MATIMU MEMBERIKU JODOH

MATIMU MEMBERIKU JODOH
26. Lama


__ADS_3

Ega bolak balik melihat arlogi ditangannya Sudah hampir 1 jam dirinya menunggu, namun Najwa sama sekali belum muncul.


"Ini perempuan kemana sih? sudah hampir 1 jam aku nungguin dia, tapi belum nongol juga. Memangnya dia makan apa sampai selama ini?" Ega tampak menggerutu.


Ega masih mencoba bersabar meskipun dirinya sangat kesal. Namun saat memasuki jam kedua, Ega sudah hilang kesabaran sepenuhnya. Tanpa menitipkan pesan pada security, pria itu langsung pergi begitu saja dan kembali ke kantornya.


Sementara di tempat berbeda, Najwa yang selesai mencari makanan langsung singgah disebuah masjid yang tidak jauh dari kawasan apartemen. Najwa berpikir karena Ega akan pulang jam 4 sore, dia lebih memilih beristirahat didalam masjid sembari menunggu waktu beribadah.


Waktu menunjukkan pukul 1 siang, saat Najwa selesai beribadah, dan pergi kembali untuk mencari makan. Saat ini Najwa tengah berada disebuah rumah makan yang terkenal dengan menu rendangnya itu.


Najwa kemudian memesan makanan, dan makan dengan tenang.


"Boleh saya duduk disini?" tanya seorang pria yang tadinya duduk tidak jauh dari meja Najwa.


Najwa menatap sekilas pria didepannya. Dia tidak membiarkan matanya menatap lebih lama pria yang bukan muhrimnya itu.


"Maaf mas. Meja disini lumayan banyak, pilih saja meja yang lain." Jawab Najwa datar.


Najwa tampak waspada pada pria didepanmya. Karena dia sering mendengar selentingan, kalau di kota ini peluang mendapat kejahatan lebih besar.


"Jam makan siang sudah hampir habis, mungkin itulah sebabnya tempat ini sudah sepi. Hanya ada aku dan kamu. Aku rasa tidak ada salahnya kita makan berada di satu meja yang sama," ujar pria itu yang langsung menjatuhkan bokongnya pada kursi di depan Najwa.


Najwa diam saja, dia berpikir setelah makanannya sudah habis, dirinya bisa langsung meninggalkan tempat itu dengan segera.


"Cantik dan anggun. Aku harus bisa mengenalnya," batin pria itu.


"Kamu tinggal di sekitar sini?" tanya Pria itu sembari memasukkan makanan kedalam mulutnya.


"Ya." Jawab Najwa singkat.

__ADS_1


"Dimananya? aku juga tinggal di dekat sini?" tanya pria itu lagi.


"Apartemen." Jawab Najwa dan kemudian dia langsung berdiri dari tempat duduknya.


Najwa memutuskan untuk menyudahi makan siangnya, karena dirinya merasa tidak nyaman bicara dengan orang yang tidak dia kenal itu.


"Pelan saja Arga. Yang penting kamu tahu, ternyata dia tinggal di satu tempat denganmu. Kamu tinggal mencari info yang lainnya saja," batin Arga.


Arga. Seorang pria tampan berdarah minang, tidak sengaja melihat Najwa saat dirinya tengah beribadah di masjid tempat Najwa beristirahat. Keberuntungan seolah berpihak padanya, ketika Najwa memilih makan siang di salah satu cabang rumah makan miliknya.


Najwa berjalan anggun meninggalkan tempat itu. Sejujurnya dia masih sangat lapar, karena makanan yang dia makan hanya dia habiskan tidak sampai separuhnya. Namun Najwa memutuskan untuk meninggalkan makanannya, karena dirinya merasa tidak nyaman berada satu meja dengan orang yang dianggapnya pria asing itu.


Najwa menoleh kesana kemari, berharap menemukan tempat makan lain. Senyumnya mengembang, saat melihat seorang pedagang somay keliling hendak melintas. Najwa kemudian membeli makanan itu, sembari menenteng sebotol air mineral yang sempat dia beli dari rumah makan itu.


"Baru jam 2. Masih ada 2 jam lagi. Sebaiknya aku menunggu di masjid saja, sembari menunggu asyar," ucap Najwa setelah melirik jam dipegelangan tangannya.


Tanpa sengaja, lagi-lagi Arga melihat keberadaan Najwa dimasjid, saat dirinya akan melaksanakan ibadah sholat Asyar. Pria itu menyunggingkan senyumnya, karena wanita yang ingin dia incar merupakan seorang wanita idaman menurutnya.


Najwa mengenakan kembali kaos kaki yang sempat dia lepas, dan segera beranjak dari duduknya karena dia berniat ingin segera pulang ke apartemen suaminya.


"Kita ketemu lagi," sapa Arga yang yang tiba-tiba berada tepat dihadapan Najwa.


"Bukan bertemu lagi, tapi anda yang sengaja menemui saya." Jawab Najwa sembari berlalu dari hadapan Arga.


"Tunggu! siapakah namamu hai pemilik kerudung maroon. Pertama melihatmu, diriku langsung terkesima. Kiranya bolehkah aku tahu, siapa nama pemilik wajah lembut ini?" ucap Arga layaknya seorang penyair jadul.


"Apa-Apan orang ini? apa di dunia ini isinya pria mesum, playboy, dan tidak tahu malu? ya Tuhan...kenapa Engkau begitu cepat mengambil mas Affan dariku. Hanya dia pria waras di dunia ini," batin Najwa.


Najwa yang tidak ingin meladeni pria yang dianggapnya kurang waras itu, langsung ngacir seketika. Dirinya tidak ingin terlibat terlalu jauh dengan pria yang dianggapnya asing itu, karena dia menyadari kalau saat ini dirinya tidak sendiri lagi.

__ADS_1


"Gadis itu bikin gereget saja. Aku suka sikap cueknya. Itu artinya, sikap dan kerudungnya memang berjalan satu arah. Heh...Arga, gimana dia nggak kabur, kamu merayunya sudah seperti penyair jaman dulu," Arga terkekeh sendiri.


Najwa sesekali menoleh kebelakang, karena dia takut pria yang merayu dirinya itu akan mengikutinya. Namun dirinya bisa bernafas lega, karena ketakutannya itu sama sekali tidak terbukti.


Setelah sampai si loby apartemen, Najwa kembali bertemu dengan security, orang yang dia titipi sebuah koper.


"Nona darimana saja?" tanya Security.


"Saya istirahat di masjid pak." Jawab Najwa.


"Tadi pak Ega pulang, dan dia menunggu cukup lama," ucap pria itu.


"Ap-Apa?"


"Ya. Dia bahkan menunggu anda nyaris dua jam."


"Apa sekarang dia sudah pulang ke apartemennya?" tanya Najwa.


"Belum. Karena anda tidak datang, pak Ega kembali pergi bekerja. Mungkin sebentar lagi pulang, ini sudah hampir jam 4." Jawab Pria itu.


Najwa terdiam. Wanita itu memilih duduk di sebuah kursi panjang, tempat dimana Ega sempat menunggu dirinya selama dua jam itu.


"Dia pasti kesal karena lama menungguku. Aih...Najwa, kamu membuat dirinya punya alasan untuk mengomelimu. Pasti wajah harimau itu sangat seram nantinya. Kenapa aku lupa, pasti mama atau papa menghubungi dia, untuk memberitahu kedatanganku," batin Najwa.


Sementara ditempat berbeda, Ega tengah berberes dimeja kerjanya. Mengingat Najwa sudah membuatnya menunggu lama, Ega bermaksud mengerjai Najwa dengan hal serupa. Ega akhirnya baru pulang, ketika waktu menunjukkan hampir pukul 6 sore.


Ega menatap wanita yang tengah tertidur di kursi panjang ruang tunggu. Suaranya berdecak, karena dia kesal melihat tingkat kewaspadaan Najwa yang lemah.


"Pantas saja ponselnya hilang. Dia bahkan bisa tidur dimanapun, tanpa takut ada orang lain berniat jahat padanya. Lihatlah dia, sudah seperti pengemis jalanan," ujar Ega lirih.

__ADS_1


Ega meletakkan barang belanjaan, yang baru dia beli dari super market, ke lantai tempat dirinya berdiri saat ini. Perlahan pria itu mendekati Najwa, karena berniat ingin membangunkan wanita yang sudah jadi istrinya itu.


__ADS_2