
5 bulan kemudian...
"Sayang. Anak kita laki-laki," ujar Melody dengan senyum semringah.
Ega menatap bayi laki-laki yang berkulit putih susu itu. Sangat berbeda dengan kulitnya maupun kulit Melody. Ega tersenyum senang, karena merasa ada secerca harapan untuk masalahnya selama ini.
Sementara itu Melody mengira, Ega tersenyum karena sangat senang bayi itu sudah lahir.
"Apa kamu sudah menyiapkan nama untuk anak kita?" tanya Melody.
"Urusan itu aku serahkan semuanya padamu. Kamu yang lelah mengandungnya dan juga melahirkannya. Jadi berilah nama sesuai keinginanmu." Jawab Ega.
"Bagaimana kalau nama anak kita, Dirga putra Dirgantara." Jawab Melody.
"Tidak. Aku tidak suka kamu memberikan nama belakangku untuk anak ini." Jawab Ega.
"Kenapa? dia kan anak kamu?" tanya Melody kesal.
"Pokoknya jangan. Kamu boleh memberikan nama apa saja, asal jangan ada nama Dirgantara dibelakangnya. Kamu tahu sendiri papa tidak menyukaimu, dia pasti tidak suka nama keluarganya dipakai pada orang lain tanpa persetujuannya." Jawab Ega asal.
"Tapi Melody. Lebih penting dari itu, bukankah seharusnya kamu melahirkan di bulan depan? kalau menurut usia kehamilan, seharusnya belum waktunya kamu melahirkan bukan?" selidik Ega.
"Lalu kenapa harus melahirkan secara cesar?" sambung Ega.
"Waktu kamu bekerja pagi tadi, aku mengalami pecah ketuban, karena jatuh dari kamar mandi. Karena takut membahayakan putra kita, aku mengambil keputusan untuk operasi cesar. Aku benar-benar takut terjadi sesuatu dengan anak kita." Jawab Melody.
"Begitu ya?" ujar Ega.
"Melody. Tidak perduli kamu berbohong atau jujur. Tunggu sampai semuanya terbukti, tunggu sampai kamu bisa mandiri mengurusi anak ini. Aku tidak bisa lagi bersamamu lagi. K
Aku harus secepatnya melakukan tes DNA pada anak ini. Aku harus diam-diam melakukannya, agar dia tidak curiga dan menggagalkan semua usahaku," batin Ega.
"Untuk sementara aku harus bersikap baik padanya, dan sedikit memperhatikannya,"
"Apa ada yang ingin kamu makan?" tanya Ega pada Melody.
Mendengar pertanyaan Ega, tentu saja Melody tersenyum senang. Wanita itu berpikir Ega berubah setelah anak yang dia kandung telah lahir.
Hingga perubahan itu sampai Melody menghabiskan masa nifasnya. Ega yang baru pulang dari suatu tempat dengan buru-buru pulang kerumahnya. Dia begitu tidak sabar ingin memberikan dua buah surat untuk Melody.
__ADS_1
"Bayi siapa yang kamu posting di media sosialmu itu Melody? sepertinya aku sangat mengenal wajahnya," tanya seseorang dari seberang telpon.
"Tentu saja anakku." Jawab Melody.
"Aku tahu dia anakmu. Tapi apa Mike sudah tahu anaknya sudah lahir?" tanya Jenny.
"Kenapa kamu sangat yakin kalau anak ini adalah anak Mike," ujar Melody.
"Tentu saja tidak perlu dipikirkan pun aku tahu kalau itu anak Mike. Lihatlah wajah dan kulitnya, itu benar-benar wajah Mike. Mereka seperti anak kembar kalau di dekatkan." Jawab Jenny.
"Jangan katakan apapun padanya," ujar Melody.
"Kenapa? bukankah kamu mencintainya?" tanya Jenny.
"Cinta apa yang kamu bicarakan. Kita hidup tidak hanya hidup makan cinta, hidup perlu uang. Dan Mike tidak lagi memiliki itu. Lagipula aku sudah menikah," ujar Melody.
"Kamu sudah menikah? lelaki bodoh mana yang mau menikahi wanita yang sedang mengandung anak pria lain?" tanya Jenny.
"Dia kekasihku yang berasal dari negaraku. Kekasih yang aku tinggalkan selama kuliah di Australia.
"Apa dia tahu kalau itu bukan anaknya?" tanya Jenny.
"Tentu saja tidak tahu. Seperti katamu, mana ada pria bodoh yang mau menikahi wanita yang sudah mengandung anak pria lain " Jawab Melody.
"Aku menjebaknya. Saat bertemu dengannya aku sedang hamil kurang lebih 3 minggu saat itu. Aku membiusnya." Jawab Melody.
"Astaga apa yang kamu nikahi itu pria bodoh? apa saat kamu bius kejantanannya sungguh bisa bangkit?" tanya Jenny.
"Jangan bicara konyol Jen. Saat itu aku memang benar-benar sangat ingin, mungkin karena pengaruh hormon kehamilanku. Tapi meski kejantannanya sudah ku rangsang sedemikian rupa, tetap saja layu seperti bunga tersiram air panas." Jawab Melody.
Mendengar ucapan Melody, Jenny jadi tertawa keras.
"Ya ampun Lody. Aku jadi membayangkan, kamu saat sedang benar-benar ingin, tapi hasratmu harus dipaksa padam. Apa dia tidak pernah mengajakmu buat periksa kedokter? kan bisa ketahuan saat melakukan USG?" Tanya Jenny.
"Aku membayar sejumlah oknum untuk membantuku. Aku harus punya perencanaan yang matang, kalau ingin usahaku berhasil." Jawab Melody.
"Jadi kamu mau bagaimana sekarang? apa kamu tetap ingin menjalankan rumah tanggamu itu?" tanya Jenny.
"Untuk sekarang iya. Karena aku butuh uang untuk hidup. Dan pria ini bisa aku bodohi untuk sementara waktu." Jawab Melody.
__ADS_1
"Apa kamu sungguh mau merawat anak ini hingga besar? kamu butuh banyak biaya," tanya Jenny.
"Aku akan meninggalkannya untuk di urus pria ini. Mungkin aku akan kembali ke Australi lagi nanti." Jawab Melody.
"Malang sekali pria itu. Apa sebaiknya kamu berikan saja anak itu pada Mike? menurutku Mike lebih berhak," tanya Jenny.
"Lalu bagaimana cara mike menghidupinya? mungkin menghidupi dirinya saja tidak bisa,"
"Maaf Melody. Aku terlalu keasyikkan ngobrol denganmu sampai lupa memberi tahumu sesuatu," ujar Jenny.
"Ada apa?" tanya Melody.
"Mike kini tidak miskin lagi. Aku tidaj tahu pekerjaannya apa, tapi yang pasti aku melihatnya pakai mobil mewah. Dan juga dia membawa seorang wanita di sampingnya,"
"Benarkah? soal bersaing aku tidak perlu khawatir. Aku yakin bisa mengalahkan semua sainganku. Tunggu berat badanku kembaki ideal, aku akan kembali lagi kesana,"
"Apa kamu akan membawa anakmu?"
"Sepertinya memang diperkukan. Bukankah anak ini bisa jadi senjataku?" tanya Melody.
"Lalu bagaimana dengan suamimu itu?" tanya Jenny.
"Jenny. Kita harus bermain pintar. Aku akan membuat sebuah drama besar yang bisa melindungiku dikemudian hari. Contohnya saat ini. Kamu pikir kalau aku tidak pintar, bagaimana caraku bisa hidup gratis selama ini?"
"Bagaimana dengan keluargamu Melody? apa mereka tidak tahu, kalau selama ini kamu sudah menikah dan punya anak?"
"Ayahku sudah tidak ada dan kamu tahu itu kan? aku cuma punya ibu yang tinggal dikampung. Aku tidak punya saudara yang lain, kebetulan orang tuaku semuanya anak tunggal. Jadi aku memang harus berusaha hidup sendiri. Kalau aku tidak memiliki otak yang cerdas, mana mungkin aku bisa kuliah diluar negeri dengan mengandalkan Beasiswa." Jawab Melody.
"Jadi aku tidak butuh orang tuaku lagi. Sebab aku bisa hidup enak, karena mengandalkan kecerdasanku," sambung Melody.
"Kamu memang top Melody. Kalau begitu cepatlah kembali ke Australi, takutnya mike akan diambil wanita lain."
"Mike hanya milikku dan tergila-gila padaku. Siapa yang berani merebutnya dariku, maka aku akan membuat orang itu berakhir di neraka." Jawab Melody.
"Ya sudah aku tutup telponnya ya? aku tunggu kedatanganmu," ujar Jenny.
"Oke." Jawab Melody dengan senyum semringah.
Brakkkkkkkk
__ADS_1
Suara pintu yang terbuka keras cukup membuat Melody terkejut. Pasalnya Ega menatapnya dengan berang, hingga tubuh pria itu tampak bergetar karena amarah.
To be continue...🤗🙏