MATIMU MEMBERIKU JODOH

MATIMU MEMBERIKU JODOH
79. Putus Asa


__ADS_3

"Sayang. Apa kamu sudah siap?" seru Arga dari arah ruang tamu.


"Ya sebentar." Teriakkan Najwa masih bisa Arga dengar meskipun sedikit sayup.


Tidak berapa lama kemudian Najwa datang dengan menenteng sebuah tas. Hari ini Najwa dan Arga berencana akan pergi ke luar kota. Setelah menemukan tempat dalam pencarian di internet, mereka menemukan 3 tempat yang bagus dalam satu kota. Merekapun berniat mengunjungi ketiga tempat itu. Itulah sebabnya mereka membawa pakaian sedikit banyak, karena ingin menginap ditempat itu.


"Sudah siap?" tanya Arga.


"Siap." Jawab Najwa.


Sepasang suami istri itu berjalan bergandengan tangan menuju loby. Mereka kemudian memesan taksi karena mereka akan pergi menuju bandara.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam di udara, merekapun tiba di kota P. Merekapun tidak membuang waktu, dan segera mencari penginapan. Mereka sudah memperkirakan akan berada di tempat itu selama kurang lebih 2 minggu, karena ingin tahu hasil yang di dapatkan.


Karena mereka datang di kota P masih terbilang pagi, merekapun memutuskan untuk segera mendatangi satu tempat yang mereka tuju untuk melakukan pengobatan. Arga ingin sekali segera sembuh, dan cepat pulang kerumahnya.


Dua minggu sudah berlalu, namun hasil dari usaha mereka sama sekali tidak terlihat. Arga sudah tampak putus asa dan lebih banyak diam dari sebelumnya. Najwa jadi kebingungan untuk menemukan cara menghibur suaminya itu. Sejak di vonis dokter mengalami disfungsi seksual, Arga kehilangan berat badan sebanyak 5 kilogram. Najwa sedikit kesulitan membujuk Arga agar makan secara teratur.


Sementara itu di tempat berbeda, Ega tampak menatap foto Najwa yang ada di dinding kamarnya. Ega kemudian berjalan kearah pintu sembari menyeret kopernya. Meskipun dia akan berada di kota lain yang tak lain kota kelahirannya, tapi Ega sama sekali tidak ada niat untuk menjual apartemennya itu. Baginya Apartemennya itu memiliki banyak kenangan dirinya bersama Najwa.


Hari ini Ega akan terbang ke kota S, surat mutasinya sudah keluar 2 hari yang lalu. Ega ingin membuka lembaran baru di tempat kerja yang baru.


"Pak. Aku titip pesan untuk Najwa, tapi hanya pada Najwa saja," ujar Ega pada security yang dia kenal di loby.


"Pak Ega jadi pindah?"


"Ya. Sekarang aku mau pergi ke kota S." Jawab Ega.


"Pak Ega mau nitip pesan apa?" tanya security itu.


"Katakan padanya, kalau butuh apartemenku pakai saja. Kode apartemennya masih sama. Katakan juga padanya aku minta maaf karena tidak berpamitan langsung padanya," ujar Ega.


"Baik pak. Hati-Hati di jalan pak."

__ADS_1


"Terima kasih ya pak?"


"Sama-Sama pak Ega."


"Najwa. Selamat tinggal sayang. Selamat tinggal cintaku. Semoga kebahagiaan selalu menyertai hidupmu," batin Ega.


Ega kemudian menyeret langkahnya bersama koper di tangannya. Meski terasa berat, namun dia tetap melangkah mantap setelah menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya.


Setelah Ega pergi, Najwa yang ingin kepasar di hentikan langkahnya oleh Security.


"Buk. Saya mau menyampaikan pesan pak Ega buat ibu Najwa,"


"Pesan? pesan apa ya pak?" entah mengapa perasaan Najwa jadi tidak menentu.


"Sekitar 30 menit yang lalu pak Ega sudah pergi dari apartemen ini. Beliau sudah di mutasikan ke luar kota."


Deg


Jantung Najwa terasa berhenti berdetak mendengarnya. Entah mengapa rasa kehilangan langsung menyergap perasaannya.


Tanpa banyak bicara Najwa langsung berbalik badan sembari menyeka air matanya. Najwa bergegas pergi untuk kembali menaiki lift. Tujuan utama Najwa saat ini adalah apartement Ega. Dia masih berharap Ega masih berada disana dan bisa bertemu dengannya untuk tetakhir kalinya.


Tattt tit


Tattt tit


Tattt tit


Najwa menekan beberapa kode di layar segi empat disamping pintu apartemen. Dan benar saja, kode dengan tanggal ulang tahun Najwa memang belum di ubah oleh Ega. Najwa bergegas mendorong pintu itu dan segera masuk kedalamnya.


Kesan pertama saat Najwa masuk ke apartemen itu adalah sunyi. Najwa melangkah perlahan dan menoleh ke arah sofa yang biasa dia gunakan untuk bercumbu dengan Ega. Bayangan saat dirinya menyambut kedatangan Ega sepulang bekerja, kemudian mereka berciuman mesra di sofa, menjadi kenangan yang tidak dapat Najwa lupakan.


Najwa melangkah kembali ke arah meja makan, dan kembali teringat saat dirinya dan Ega makan saling menyuapi. Dan terakhir Najwa bergegas masuk ke dalan kamar Ega untuk menemukan pria itu. Namun tidak ada siapapun disana, yang ada hanya kesunyian saja.

__ADS_1


Tapi ada satu hal yang berubah di kamar itu. Di dalam kamar itu dipenuhi foto-fotonya bersama Ega. Ada sebuah foto yang berukuran besar, foto dirinya yang tanpa menggunakan hijab. Foto itu bertuliskan 'Cinta Sejatiku'


Ada desiran halus di hati Najwa. Matanya sudah berkaca-kaca sejak pertama kali dirinya memasuki kamar itu. Kamar yang dipenuhi banyak kenangan. Najwa membuka lemari pakaian Ega, dan hanya tersisa beberapa pakaian saja. Diciumnya baju Ega, berharap masih ada sisa wangi tubuh pria itu.


Najwa membuka laci lemari baju itu, dan menemukan dua lembar surat. Selembar surat wasiat dari Affan yang sempat tertinggal, dan satu lagi selembar surat yang di tulis Ega khusus dirinya.


My Dear...


Setiap malam engkau selalu hadir dalam ilusiku. Senyummu yang menawan, selalu terpatri dalam ingatanku. Setiap apa yang ada dalam dirimu, sudah aku simpan dalam memoriku.


Najwa .. Engkaulah keindahan sejati yang pernah aku miliki. Meskipun raga tidak bersama, namun engkau tetap kucinta.


Saat engkau menemukan surat ini, mungkin aku sudah berada di salah satu belahan bumi. Aku akan belajar melupakanmu, semoga engkau bahagia bersama dia yang disampingmu. Maaf aku juga mengganti nomor ponselku, karena aku sudah memutuskan akan membuka lembaran baru juga. Selamat tinggal sayang, jaga dirimu baik-baik. Do'aku selalu menyertaimu.


Dariku yang mencintaimu Ega Dirgantara.


Tes


Tes


Tes


Air mata Najwa lagi-lagi kembali mengucur. Terasa sesak di dalam dadanya. Rasa kehilangan terasa merayap di sendi-sendi tulangnya.


"Maafkan aku kak...hikz....maafkan aku," Najwa terisak.


Najwa tiba-tiba membaringkan diri di tempat tidur. Wangi tubuh Ega masih tersisa di sprei yang belum sempat di ganti itu.


"Maafkan aku ya Allah. Aku tahu ini tidak pantas. Aku sudah bersuami tapi masih merindukan pria lain. Kalau memang jodoh kami benar-benar berakhir, tolong hapuslah dia dari hatiku. Aku juga ingin belajar mencintai suamiku sendiri," ujar Najwa lirih.


Najwa yang teringat tentang suaminya, bergegas keluar dari Apartement itu. Najwa ingin pergi ke pasar, karena Arga ingin dibuatkan sup daging. Najwapun bergegas pergi, dia tidak ingin Arga menunggu terlalu lama.


Sementara itu dibelaham bumi lainnya, Ega baru saja tiba di bandara tempat tujuannya. Ega akhirnya senang, karena bisa bekerja di kota kelahirannya. Ega memang bekerja di kota ousat, sekitar 2 jam dari desa tempat orang tuanya berada. Tapi paling tidak jarak itu lebih dekat, saat dirinya menginginkan pulang.

__ADS_1


Ega juga sudah menjual mobil hasil jerih payahnya, sebagai gantinya dia membeli rumah untuk dia tinggali selama bekerja di kota S.


To be continue...🤗🙏


__ADS_2