MATIMU MEMBERIKU JODOH

MATIMU MEMBERIKU JODOH
50. Pelukkan Hangat


__ADS_3

"Kakak..."


Najwa langsung bangkit dari sofa, saat melihat kedatangan Ega di depan matanya. Najwa perlahan mendekat, tatapan mata mereka bertemu.


Glekkkk


Najwa menelan ludahnya. Ada dentuman, lonjakkan, dan deburan seakan menghantam jantungnya saat ini.


"Ayolah Najwa. Kamu sudah berjanji tidak akan menanyakan padanya, kenapa dia tidak pulang malam tadi. Kamu harus bersabar, mas Affan sudah memberimu petunjuk bukan?" batin Najwa.


Tiba-Tiba senyum terbit dari bibir manis Najwa. Senyum yang bisa menenangkan hati Ega yang tengah di landa kalut. Dan senyum yang dia rindukan setiap waktu.


"Ah...kenapa dia masih bisa tersenyum, padahan aku sudah mengecewakannya. Mengapa dia masih bisa tersenyum, padahal suaminya sepanjang malam bersama wanita lain. Najwa, terbuat dari apakah hatimu. Sungguh jika Allah membiarkan pendosa ini meminta, aku ingin kamu menjadi bidadari syurgaku," batin Ega.


Grepppppp


Ega berhambur memeluk Najwa. Pelukkan hangat yang selalu dia rindukan. Pelukkan yang bisa membuatnya damai. Ega lagi-lagi menjatuhkan air matanya, namun secepat kilat menyekanya agar tidak diketahui Najwa.


Gyuuuuttttttt


Tangan Najwa terkepal erat. Saat ini dia bisa mencium aroma yang berbeda dari biasanya. Aroma parfum yang begitu lembut, yang dia yakini itu milik Melody.


"Sakitnya ya Allah...jadi benar, dia menghabiskan malam dengan wanita itu? kak Ega begitu sangat mencintai Melody, hingga dia rela tidak menepati janjinya padaku," batin Najwa.


Najwa ingin mendorong tubuh Ega, namun pria itu mengahalanginya.


"Kakak mohon biarkan kakak memelukmu sebentar lagi," ujar Ega.


"Sebenarnya apa yang kamu pikirkan saat ini kak? kamu yang seperti ini membuatku bingung. Sebenarnya apa arti diriku bagimu? mengapa aku merasa kamu sudah jatuh cinta padaku? tapi kenapa kamu masih mau tidur dengannya?"


Najwa membiarkan Ega mendekapnya untuk beberapa saat. Setelah pelukkan itu terlerai, Najwa menanyakan hal yang menurut Ega itu diluar dugaannya. Semula Ega mengira Najwa akan bertanya kenapa dirinya tidak pulang semalam, atau bertanya tentang apa saja yang dia lakukan bersama Melody. Tapi Najwa malah bertanya hal sebagai bentuk perhatiannya kepada sang suami.


"Kakak sudah sarapan? kakak sudah mandi belum?" Najwa bertanya seolah tidak pernah terjadi apa-apa.


Terlebih Najwa bertanya dengan senyum yang memperlihatkan kedua lesung pipinya di kiri dan kanan.


"Belum." Jawab Ega singkat.


"Kakak mau mandi dulu, atau mau makan dulu? maaf aku nggak masak makanan baru, soalnya makanan semalam belum disentuh sama sekali. Tapi sudah aku panaskan kok," ujar Najwa.


"Belum disentuh? artinya dia nggak makan malam semalam, karena nungguin aku?"

__ADS_1


"Kamu sudah makan?" tanya Ega memastikan.


"Belum. Aku sengaja belum makan, aku mau makan bersama dengan kak Ega." Jawab Najwa.


Ada letupan-letupan kecil di hati Ega saat mendengar ucapan Najwa. Rasa bersalah yang menyeruak, membuatnya tidak tahan untuk tidak memeluk istrinya itu.


"Maaf," ujar Ega lirih.


Glekkkk


Najwa menelan ludahnya yang tercekat ditenggorokkan. Sejujurnya, air mata Najwa ingin segera melesak keluar. Ketakutan yang dia rasakan saat ini benar-benar merasukinya.


"Ya Allah...apa waktunya akan tiba? aku bisa merasakan kalau saat ini dia sedang tidak berdaya. Apa dia ragu untuk menentukan diantara dua pilihan? yang jelas, aku tidak ingin mundur selangkahpun. Dia suami sahku, aku sangat mencintainya. Selagi dia tidak membuangku, aku tidak akan meninggalkannya,"


Najwa tiba-tiba membalas pelukkan itu sama eratnya. Tanpa dua insan itu sadari, mereka sama-sama takut kehilangan saat ini.


"Kakak mau makan dulu. Pengen disuapi sama kamu," ujar Ega tiba-tiba.


"Oke baiklah pangeran. Tuan putri akan melayani pangeran," ujar Najwa sembari terkekeh.


Najwa dan Ega menuju ke meja makan sembari bergandengan tangan. Entah mengapa Najwa merasa tidak ada yang berubah dari diri Ega, setelah menemui saingan cintanya itu. Yang berubah hanyalah wangi parfum, yang dia cium dari baju suaminya.


Najwa melayani Ega seperti biasanya, setelah dirinya mencuci tangan terlebih dahulu.


"Jangan gunakan sendok," ucap Ega ketika Najwa ingin menyuapinya dengan sendok yang ada di tangannya.


"Jadi kakak mau makan pakai apa?" tanya Najwa bingung.


"Aku mau makan dengan tanganmu." Jawab Ega.


"Dengan tanganku? apa kakak nggak ngerasa jijik?" tanya Najwa.


"Pokoknya aku mau disuapi dengan tanganmu." Jawab Ega.


"Oke baiklah pangeran manja," ujar Najwa sembari mencubit ikan goreng yang dicocol dengan sambal, kemudian menumpuknya dengan sejumput nasi.


"Aaaaa...buka mulutnya," ujar Najwa.


Ega membuka mulutnya, dan memakan makanan yang berada dalam kungkungan jari-jari Najwa. Mata Ega tidak pernah lepas dari wajah Najwa saat menerima suapan itu, hingga Najwa jadi tersipu malu dibuatnya.


"Enak?" tanya Najwa.

__ADS_1


"Ini jauh lebih nikmat. Karena disuapi dengan tanganmu." Jawab Ega.


Najwa kembali menyuapi Ega hingga tidak terasa sepiring nasi tandas beserta ikan dan dan sambal.


"Sekarang gantian biar kakak yang nyuapin kamu. Kamu belum makan dari kemarin kan? lain kali jangan lakukan itu kalau kakak lagi pergi," ujar Ega sembari menuangkan secentong nasi dan ikan kedalam piring yang sama.


"Aku tidak makan duluan, karena aku terbiasa makan bersamamu." Jawab Najwa yang membuat tangan Ega terhenti diudara saat akan menyuapi Najwa.


"Maaf," lagi-lagi hanya kata itu yang keluar dari mulut Ega.


"Jangan gunakan sendok. Aku mau makan langsung dari tangan kakak," ujar Najwa.


"Be-Benarkah? apa kamu tidak merasakan jijik?" tanya Ega.


"Kenapa harus jijik? ini kan tangan suamiku sendiri. Tangan ini pula yang akan membimbingku ke syurga nanti." Jawab Najwa.


Sungguh kata-kata Najwa merupakan tamparan bagi Ega. Hingga Ega berkali-kali menelan air ludahnya yang terasa tercekat di tenggorokkannya.


Ega mulai menyuapi Najwa dengan telaten. Sesekali mereka saling melempar senyum dan tatapan yang tidak biasa.


"Makasih ya kak. Ternyata kakak memang benar, rasanya jauh lebih nikmat daripada makan sendiri, atau makan dengan menggunakan sendok," ujar Najwa.


"Kalau begitu bagaimana kalau setiap pulang kerja, kita makan saling suapi satu sama lain?" tanya Ega.


"Apa? dia mau makan saling suapi? pertanda apakah ini Tuhan? apa ini pertanda baik darimu?" batin Najwa.


"Setuju." Jawab Najwa dengan senyum manis dibibirnya.


"Ya sudah. Sekarang kakak pergi ke kamar dulu ya? kakak mau membersihkan diri dulu," ujar Ega.


"Iya. Aku juga mau masak buat makan siang sekaligus buat makan malam kita nanti." Jawab Najwa.


"Apa di tempatmu bekerja hari minggu memang diliburkan?" tanya Ega.


"Iya. Aku yang mengusulkan begitu." Jawab Najwa.


"Kenapa bisa?" tanya Ega.


"Aku bilang hari minggu waktunya aku bersama keluargaku. Keluargaku disini adalah kakak, suamiku." Jawab Najwa.


Ega tidak dapat berkata apa-apa lagi. Setiap kata yang keluar dari mulut Najwa, membuat dirinya merasa haru yang luar biasa.

__ADS_1


__ADS_2