tidak seperti yang Mama pikirkan. Ega dijebak Ma," ujar Ega.
"Apapun yang kamu katakan, nyatanya kamu sudah menghamili wanita lain. Nana, apa kamu bersedia dimadu?" tanya Intan.
"Tidak mau ma." Jawab Najwa.
"Bagus. Karena Mama juga tidak akan mengizinkanmu dimadu oleh pezina ini," ujar Intan.
"Tapi Ma, Ega nggak yakin kalau itu anak Ega," ucap Ega asal.
"Ega. Apa yang kamu katakan? kita ini sudah 3 tahun berpacaran, aku tidak pernah selingkuh dibelakangmu. Teganya kamu tidak mengakui darah dagingmu sendiri," ucap Melody.
"Uggghhhh drama yang memuakkan," ujar Intan.
__ADS_1
"Najwa. Apa kamu ingin ikut kembali ke kota S bersama papa dan mama? tanya Intan.
"Ma, please bujuk Najwa agar tidak bercerai dari Ega. Ega sangat mencintai Najwa Ma," mohon Ega.
"Enak aja kalau ngomong. Cinta apa yag kamu bicarakan? cintai tai kucing? kalau cinta kamu tidak akan menyakiti dia dengan menghamili wanita lain,"
"Sudahlah Ega. Kamu duduk manis saja disini. Tunggu surat cerai dari pengadilan, karena mama akan mengurus semuanya sampai kalian ketok palu," sambung Intan.
Ega tidak tahu lagi bagaimana caranya meyakinkan Najwa dan kedua orang tuanya, bahwa dirinya benar-benar tidak mau bercerai dari Najwa. Sementara itu, Melody tersenyum senang karena sudah berhasil dengan semua tujuannya.
"Nana. Papa dan Mama memutuskan untuk kembali ke kota S sekarang juga. Apa kamu ingin ikut bersama kami?" tanya Rahmat.
"Tidak Pa. Nana masih ada urusan disini. Tolong nanti Nana nitip berkas perceraian saja. Nana akan datang saat persidangan saja." Jawab Najwa.
"Papa akan menyewakan Pengacara untukmu. Biar urusanmu cepat kelar dan kamu bisa menata hati kembali secepatnya," ujar Rahmat.
"Kenapa kalian mendukung Ega bercerai dari Najwa. Aku nggak mau bercerai dari dia. Sampai kapanpun aku nggak mau menandatangani surat cerai itu," timpal Ega.
Ega segera berdiri dan kembali berada dihadapan Najwa dengan wajah babak belur.
"Please jangan tinggalin kakak Najwa. Kakak hanya minta kamu bersabar paling lama 9 bulan saja. Setelah anak itu lahir, aku akan menceraikannya," ujar Ega.
Pukkk
Herman memukul kepala putranya itu. Dia begitu geram mendengar ucapan Ega, yang seolah jadi pria dan seorang calon ayah yang tidak bertanggung jawab.
"Dasar pria tidak tahu malu kamu. Sudah menghianati dia, tapi masih saja bicara yang tidak masuk akal. Rasanya ingin sekali aku memasukkanmu kedalam karung, dan melemparkanmu ketengah laut. Kalau jadi seorang bajingan juga, harus mau mengakui anak sendiri. Berani berbuat harus berani bertanggung jawab," ucap Rahmat.
"Tapi aku yakin dia bukan anakku," ujar Ega.
"Terlepas itu anakmu atau bukan, aku tetap mau bercerai kak. Tapi aku rasa kamu bisa menyangkal hal itu setelah anak itu lahir dan melakukan tes DNA," ujar Najwa.
"Tapi kalau sampai menunggu anak itu lahir dulu, juga kasihan nasibnya," sambung Najwa.
"Tega sekali kalian berandai-andai seperti itu? kalian benar-benar membuatku merasa terhina," ujar Melody dengan meneteskan air mata.
"Makanya kalau tidak mau terhina, punyamu jangan terlalu gatal," hardik Intan penuh emiosi.
"Kamu sudah tahu pasti, kalau Ega sudah beristri. Tapi kamu masih saja menggoda dia. Sekarang giliran bunting kamu nangis-nangis minta tanggung jawab. Kamu pasti sengaja kan? dan kamu Najwa, jangan pula mudah percaya ucapan buaya ini. Dengan dia menemui gadis yang bukan muhrimnya saja itu sudah salah," sambung Intan.
"Sekarang lebih baik kita pulang saja ma," ujar Rahmat.
"Najwa. Setelah urusanmu selesai, pulanglah ke kota S. Selesaikan perceraianmu dengan buaya ini," ujar Intan.
"I-Iya ma." Jawab Najwa.
__ADS_1
Intan Dan Herman pergi dari rumah itu, meskipun Ega memohon dan menghiba sama sekali tidak Mereka gubris.