MATIMU MEMBERIKU JODOH

MATIMU MEMBERIKU JODOH
24. Butet Sedih


__ADS_3

"Huaaaaaa...hikz..."


Suara Butet memecah keheningan kantor, saat Najwa bercerita bahwa barusan dirinya sudah mengundurkan diri jadi guru di sekolah itu.


"Tega kali kau meninggalkan aku sendiri disini? tak punya lagi teman curhatku," ujar Butet sembari terisak.


"Nggak punya teman gimana? disini semuanya orang tet?" ucap Najwa yang tersenyum kaku melihat kearah guru-guru yang lain.


"Itulah kau. Sama sekali tak punya rasa saling memiliki. Aku sedihnya kau tinggalkan disini, sementara kau bahkan tak mau menenangkan diriku yang lagi nangis bombay begini," ujar Butet sembari menghembuskan ingusnya di selembar tisu.


"Butet sudahlah, jangan menangis. Tisu sekolah hampir kamu habiskan semua," bisik Najwa.


Tangis Butet mereda, dan kemudian menoleh kearah tumpukkan tisu berkas pakainya diatas meja.


"Masukkan kedalam kresek, nggak enak dilihat kepala sekolah," sambung Najwa.


Butet segera meraih kantung kresek yang Najwa sodorkan, dan memasukkan sampah tisu itu kedalamnya.


"Kamu tenang saja. Meski aku berada jauh disana, kita masih bisa berhubungan lewat hp kan?" ujar Najwa.


"Iya. Tapi aku jadi pengen merantau sepertimu," ucap Butet.


"Jangan. Kamu kan masih ada boru, kasihan dia kalau kamu sampai tinggal sendirian." Jawab Najwa.


"Terlebih saat ini boru sudah sering sakit-sakitan. Kamu akan menyesal kalau terjadi sesuatu pada boru," sambung Najwa.


"Iya. Pokoknya kamu sering-sering kasih kabar ya? ceritakan juga perkembanganmu dengan suamimu itu, aku penasaran jadinya tentang kelanjutan ceritamu," ujar Butet.


"Kelanjutan apa? kamu ini, kisah hidupku sudah kayak novel saja." Jawab Najwa.


"Boleh juga itu. 'Matimu Memberiku Jodoh, bagus tidak?" tanya Butet.


"Mulai lagi...ngawur aja terus tet," ujar Najwa sembari berberes-beres.


"Bu Najwa," sapa Ardi yang membuat Najwa menghentikan gerakkan tangannya.


"Ada apa pak Ardi?" tanya Najwa.

__ADS_1


"Saya dengar anda mau resign dari sini dan berangkat ke kota J. Apa itu benar? maaf saya masuk di jam kedua, jadi saya tidak tahu tentang berita itu," ujar Ardi.


"Iya pak Ardi. Kemungkinan lusa saya akan berangkat. Maaf kalau ada salah-salah kata dan perbuatan." Jawab Najwa.


"Sama-Sama bu. Apa anda kesana karena ingin menyusul suami? atau dapat pekerjaan lain?" tanya Ardi.


"Nyusul suami. Kami tidak mungkin hidup terpisah setelah menikah bukan?"


"Betul bu. Kalau begitu hati-hati ya? apa sekarang sudah mau pulang?"


"Belum. Saya ingin menyelesaikan pelajaran saya sampai akhir." Jawab Najwa.


"Baiklah, saya juga mau mengajar dulu kalau gitu."


"Silahkan," ujar Najwa.


Ardi kemudian berlalu dari hadapan Najwa.


"Patah hati dua kali dia," ujar Butet.


"Jangan ngawur lagi," ucap Najwa.


"Itulah yang namanya bukan jodoh. Sejak awal jodohku memang bukan ditakdirkan sama dia, bahkan mas Affanpun cuma lewat sebentar. Aku juga tidak tahu yang ini akan bertahan selama apa, meski sebenarnya aku hanya ingin menikah sekali seumur hidup," ucap Najwa.


"Sabarlah kau. Jangan mudahnya kau kawin cerai macam artis-artis di tv. Selagi dia tidak KDRT, tidak selingkuh, janganlah mudah kau meminta cerai dari suamimu," ujar Butet.


"Masalahnya sejak awal aku juga sudah tahu kalau dia tidak mencintaiku dan sudah memiliki kekasih. Jadi aku hanya menunggu waktu saja," batin Najwa.


"Aku yakin kau itu jodoh selamanya dengan harimaumu itu," sambung Butet.


"Butet kamu kebiasaan deh suka kasih julukkan orang yang aneh-aneh. Hilang kacang hijau, sekarang ganti harimau."


"Eh...kenapa rupanya kau nyalahin aku? itu kau sendiri yang bilang dia galak macam harimau. Aku hanya meneruskan saja," elak Butet.


Najwa hanya bisa menggelengkan kepalanya saja mendengar ucapan butet.


*****

__ADS_1


Sepulang sekolah Najwa pulang kerumah orang tuanya. Dia juga sudah mengutarakan tentang niatnya yang akan mengikuti suaminya ke kota J. Meski sedih dan berurai air mata, Sumirah dan Suratmo harus merelakan putri semata wayang mereka untuk turut suaminya ke kota J.


Najwa memasukkan pakaiannya kedalam koper besar. Sungguh dia tidak menyangka, kalau dia akan keluar dari desa yang merupakan tempat tanah kelahirannya itu. Najwa hampir membawa seluruh pakaiannya, termasuk baju koko dan foto Affan. Karena jujur saja dirinya masih belum bisa move on dari mendiang suaminya itu.


Namun sebelum benar-benar berangkat, Najwa memutuskan berkunjung ke makam Affan terlebih dahulu.


"Mas. Apa kabarmu. Hem? kamu pasti sudah bahagia disana bukan? besok rencananya aku akan pergi ke kota J. Disana aku akan memulai kehidupan baruku bersama orang pilihanmu. Aku tidak tahu sampai kapan mampu bertahan, meskipun rasanya aku ingin mundur sejak awal."


"Tapi Mas. Apapun yang akan terjadi kedepannya, aku tidak akan menyalahkanmu kalau memang hubungan kami tidak berhasil. Tapi mas juga tidak usah khawatir, meski kami belum saling mencintai, aku juga akan berusaha agar hubungan kami ada kemajuan."


"Nana pulang dulu ya mas? aku janji akan mengunjungimu saat aku pulang kesini. Mas tenang disana, dan percayalah semuanya akan baik-baik saja."


Najwa menguntaikan beberapa rapalan do'a untuk mendiang mantan suaminya itu. Setelah selesai, Najwapun beranjak pergi setelah menaburkan aneka jenis bunga di pusara Affan.


"Ingat pesan buk'e, jangan suka bertengkar dengan suamimu. Itu akan menjauhkan kita dari rejeki," ujar Sumirah.


Saat ini Najwa tengah berada di pangkuan Sumirah. Malam ini adalah malam terakhir dirinya tidur bersama orang tuanya, karena besok dirinya akan berangkat menyusul Ega ke kota J.


"Iya buk'e, Nana akan mengingatnya." Jawab Najwa.


"Buk'e tahu hubunganmu dengan suamimu belum berjalan sebagaimana mestinya. Tapi kamu juga harus bersabar," ujar Sumirah.


"Iya buk'e." Jawab Najwa.


"Kalau bisa jangan kayak artis-artis di tv itu. Baru nikah sebentar udah cerai," ujar Sumirah.


Najwa terdiam. Kata-Kata Sumirah mengingatkannya dengan kata-kata Butet. Tapi dia juga tidak bisa berjanji, kalau Ega memang tidak ingin berjuang bersamanya. Karena bagi Najwa, hubungan yang baik bisa dibangun dengan komunikasi yang baik. Sementara dia juga menyadari, Ega tidak bisa bicara normal denganmya lebih dari 10 menit.


"Nana akan berusaha sekuat mungkin untuk mempertahankan rumah tangga Nana buk'e. Meskipun banyak rintangan kedepannya nanti. Cuma satu hal yang Nana pengen tahu, apa buk'e malu punya anak yang menjanda dua kali?" tanya Najwa.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu ndok? pertanyaanmu itu seperti sudah ada ancang-ancang mengarah keasana," tanya Sumirah.


"Ini cuma seandainya buk'e. Nana sudah bilang akan berusaha, tapi kalau perpisahan itu tidak dapat di hindarkan lagi, apa buk'e malu punya anak seorang janda dua kali?" tanya Najwa.


"Ndok. Kamu itu anakku. Mau seperti apapun kamu, ndak ada yang bisa merubah itu. Kalau memang kamu tidak bahagia bersama, kenapa harus menyiksa diri? terlebih itu karena orang ketiga. Jangan sampai buk'e tahu kalau kamu sudah di duakan, buk'e akan datangi dia dan menggorok lehernya,"


"Seram sekali buk'e," ujar Najwa terkekeh.

__ADS_1


Namun sejujurnya tawa itu hanya Najwa jadikan tameng. Karena dirinya menjadi gelisah, sebab dia tahu pasti seperti apa suaminya saat ini.


To be continue....🤗🙏


__ADS_2