
Najwa berjalan mondar mandir di ruang tamu. Berulang kali dirinya melirik jam dinding rumahnya dan melihat jarum pendek sudah hampir jam 11 malam.
"Apa kak Ega lupa dengan janjinya? bukankah dia berjanji akan pulang malam ini? apa aku benar-benar sudah kalah? ah...naifnya kamu, seharusnya kamu tidak perlu mempertanyakan lagi sedang apa suamimu disana. Sampai sekarang kamu belum melakukan hubungan suami istri dengannya. Itu sudah membuktikan, kalau dihatinya tidak ada kamu sama sekali. Tapi kenapa kamu masih saja tidak tahu diri," batin Najwa.
"Mereka pasti menghabiskan malam bersama, dan membahas perihal perceraian kami. Najwa, bangunlah dari mimpi dan angan-anganmu. Sejak awal kamu hanya dianggap piguran untuk hubungan mereka."
Tik
Tik
Tik
Suata detik jam dinding dikesunyian, cukup membangunkan Najwa yang dilanda gelisah. Najwa membuka matanya, yang ternyata tanpa sadar sudah tertidur di sofa.
"Sudah jam 2. Apa kak Ega sudah pulang? tapi kalau sudah pulang, kenapa nggak bangunin aku?" ujar Najwa lirih.
Najwa bergegas memeriksa keberadaan Ega di kamar pribadinya, namun sama sekali tidak menemukan keberadaan pria itu. Najwa menghela nafas panjang, raut kesedihan tampak diwajahnya yang kuyu.
Najwa memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Seperti malam-malam sebelumnya, Najwa akan menunaikan sholat malam. Bukan hanya sekedar mencari pahala, tapi dia bertekad akan mengadukan semua kesedihannya pada yang sudah menciptakannya
Setelah melakukan 8 rekaat sholat tahajud, kemudian disempurnakan dengan sholat witir. Najwa kemudian mengangkat kedua tangannya untuk merangkai bait-bait do'a yang sudah dia siapkan dalam hati. Do'a-Do'a yang lebih tepatnya sebagai ajang curhatnya pada dzat yang maha tahu segalanya.
"Ya Allah ya Tuhanku. Aku tetap saja jadi mahluk lemah karena cinta. Bukankah Engkau sudah memperingatkan hamba-hambamu melalui surat cinta yang Engkau titipkan pada suri tauladan kami? Engkau mengatakan mencintai manusia hanya seperlunya saja. Tapi kenapa aku begitu dalam mencintainya? aku tidak rela kehilangan dia. Bolehkah aku terus bersamanya?"
Air mata Najwa sudah merebak, mengalir dari sudut matanya, hingga bersarang pada kain yang melekat di dagunya.
"Aku mohon jangan uji aku melalui cinta. Sungguh penderitaan cinta sangat sulit untuk aku tanggung sendirian. Aku sudah pernah kehilangan cinta yang kucintai selama 9 tahun, dan Engkau ambil hanya hitungan hari setelah kami menikah. Dan sekarang, aku sudah jatuh cinta lagi, aku mohon jangan Engkau pisahkan kami. Hikz...aku sangat mencintai suamiku...hikz...."
__ADS_1
"Aku mohon kembalikan suamiku. Aku akan terima kekurangan dan kelebihannya. Sungguh aku merasa sangat bahagia dan dicintai akhir-akhir ini. Bukankah yang Haq akan selalu menang dari yang batil?"
"Aku tahu iman seseorang akan di uji berdasarkan tingkat keimanan orang itu sendiri. Tapi bukankah aku ini manusia biasa? aku tidak sanggup jika harus di uji seberat ini. Jadi tolong peliharalah rasa cintaku ini dan pelihara juga rasa cinta dihati suamiku. Aku yakin aku bisa membuatnya jatuh cinta padaku, ini hanya bicara soal waktu. Aku mohon...hikz..."
Tubuh Najwa bergetar, isak tangisnya terlalu mengguncang. Mungkin saat jin dan iblis melihat keadaannya yang seperti ini akan tertawa keras di alam sana. Keadaan yang memperlihatkan sisi lemahnya sebagai manusia, dan tentu saja iblis akan senang saat pasangan yang sudah menikah tercerai berai.
Setelah curhat panjang lebar, akhirnya Najwa melepas mukenahnya dan pergi kembali keruang tamu. Dia lirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 3 dini hari. Najwapun memutuskan menghangatkan makanan, dan setelah itu membersihkan diri sembari menunggu adzan subuh.
Waktu semakin berlalu, ibadah terakhir dalam satu haripun sudah Najwa laksanakan. Namun tanda-tanda kepulangan suaminya pun tidak ada. Sudah berulang kali Najwa mencoba membuat panggilan telpon, tapi nomor suaminya sama sekali tidak aktif.
"Kamu kemana kak? aku sangat khawatir. Aku janji tidak akan bertanya apapun tentang kamu dan dia setelah kamu pulang. Aku hanya ingin tahu, bahwa kamu baik-baik saja saat ini," ucap Najwa lirih.
Najwa kembali menjatuhkan bokongnya ke sofa. Karena kurang tidur, Najwapun lelap di sofa panjang itu.
"Mas Affan? kau kah itu mas?"
Najwa berlari kecil menghampiri Affan yang tengah berada dihamparan ilalang yang tingginya hampir sedada. Najwa sadar, saat ini dirinya dan Affan bukan lagi muhrim. Itulah sebabnya, Najwa hanya berdiri di depan Affan, tanpa ada keinginan memeluk pria tampan di depannya itu.
"Tentu saja aku merasa sangat buruk setelah kamu tinggalkan mas. Kamu memberiku sepotong kayu sebagai peganganku, tapi kayu itu ternyata sudah milik orang lain. Dan aku sangat terluka karena itu." Jawab Najwa dengan mata berkaca-kaca.
"Perbanyak istigfar di pagi dan sore hari. Percayalah Tuhan sangat sayang padamu, itulah sebabnya Dia sedang mengujimu. Jangan pernah takut kehilangan apapun termasuk kehilangan cinta. Karena kalau itu memang milikmu, dipisahkan dengan cara apapun, kamu pasti akan kembali padanya," ujar Affan.
"Tapi aku tidak kuat lagi mas. Aku mau ikut mas saja," ucap Najwa.
"Kamu pasti bisa. Sesunguhnya Allah bersama dengan orang-orang yang sabar. Sabarlah menerima ujianmu. Disaat kamu sudah lulus nanti, mas akan menemuimu lagi."
Affan berbalik badan. Najwa yang tidak rela di tinggalkan, berteriak memanggil Affan.
__ADS_1
"Mas. Jangan tinggalkan aku mas. Bawa aku bersamamu mas. Aku mau dengan mas saja. Hikz..."
Blammmm
Mata Najwa terbuka. Najwa menyeka lelehan air mata yang mengalir hingga di dekat telinganya. Najwa kembali melirik jam dinding rumahnya, dan waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi.
"Apa kak Ega sudah pulang?"
Najwa bergegas masuk ke kamar suaminya, dan ternyata tidak juga menemukan keberadaan suaminya itu.
"Kamu dimana kak. Hikz...apa kamu benar-benar sudah ninggalin aku? apa saat ini kamu masih sedang bersenang-senang dengannya? aku mohon jangan tinggalkan aku, seperti mas Affan meninggalkanku. Aku nggak mau sendiri lagi. Hikz...."
Najwa terisak. Di raihnya baju Ega yang terakhir kali pria itu pakai. Baju yang belum sempat dicuci itu tergeletak di kasur, dan masih menyisakan wangi parfum yang suaminya kenakan di hari itu.
Najwa menciumnya berkali-kali dan membawanya ke ruang tamu. Dia ingin tetap menunggu Ega kembali, hingga sarapan pagipun dia lupakan.
Waktu semakin berlalu, jam dinding sudah menunjukkan hampir pukul 9 pagi. Wajah Najwa benar-benar sudah kuyu, meski dirinya sudah membersihkan diri dan sedikit berdandan untuk menyambut kepulangan suaminya.
Karena tidak kuat menahan kantuk, Najwa kembali jatuh tertidur sembari memeluk baju Ega. Dan momen-momen yang dia nantipun terlewatkan. Bukan dirinya yang menyambut kepulangan suaminya, melain Egalah yang melihat dirinya tertidur di sofa sembari memeluk bajunya.
Tes
Tes
Tes
Air mata Ega mengucur tanpa bisa dia kendalikan. Namun secepat kilat dia seka air mata itu, saat melihat ada pergerakkan dari Najwa.
__ADS_1
"Kakak...."
To be continue...🤗🙏