
"Kita bicara di ruang tamu," ujar Ega dan langsung pergi begitu saja.
Najwa menghela nafas panjang, dan meletakkan kantung plastik yang baru saja dia terima, diatas meja rias. Najwa kemudian menyusul Ega pergi keruang tamu, setelah merapikan rambut dan jilbabnya.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Ega setelah Najwa duduk di sofa.
"Aku ingin minta izin sama kakak." Jawab Najwa.
"Izin? izin apa?" tanya Ega.
"Aku ingin mencari pekerjaan." Jawab Najwa.
"Kenapa? apa uangmu sudah habis? itulah akibat dari rasa gengsi yang berlebihan. Seharusnya kalau butuh minta saja, kenapa hatimu begitu keras?" tanya Ega sarat akan ejekkan.
"Laki-Laki bermulut harimau ini. Jangan panggil aku Najwa, kalau nggak bisa membuatmu tak bisa berkata-kata. Meski aku miskin, aku juga punya harga diri," batin Najwa.
"Ah...kakak bisa saja. Bukan keras hati, hanya saja aku pikir uang gajih kakak tidak cukup buat menghidupi satu istri. Itulah sebabnya aku lebih memilih memakai uang pribadi, daripada menyusahkan kakak."
"Maksudku meminta izin bekerja juga baik. Kakak jadi tidak pusing lagi memikirkan uang nafkah, kalau memang tidak mampu," sambung Najwa.
"Kamu menyindirku ya?" tanya Ega dengan wajah kesal.
"Tidak. Ya maaf saja kalau kakak tersinggung " Jawab Najwa.
"Jadi bagaimana? apa aku di izinkan bekerja?" tanya Najwa.
"Terserah." Jawab Ega sembari beranjak dari tempat duduknya dan pergi begitu saja.
Brakkkkk
Suara pintu ditutup dengan kasar, terdengar di telinga Najwa. Lagi-Lagi Najwa hanya bisa menghela nafas panjang melihat temperamen buruk suaminya itu.
Najwa kemudian memutuskan kembali ke kamarnya, bermaksud menyiapkan berkas untuk dirinya melamar pekerjaan. Namun matanya lebih penasaran saat melihat kantung plastik yang dia letakkan diatas meja rias. Najwa kemudian mengeluarkan isi plastik itu, dan ternyata sebuah kotak ponsel dan sebuah amplop berwarna coklat.
"HP? jadi dia membelikan Hp untukku?" senyum semringah tergambar di bibir Najwa.
Najwa kemudian membuka amplop coklat, yang ternyata berisi sejumlah uang.
"Tiga juta? banyak sekali, jadi ternyata aku sudah salah faham padanya. Ini nafkah pertama untukku darinya, aku tidak boleh boros dan harus berhemat," ujar Najwa lirih.
__ADS_1
Najwa yang terlampau bahagia, tidak sabar untuk mengucapkan terima kasih pada Ega. Najwa bergegas pergi ke kamar Ega dan mengetuk pintu kamar pria itu dengan tidak sabar.
Ceklekkk
"Ada apa sih? caramu mengetuk pintu sudah seperti dikejar hantu saja," tanya Ega.
Najwa tidak perduli dengan ucapan sinis Ega, Wanita itu langsung meraih tangan Ega dan menciumnya.
"Makasih ya kak ponselnya. Maaf juga aku sudah sempat su'udzon, kalau kakak sengaja tidak memberikan nafkah untukku. Tapi ternyata itu salah besar, maaf ya kak," ucap Najwa.
"Dia sesenang itu, hanya ku berikan ponsel murahan dan uang sedikit itu? apa dia pikir hidup di kota J, cukup dengan uang segitu?" batin Ega.
"Tentu saja itu nggak gratis. Aku sudah sangat lapar, dan malas keluar buat cari makanan. Masaklah! panggil aku kalau sudah selesai," ujar Ega.
"Kakak mau makan masakanku? ini sungguh ajaib," ucap Najwa semringah.
"Kamu bicara apa? cepatlah memasak! dan wajib harus enak," ujar Ega.
"Baiklah. Kakak tunggu sebentar ya? nanti kita akan makan bersama," ucap Najwa.
Najwa kemudian bergegas pergi kedapur. Sementara Ega pergi ke kamar Najwa untuk menyetel ponsel Najwa, agar bisa langsung digunakan oleh istrinya itu.
"Baju koko? tapi ini bukan milikku. Jadi ini milik siapa? apa ini milik Affan?"
Ega kemudian meraih pigura yang terbalik, dan mendapati foto Affan berada disana.
"Jadi tiap hari, tiap malam, dia masih menganggap Affan suaminya? dia masih merindukan dan memikirkan Affan? dasar munafik! jadi buat apa dia menyetujui pernikahan ini, kalau dia masih memikirkan pria lain?"
"Hah...tapi tak apalah. Biarlah dia masih berkubang dengan masa lalunya itu. Lagi pula aku juga sudah punya Melody, kenapa aku harus memikirkan dia dengan siapa? aku sama sekali tidak perduli," ujar Ega lirih.
Setelah mengotak-atik ponsel Najwa, diapun memasukkan nomor kontaknya didalam ponsel itu. Ega juga sudah menyimpan nomor ponsel Najwa ke dalam ponselnya.
Tok
Tok
Tok
Najwa mengetuk kamar Ega, dan sama sekali tidak mendapat jawaban dari arah dalam.
__ADS_1
"Apa kak Ega tertidur?" ucap Najwa.
Ceklek
Najwa menekan handle pintu, dan masuk kedalam kamar itu. Najwa cukup terkejut, saat mendapati kamar itu berisi foto-foto Ega dengan seorang wanita. Foto-Foto itu terbilang sangat intim, bahkan ada foto mereka yang sedang berciuman.
Memang tidak ada rasa sakit dan kecewa di hati Najwa saat ini, tapi dia hanya sedikit merasa menjadi seorang pecundang.
"Kamu! lancang sekali masuk ke kamarku tanpa izin?" hardik Ega.
"Kalau tidak begitu, aku tidak tahu kalau suamiku menyembunyikan hal ini dariku," ejek Najwa.
"Ckk...sudahlah, tidak usah bermain suami istri lagi. Karena kita tidak memiliki hubungan seperti itu. Sekarang kamu sudah tahu kan? dia Melody, kekasihku. Aku harap saat dia pulang nanti kamu bisa bersikap baik padanya, minimal sampai 6 bulan pernikahan kita." Ucap Ega sembari menatap kearah foto besar yang tergantung di dinding kamarnya.
"Sungguh permintaan yang aneh. Kakak menyuruh aku bersikap baik pada selingkuhan suamiku? beruntung belum ada cinta diantara kita. Kalau tidak, mungkin air mataku sudah habis berember-ember." Jawab Najwa.
"Bolehkah aku meminta satu permintaan pada kakak?" tanya Najwa.
"Apa?"
"Silahkan kalau kakak mau bermain api di belakangku. Tapi tolong jangan pernah bawa wanita lain kedalam rumah kita, apalagi memasuki kamarmu." Jawab Najwa.
"Kenapa aku harus melakukannya?" tanya Ega.
"Karena itu bisa melukai harga diriku sebagai istrimu. Kamu pasti tidak ingin juga kan, aku membawa laki-laki lain kedalam kamarku?" ucap Najwa.
"Aku yakin kamu tidak segila itu. Mengotori citra jilbabmu, hanya ingin membalas perbuatanku." ucap Ega.
"Justru kamu tahu, jangan pernah kakak membuat aku terlihat rendah di depan wanita lain. Satu lagi, kalau memang kakak tidak ingin membangun hubungan yang sesuai denganku, dan tetap melilih bersamanya, mulai dari sekarang urus saja surat perceraian kita." Sambung Najwa.
Setelah mengatakan apa yang ingin dia katakan, Najwa segera beranjak pergi dari kamar itu. Namun sebelum dia benar-benar mencapai pintu keluar, Najwa berbalik badan sejenak untuk mengatakan sesuatu.
"Oh ya. Makanan kakak sudah ada di meja makan. Kalau rasa makanannya tidak seenak masakkan kekasihmu itu, kakak buang saja ke dalam tong sampah," sambung Najwa.
Brakkkk
Najwa menutup pintu dengan lumayan keras, hingga Ega terjengkit kaget.
TO BE CONTINUE....🤗🙏
__ADS_1