MATIMU MEMBERIKU JODOH

MATIMU MEMBERIKU JODOH
78.Sabar


__ADS_3

Disepanjang perjalanan pulang dari rumah sakit, Arga sama sekali tidak bicara atau mengeluarkan suara sedikitpun. Najwa jadi bingung ingin memberikan semamgat pada Arga dengan cara seperti apa. Saat ini suasana hati Arga benar-benar sedang buruk.


Saat mereka tiba diruamh, Arga masih saja diam. Dia langsung berbaring diatas tempat tidur dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Najwa berinisiatif menawarkan Arga teh, namun berakhir dengan penolakkan.


Kini sudah hampir satu minggu Arga tidak meninjau restauran. Pria itu masih saja bermuram durja atas musibah yang tengah dia hadapi saat ini. Bahkan keberadaan Najwa seolah tidak ada bagi pria itu.


"Kak. Kita harus bicara. Kakak tidak bisa begini terus. Dokter itu cuma manusia biasa, yang bisa saja salah mendiagnosa. Semua penyakit dimuka bumi ini pasti akan ada obatnya. Tapi kita tidak boleh berputus asa untuk mencari obat itu," ujar Najwa yang mulai khawatir, karena Arga seperti kehilangan semangat hidup.


"Apa kamu mau menemaniku berjuang hingga akhir?" tanya Arga.


"Tentu saja. Kita bahkan belum mencoba berobat sama sekali. Mana bisa sembuh kalau kakak hanya menghadang nasib seperti ini? Allah pasti akan memberikan jalan, pada hambanya yang mau berusaha dan berdo'a " Jawab Najwa.


Greppppp


Arga memeluk Najwa erat disertai dengan isak tangis pria itu. Najwa membalas pelukkan itu agar suaminya merasa tenang dan nyaman.


"Bersabarlah. Allah memberikan ujian, tidak mungkin melampaui kemampuan hambanya. Kakak percaya itu kan?"


Arga menjawab dengan sebuah anggukkan. Karena pria itu sama sekali tidak sanggup berbicara saat ini.


"Percayalah. Apapun yang terjadi pada kakak, aku akan setia sampai akhir. Jangan pernah berpikir yang tidak-tidak, apalagi sampai berbuat hal yang bodoh," sambung Najwa.


"Terima kasih sudah mendukungku. Aku merasa sangat beruntung memilikimu. Tetaplah selalu disisiku, hingga maut memisahkan kita," ujar Arga dengan segala keegoisannya.


"Iya. Pokoknya mulai besok kita mulai cari tempat pengobatan. Baik itu yang medis, maupun yang non medis. Pokoknya kita coba semua ya kak?" tanya Najwa.


"Iya." Jawab Arga.

__ADS_1


Sesuai kesepakatan Arga dan Najwa, merekapun melakukan rangkaian pengobatan diberbagai tempat. Hingga dua bulan terakhir, mereka sudah mengunjungi lebih dari 6 tempat untuk melakukan pengobatan namun berakhir gagal. Semua jenis obat sudah Arga konsumsi. Baik obat kimia, maupun obat tradisional. Hingga pada akhirnya musibah itu sampai juga ditelinga keluarga Arga, yang sudah berusaha Arga tutupi.


"Apa ini? kamu kena sakit serius tapi sama sekali tidak mengabari orang tuamu?" tanya Lina.


"Beruntung Sri tahu hal ini dari dokter yang pernah merawatmu waktu itu. Sekarang kamu masih tidak ingin mengatakan kalau wanita itu pembawa sial?"


"Ma sudahlah. Najwa sebentar lagi pulang dari pasar. Tidak enak kalau sampai dia mendengarnya," ujar Arga.


"Kamu masih ingin membelanya? terus bagaimana dengan kelangsungan keturunanmu? apa kamu ingin selamanya hidup berdua saja dengan wanita pembawa sial itu? Uda, jangan bodoh. Mama akan membawamu berobat hingga keluar negeri, asalkan kamu tinggalkan wanita itu."


"Tidak ma. Sampai kapanpun aku nggak akan berpisah dengan Najwa. Dia wanita baik ma. Mama cobalah dekat dengannya, pasti penilaian mama terhadapnya akan berubah," ucap Arga.


"Buat apa sih kamu menahannya? atas dasar apa? cinta? jangan egois kamu. Kamu masih muda, dia juga masih muda. Dia masih bisa melanjutkan hidupnya dan meneruskan keturunannya. Sementara kamu?" ujar Lina.


Arga terdiam. Dia tahu dirinya pria egosi yang selalu ingin mendapatkan apapun yang dia inginkan. Dan salah satu impian terbesarnya adalah memiliki Najwa, dan itu sudah terwujud. Dia tidak mungkin menyingkirkan Najwa dalam hidupnya semudah itu.


"Arga cinta Najwa ma. Dia sudah berjanji akan menemaniku sampai akhir. Arga tidak akan menyerah semudah itu." Jawab Arga.


"Kamu juga tidak boleh memikirkan diri sendiri. Dia itu anak tunggal, sementara kamu memiliki banyak saudara. Coba kamu bayangkan bagaimana perasaan orang tua Najwa. Keturunan mereka hanya berhenti sebatas Najwa saja."


"Kamu bilang kamu mencintainya. Tapi menurut pandangan kami, kamu itu bukan mencintai, tapi sudah masuk keranah obsesi. Kalau kamu benar-benar mencintai dia, kamu pasti bisa melepaskan dia untuk mencari kebahagiaannya meskipun bukan bersamamu,"


"Sampai kapan kamu mau menahannya bersamamu? sekarang mungkin dia masih bisa setia, tapi lama-lama dia juga akan berpikir cerdas. Mana ada orang menikah nggak mengharapkan keturunan?"


"Kami bisa mengadopsi anak di panti asuhan." Jawab Arga.


"Arga rumah tangga itu tidak melulu juga bicara soal keturunan, dan materi. Tapi kebutuhan batin juga sangat diperlukan untuk mendukung keharmonisan rumah tangga. Apa kamu bisa memberikan itu padanya?"

__ADS_1


Arga terdiam. Wajahnya mendadak murung. Semua yang dikatan Lina terdengar masuk akal.


"Mama bukanya ingin mengecilkan hatimu. Mama tidak ingin kamu berpikiran sempit dan memikirkan diri sendiri. Tapi semua terserah padamu. Kalau menurut mama lebih baik lepaskan Najwa. Setelah itu kamu bisa fokus berobat keluar negeri kalau memang disini tidak ada yang sanggup mengobatimu. Kalau kalian memang berjodoh, kalian pasti bisa bersatu dengan cara apapun,"


Lina sangat berusaha keras untuk meracuni pikiran putranya. Niatnya ingin memisahkan Arga dan Najwa sudah bulat, dan dia ingin melakukannya dengan cara apapun.


"Maafkan mama Arga. Mama harap kesialan itu hanya berakhir cukup padamu saja. Mama tidak ingin kesialan itu menyebar di keluarga kita yang lain. Seharusnya sejak dulu mama mendengarkan perkataan Sri untuk tidak merestui pernikahanmu dengan Najwa, sekarang saat sudah terbukti seperti ini mama benar-benar sangat menyesal," batin Lina.


"Ya sudah mama pulang dulu ya? kamu coba pikirkan ucapan mama baik-baik," ujar Lina.


Lina melangkah pergi dan membuka pintu. Saat pintu terbuka, Lina mendapati Najwa sudah berada didepan pintu dengan senyum mengembang saat melihat dirinya.


"Mama sudah lama datang?" tanya Najwa sembari ingin meraih tangan Lina untuk dia cium.


Lina tidak menjawab maupun mengizinkan Najwa menyentuh tangannya. Wanita parubaya itu melenggang pergi begitu saja. Najwa menghela nafasnya, dia tahu akan sulit kedepannya mengambil hati keluarga suaminya.


Najwa meraih kantung belanjaannya yang sempat dia letakkan di lantai. Najwa kemudian masuk kerumah dan meletakkan barang belanjaanya ke dalam kulkas. Setelah itu Najwa masuk ke kamar untuk melihat apa yang sedang di lakukan oleh Arga.


"Kak. Lagi apa?" tanya Najwa saat melihat Arga tengah melamun sembari berbaring di atas tempat tidur.


"Najwa. Ada berapa target tempat lagi yang akan kita datangi nanti?" tanya Arga.


"5 tempat lagi." Jawab Najwa.


"Apa kamu masih bisa sabar menemaniku hingga akhir?" tanya Arga.


"Apa yang kakak katakan? jangankan cuma 5, 1000 pun aku akan setia mendampingimu." Jawab Najwa.

__ADS_1


"Najwa betapa baiknya kamu. Apa pantas wanita sebaik dan setulus kamu mendapat begitu banyak penderitaan? Ya Allah...berikan keajaiban untukku. Kasihan Najwa," batin Arga.


Arga yang mulai bimbang kembali terdiam. Pikirannya kini sedang campur aduk.


__ADS_2