MATIMU MEMBERIKU JODOH

MATIMU MEMBERIKU JODOH
84. Pulang Kampung


__ADS_3

"Butet. Besok aku mau pulang kampung. Kamu mau tetap disini atau mau ikut aku pulang?" tanya Najwa.


"Kemanapun kamu pergi, aku akan ikut." Jawab Butet.


"Ya sudah. Kalau begitu kita tinggalkan kota penuh sejarah ini," ujar Najwa.


"Oke. Kalau begitu kita beberes saja. Aku juga tidak sabar buat ketemu mamakku," ucap Butet.


"Ya. Mamak kan dimakamkan satu TPU dengan Affan. Kita bisa ziarah bersama nanti. Najwa, ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu."


"Tanya apa?"


"Aku kan sekarang sudah mualaf, jika seandainya aku sewaktu ziarah mengirim do'a buat mamakku, apa do'aku akan di terima?" tanya Butet.


Najwa terdiam. Dia bingung cara menyampaikan jawabannya pada sahabatnya itu. Dia tahu urusan agama adalah hal yang sangat sensitif untuk dibicarakan.


"Oke aku mengerti. Tidak usaha kau memasang raut wajah seperti itu," ujar Butet sembari tersenyum lebar.


Najwa membalas senyuman Butet dengan senyum yang tak kalah indah.


"Ayo kita berkemas bersama. Akan aku ceritakan sejarah nabi, sahabat nabi, serta umatnya yang pernah bertanya pada nabi dengan pertanyaan yang sama dengan apa yang kamu tanyakan. Tapi itulah, ini tidak ada maksudku untuk mengguruimu, ataupun menambah-nambahi ucapan. Apa yang akan aku ceritakan padamu, itu murni kisah rosulullah," ujar Najwa.


"Aku mengerti. Ayo," ucap Butet.


Najwa dan Butetpun pergi ke kamar sembari beberes barang. Banyak hal yang Najwa ceritakan tentang pertanyaan Butet. Butetpun mengerti dengan penjelasan Najwa yang memang masuk akal.


*****


Keesokkan harinya....


Najwa dan Butet kini tengah berada di stasiun kereta api. Mereka memutuskan akan naik kereta menuju kota kelahirannya.


Gjuzzzz


Gzuzzz


Gzuzzzz


pommmmm


pommmmm


Suara kereta yang ditumpangi Najwa dan Butet mulai berpacu diatas rel.


"Najwa. Bagaimana rencana kita kedepannya? apa kita akan kembali mengajar disekolah kita itu?" tanya Butet.


"Aku tidak tahu. Yang pasti aku mau pulang kerumah orang tuaku dulu untuk sementara waktu. Tapi yang menjadi beban pikiranku saat ini, sepertinya aku tidak bisa berlama-lama di kampung."

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Butet.


"Kasihan orang tuaku jadi gunjingan orang, saat mereka tahu kalau aku sudah menjanda lagi." Jawab Najwa.


"Alah Na. Perduli kali kau dengan omongan orang. Tak usahlah kau pusingkan omongan orang yang tidak bisa menolong sama sekali kesusahan kau. Cuek saja," ucap Butet.


"Mana bisa begitu Tet. Kita ini hidup bermasyarakat. Kita tidak mungkin nutup mulut semua orang, sementara kita hanya memiliki dua tangan saja," ujar Najwa


"Kalau begitu kita cari kerja saja di kota nanti."


"Di kota?" tanya Najwa.


"Tentu saja. Mustahil di kota S tidak punya lowongan. Kita keluar lagi saja dari zona nyaman kita," ucap Butet.


"Nanti akan aku pikirkan lagi." Jawab Najwa.


Mata Najwa dan Butet sudah semakin sayu. Tidak lama kemudian merekapun jatuh tertidur.


*****


"Ndok? kamu pulang?" Senyum Sumirah mengembang saat wanita parubaya yang tengah menyapu halaman rumah itu, melihat kedatangan putrinya.


Najwa mencium tangan Sumirah dan kemudian memeluk ibu yang sudah melahirkannya itu.


"Najwa kangen buk'e," ujar Najwa sembari meneteskan air matanya.


"Kamu pulang sendiri ndok? suamimu mana?" tanya Sumirah.


Najwa melerai pelukkan Sumirah. Najwa kemudian mengajak Sumirah masuk kedalam rumah.


"Pak'e mana buk'e?" tanya Najwa.


"Katanya agar nggak tergoda judi ayam lagi, akhir-akhir ini dia suka ikut pak Karmin kepemancingan." Jawab Sumirah.


"Sebentar lagi pak'emu pasti akan pulang. Biasanya dia akan bawa ikan. Nanti akan buk'e masakkan ikan pecak buat kamu," sambung Sumirah.


"Oh ya kamu belum jawab pertanyaan Buk'e. Suami kamu kemana?" tanya Sumirah.


"Buk'e. Maafkan Najwa sudah membuat Buk'e dan pak'e malu. 3 hari yang lalu kak Arga sudah menceraikan aku." Jawab Najwa.


Prukkkk


Plastik berisi ikan yang Suratmo bawa jatuh kelantai. Suratmo tidak sengaja mendengar percakapan Najwa dan Sumirah. Dan dia sangat terkejut saat mendengar perkataan Najwa.


"Pak-Pak'e," Najwa tahu Suratmo pasti terkejut mendengar ucapannya.


Najwa perlahan mendekati Suratmo dan mencium tangan pria itu.

__ADS_1


"Apa yang pak'e dengar tadi benar ndok?" tanya Suratmo.


"I-Iya pak'e." Jawab Najwa.


"Kenapa? ada masalah apa? kenapa kalian bisa bercerai, padahal pernikahan kalian baru seumur jagung," tanya Suratmo.


Najwa kemudian menceritakan semua permasalahannya dari awal hingga akhir. Bukannya marah atau bersedih, Suratmo malah terkekeh mendengar cerita Najwa.


"Kenapa pak'e tertawa?" tanya Najwa.


"Tidak ada. Hanya lucu saja. Kamu juga tidak perlu sedih, lelaki tidak tahu di untung begitu tidak pantas kamu pertahankan. Jangankan cuma 3 kali janda, kalau kamu mau menikah 10 kali lagipun pak'e akan nikahkan."


"Jangan sesali apa yang sudah terjadi. beruntung kamu cuma nikah siri sama dia. Tidak usah bersedih ataupun memikirkan pria tidak berguna itu. Jalani hidup kamu dengan rasa bahagia. Suatu saat kamu akan bertemu dengan pria yang sepadan denganmu," sambung Suratmo.


"Apa pak'e benar-benar tidak marah atau sedih dengan keadaan Najwa ini? apa Pak'e tidak merasa malu punya anak sepertiku?" tanya Najwa.


"Tentu saja tidak. Kamu itu permata hatiku. Bukan kemauanmu jadi janda berkali-kali, tapi itu memang sudah takdir yang harus kamu jalani bukan?" ujar Suratmo.


"Makasih pak'e hikz...." Najwa berhambur kepelukkan Suratmo sembari terisak.


Turunlah semua beban yang dia rasakan beberapa hari belakangan ini. Kini dia ingin tampil lebih berani. Dia tidak akan perduli dengan apa yang orang lain pikirkan tentang dirinya.


"Sekarang kamu mau apa kedepannya?" tanya Suratmo.


"Apa kamu sebaiknya kembali mengajar saja ndok?" tanya Sumirah.


"Apa buk'e dan pak'e mengizinkan kalau Najwa kembali mencari kerja di kota? tapi kali ini kota S saja yang menjadi sasaran kami," tanya Najwa.


"Kami?" tanya Sumirah.


"Iya. Rencananya aku dan Butet akan mencari kerja di kota S. Kami ingin keluar dari zona nyaman dulu." Jawab Najwa.


"Buk'e dan Pak'e merestui apapun itu selagi nilainya positif. Mungkin dengan kamu keluar dari zona nyaman kamu, kamu bisa menemukan kebahagiaan," ujar Sumirah.


"Makasih buk'e. Oh ya ikan apa yang pak'e dapat?" tanya Najwa.


"Gurami." Jawab Suratmo.


"Buk'e. Nana pengen pecak ikan gurami," ujar Najwa.


"Akan buk'e buatankan. Sekarang lebih baik kamu mandi dan beristirahat dulu," ujar Sumirah.


"Iya buk'e." Jawab Najwa.


Najwa menarik kopernya dan pergi kekamar untuk membersihkan diri dan beristirahat. Sementara itu di negara berbeda, Arga sudah melakukan berbagai rangkaian terapi. Tidak ada satu haripun tanpa dia memikirkan Najwa. Bahkan sebelum tidurpun, dia selalu menatap layar ponselnya yang ada walpaper foto Najwa.


To be continue...🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2